Menjadi Pribadi Yang Dewasa

“Tua itu pasti, tapi dewasa itu pillihan.” Kalimat itu begitu mahsyur bukan main. Tentu benar. Coba tengok saja orang-orang yang usianya bisa dibilang banyak, tapi kelakuannya seperti bocah yang baru menapak remaja. Sebut saja Om AF. SKIP. Bagi saya, menjadi dewasa itu membutuhkan proses. Setiap tahun dari masa kecil, usia remaja, hingga usia dewasa, saya mengalami fase naik turun dalam memahami makna kedewasaan. Kadang saya memahami benar hidup ini seharusnya dilakukan dengan cara dewasa, tapi tak jarang saya melakukan hal-hal yang jauh dari kata dewasa. Dan itu sering membuat saya geli sendiri, bahkan saya sesali saat mengingat atau menemukan hal itu. Saya begitu miris saat melihat diri saya dengan kelabilan dan jauh dari kedewasaan kala itu. Hal-hal yang jauh dari kata dewasa, dan bisa dibilang sangat menggelikan. Semua itu saya lihat dari time line saat media sosial pertama kali menyerang—saat usia saya masih menapak dari remaja ke arah usia dewasa. Aih, begitu mudahnya melihat kedewasaan mengalami progress yang keras. Dan saat ini cara terbaik adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Saat usia saya remaja menapak usia dewasa, saya mudah sekali menyerap apa saja yang ada di sekeliling. Mengikuti keinginan orang-orang dalam mendefinisikan sebuah prestasi dan mengabaikan apa yang benar-benar diinginkan oleh hati. Saya dulu sering sekali termakan bualan-bualan orang lain, padahal saya sendiri tak tahu apakah saya benar-benar menikmatinya atau tidak. Tapi seiring waktu saya paham, semua yang saya lakukan hanyalah mengejar mimpi orang lain, keinginan orang lain. Saya pun menjalani hari-hari saya seperti seharusnya kembali, tapi masih tak tahu apa yang benar-benar saya inginkan. Sampai pada saya menemukan cahaya itu dari salah satu kawan saya. Saya pun tahu makna passion itu apa. Satu-satunya cara untuk mewarnai kehidupan adalah menjalani passion itu, dan bukan hanya untuk menjalani hidup dalam bentuk bertahan hidup. Saya pun termakan bualan hati itu. Ya, semua fatwa-fatwa saya keluarkan demi mengejar kepuasan batin itu. Pola pikir saya berubah dan saya merasa lebih dewasa dari sebelumnya. Tapi secara sikap dan tingkah laku, progress-nya tak banyak dalam kedewasaan. Saya masih sering mengeluh, masih sering beralasan, masih sering memaki, tapi lambat laun saya geli sendiri melihat masa itu. Saya pun terus belajar memperbaiki diri, melihat ke dalam diri saya sendiri. Menelaah apa yang pantas diucap, apa yang pantas dilakukan, dan bentuk sikap apa yang harus dilakukan. Saya terus bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Alangkah proses itu butuh tahapan yang baik.

Saya tetap menjalani apa yang saya inginkan. Saya melakukan apa yang menurut saya harus dilakukan. Tapi seiring bertambahnya usia, bertambah pula kedewasaan itu. Lambat laun saya merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Saya ingin sesuatu yang lebih dari pada bualan-bualan hati itu. Saya akan membuat bualan-bualan hati itu menjadi nyata, tapi saya sadar bahwa bualan-bualan semacam itu hanya akan memuaskan jiwa. Yang saya inginkan mungkin terwujud, tapi yang benar-benar saya butuhkan mungkin susah terwujud apabila saya masih berasa pada fase itu. Entah seperti apa, saya bertransformasi menjadi orang yang lebih dewasa lagi dari sebelumnya. Sebelumnya saya begitu yakin dengan kenikmatan jiwa tanpa memedulikan petuah orang-orang. Tapi setelah saya pahami lagi, keinginan saya berubah. Sekarang, saya ingin memperoleh pekerjaan yang layak. Saya ingin mendapatkan pekerjaan yang bisa menutup kebutuhan hidup saya. Saya ingin hidup sebagai rata-rata manusia pada umumnya, bukan hanya pemimpi yang hidup tanpa membuka mata. Soal kebutuhan jiwa, saya ingin hidup berdampingan dengannya. Saya ingin bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan membuat waktu untuk memenuhi kebutuhan jiwa saya. Itu sulit. Tapi saya yakin, dengan begitu saya menjadi lebih menghargai waktu. Waktu adalah pena. Kita harus menggoreskan semua cerita dengan amat baik tanpa membuang sisanya untuk hal yang menye-menye. Alangkah baiknya apabila saya bisa menjalani hidup dengan mempunyai main income dan soul income. Sekalipun paham bahwa ‘waktu’ itu mahal sekali, tapi proses memaknai waktu agar tidak terbuang sia-sia itu adalah sebuah perjalanan panjang semasa hidup sampai tua nanti.

