SIM Baru, Foto Baru

Sumber Foto: jabar.tribunnews.com

Sumber Foto: jabar.tribunnews.com

Pagi ini saya harus berusaha keras untuk membuka mata setelah semalaman begadang hanya untuk menyaksikan tim liga Inggris—Manchester City—berlaga. Harapan saya adalah Manchester City terjungkal di laga ke 37 tersebut agar Liverpool kembali memegang kembali kendali permainan menuju tangga juara. Namun kenyataan memang sering pahit, tim sehebat Manchester City yang notabene memiliki pemain-pemain hebat tak mungkin kalah semudah itu, terlebih mereka bermain di kandang. Skor yang tercipta di laga tersebut adalah 4-0 untuk kemenangan Manchester City atas Aston Villa.

Tepat jam 8 pagi, saya harus benar-benar bangun dari tidur sekalipun mata terasa amat perih. Setelah beberapa hari saya merasa gagal untuk bangun pagi dengan tujuan yang amat mulia, yaitu memperpanjang masa berlaku Surat Ijin Mengemudi, akhirnya pagi ini saya bisa benar-benar membelalakkan mata. Ya, saya harus memperpanjang SIM milik saya sebelum habis masa berlakunya. Sebelumnya saya tak pernah paham kapan masa berlaku SIM benar-benar habis, sampai pada suatu malam sekitar dua pekan yang lalu dalam perjalanan pulang dari acara nonton bareng laga Liverpool vs. Chelsea di salah satu kafe di kota saya, beberapa polisi melakukan razia malam dan menilik surat-surat setiap pengendara motor ataupun mobil yang melintas.

“Segera perpanjang SIM-nya, Mas, masa berlakunya sudah hampir habis.” Tutur salah satu polisi lalu lintas tersebut setelah mengecek SIM milik saya.

Saya hanya mengangguk seraya melihat tanggal berlaku SIM saya dengan saksama. Hal yang terpikir setelah kejadian itu adalah sebuah pertanyaan yang bagi saya cukup sulit dipecahkan. Bagaimana caranya saya bisa bangun pagi untuk datang ke Polres guna memperpanjang masa berlaku SIM mengingat siklus tidur saya amat tidak beraturan? Ya, saya adalah pengidap sekaligus pecandu insomnia semenjak hampir lima tahun lalu. Beruntung pagi ini saya mampu mayakinkan diri untuk bangun dan melakukan kewajiban tersebut mengingat keinginan untuk menjadi pengendara sekaligus warga negara yang baik.

Setelah bersiap-siap, saya bergegas berangkat menuju Polres. Sesampainya di sana, saya parkir sepeda motor di salah satu tempat parkir yang berada di luar gedung Polres tersebut.

“Mau perpanjang SIM, ya, Mas?” Seru bapak tukang parkir seraya memberiku nomor parkir.

Seketika dahi saya mengernyit kala mendengar kalimat tersebut. Apakah bapak tukang parkir ini mempunyai indera keenam sehingga tahu apa yang hendak saya lakukan di tempat tersebut? Ya, sebenarnya tak perlu heran, orang-orang datang ke tempat ini kebanyakan untuk membuat SIM dan memperpanjang SIM. Mungkin karena tampang saya sudah tidak seperti anak ABG yang hendak membuat SIM, maka bapak tukang parkir itu langsung menebak bahwa saya datang ke tempat itu pasti untuk memperpanjang masa berlaku SIM. Ya, memang hanya personel Cherybele-lah yang berhasil melakukan pencitraan untuk terlihat lebih muda.

“Iya, Pak, carane pripun, nggih, Pak?” Jawab saya atas pertanyaan bapak tukang parkir tersebut.

“Owh, langsung aja, Mas, potokopi KTP, SIM di tukang potokopian itu, terus minta surat keterangan kesehatan di samping potokopian itu, Mas.” Tuturnya seraya menunjuk ke arah tempat fotokopian di seberang jalan.

“Owh, nggih, Pak, matur suwun.”

Berderaplah kaki saya menuju tempat fotokopian di seberang jalan tersebut. Tempat fotokopian dan tempat cek kesehatan itu berada di luar gedung Polres. Di tempat itu saya bertemu dengan seorang pemuda yang sesekali melempar senyum kepada saya, dan juga bertemu seorang pria paruh baya bersama istrinya yang juga melempar senyum kepada saya. Saya pun membalas senyum-senyum mereka, meski senyum saya sedikit terasa tawar. Setelah memfotokopi SIM dan KTP di tempat fotokopian tersebut, saya pun beralih ke tempat cek kesehatan atau mungkin lebih tepatnya surat keterangan sehat jasmani dan rohani yang berada di samping tempat fotokopian tersebut.

“Dua puluh lima ribu, Mas.” Seru pria penjaga administrasi yang berada di depanku.

