#RIP Angeline

Sumber Foto: bali.tribunnews.com

Sumber Foto: bali.tribunnews.com

Angeline … hmm … Saya harus menghela napas berat saat harus menulis tentang cerita anak berusia 8 tahun ini. Saya selalu nyesek kalau lihat fotonya. 😦 Kasus pembunuhan yang dialami oleh Angeline begitu biadap dan mengerikan.  Anak berusia 8 tahun ini disiksa lalu dibunuh dan diperkosa oleh Agus Tai, pembantu rumah tangga Ibu Margareth, ibu angkat Angeline. Biadap! Sampai saat ini Agus Tai sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mungkinkah Ibu Margareth dan kakak-kakak angkat korban juga akan menyusul sebagai tersangka?

Saya ingin menguraikan terlebih dahulu kisah hidup Angeline ini. Angeline lahir pada tahun 2007 di Banyuwangi, rumah orang tua kandungnya tinggal. Pada saat itu, orangtua kandung Angeline kelimpungan tentang biaya persalinan Angeline. Kemudian muncullah Ibu Margareth dan suaminya warga negara asing yang membantu biaya persalinan dengan syarat mengadopsi Angeline hingga usianya 18 tahun. Katanya, sih, adopsi ilegal. Orangtua kandung Angeline pun tak punya pilihan lain selain menerima tawaran Ibu Margareth dan suaminya tersebut. Dalam perjanjian itu, orangtua kandung Angeline tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Angeline dan memberi tahu jati diri Angeline hingga usia Angeline menginjak 18 tahun. Sempat sekali orangtua kandung Angeline ingin bertemu dengan Angeline, tapi orangtua angkatnya tak memperbolehkan karena memang sudah ada di perjanjian. Seiring berjalannya waktu, kedua orangtua angkat Angeline kian sayang terhadap Angeline—perkiraan saya. Hingga sampai pada dua tahun lalu, 2013, suami ibu Margareth meninggal dunia dan menuliskan Angeline juga akan memperoleh hak atas warisannya. Bisa jadi semenjak hari itu, kehidupan Angeline berubah 180 derajat. Bisa jadi semenjak hari itu, Angeline benar-benar tak mempunyai tempat untuk mengadu. Bahkan Ibu Margareth yang diketahuinya adalah ibu kandungnya sendiri pun sering menyiksanya. (Atau mungkin malah sejak balita Angeline sudah ditelantarkan? Entahlah!) Ibu Margareth menyuruh Angeline untuk bekerja setiap hari memberi makan ayam. Satu hal lagi yang membuat saya agak tercengang adalah, Angeline harus menempuh jarak 2 km dari rumahnya ke sekolah dengan berjalan kaki setiap hari. Tubuhnya juga sering memar karena dihajar ibunya. 2 km berjalan kaki untuk anak-anak pelosok mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Tapi jika itu terjadi pada anak yang bisa dibilang memiliki orangtua berkecukupan, tinggal di kota dengan akses mudah, dan berjalan sendirian ke sekolah itu cukup menyedihkan. Anak-anak pelosok jika harus melalui akses jalan yang sulit, itu sudah biasa, itu memang kondisi tempat mereka tinggal. Yang membedakan dengan Angeline adalah, Angeline tidak punya teman mengadu, teman yang menemaninya, dan senyum keluarga di rumahnya. Pernah suatu ketika Angeline datang terlambat ke sekolah dan ditanya oleh kepala sekolahnya kenapa terlambat, Angeline pun menuturkan bahwa rumahnya jauh dan ia harus berjalan kaki. Gurunya juga pernah melihat tubuh Angeline memar-memar, bahkan ada bekas disundut rokok. Dan bisa dibayangkan seperti apa hidup Angeline di bawah naungan orangtua angkatnya tersebut.