Sumber Foto: kampleng.com

Sumber Foto: kampleng.com

Setelah saya mendapatkan pekerjaan yang baik, mungkin saya juga akan membutuhkan teman hidup untuk berbagi, entah itu pasangan hidup atau keturunan. Saya ingin hidup seperti orang-orang, bekerja dengan baik dan memiliki anak istri yang begitu dicintai dan mencintai saya. Itu tidak akan pernah terjadi apabila hidup saya terus menerus menye-menye seperti sekarang. Bisa jadi itu adalah pilihan realistis untuk taraf kedewasaan saya saat ini, tapi diakui atau tidak, itu adalah pilihan realistis yang membahagiaan. Hal itu kemungkinan akan menjadi warna dari kehidupan, dan bukan hanya bertahan hidup sebagai tujuan kehidupan. Sebelumnya saya tidak terlalu membayangkan keinginan mempunyai hidup serealistis dan secepat itu. Saya ingin menikmati masa muda saya untuk melakukan banyak hal, tapi lama kelamaan saya sadar, apa yang benar-benar saya inginkan saya tidak tahu. Bisa jadi bukan waktunya main main lagi. May be.

Saya jadi ingat, dulu pada saat mejalani salah satu mata kuliah, dosen saya menanyakan apa tujuan menikah pada semua mahasiswa yang hadir. Banyak teman saya menjawab menikah itu untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar, pernikahan untuk memperoleh keturunan, menikah untuk meghindari dosa. Benar, semua jawaban saya setuju. Tapi ada satu jawaban dari salah satu teman saya, perempuan, yang menjawab bahwa menikah adalah kebutuhan. Saat itu saya agak sulit mencerna itu. Yang ada di dalam benak saya saat itu adalah kebutuhan biologis. Apakah menikah benar-benar kebutuhan dari diri? Dan saya sadar, kadar kedewasaan saya kala itu tak sampai pada kadar kedewasaan teman saya itu. Masa sekarang, saya sering meilihat sahabat-sahabat saya yang sudah amat bahagia dengan istri dan anak-anak mereka. Ketika mereka menceritakan kebahagiaan mereka, saya hanya tersenyum kecil tak terlalu memperhatikan. Tapi seiring berjalannya waktu, saya bisa melihat sendiri pancaran kebahagiaan dari wajah-wajah mereka. Alangkah semangatnya bekerja demi anak istri di rumah. Saat pulang semuanya menjadi menyenangkan saat melihat orang-orang terkasih. Energi menjadi bertambah. Saya jadi paham bahwa menikah itu memang sebuah kebutuhan. Dan dengan menikah, kehidupan kian berwarna. May be.

Sejujurnya saya tak tahu apa yang sebenarnya saya inginkan lagi di usia saya sekarang. Saya akan terus menjalani passion saya. Tapi hidup dengan pemenuhan kebutuhan hidup juga penting. Terlebih saat menyadari saya juga ingin pantas untuk mempersunting  seorang pasangan hidup yang tepat dan mendapatkan anak perempuan yang lucu. Entah ini hanyalah fantasi semata atau benar-benar kebutuhan, saya tidak tahu. Tapi sepertinya memiliki keluarga kecil membuat semangat hidup lebih bertambah. Tujuan hidup bukan lagi untuk bertahan hidup melainkan untuk mewarnai kehidupan. Tapi saya tidak mengatakan bahwa keinginan menikah itu adalah wujud sebuah kedewasaan, lho, ya. Kembali lagi pada proses hidup tiap orang yang berbeda-beda.

Sumber Foto: Twitternya Om Teguh

Sumber Foto: Twitternya Om Teguh

Hmm … ada kejadian lain yang saya ingat. Waktu itu ada seorang bocah, katakanlah indogo, yang mengatakan bahwa saya akan menikah empat atau lima tahun lagi, dan itu berarti tahun depan atau tahun depannya lagi. Saya hanya tertawa sinis sekaligus geli. Secepat itukah? Batin saya saat itu. Karena saat itu sungguh tak terbayang sebuah pernikahan. Tapi entah sekarang. Apakah sudah waktunya saya benar-benar butuh sahabat jiwa yang hakiki dalam janji yang suci. Katanya, sih, tahun depan atau tahun depannya lagi waktunya. Ya, di-aminkan sajalah, ya. Amin. Yang penting memantaskan diri dulu, kan? Harus!

Setidaknya kadar kedewasaan saya bertambah atau ber-progress. Saya yang dulu memikirkan hal yang menye-menye sekarang saya mulai paham prioritas hidup. Sekarang saya tengah sibuk mencari pekerjaan yang baik. Saya berdoa agar mendapatkan pekerjaan yang layak, baik, dan dapat melaluinya dengan amat baik. Bisa jadi, seiring bertambahnya usia, definisi kedewasaan bagi saya lain lagi. Yang pasti, saya ingin tujuan hidup saya adalah mewarnai kehidupan, bukan hanya bertahan hidup. Semua itu harus terus dicari, agar kita paham hakikat hidup yang sebenarnya. Setiap manusia memiliki proses kedewasaan yang berbeda-beda. Dan setiap fase, ada pilhan untuk menjadi dewasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s