Harapan Akan Keindahan

Sumber Foto: id.wikipedia.org

Sumber Foto: id.wikipedia.org

Alam ini begitu indah. Yah, begitulah. Tergantung sudut pandang orang yang memandangnya. Saya ingin bercerita sebuah kisah. Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMA, pihak sekolah mengadakan study tour ke Bali. Katakanlah piknik. Saya yang hobi mabuk darat dan laut hobi banget muntah dan pusing. SKIP. Bali begitu indah, indah banget. Tapi sering kali saya hanya menganggap yang saya lihat di Bali itu adalah biasa saja. Entah karena faktor mabuk perjalanan atau saya kurang mempunyai rasa syukur tentang alam. Bukan tanpa alasan saya mengatakan bahwa saya kurang bersyukur. Pada saat itu, ada teman saya bernama Nur. Dia adalah teman baik saya di SMA. Setiap perjalanan hingga hari terakhir kami di Bali, berulangkali ia terkesiap takjub dengan keindahan Bali. Berulang kali ia mengatakan bahwa Tuhan begitu maha besar karena telah menciptakan semua keindahan yang mampu dinikmati kawan saya itu. Saya pribadi yang berada di sampingnya hanya membatin, ini anak berlebihan atau memang saya yang nggak bisa nikmati keindahan. Saya masih merasa belum menikmati hal indah di sana.

Sumber Foto: anekatempatwisata.com

Sumber Foto: anekatempatwisata.com

Perjalanan berlanjut. Saat itu kami dibebaskan untuk belanja di Joger. Karena tak ada baju yang pas di badan, saya mengajak Nur untuk menunggu di luar saja, sebelum rombingan menuju pantai Kuta. Saya pikir kami akan berangkat ke Kuta bersama rombongan, ternyata kami benar-benar dibebaskan. Saya, Nur, dan salah satu teman saya lain, lupa namannya, langsung pergi ke Kuta naik metro mini. Sampai hari gelap, metromini masih saja berjalan macam siput. Saat saya melihat rombongan teman-teman saya naik mobil yang bentuknya kaya odong-odong, saya mengajak Nur dan kawan saya turun untuk mengejar mereka. Ketika kami mau ikut naik, mobil itu sudah tidak muat lagi. Lagi pula mobil macam odong-odong itu juga berjalan macam siput. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk berjalan di trotoar jalan keliling pulau Bali. Hingga kami tersesat di pusat keramaian kota tersebut. Di sekeliling saya banyak sekali kafe-kafe yang dipenuhi dengan turis-turis bule. Ketika sadar ternyata saya tersesat.  Nur pun mulai menyalahkan saya karena mengajak turun dari metro mini. Tapi saya hanya terpaku dengan keadaan sekeliling tanpa memedulikan ocehan Nur.  Sungguh, selama perjalanan di Bali itu, baru malam itu saya merasakan keindahan kota Bali. Ternyata suasana pusat keramainan itu mirip dengan di tivi-tivi. Seperti suasana pusat keramaian Jepang, atau Hongkong. Setelah hari itu, saya tahu, keindahan itu mengenai sudut pandang dan pengalaman apresiasi seseorang. Sama halnya orang yang hobi batu akik, burung, atau yang lainnya. Mungkin sudut pandang yang memengaruhi keindahan yang diperolah masing-masing orang.

Sebenarnya saya bukan ingin menceritakan soal liburan saya itu. Apalagi pas liburan itu saya menginjak beling di pantai Sanur. Dan saya ingat benar sebelum dibawa ke rumah sakit, teman saya Nur mengikatkan slayer masa SD nya dengan gambar simbol band Gun n Roses pada kaki saya. Padahal itu slayer berharganya, dan ia rela untuk memberikannya pada saya. Terima kasih. Wait. Sebenarnya terkait kekaguman Nur terhadap alam itu bukanlah isapan jempol belaka. Bali memang indah, hanya saja saya waktu itu tidak gumunan.

Tentang keindahan alam. Saya jarang sekali piknik atau sekedar jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah. Rasanya saya lebih suka nonton film atau baca buku. Tapi setelah saya banyak mengurung diri aka nganggur, saya jadi ingin sekali-sekali jalan-jalan. Beberapa waktu lalu teman-teman saya mengadakan perjalanan untuk naik gunung. Saya sangat ingin ikut, tapi itu tidak terwujud. Muncul perasaan sedih karena gagal berkesempatan untuk ikut dalam perjalaan tersebut. Padahal dulu waktu sekolah, teman-teman sekolah saya yang sering naik gunung tidak pernah membuat saya tertarik. Saya sadar, naik gunung itu susah, apalagi untuk orang introvert seperti saya. Saya lebih baik di rumah, nonton film, tivi, atau baca buku. Pikir saya selama ini. Tapi sekarang, saya mendadak ingin jadi orang yang ekstrovert. Saya ingin ikut naik gunung, dan sedihnya saya belum memiliki kesempatan itu. Dan ternyata teman-teman saya yang dulu pernah ngajak sudah naik gunung lagi untuk kedua kalinya, dan saya tidak dapat kesempatan itu lagi. Padahal saya sudah bilang ingin ikut. Rasanya sedih juga, sih, cuma bisa lihat foto-foto mereka. Tapi mau gimana lagi. 😦  Saya belum memiliki kesempatan naik gunung saja. Sudahlah!

Kenapa saya mendadak jadi pengen ikut naik gunung? Simpel. Karena teman-teman saya yang mengajak saya naik gunung itu juga para pemula.  Jadi, saya merasa ada teman yang sama sebagai pemula. Dan sekarang mereka sudah satu step di atas saya, dan saya belum menjadi seorang pemula. Saya hanya menjadi seorang pendengar dan pengamat foto-foto naik gunung mereka. Yah, belum kesempatan saya saja. Saya harap saya punya kesempatan naik gunung walau hanya sekali seumur hidup saya, meski gunung punya ketinggian tidak terlalu tinggi sekalipun. Meskipun saya takut ketinggian, saya harap mampu menjalani kesempatan itu apabila kesempatan itu benar-benar ada. Sekali-sekali saya ingin melakukan hal di luar zona karakter saya. Yah, mungkin keindahan itu tentang sudut pandang. Saya hanya ingin bersyukur atas keindahan Tuhan melalui sebuah perjuangan. Thank’s God, I have more hope for life.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s