Sampai pada satu waktu, Agus Tai, pembantu rumah tangga Ibu Margareth naik pitam, entah apa alasannya. Kuasa hukum Agus Tai mengatakan bahwa tindak pembunuhan itu terjadi karena Angeline mengatakan bahwa pekerjaan Agus Tai tidak becus. Saya tidak percaya, bahkan mungkin semua orang tidak percaya. Saya berpikir, sebelum kejadian itu, bisa jadi Angeline sudah pernah disetubuhi oleh  Agus Tai, entah berapa kali. Saya menduga pada waktu itu, Agus Tai ingin melampiaskan hasrat bejatnya pada gadis mungil itu, tapi Angeline berteriak “Mama … Mama …” dan Agus Tai pun panik. Ia pun mulai menyiksa Angeline, membenturkan kepalanya hingga lemas (mungkin tewas). Baru ia menggagahi Angeline dengan beringasnya. Setelah itu menyimpannya di dalam kamar dan menguburnya pada malam hari. Tapi dalam pra rekonstruksi, Agus Tai tidak melakukan adegan menjerat leher angeline, tapi terdapat jeratan pada leher Angeline. Ibunya kah? Angeline pun dikubur dengan dibungkus sprei ibunya oleh Agus Tai. Mayat Angeline dikubur dalam kedalaman 50-80 cm dalam keadaan telungkup memeluk boneka. Tapi dari cerita Ibu Margareth, sebelum Angeline hilang, Angeline dan ibunya sedang makan mie instan. Angeline dengan sayangnya menawarkan ibunya untuk dibuatkan mie. Tapi Ibu Margareth meminta Angeline memberi makan anak ayam dulu. Di luar, Angeline bertemu dengan Agus Tai. Pria biadap itu meminjam pensil pada Angeline. Angeline pun mengambilkan pensil untuk Agus. Dan setelah itu Angeline hilang. Sulit dipercaya apabila eksekusi pembunuhan itu tidak diketahui oleh Ibu Margareth.

Setelah hari itu, Ibu Margareth melaporkan ke polisi bahwa Angeline hilang pada tanggal 16 Mei. Ibu Margareth juga membuat sayembara, barang siapa menemukan Angeline akan diberikan 40 juta rupiah. Pernah Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi mendatangi rumah ibu Margaeth untuk melihat kondisi rumah dan sekeliling, tapi Ibu Margareth melalui satpamnya malah mengusirnya. Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Medeka Sirait datang ke rumah Angeline, tapi lagi-lagi Ibu Margareth mengusirnya. Ibu Margareth berujar bahwa apapun yang dilakukannya adalah karena ia Ibu Angeline. Hingga berganti bulan, kepala sekolah dan guru-guru Angeline melakukan ritual dengan petunjuk ahli supranatural. Mereka melakukan ritual di dalam rumah Ibu Margareth. Kepala sekolah Angeline mengatakan kondisi rumah Angeline ini sungguh tidak layak huni dan terkesan kotor. Dan mereka menduga sesuatu telah terjadi di dalam rumah tersebut. Polisi baru turun tangan setelah Angeline lama hilang.  Polisi pun berhasil menemukan mayat Angeline di sekitar kandang ayam, di dalam gundukan tanah tertutup banyak kotoran ayam, setelah curiga karena mencium bau tidak sedap bercampur dengan kotoran ayam..

Proses hukum pun begitu cepat berlangsung. Polisi telah menetapkan Agus Tai sebagai tersangka. Pembunuhan Angeline ini bisa jadi (mungkin benar) ada campur tangan ibu dan kakak-kakak angkat angeline yang sering menyiksa Angeline. Mungkin, motifnya adalah harta warisan. Ini desas-desusnya, lho, ya. Kita tunggu saja.

Banyak orang yakin Ibu Margareth ini juga terlibat dalam pembunuhan Angeline. Bukan tanpa alasan. Angeline dibunuh Agus Tai di dalam rumah di sore hari. Ibu Margareth menyadari Angeline hilang di sore hari pada saat makan mie instan. Di saat Angeline dieksekusi, Ibu Margareth juga sedang di rumah. Kata kuasa hukum Agus Tai, Ibu Margareth menyuruh Agus untuk membuat lubang seminggu sebelum kematian Angeline. Ia juga menyuruh Agus untuk mencari tanah. Berganti hari, Agus mengatakan ia hanya disuruh Ibu Margareth untuk membunuh Angeline dengan dibayar 2 miliyar. Nggak tahu yang benar gimana.

