Fenomena ‘Dikepruk’

Sumber Foto: Solopos, dikutip dari postingan akun Facebook milik Dewi Kabisat Andriyani

Sumber Foto: Solopos, dikutip dari postingan akun Facebook milik Dewi Kabisat Andriyani

September lalu dunia maya dikejutkan dengan beredarnya nota pembayaran makanan yang menghabiskan uang sebesar kurang lebih satu juta rupiah yang diunggah oleh seorang pengguna Facebook bernama Dewi Kabisat Andriyani. Nota itu didapatkan setelah pengguna facebook tersebut makan di salah satu warung makan di salah satu pantai di negeri ini. Berikut penampakan nota pembayaran makanan tersebut.

Sumber Foto: Postingan dari akun Facebook Dewi Kabisat Andriyani

Sumber Foto: Postingan dari akun Facebook Dewi Kabisat Andriyani

Yes, dua ikan bakar dihargai Rp 400 ribu, 1 cumi saos tiram dihargai Rp 180 ribu, 3 cah kangkung dihargai Rp 200 ribu, 1 bakso sapi dihargai Rp 20 ribu, 2 nasi putih dihargai Rp 90 ribu, 2 lalap+sambal dihargai Rp 30 ribu, dan 11 es teh manis dihargai Rp 80 ribu. Jumlah total yang harus dibayar oleh pemesan adalah Rp 1 juta. Saya tak pernah bisa membayangkan hal tersebut terjadi kepada saya, haruskah jadi babu ibu pemilik warung untuk melunasi makanan tersebut? 😥

Untuk makan di tempat-tempat yang tidak kita kenal memang sebaiknya budayakan bertanya terlebih dahulu daripada menyesal belakangan. Banyak orang malu bertanya karena takut dianggap kere dan ‘nggak keren’, terlebih ketika makan bersama gebetan, duh buang-buang deh tu gengsi, daripada buntung dan makin malu kalau tidak bisa membayar, benar, bukan? Tak perlu dijawab, Mblo!

Beberapa waktu lalu hal serupa juga terjadi pada kawan saya yang bernama Camat (nama jabatannya), namun masih dalam tingkat kerugian yang lebih rendah dibandingkan kerugian yang dialami oleh Dewi Kabisat. Melalui akun Facebook miliknya, Camat berujar,

“Baru sekali ini ada tempat fotokopi sekali stapler Rp.200, biasanya gratis ‘kan, ya -_-“

Setelah melihat status Facebook tersebut, seketika saya pun menjadi komentator pertama pada kolom komentar Facebook miliknya,

What is the meaning of ‘stapler’, Mbah?” Tanya saya yang memang tak tahu menahu arti dari stapler.

Tak lama berselang, Camat pun membalas komentar saya dengan kegusaran hati yang masih tak bisa dibendung,

“Dasar kampung, googling deh,” pekiknya.

Saya pun bergegas mencari tahu apa itu stapler. Setelah beberapa lama menunggu loading internet yang masih ngampret, akhirnya jawaban pun saya temukan. Ternyata benar tebakan saya, stapler merupakan alat untuk menyatukan sejumlah kertas dengan cara memasukkan kokot (staple) berbentuk huruf “U” yang terlipat di bagian bawah kertas bila panjang kedua ujung kokot melebihi tebal kertas (Wikipedia). Ternyata oh ternyata, kata stapler adalah kata yang berasal dari bahasa Inggris yang berarti pengokot, oh my to the god, what is the meaning of pengokot? Sebenarnya stapler ini sering dikenal—setidaknya yang saya kenal—dengan istilah jeglokan, karena bunyinya yang “jeglok” ketika digunakan, atau nama tenar di kalangan mahasiswa adalah staples. #Samasajakah? #Whatever. Nah, seteleh searching tersebut, saya pun membalas kembali status Camat,

“Aku gugling tenan, jebul steples. (googling beneran, ternyata staples).”

Setelah melihat balasanku tersebut, Camat yang masih dikuasai rasa gusar membalas komentarku kembali,

“Stapler adalah bahasa aslinya -_-“

Dan untuk menunjukkan rasa empaty dan bentuk solidaritas yang tinggi sebagai seorang kawan, saya pun menunjukkan rasa gusar yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Camat,

”Wah nyetepler/s mbayar 200? Potokopian siap2 gak payu kui (siap-siap tidak laku itu) #telatemosi.”

