Perkara Bolos Dan Tidak Bolos

Baru-baru ini ada sebuah artikel yang memberitakan absensi wajah di salah satu sekolah di Yogyakarta. Ya, absensi wajah ini dilakukan oleh pihak SMA Negeri 3 Yogyakarta. Jadi, absensi wajah ini dapat meminimalisir adanya tindak pembolosan yang dilakukan oleh siswa. Terlebih ditambah absensi manual untuk memastikan siswa agar tidak kabur dari sekolah setelah melakukan presensi. Bukan hanya menggunakan scan wajah, presensi juga bisa dilakukan dengan menempelkan kartu RFID yang di dalamnya ada chip identitas siswanya. Ini katanya dilakukan kalau cuaca mendung yang katanya scan wajah jadi kurang maksimal. Mungkin wajah siswa juga mendung mengikuti cuaca yang berlaku.

Saya rasa ini adalah sekolah yang dapat dijadikan contoh bagi sekolah-sekolah lain. Terlebih scan wajah di sekolah tersebut adalah bantuan dari pihak Telkomsel. Masalahnya apa pihak Telkomsel mau memberi alat scan wajah tersebut ke sekolah-sekolah lain? Aduh terlalu memaksakan, deh kalau diterapkan juga di sekolah-sekolah lain. Menurut hemat saya, sekolah-sekolah cuma harus menerapkan tindak tegas bagi siswa yang sering bolos. Bukan ancaman, tapi sanksi tegas. Karena dengan sanksi tegas, saya yakin bisa meminimalisir tindak pembolosan. Selain itu, tenaga pendidik juga harus rajin mengajar dan dengan benar mengajar. Maksudnya mendidik itu adalah pekerjaan mulia, sayang kalau seorang guru juga melakukan tindak korupsi, korupsi waktu. Lingkup sekolah bisa selaras apabila semua warganya melakukan kerja sama yang baik.

Sumber Foto: inkworldit.com

Sumber Foto: inkworldit.com

Zaman saya sekolah dulu, nggak ada yang namanya scan wajah atau finger print di sekolah, presensi, ya manual. Saya kuliah pun juga masih presensi manual. Saya jadi rindu masa-masa isi presensi waktu kuliah. Titip absen pasti menjadi barang yang tak asing lagi, dong di kalangan mahasiswa. Saya jadi ingat waktu saya kuliah dulu, saya sering dimintai tolong untuk ngisi presensi teman. Istilah kerennya titip absen. Ada teman saya namanya Umar Keling yang sering titip absen ke saya. Nah, ketebetulan dosen yang mengajar waktu itu mmanggil satu-satu mahasiswanya. Saya langsung bingung. Saya jawab saja “Umar sedang ke WC, Pak.” Tatapan menertawai langsung menghunjam saya dari arah teman-teman. Sebenarnya dosen saya tahu kalau saya berbohong, tapi, ya, cuma senyum saja. Lha wong si Umar juga nggak kunjung pulang dari WC. Saya pun agak dongkol dengan si Umar sehinngga saya tidak mau lagi mengisikan presensi si Umar lagi. Minggu berikutnya, si Umar Keling ini nggak berangkat kuliah lagi. Saya, sih, bodo amat, saya nggak mungkin masuk dalam lubang yang sama. Please, deh. Eh, ternyata, akal si Umar Keling ini nggak berhenti sampai situ. Dia titip absen sama teman saya cewek, namanya Asty. Pas dosen panggil nama mahasiswa satu per satu, si Asti bilang sama saya kalau dia sudah ngabsenin si Umar. Saya langsung tepok jidat. Kampret si Keling. Saya pun mengatakan pada Asty untuk diam saja tidak usah menjawab kalau dipanggil. Karena dosen saya orangnya slow, ketika nama Umar dipanggil dan nggak ada yang jawab, beliau cuma bilang, “hayo siapa yang ngabsenin hayo?”. Lagi, semua mata langsung tertuju pada saya. Tawa-tawa menggelikan langsung menghias di bibir teman-teman saya. Tapi saya tetap pura-pura nggak tahu. Apalagi si Asty. Haduh. -_-

Sumber Foto: 1cak.com

Sumber Foto: 1cak.com

Masih soal titip absen. Karena saya berteman baik dengan Umar, jadi saya sering mengisikan presensi dia. Nah,  waktu itu kebetulan pas dosennya punya wajah garang. Susah sekali menebak dosen saya itu marah atau tidak, soalnya raut marah dan raut biasa susah dibedakan. Kebetulan waktu itu akhir semester, ujiannya mengumpulkan makalah saja. Nah, ada teman saya, katakanlah Ringgo, yang nggak bisa ikut ujian akhir kuliah tersebut—makkalahnya ditolak karena presensinya kurang. Ringgo pun langsung protes, “SI Umar juga nggak pernah masuk, Pak, kok dia boleh ikut ujian?” Dosen saya langsung diam, wajahnya, sih, biasa sama menyimpan marah nggak bisa dibedakan. Saya yang sering mengisikan presensi di mata kuliah itu benar-benar hampir gila dibuatnya. Sumpah, takut kena damprat, takut kena marah habis-habisan. Setelah beberapa saat terdiam dengan raut wajah yang mengerikan, akhirnya dosen saya itu pun mengeluarkan kata-kata, “bagaimana kamu tahu kalau si Umar nggak pernah berangkat, orang kamu saja nggak pernah berangkat?” . Ringgo langsung terbungkam. Sedang sekujur hati saya langsung terasa diguyuri kelegaan yang luar biasa. Saya merasa terbebas dari kemarahan dosen tersebut. Si Umar Keling itu benar-benar membuat jantunng saya berlompatan. Kampret!