Saya benar-benar sedih melihat tragedi semacam ini. Ada anak kecil yang menganggap ibunya sebagai ibu kandung dan menyayangi ibunya sebagai ibu kandung, tapi ibunya tidak merasa menyayangi anak angkatnya sebagai anak kandungnya. Padahal mereka sudah tinggal sekitar 8 tahun. Terlebih Angeline masih berusia 8 tahun. Ini seperti di sinetron-sinetron, suaminya mengangkat anak, dan istrinya kurang suka. Terlebih Angeline juga dapat warisan. Mungkin Ibu Maregareth merasa terancam dengan kehadiran Angeline. Anak kecil itu pun sering dimarahi, disiksa, dipekerjakan tidak sesuai dengan usianya, dan hal-hal yang di luar nalar yang dilakukan oleh orang yang mengaku ibunya.

Angeline ini tidak pernah keluar rumah, ia keluar rumah kalau sekolah dan disuruh ibunya membeli beras dan pulsa. Ia juga harus berjalan kaki 2 km dari rumahnya ke sekolah sendirian. Ketika pulang sekolah harus memberi makan ayam dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain, itu pun sering mendulang siksaan dari orangtuanya. Sehingga Angeline menjadi anak yang tertutup dan diselimuti ketakutan. Angeline sendirian. Beban itu terasa mengerikan ketika menyadari keberadaan diri Angeline adalah sendirian.

Hidup Angeline begitu menyedihkan. Bahkan Agus Tai yang notabene pelaku pembunuhan dan pemerkosaan Angeline, merasa prihatin dengan perlakuan Ibu Margareth kepada Angeline semasa hidup. Tapi entah mengapa Agus Tai kok malah melakukan hal bejat itu.

Melihat fenomena Angeline ini saya jadi ingat film The Lovely Bones. Film ini juga menceritakan pembunuhan seorang bocah berusia 14 tahun yang diperkosa dan dimutilasi oleh tetangganya sendiri secara rapi. Jiwa anak tersebut belum tenang saat sang pembunuh belum dihukum. Tapi ketika kakaknyanya bisa membongkar pembunuhannya, ia mulai tenang dan bisa tenang di surga. Dan si pembunuh tewas jatuh ke jurang tanpa diketahui orang.

Sumber Foto: Twitter Atiqah Hasiholan

Sumber Foto: Twitter Atiqah Hasiholan

Kisah hidup Ageline sungguh menyedihkan. Dia mati dengan cara yang mengenaskan. Mungkin ini memang jalan hidup Angeline. Saya percaya, sekarang Angeline sudah tenang di alamnya. Ia sudah berada dalam pelukan Tuhan. Tanpa ketakutan, tanpa kesedihan, tanpa derita, dan tidak sendirian. Saya bahkan tidak bisa membayangkan kalau Angeline tetap hidup dan menjalani hidup dengan trauma yang mendalam. Kejahatan itu mungkin hanya membekas pada tubuh korban, dan bisa sembuh seiring waktu. Tapi taruma itu sangat sulit sekali hilang bagi korban. Bisa jadi sepanjang hidup, korban akan menanggung ketakutan dan trauma yang mengerikan. Selamat jalan, Angeline. Kamu tenang dalam pelukan Tuhan. Tanpa rasa takut, tanpa rasa sedih, tanpa rasa sakit. Dan kamu tidak lagi sendirian. Let it go, seperti lagu favoritmu, Angeline.

Iklan

4 pemikiran pada “#RIP Angeline

  1. Memang sulit sekali membayangkan apa yang dilakukan kepada Engeline, sangat biadab, saya sangat geram ketika menonton berita ini. Apa lagi setelah pengacara Sitompul yang jdi pengacara si Margaret, Makin Geram saya liatnya. Kok ada manusia yang begitu kejam sampai kehilangan hati nurani nya..

    • Ya, namanya pengacara, Mbak … heuheuheu semoga saja yang benarlah yang menang, saya yakin kebenaran pasti terungkap, oleh orang lain atau malah oleh pengakuan pembunuh Angeline sendiri

  2. Sedih membaca kisah Angeline…setelah kehilangan anak manis seperti dirinya, makin tersadar untuk lebih peduli dengan hidup anak-anak, entah nanti anak sendiri ataupun anak-anak yang berada dalam tanggung jawab. Semoga kejadian seperti ini tidak pernah terulang lagi…dan kepergian Angeline tidak sia2; setiap kebenaran dapat segera terungkap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s