And, Camat pun merasa ada yang memahami apa yang tengah ia rasakan,

“Kandhani og, edan dan ga wajar, tp ya gmana lagi …” Paparnya pasrah.

Malang kali apa yang telah menimpa kawanku ini, dan saya pun masih berusaha menunjukkan rasa empaty dan pasrah yang sama dengan balasan komentar yang saya layangkan,

“Potokopian kampung, opo2 ragelem rugi, tapi yo kepiye meneh jenenge wong bisnis, sah sah wae, tapi marai jera -_-“

Yah, saya yakin Camat akan jera memilih tempat fotokopian tersebut untuk memfotokopi dokumennya.

Hal-hal tersebut sebenarnya bukan hal-hal baru di dunia perbisnisan, mungkin telah banyak orang yang telah mengalami hal tersebut yang dalam tanah Jawa sering disebut dengan istilah ‘dikepruk’. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menjabarkan penyebab-penyebab para pedagang berani melakukan aksi tidak terpuji tersebut.

  1. Biasanya aksi ‘kepruk’ tersebut dilakukan oleh oknum penjual pada orang asing di luar daerah tersebut. Sebagai contoh ialah apa yang telah dialami oleh Dewi Kabisat, bisa jadi Dewi Kabisat adalah bukan warga lokal sehingga oknum penjual tega melakukan aksi ‘kepruk’ tersebut. Untuk warga luar kota, tak perlulah sok-sok an menggunakan bahasa daerah setempat kalau tak paham bahasanya secara fasih, bisa-bisa diajak ngobrol bahasa daerah cuma melongo saja. 😀 Intinya ya tanya dulu tadi.
  2. Alasan lain aksi ‘kepruk’ terlaksana adalah karena tempat bisnis tersebut terbilang eksklusif. Sebagai contoh adalah kisah Camat, bisa jadi faktor geografis Camat yang kebetulan tinggal di pegunungan, yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, sehingga tempat fotokopian yang didirikan di sana merasa eksklusif tanpa tersaingi sehingga berani melakukan aksi ‘kepruk’ tersebut. Maaf, Pak Camat, ini perumpamaan. 😀
  3. Alasan yang mungkin lebih masuk akal mungkin karena faktor keuangan. Sang pebisnis tak segan-segan melakukan aksi ‘kepruk’ karena telah dibutakan oleh uang, ibarat menangkap ikan, sang penangkap ikan memasang bom di dasar laut yang mengakibatkan ekosistem ikan rusak sehingga tak ada regenerasi ikan. Yes, yang penting hari ini!
  4. Mungkin ada alasan lain, yaitu barang yang dujual atau diperbisniskan adalah barang ajaib atau membawa berkah. Sebagai contoh, kisah Dewi Kabisat yang harus membayar satu juta rupiah untuk biaya makannya, bisa jadi apa yang telah dimakannya dipercaya oleh penjual sebagai makanan yang berkhasiat awet muda, enteng jodoh, murah rezeki, dan murah hati. Berbeda lagi dengan apa yang dialami oleh Camat, bisa jadi stapler yang digunakan oleh Camat mengandung khasiat mampu membawa berkah kehidupan dan membuat otak pintar. Jangan tanya kok bisa seperti itu, lha wong namanya saja saya menggunakan aji pengawuran untuk kemungkinan-kemungkinan. 😀

Mungkin ada yang bertanya dalam hati, apakah orang-orang pebisnis tersebut tak takut gulung tikar? Yah, mungkin mereka berpikir bahwa orang-orang yang datang juga tak akan pernah datang setiap hari, apalagi pendatang. Saya pernah berdiskusi dengan kawan saya yang bernama Lucky, ia menuturkan bahwa toko kelontong di sekitar kampung kami saja banyak yang melakukan aksi kepruk. Biasanya kalau yang menjadi pramuniaga adalah adik dari si pemilik toko, pasti harga barang naik, dan dapat dipastikan untung masuk kantong sendiri. Yah itulah, yang penting perut sendiri, besok mau bangkrut sekalipun, toh toko bukan miliknya. Pemikiran hidup untuk hari ini saja untuk para pebisnis itu adalah pemikiran yang cetek, dan siap-siap saja tutup lapaknya. Dan untuk kawan saya Camat, uang Rp. 200 perak untuk sekali stapler itu apalah artinya, usah kaubersedih, Kawan.

“200 bos (200 rupiah), bayangkan kamu potokopi soal 200 soal, BIAYA NJEGLOG E 40.000.”

Ternyata bukan sekali jeglok pemirsah! 😥

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s