Sumber Foto: 1cak.com

Sumber Foto: 1cak.com

Sebenarnya masalah presensi ini cukup vital bagi mahasiswa. Sebagai mahasiswa, tingkat kehadiran harus minimal 75% agar bisa ikut ujian. Jadi, dari seluruh total pertemuan, ada 4 kali hak untuk membolos. Itu menjadi hak. Nah, kalau saya, kalau sering bolos, maksudnya lebih dari empat kali, kalau presensi saya nggak ada tanda silangnya, langsung saya isi, biar penuh. 😀 Kalau sudah disilang oleh dosen, saya akan buat sedemikian rupa biar menjadi tanda tangan saya. Jadi yang silang-silang pada pertemuan sebelumnya, saya sulap jadi tanda tangan. 😀 😀 😀 Itu, saya lakukan dulu, kalau kepepet. Di kampus saya sekarang, katanya sudah nggak bisa yang namanya curang seperti yang saya lakukan dulu. Kata teman-teman saya yang masih kuliah tapi sudah jadi legend, presensi dilakukan dengan manual—tanda tangan atau dipanggil satu-satu, tapi setelah presensi, buku presensinya langsung diserahkan ke admin buat dimasukkan di data komputer atau online. Jadi, sudah nggak bisa diubah lagi. Keren, deh! Waktu kuliah kecurangan-kecurangan presensi memang sering saya lakukan. Jangan ditiru, deh. Nggak, baik. Sumpah. Jangan. Kalau nggak, ya, mungkin butuh perenungan dan penyesuaian diri agar tidak menjadi pribadi yang suka bolos. Mending belajar disiplin selagi muda, biar tuanya bisa mendulang hasilnya. Sayang kan kalau sudah tua jadi orang penting yang suka bolos. Malu sama anak, cucu, ponakan, tetanga.

Mungkin biar nggak suka bolos, scan wajah yang canggih dan keren itu bisa diterapkan. Mungkin hal semacam ini sebaiknya juga ditepakan di lingkup DPR kita yang hobi bolos. Dari laman politik.news.viva.co.id, menyebutkan bahwa pada tanggal 18 Mei 2015 paripurna pembukaan masa sidang IV tahun 2014-2015 hanya dihadiri 279 dari total 555 anggota DPRI dari semua fraksi. Ya, sudahlah, ya, namanya juga sudah berlalu. 😀

Di DPR, alat presensinya adalah finger print. Saya tidak tahu apakah finger print itu bisa digunakan untuk tindak kecurangan atau tidak. Entahlah. Sebenarnya saya malas sekali membicarakan DPR ini. Rapat paripurna sering bolos, alasannya macetlah, apalah, apalah, dan yang lain-lain. Ini kayak abege tahu, nggak, sih. Alesannya nggak mood-lah, capeklah, ngantuklah, maleslah, apalah, apalah. Mbok, ya, kalau sudah ada gajinya, ya yang rajin. Ngomong di media gajinya kecil, tapi kok, ya tetap mau jadi anggota DPR. Mau bilang ingin memperjuangkjan rakyat kecil? Tai kucing! Melawan kemalasan dan alasan-alasan yang sering datang saja nggak bisa, kok, mau memperjuangkan rakyat kecil. Malah ada juga itu artis yang ditanya hak-hak sebagai anggota DPR nggak tahu, ngudud di ruang sidang. Kalau aku, sih, no, nggak tahu Mas Anang. Saya, sih, nggak pernah yang namanya under estimate dengan artis yang jadi anggota DPR, karena saya sudah under estimate dengan semua anggota DPR. Jadi bukan hanya artis saja. Tapi setelah rapat yang digelar oleh anggota DPR yang sering mengerucutkan keputusan dengan voting karena gagal musyawarah mufakat, saya jadi lebih under estimate dengan para artis yang jadi anggota DPR itu. Saya takutnya mereka hanya jadi alat voting golongan.

Intinya, saya, sih, mendukung kalau anggota DPR kita ini terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Mau kerja di rumah atau di gedung, yang penting tahu tanggung jawabnya. Sebenarnya menurut saya mau presensi wajah, tubuh, atau apapun itu bukan jadi soal. Karena yang jadi soal adalah kesadaran untuk melakukan yang benar dan dengan benar. Bagi siswa atau mahasiswa, sih, mungkin akan rugi sendiri jika bolos, apalagi kesulitan menghindari sanksi tegas yang diberikan. Kalau aggota DPR, sih, saya ragu. Mereka bolos kok kayaknya terkesan biasa. Nggak rugilah, orang digaji. Jadi, mau pakai presensi apapun kalau bolos itu nggak ada sanksi tegas yang mampu membuat jera, ya susah. So, bolos tidak bolos itu bukan perkara vital. Kesadaran akan tanggung jawab dan konsekuensinlah yang paling penting. Ingat, isi adalah kosong, kosong adalah isi. Alah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s