Merenungi Momen Ulang Tahun

Sumber Foto: hanyasenja.wordpress.com

Sumber Foto: hanyasenja.wordpress.com

Tiga hari lalu, tepatnya pada tanggal 17 Juni, saya berulang tahun ke dua puluh … eh, dua puluh empat. -_-  Sepertinya sudah tidak sepantasnya lagi saya mengaku usia saya dua puluh tahun lagi, lagi, dan lagi. Saya pikir usia dua puluh empat adalah usia yang, ya, bisa dikatakan dewasa. Hmm … membicarakan ulang tahun, ya. Ya, ya, ya ….

Bagi banyak orang, ulang tahun adalah momen paling menyenangkan karena akan banyak orang yang akan mengucapkan bahkan memberi hadiah. Tapi bagi saya, momen ulang tahun dari tahun ke tahun adalah hal yang biasa saja dan sama saja. Sejak kecil hingga dewasa, orangtua saya tidak pernah seklaipun mengucapkan selamat ulang tahun. Pun saya kepada mereka, atau pada keluarga saya yang lain. Momen ulang tahun bukanlah momen yang wah bagi keluarga saya. Meski demiikian, saya tidak pernah merasa sedih atau apa, karena momen ulang tahun bagi saya adalah momen yang biasa saja dan sama saja.

Sumber Foto: www.tempo.co

Sumber Foto: http://www.tempo.co

Waktu kecil—TK atau awal awal SD—banyak teman-teman saya yang merayakan ulang tahunnya di sekolah, atau di rumah mereka dengan mengundang teman-teman yang lain. Saya dan teman-teman yang diundang pun pasti berangkat. Saya yang kala itu tinggal dengan Kakek dan Nenek, sering mengado amplop berisi uang. Sepertinya saya pernah juga mengado seragam sekolah, yang membeli adalah Ayah saya. Di acara ulang tahun, biasanya kami para tamu undangan duduk di gelaran karpet, sedangkan anak yang berulang tahun duduk di kursi. Di depan mereka, kue tart sudah diletakkan di atas meja dengan hiasan benda-benda unik dan lilin angka yang menandakan usia anak yang berulang tahun tersebut. Seingat saya, di acara ulang tahun tersebut ada acara gerak dan lagu, menyanyi bersama, dan yang lainnya saya lupa. Kenapa gerak dan lagu? Sebenarnya simpel, karena pada waktu itu, lagu anak-anak begitu digandrungi anak-anak. Saban hari ada acara anak-anak dan klip anak-anak di televisi, sehingga kami sebagai anak-anak pasti sangat menggemari dan hafal mati lagu anak-anak pada waktu itu. Di acara gerak dan lagu, biasanya pesertanya adalah anak-anak pilihan—katakanlah anak-anak yang berani tampil. Biasanya acara gerak dan lagu dilakukan pada acara ulang tahun yang diadakan orangtua anak dengan bekerja sama dengan guru taman kanak kanak yang merangkap sebagai MC ulang tahun. Kalau di sekitar rumah, seingat saya acartanya  hmm …. saya lupa. Tapi yang pasti ada acara tiup lilinnya. Saya ingat juga waktu itu ada temen saya yang usianya di bawah saya, cewek, malu untuk meniup kue ulang tahunnya. Dan ia meminta pertolongan pada kawan saya yang lain, cewek juga, untuk mewakili meniup lilin tersebut. Jadi kalau kaya gitu yang ulang tahun siapa? Whatever, yang pasti, nasi kuning di pesta ulang tahun selalu enak untuk disantap.

Meski sering menghadiri momen ulang tahun semacam itu, tapi sedikit pun saya tidak memiliki keinginan untuk merayakan ulang tahun pada masa kecil. Entahlah, mungkin karena merasa malu atau minder. Hingga dewasa, saya belum pernah sekalipun merayakan ulang tahun saya, karena saya masih merasa, ulang tahun itu adalah hal biasa dan sama saja. Mungkin saya sejak dulu merasa momen ulang tahun itu biasa karena dulu saya tidak tahu tanggal lahir saya. Serius. Saya baru tahu tanggal kelahiran saya mungkin pada saat saya meginjak kelas lima sekolah dasar. Pada saat itu, panitia masjid tempat saya TPA membuat kartu keberangkatan, dan kakak-kakak pengajar ngaji menanyakan tanggal kelahiran saya. Saya yang tidak tahu tanggal lahir saya pun harus pulang dan menanyakan pada Ibu saya. Dengan modal secarik kertas dan pulpen, Ibu saya menuliskan tanggal 16 Juni 1991. Setelah hari itu saya hafal benar tanggal lahir saya.

