Cerita Ronda 1 (Menggalakkan Ronda Kembali)

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Dewasa ini, negeri kita sering diributkan dengan berbagai huru-hara kejahatan yang kian merajalela, dari:  copet, jambret, penodogan, begal, hingga pembunuhan. Sudah selayaknya para penegak hukum kian bergerak untuk memantau keamaanan yang menjadi bagiannya. Membasmi kejahatan, seperti apa yang telah dilakukan Wiro.

Membicarakan keamanan, di kampung-kampung juga sebaiknya diterapkan kegiatan-kegiatan keamanan berupa  siskamling atau ngeronda. Selain menjaga keamanan, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antar warga.

Tiga minggu lalu, pagi-pagi saat saya tertidur, terdengar keributan di samping rumah saya. Ternyata pembuatan pos ronda, atau gardu. Saya pun yang tadinya tertidur pulas akhirnya bangun lalu ikut gotong royong, padahal baru tidur tiga jam. Partisipasi saya dalam kegiatan pembangunan gardu berupa: memotong bambu, mengelap genting, membeli ini itu, hingga membagi-bagikan wadah jimpitan dan jadwal ronda.  Malam harinya, acara yang katanya peresmian itu dilakukan dengan memutar musik dan memasak ayam kecap. Yang datang pun nggak banyak, hanya segelintir. Mungkin karena lelah siangnya, maka sorenya memutuskan untuk nggak berangkat.

Dulu, sih pernah dibangun gardu di kampung saya—RT kami. Tapi setelah ronda sudah nggak menarik lagi, gardu itu jadi sepi. Ditambah yang punya tanah hendak menikahkan anaknya, akhirnya gardu itu pun dirobohkan. Ya, ronda dihentikan karena mungkin acara di gardu cuma gitu-gitu aja. Dulu jauh sebelum membuat gardu pertama, di kampung saya pernah digalakkan ronda keliling. Maksud dari ronda keliling ini adalah ngeronda dengan pos di rumah-rumah warga. Jadi tiap malam ada rumah yang dapat jatah untuk dijadikan pos ronda. Tuan rumah biasanya mengeluarkan makanan-makananan ringan untuk para peronda. Kegiatan-kegiatan ronda waktu zaman dulu itu keren: keliling ‘kothekan’, ambil jimpitan, dan main kartu. Dari luar terkesan sama dengan kegiatan ronda pada umumnya. Tapi main kartunya ini bukan sembarang man kartu, karena ada taruhannya. Taruhannya itu adalah mie instan atau telor. Jadi, misal yang jadwal ronda katakanlah ada sepuluh orang, delapan orang di antaranya bermain kartu dan terbagi menjadi dua kubu. Masing masing orang dari tiap kubu mengeluarkan uang sebesar tujuh ribu rupiah waktu itu untuk membeli satu dus mi, atau banyak butir telor—dulu sih seingat saya tujuh ribu rupiah, ya. Main kartunya, sih kayaknya remi, entah menangnya dapat berapa mie instan atau telur, saya nggak tahu.

Dulu mendiang kakek saya, tiap dapat jatah ronda selalu memutar radio lamanya dan menyetel wayang. Biasanya beliau memakai baju dan celana panjang dan sarung warna biru. Selain itu, santer lama dan rokok lintingan selalu menjadi senjatanya. Ketika dapat jatah ronda, Nenek saya selalu memasak beraneka gorengan buat orang-orang yang ronda. Dan yang paling saya ingat adalah tempe goreng tepung. Enak. Saya sering minta sebelum ronda dimulai. Dan nenek saya selalu berujar, “Sudah, nanti yang ronda nggak kebagian.”

Dulu ronda juga menjadi hal yang menegangkan. Di kampung saya, pernah berkeliaran babi ngepet. Serius. Babi ini selalu meresahkan warga, sehingga pantas diburu. Karena kabar babi ngepet itu menyeruak begitu keren, makan ronda menjadi hal yang sangat menegangkan. Bukan isapan jempol belaka, karena tapak kaki juga tampak di tanah-tanah. Semua orang jadi sering berjaga-jaga dari pada main kartu. Selain itu, waktu saya SMA, saya juga pernah lihat babinya. Waktu itu saya sedang menggarap PR Kimia. Dan saya keluar rumah untuk apa saya lupa, ngadem barang kali. Sekitar pukul sepuluh malam, saya melihat babi dengan ukuran kecil badannya dipenuhi lemak dan berjalan cukup kesulitan. Saya yang menyadari bahwa itu babi langsung lari masuk ke dalam rumah demi menyalematkan diri. Entah itu babi atau bukan, saya tidak tahu.

Sekarang kegiatan ronda digalakkan kembali. Gardu bambu telah dibangun di samping rumah saya. Tiap malam selalu ramai dengan orang-orang. Dengan adanya pos kamling tersebut, saya yang hobi banget begadang jadi merasa ditemani ortang-orang dalam begadang. Bedanya saya sibuk di kamar, dan mereka sibuk di gardu. Saya hanya akan ke gardu jika jadwal ayah saya saja, yaitu Jum at malam Sabtu. Selain itu karena di jadwal itu ada juga teman saya yang sudah berkeluarga. Tapi gardu itu juga cukup mengganggu taraf tidur keluarga saya. Ibu saya seing ngomel sendiri karena tiap malam selalu ada saja yang teriak-teriak saat main kartu. Dan itu suara adik saya, dan juga suara saya saat saya ikut. Dan setelah ibu saya mengomeli adik saya untuk tidak gaduh, keadaan pos kamling pun mulai tenang, terlebih ketika permainan kartu remi. Kalau main remi biasanya agak anteng, tapi kalau main poker, haduh, parah. Selain itu, ada hal yang menganggu saya adalah, ketika kelompok siskamling tidak membawa minuman dari rumah. Dan mereka memasak air di sekitar gardu. Muaknya asapnya masuk rumah saya, dan itu cukup menganggu. Untung hal itu tidak sering terjadi, mungkin sekali seminggu. Dan lagi, ketika mereka menyalakan tivi terlalu keras, haduh, kampretlah pokoknya. Hahaha

Dengan kegiatan ronda ini, rasanya rasa gundah menjadi hilang apabila ikut dalam kegiatan keliling sambil kotekhan. Memainkan musik perkusi dengan keras dan menyenangkan. Hal ini mungkin yang paling menjadi hal favorit seluruh anggota ronda. Teman saya pernah ingin membuat isu babi ngepet biar ronda semakin keren, tapi kayaknya terlalu beresiko. Over all, acara ngeronda ini ada plus minusnya. Tapi yang terpenting dari itu semua dalah keamanan. Dengan adanya keamanan, hati pun nyaman, jiwa pun tenang, semuanya menajdi tenteram. Maju terus keamanan Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s