Brayut Lagi, Ngayogjazz Lagi

Ngayogjazz kembali menyapa, gelaran musik jazz yang rutin diadakan setiap tahunnya kembali dihelat Sabtu, (22/11) di desa Brayut, Pandowarjo, Sleman, Yogyakarta. Ini bukan pertama kalinya Ngayogjazz menyapa desa wisata Brayut, pada tahun 2012 lalu Ngayogjazz juga dihelat di desa Brayut. Gelaran musik jazz ini dipentaskan sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Bagi saya, Ngayogjazz adalah sebuah gelaran musik yang paling istimewa dibandingkan gelaran musik lainnya yang pernah saya datangi. Tahun lalu, saya menyaksikkan Ngayogjazz dengan bermandikan air hujan di bawah pohon kelapa seraya mendengarkan alunan musik jazz yang amat menentramkan jiwa, rasanya amat memuaskan, Man! Sedang untuk tahun ini, hujan tak menyapa Ngayogjazz, sehingga penonton lebih terlihat membludak. Bagi beberapa orang, menonton konser out door tanpa hujan adalah sesuatu hal yang aman karena tidak basah, namun saya merasa Ngayogjazz tanpa hujan tahun ini kurang begitu membuat saya puas, saya merasa sensasinya kurang mantap, meski saya cukup puas atas semua yang telah saya saksikkan Sabtu kemarin. Salah satu hal yang membuat saya kurang begitu puas adalah saya datang kurang dini, sehingga saya tidak terlalu puas menyaksikkan performa para musisi jazz secara penuh. Terlebih tahun ini saya tidak lagi meliput untuk salah satu majalah online karena Mbak editornya tidak kunjung mengirim saya email, duh, malah curhat. 😦

Haryono & Friends, panggung Thang Thing di Ngayogjazz 2014, Sumber Foto: twitter.com/ngayogjazz

Haryono & Friends, panggung Thang Thing di Ngayogjazz 2014, Sumber Foto: twitter.com/ngayogjazz

Nagyogjazz tahun ini mengambil tema “Tung Tak Tung Jazz.” Suara “Tung Tak Tung Jazz” merupakan suara yang dihasilkan dari kendang, biasanya instrumen kendang digunakan sebagai intro sebuah lagu, sheingga intro tersebut mengibaratkan bahwa gelaran Ngayogjazz ini adalah awal mula regenerasi bagi musisi jazz muda di Indonesia. Ngayogjazz ini memutus anggapan bahwa musik jazz hanya bisa dinikmati orang kaya saja, melainkan juga dapat diminati oleh semua kalangan, baik orang-orang kaya sampai orang yang sederhana, semua bisa menikmati jazz—kalau mau. Desa Wisata Brayut sendiri bagi saya adalah salah satu desa yang amat keren. Ketika di jalan menuju lokasi, saya melihat sebuah plang bertuliskan bahwa swasembada pangan dengan pertanian untuk anak cucu kita kelak; itu adalah tindakan nyata untuk tetap hidup hari ini dan masa depan, Man. Selain itu, ketika memasuki lokasi pertunjukkan, sebelum melewati pintu masuk parkir motor, terdapat banyak sekali kandang sapi beserta sapi-sapinya, selain bertani warga di sekitar desa wisata tersebut dengan kompaknya berternak pula, ini benar membuat pagelaran Ngayogjazz sangat istimewa, nuansa desanya amat terasa. Keren parah!

