Filosofi Tambal Jalan dari Mbah Tuwek (He’s a Real Hero!)

Sumber Foto: Jawa Pos

Sumber Foto: Jawa Pos

Abdul Sukur alias Mbah Tuwek, seorang pria tua berusia 65 tahun yang beberapa waktu lalu dikenal pubilk dengan aksinya menambal jalan di Surabaya, kini telah bertemu Ibu Risma, walikota Surabaya. Katanya, Mbah Tuwek ini membuat walikota Surabaya itu terpingkal-pingkal sampai terkencing-kencing karena kelakar-kelakarnya. Tapi yang akan saya bahas bukan itu, tapi aksinya dalam menambal lubang jalanan Surabaya tanpa dibayar.

Mbah Tuwek telah menambal jalanan Surabaya yang berlubang selama sepuluh tahun, dan itu tak diketahui oleh pemerintah. Tanpa mendapat upah, tanpa imbalan, ia ikhlas melakukan itu semua. Alasannya sederhana, agar lubang-lubang jalan itu tidak menimbulkan kecelakaan bagi pengguna jalan. Ia membayangkan apabila kecelakaan harus dialami oleh seorang kepala rumah tangga yang masih menjadi tulang punggung keluarga, itu pasti akan menjadikan beban baru untuk keluarga yang ditinggalkan, dan Mbah Tuwek tak mau itu terjadi. Mulia sekali, bukan? Cibiran serta sindiran sering diterimanya, wajar saja karena banyak orang merasa Mbah Tuwek ini melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Ngapain melakukan hal semacam itu, capek, pikir orang-orang.

Aksi Mbah Tuwek ini dilakukannya bukan baru-baru ini, tapi sejak sepuluh tahun yang lalu, Kawan. Sekedar informasi, Mbah Tuwek ini menarik becak mulai pada pukul 12 siang sampai pukul 9 malam. Penghasilannya sehari kalau ramai 50 sampai 60 ribu rupiah, kalau sepi 30 ribu. Ia mempunyai enam orang anak, yang lima sudah menikah, yang satu belum menikah. Setelah selesai menarik becak pukul 9 malam, ia memulai aksi menambal jalanan dari mulai pukul 10 malam hingga pukul 2 dini hari. Saya rasa sangat jarang orang yang benar-benar ingin melakukan hal itu. Dan itu terbukti.

Saya jadi membayangkan bagaimana masa muda Mbah Tuwek, ya? Mungkin Mbah Tuwek di kala muda selalu menjadi idaman para gadis-gadis Surabaya. Bukan tanpa alasan, Mbah Tuwek yang hobi menambal jalanan yang berlubang itu pasti tak segan-segan bersedia menambal hati para gadis yang berlubang karena luka yang perih. Sebesar apapun lubang di hati para gadis, Abdul Sukur siap untuk menambalnya. #Alah Menurut imajinasi saya, Mbah Tuwek tempo dulu berkesempatan menjadi seorang cassanova kerena begitu digilai para gadis Surabaya, baik yang masih ABG maupun yang sudah dewasa. Tapi Mbah Tuwek bukanlah tipe lelaki semacam itu, karena Mbah Tuwek memiliki jiwa pencinta keindahan dunia, tipe lelaki Romeo yang dengan kesucian cinta sejati. Jadi, sekalipun ia bisa menambal hati para gadis yang berlubang, ia melakukannya karena itu harus dilakukan sebagai makhluk Tuhan yang dilimpahi cinta kasih. Bukan karena semata-mata ingin menguasai hati wanita, sekalipun bisa dikuasai dengan kharismanya. Ia adalah tipe lelaki yang melakukan sesuatu hal dengan ketulusan, sebagai makhluk yang telah dilimpahi cinta oleh Tuhan. #NgalorNgidulOmonganku hahahha

Dengan aksinya, Mbah Tuwek menunjukkan bahwa tangan yang ia miliki lebih berguna dari mulut yang ia miliki. Secara tidak langsung ini sangat menginspirasi para fakir cinta untuk mendulang cinta kasih gadis incarannya. Yaitu, apabila ingin berjuang demi cinta, maka harus dalam bentuk karya nyata, bukan hanya manis bibir semata. Selain itu, sejatinya cinta itu bukanlah pengorbanan, tapi ketulusan. Seperti apapun hasil dari perjuangan cinta, itu tak lagi penting, karena semua perjuangan dilakukan dengan cinta. Itulah yang ingin diajarkan oleh Mbah Tuwek kepada para fakir cinta. Menurut analisis lebai saya, lho, ya.

Setelah banyak dikenal orang, Mbah Tuwek banyak didatangi orang dan tak jarang beliau diberi uang sebagai ucapan terima kasih. Dan uang itu sering ia bagi-bagikan kepada teman-temannya yang awalnya sering mengatakan beliau gila karena aksinya. Hal ini juga mengajarkan kepada para fakir cinta untuk melakukan perjuangan cinta tanpa kenal lelah. Tuhan maha membolak balikkan hati seseorang, pun mengubah keadaan seperti membalikkan telapak tangan. Hal yang tak mungkin bisa jadi mungkin apabila dilakukan tanpa kenal menyerah. Tapi sekali lagi, apabila hasilnya masih saja tak sesuai yang diharapkan, bisa jadi itu adalah hal terbaik yang telah dilakukan. Hal terbaik karena telah mendulang rasa tulus dalam perjuangan, rasa damai dalam keikhlasan, dan perasaan kuat karena ditempa pahitnya perjuangan cinta. Tak ada dendam, tak ada kepediahan, karena ketulusan yang mendominasi perasaan. Tsaaah.

Kata anaknya, Mbah Tuwek ini adalah orang yang begitu peduli terhadap lingkungan. Terbukti dari cerita anaknya yang mengatakan bahwa selokan di sekitar rumahnya ia bersihkan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Anak-anaknya merasa bahwa itu sebaiknya bukan tugasnya, karena harusnya dilakukan secara kerja bakti. Saya pikir sebagai anak itu sah-sah saja karena mereka merasa kasihan dan mungkin tak rela ayahnya melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan oleh ayahnya sendirian. Dan ketika anak-anaknya ingin membantu, Mbah Tuwek tidak mau, karena juga tak ingin melihat anaknya melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan debu, atau mungkin takut anaknya kotor. Pelajaran lagi, nih, para fakir cinta. Apabila dikaruniai begitu banyak cinta, murahlah berbagi. Bahkan untuk membahagiakan orang yang dikasihi, bisa jadi harus sembunyi-sembunyi dalam menahan perih dalam perjuangan cinta. Biarkan orang yang dikasihi tahu hasilnya yang indah, bukan perjuangannya yang sukar. Karena kebahagiaan orang yang dikasihi adalah kebahagiaan utama orang yang tulus memberi kasih.

Saya rasa waktu kau tersita beberapa saat untuk membaca filosofi tambal jalan yang tak begitu penting ini, Kawan. Siapa peduli! Inti dari semua itu bukanlah filosofi cinta untuk para fakir cinta … bukan! Tetapi lebih kepada ranah sastrawi yang dilakukan oleh Mbah Tuwek. Bahwa kebaikan itu dilakukan tanpa mengenal timbal balik, karena Tuhan telah melimpahkan cinta kepada seseorang untuk dibagi-bagi lagi kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Mbah Tuwek adalah potret yang sangat keren di dunia modern seperti sekarang. Mbah Tuwek dapat dikatakan sebagai pahlawan sebenarnya. Mungkin para fakir cinta yang hatinya berlubang bisa berobat jalan sama Mbah Tuwek.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s