Seiring berjalannya waktu, saya dipusingkan dengan tanggal lahir saya. Kata Ibu saya, saya lahir tanggal 16 Juni, tapi pada ijazah, saya lahir tanggal 17 juni. Di KTP saya pun tercetak tanggal 16 Juni sebagai tanggal lahir saya. Sampai pada akhirnya saya pun melihat akta kelahiran saya, dan ternyata saya lahir tanggal 17 Juni. Yah, sekarang saya yakin. Meski SIM Dan KTP tertulis 16 Juni, tapi saya tetap meyakini tanggal lahir saya adalah 17 Juni. Karena ini juga tertuang pada semua ijazah saya.

Kembali ke perayaan ulang tahun. Sejujurnya semenjak adanya media sosial, saya jadi bisa mengenal apa itu ucapan ulang tahun. Tapi tetap saja, rasanya momen ulang tahun itu adalah momen yang biasa. Mungkin melalui facebook, momen ulang tahun bisa menjadi wadah bertukar doa. Saya bahkan lupa, pernah atau tidak di dunia nyata teman saya mengucap selamat ulang tahun kepada saya, bersalaman langsung, megucap dengan tulus. Sepertinya, sih, pernah. Sekali, pas ada perkuliahan di kampus,  saya mendapat ucapan selamat ulang tahun dan rengekan untuk makan-makan. Karena saya orangnya bokekan atau mempunyai uang pas-pasan, maka saya mengabaikan racauan mereka. Terlebih bagi saya momen ulang tahun itu bukanlah momen yang luar biasa atau pun khusus, karena itu hanya momen tahunan mengingat usia yang semakin bertambah. Tapi sejujurnya, ternyata mendapatkan ucapan selamat ulang tahun itu menyenangkan, terlebih ucapan itu tulus. Serius.

Tapi kalau diingat-ingat, saya seringkali mendapatkan ucapan ulang tahun, bahkan bukan pada hari ulang tahun saya sendiri. Yang mengucapkan tak lain dan tak bukan adalah nada alarm ponsel Nexian Slank saya yang bunyinya amat keras dan memekakkan telinga. “Selamat ulang tahun … yang terbaik bagimu … banyak cinta dan penuh damai di ulang tahun … resolusi umur baru … penuh semangat baru ….” Lirikya kaya gitulah, saya kurang hafal. Tapi serius, ucapan itu sering kali saya dengar saat saya harus bangun untuk menjalankan aktivitas. Bahkan saat saya menginap di kos kawan-kawan saya, ucapan itu sering terdengar. Saya sengaja memasang ponsel saya itu di dekat telinga kawan saya, agar yang pertama bangun oleh pekikan ucapan itu adalah kawan saya dulu, baru kawan saya membangunkan saya. 😀 😀 Efek kejutnya mantap, Bro. Ponsel ini memang mengucapkan selamat ulang tahun tidak pernah pada hari yang tepat, tapi tahun lalu, pertama kalinya ponsel saya itu mengucapkan selamat ulang tahun tepat di hari ulang tahun saya. Sekarang saya pensiunin tuh ponsel, paling saya gunakan sebagai alarm hari Jum’at, agar saya bangun buat berangkat Jum’atan.

Di ulang tahun saya yang ke dua puluh empat ini, saya baru menyadari bahwa saya memang sudah benar-benar dewasa, maksudnya usia dewasa. Sudah saatnya saya hidup realistis, bukan hanya hidup dengan gelimang mimpi anak-anak muda. Kadang saya menyesal saat menyadari usia saya sudah menginjak usia dewasa. Harusnya pada waktu saya masih menjadi mahasiswa, saya sudah merintis meraih apa yang saya inginkan, bukan hanya menghambur-hamburkan waktu demi hal yang menye menye. Tapi kalau kembali ke masa lalu, belum tentu juga saya akan melakukan apa yang saya sesali. Hmm ….

Usia saya sudah bertambah, dan saya mulai tahu makna ulang tahun itu seperti apa. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan jiwa juga kian mendewasa. Tahun-tahun sebelumnya kebutuhan jiwa saya untuk menjalani bualan hati sangat besar, tapi tahun ini saya merasa kebutuhan jiwa saya adalah mewarnai hidup. Saya ingin hidup realistis, hidup dengan memiliki main income dari sebuah pekerjaan; dan membuat waktu utnuk menjalani bualan hati tanpa memikirkan keuntungan finansial; dan berusaha memantaskan diri untuk menjemput istri dan anak perempuan saya pada waktu yang ditentukan Tuhan. Saya ingat, saya pernah berceletuk bahwa tujuan hidup adalah untuk bertahan hidup. Tapi seiring waktu, saya ingin tujuan hidup saya adalah mewarnai kehidupan. Dan untuk saat ini, sepertinya saya akan mewarnai hidup saya dengan mata terbelalak. Semoga semua harapan saya terwujud. Amin. Saya harap tahun depan saya sudah pantas untuk menambah warna baru pada hidup saya. Saya harus semangat! Cayo!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s