Kesenian Jathilan di Ngayogjazz 2014, Sumber Foto: twitter.com/ngayogjazz

Kesenian Jathilan di Ngayogjazz 2014, Sumber Foto: twitter.com/ngayogjazz

Saya memang tak menyaksikkan semua musisi menyuguhkan aksinya, karena di Ngayogjazz ini terdapat enam panggung yang tak bisa disaksikkan secara bersamaan, yaitu Panggung Dang Dung, Ning Nong, Thang Thing, Jrang Jreng, Bang Bung, serta panggung tradisional. Selain itu, animo penonton juga membludak sehingga untuk jalan kaki saja amat macet, duh, pokoknya rame parah, deh—terlebih karena hujan tak turun pula. Musisi yang hadir pun banyak, yaitu Dewa Budjana, Balawan Trio, FRAU, Duo Bajo, Shadu Band, Everyday, Miyosi Masato Duo, Mezcal Jazz Unit, dan masih banyaklah. Beberapa musisi menggunakan kendang atau tabla sebagai pelengkap musiknya, sehingga “Tung Tak Tung Jazz-nya” lebih terasa. Karena saya datang pukul empat sore, saya kebagian nonton beberapa musisi, yaitu Orkes Keroncong Tresnawara yang membawakan lagu keroncong juga lagu jazz bernuansa keroncong (di panggung Jrang Jreng); sempat pergi ke panggungnya FRAU (panggung Ning Nong) tapi penuh sesak, sehingga hanya mendengar tepuk tangan penonton saja; kemudian menuju ke panggung Dang Dung dengan aksi panggung Everyday yang masih keren seperti tahun lalu, “Dan hatiku bertanya kapan ke Jogja lagi, kapan ke Jogja lagi, kapan ke Jogja lagi, kapan ke Jogja lagi, kapan ke Jogja lagi, kapan ke Brayut lagi?” Bahkan secara tidak langsung saya sempat ngopi bareng dengan Mbak vokalisnya di salah satu pasar jazz dekat panggung Dang Dung yang harga segelas kopinya tiga ribu dengan dua kacang seharga dua ribu, duh, manteplah; kemudian nonton Om Dewa Budjana and band, yang drumer dan basistnya keren parah; yes, setelah nonton Om Budjana saya nonton Shadu Band, yang drumer dan basistnya (Shadu, anaknya Idang Rasjidi) juga keren parah, karena drumer dan basisnya Shadu Band adalah drumer dan basisnya Dewa Budjana band yang sebelumnya bermain di panggung Bang Bung, penampilan Shadu Band ini adalah penampilan yang paling memuaskan hasrat jazz saya yang menggebu. Paling keren, terlebih drumer dan basist (Shadu) staminanya keren parah karena pentas dua kali secara estafet. Saya berdecak dan geleng-geleng kagum atas penampilan mereka; terakhir nonton Bintang Indrianti Trio dengan jazzdut-nya yang tak kalah keren.

Fotonya Shadu Band, Sumber Foto: twitter.com/AliKribooo/

Fotonya Shadu Band,
Sumber Foto: twitter.com/AliKribooo/

Yes, Ngayogjazz selalu membuat kecanduan, meskipun kaki gempor dan pegal-pegal karena terlalu banyak keliling dan berdiri. Juara, dah, pokoknyah!. “Dan hatiku bertanya kapan Ngayogjazz lagi, kapan Ngayogjazz lagi, kapan Ngayogjazz lagi, kapan Ngayogjazz lagi, kapan Ngayogjazz lagi, kapan?” Semoga Ngayogjazz tahun depan kian pecah!

Untuk postingan kali ini, saya share juga foto-foto lainnya:

Foto salah satu kandang sapi di desa Brayut, Sleman, Yogyakarta (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto salah satu kandang sapi di desa Brayut, Sleman, Yogyakarta (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto poster Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto poster Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto pusat informasi Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto pusat informasi Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Everyday Band di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Everyday Band di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Everyday Band di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Everyday Band di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

 

Foto Everyday Band di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Everyday Band di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Lorong Gumantung di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Lorong Gumantung di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Animo penonton menunggu Om Budjana pentas di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Animo penonton menunggu Om Budjana pentas di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto suasana panggung menunggu Om Budjana pentas di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto suasana panggung menunggu Om Budjana pentas di Ngayogjazz 2014 (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Kang Yuliono, pantomim ada lagi di Ngayogjazz (2014) (Dok/Gunawan Giatmadja)

Foto Kang Yuliono, pantomim ada lagi di Ngayogjazz (2014) (Dok/Gunawan Giatmadja)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s