“Lima puluh ribu, Pak?” Tanya saya karena tak begitu mendengar perkataannya sebelumnya.

“Dua puluh lima ribu, Mas, kalau lima puluh ribu, yo, rapopo, tapi yo tak jujuli (beri kembalian).” Paparnya terkekeh.

Saya pun turut terkekeh. Tak lama kemudian saya menuju ke meja kesehatan, yang dicek di tempat tersebut adalah penglihatan. Dengan gambar yang tersusun dari lingkaran-lingkaran kecil yang membentuk angka, pria yang berada di depan saya menanyakan angka-angka yang terbentuk dari lingkaran-lingkaran kecil tersebut.

“Ini angka berapa, Mas?” Tanyanya seraya menunjuk salah satu gambar.

“Dua, Pak.”

Ilustrasi Angka 2

Ilustrasi Angka 2

“Ini?”

“Tujuh satu, Pak.”

Ilustrasi Angka 74. Angka inilah yang membuat pria di depanku mengulangi 71. Angka 74 atau 71, ya?

Ilustrasi Angka 74.
Angka inilah yang membuat pria di depan saya mengulangi pertanyaannya.
Angka 74 atau 71?

Setelah serangkaian tes penglihatan tersebut, saya segera menuju ke dalam gedung Polres. Sempat tebersit pertanyaan dalam benak, kenapa orang-orang yang menawarkan surat kesehatan itu tidak mengecek kesehatan mental? Sebaiknya ‘kan calon pembuat SIM harus melewati tes kejiwaan, secara psikologi ini berkaitan dengan berkendara. Coba kaubayangkan, Kawan, seseorang yang gundah gulana sedang mengendarai sepeda motor melintasi jalan raya, katakanlah ia didera gulana lantaran persoalan cinta, kemudian karena merasa frustasi, ia pun menangis dan melamun sepanjang perjalanan yang mengakibatkan ia terjatuh dari motornya. Ini ‘kan berbahaya, terlebih untuk fakir-fakir cinta seperti kau, Kawan! Usah terperanjat, hanya mengingatkan. 😀 Terlebih ketika beberapa orang yang melintas menolongnya, dan si pemuda alay itu berseru “Aku rapopo”, ini hanya menambah daftar fakir cinta alay yang terserang psikisnya lantaran hal absurd yang bernama cinta yang mengakibatkan fakir cinta tersebut terjerambab dalam ranah kepiluan yang hakiki, bukan? Namun sudahlah, tak perlulah pihak penyedia jasa surat keterangan sehat jasmani dan rohani menilik psikis para pemuda alay hanya untuk mengetahui apakah mereka layak berkendara atau tidak. Bila hal tersebut benar-benar dilakukan, saya yakin sedikit sekali pemuda yang lulus tes medis tersebut. Terlebih semenjak Briptu Eka Frestya menikah yang mengakibatkan galau nasional, termasuk saya. 😥 #alah

Kembali ke kejadian selanjutnya. Ketika saya mulai membuka pintu gedung Polres, pemuda yang saya temui di tempat fotokopian tadi langsung menyambut dengan senyum hangat.

“Bro, ada pulpen, ndak?” Tanyanya ramah.

Saya pun segera mengeluarkan salah satu pulpen milik saya dan kupinjamkan padanya. Tak lama berselang, seorang pria paruh baya yang saya temui di tempat fotokopian tadi menghampiri saya dan menanyakan hal yang sama seperti pemuda tersebut. Ya, atas dasar hormat, saya pun meminjamkan pulpen pada bapak tersebut, dan saya pun bergegas mengambil formulir untuk perpanjangan SIM serta menunggu dua pria yang telah merampas pulpen saya untuk segera mengembalikannya. Kedua manusia bersenyum ramah ini hanya bermodalkan sehat jasmanai,—rohani? Entah!—dan gurat tanpa dosa saja, pikir saya. Cukup lama saya menanti pulpen tersebut kembali, sampai pada akhirnya kedua pulpen itu pun kembali kepada empunya secara bersamaan.

Setelah melalui beberapa tahap—termasuk tahap pembayaran, akhirnya tahap pemotretan sudah berada di depan mata. Tahap inilah yang membuat jantung saya berdebar hebat, pasalnya, lima tahun lalu kala saya membuat SIM, hasil foto yang terpampang pada SIM saya wujudnya seperti terpidana kasus terorisme; atau mungkin lebih mirip pelaku bom bunuh diri; atau mungkin seorang residivis yang sering keluar masuk penjara. Tidak hanya itu, hasil foto serupa juga terpampang pada e KTP yang kubuat dua tahun silam. Maka dari itu, untuk menciptakan tampilan kartu identitas saya agar lebih pantas dipandang, saya rela menahan perih dan kantuk di mata pagi ini.

Sebelum masuk ke ruang pemotretan, saya sempat berbincang dengan seorang wanita muda yang usianya kira-kira 30-an tahun. Ia sempat bercerita mengenai pembuatan SIM-nya lima tahun silam. Katanya, dengan berapi-api, ia gagal uji teori karena hanya mendapat skor satu angka dibawah skor minimum, dan ia merasa bodoh. Kemudian ia menceritakan seorang pria yang mengantarnya membuat SIM lima tahun lalu, dan tak lupa menceritakan percintaan mereka yang pada ending cerita si pria meninggalkan wanita itu dengan alasan tak bisa saling paham. Menggetirkan sekali, Kawan! Bukan hanya itu, masih banyak yang wanita itu ceritakan pada saya, mulutnya merepet macam petasan tahun baru, sampai saya tak paham alur ceritanya dan apa saja yang diceritakan.  Salah satu cerita wanita itu yang cukup menarik perhatian adalah, meski ia tidak lulus dalam uji teori, namun ia bisa mendapatkan SIM-nya kala itu  dengan membeli surat keterangan sekolah mengemudi dari jasa penyedia surat tersebut di luar gedung—cukup mahal, katanya. Itu lima tahun lalu, Kawan, entah sekarang, yang pasti saya tak menemukan satu pun calo di tempat tersebut hari ini. Mungkin benar, pembenahan untuk ketegasan telah digalakkan. Ini bagus dan membanggakan!

Detik-detik pemotretan pun segera dimulai, saya merasakan jantung berdenyut makin kencang. Kedua tangan mulai gemetar. Kaki pun segera melangkah ketika polisi yang bekerja sebagai juru potret menyeru nama saya. Sedikit kesulitan ketika polisi itu meminta saya untuk menempelkan kedua ibu jari tangan saya secara bergantian ke sensor cap jari, karena tangan saya gemetar. Kemudian pemotretan pun dimulai. Berulang kali polisi itu meminta saya untuk menatap lensa kamera secara lurus, ya, karena berulang kali pula kepala saya agak miring ke kanan, atau ke kiri. Setelah beberapa kali dilakukan untuk mengambil gambar terbaik, akhirnya pemotretan tersebut selesai. Kini tinggal menunggu SIM saya jadi.

Jantung masih terus berdegup. Saya gugup. Saya berharap hasil foto yang terpampang pada SIM saya kali ini lebih baik dari sebelumnya, setidaknya tidak seperti tampang seorang terpidana kasus bom bunuh diri. Setelah beberapa waktu berselang, pria paruh baya yang meminjam pulpen saya pada saat pengisian formulir tadi melangkah pulang setelah beliau mendapatkan SIM barunya.

“Mari, Mas, saya duluan, ya?” Sapanya seraya berjalan.

“O, ya, monggo, Pak.” Sahut saya tersenyum.

Tak lama berselang, wanita muda yang sebelumnya sempat berbincang dengan saya mengenai kisah cintanya, dalam hitungan detik telah menggenggam SIM barunya, disusul oleh pemuda yang telah saya temui sebelumnya—pemuda yang meminjam pulpen untuk mengisi formulir. Mereka menyapa dengan amat ramah. Dan pemuda itu tiba-tiba menghampiri saya dengan senyum yang merekah.

“Pye, tambah ganteng, to, potoku?” Ujarnya terkekeh seraya memamerkan foto yang terpampang pada SIM barunya.

“Iyo, tambah ganteng.” Sahut saya tersenyum.

Pemuda itu pun berlalu meninggalkan saya yang masih menunggu nama saya diserukan oleh petugas pembagi SIM. Saya merasa optimis ketika melihat foto pemuda itu pada SIM barunya. Ya, tak bisa kupungkiri bahwa foto pemuda itu lebih tampan dari aslinya, dan saya pun yakin foto saya akan lebih baik dari sebelumnya. Tak lama berselang, nama saya pun diseru oleh petugas pembagi SIM. Setelah menandatangani sebuah daftar nama dan melakukan cap jempol, petugas pembagi SIM itu pun memberikan SIM baru kepada saya. Segera kudekap SIM tersebut seraya berdoa di dalam hati. Secara perlahan kubuka SIM tersebut dengan penuh kehati-hatian. Alangkah terperanjatnya diri ketika mendapati foto yang terpampang pada SIM baru saya menampakkan raut yang tidak sesuai keinginan. Meskipun foto macam terpidana bom bunuh diri tak menghiasi SIM saya lagi, namun kenyataan pahit lainnya harus saya terima dengan hati lapang, yaitu ….

Foto yang terpampang pada SIM saya lebih mirip Emon, terpidana kasus sodomi ratusan bocah di bawah umur yang saban hari menghiasi beranda Facebook.  “F**K OFF!” Saya mengumpat dalam hati.

Nb: Karena foto dalam SIM tidak membanggakan penulis, maka tidak diikutsertakan dalam postingan ini. Terimakasih!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s