Renungan Nobita Yang Menggugah Jiwa

“Mentang-mentang cari duit, beliin anak sembarangan!” pekik sang istri saat sang suami datang bersama anak-anaknya dari supermarket.

“Baru pulang dimarahin, ngajak berantem?!” sahut sang suami geram.

Jika engkau tahu penggalan konflik suami istri tersebut, maka pagimu menyegarkan, Kawan. Ya, itu adalah salah satu penggalan iklan permen yang sering tayang di Minggu pagi di RCTI. Saya tidak ingin membahas iklan itu, iklan yang sejak saya bocah hingga dewasa tak pernah hilang. Pagi tadi saya menyaksikkan kembali anime Doraemon, anime sejuta umat. Bagi banyak orang, anime ini begitu menyenangkan dan begitu membekas di hati. Memang iya, memang begitu, sejak kecil saya juga sudah jatuh cinta pada anime Doraemon ini.

Pada saat masih kecil, saya sering membayangkan berteman dengan Doraemon, semua permintaan bisa dikabulkan. Misalnya, taplak meja yang bisa menghidangkan makanan kesuakaan; kaca mata makanan kesukaan yang berfungsi mengubah makanan yang tidak kita sukai menjadi makanan kesuakaan; pensil pintar yang bisa membuat kita pintar pada saat di sekolah; hingga alat-alat yang selalu digunakan semacam pintu ke mana saja, baling-baling bambu, dan mesin waktu. Masih banyak memang alat Doraemon yang membuat anak-anak seperti saya begitu berangan memilikinya.

Ketika saya beranjak dewasa, khayalan-khayalan itu tak pudar. Seperti menginginkan taplak meja yang menghidangkan makanan kesukaan; pintu ke mana saja; mesin waktu; dan mungkin tempat yang jika kita singgahi beberapa hari, di dunia nyata dihitung berapa menit saja. Mungkin yang sering saya inginkan adalah yang terakhir itu, entah apa namanya, saya lupa. Saya sering berangan saya bisa mengerjakan banyak hal dengan waktu banyak dan kembali di dunia nyata dengan hasil yang banyak pula.

Episode Doraemon pagi tadi adalah “disk ahli.” Bermula dari Nobita yang ingin belajar demi ulangan besok pagi karena sudah diultimatum oleh Pak Guru agar tidak mendapatkan nilai nol lagi. Tapi tiba-tiba sang ibu memintanya untuk belanja ke pasar. Nobita agak malas dan merasa akan menghabiskan waktu banyak karena jarak rumah dan pasar cukup jauh. Doraemon pun mengeluarkan alatnya, yaitu “disk ahli”, yaitu kumpulan disk yang berisi keahlian. Doraemon memberikan disk ahli lari maraton agar Nobita bisa berlari ringan untuk sampai ke pasar. Alhasil, Nobita pun pergi ke pasar dan pulang dalam waktu singkat. Saat sampai di rumah, Nobita melihat disk lain, yaitu disk ahli matematika. Seperti biasa, Nobita ingin mencoba alat itu, tapi Nobita sadar bahwa Doraemon akan berujar bahwa Nobita sebaiknya tidak terlalu sering menggunakan alat-alatnya. Tapi di luar dugaan, ternyata Doraemon tidak melarangnya dan membiarkan Nobita menggunakannya. Keesokan harinya, Nobita mampu mengerjakan ulangan matematikanya dengan cepat dan 100% benar. Nobita juga menjadi ahli menggambar, ahli musik, dan keahlian-keahlian lain di pelajaran sekolah.

Giant dan Suneo yang geram dengan apa yang terjadi pada Nobita, mengajak Nobita untuk bermain base ball dengan tujuan untuk mempecundangi Nobita. Tapi berkat disk Doraemon, Nobita mampu melawan Giant dan Suneo dengan mudah. Lanjut cerita, Nobita menjadi anak yang dikagumi para gadis. Para gadis termasuk Sizuka mengajak Nobita untuk menyanyi dan menari. Berkat disk ahli Doraemon, Nobita begitu gemulai dan lihai mengikuti gerakan para gadis teman-temannya. Suaranya pun merdu saat bernyanyi. Semua gadis terpukau. Nobita pun senang bukan kepalang dan mengatakan bahwa Giant tak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan suara merdunya. Giant yang mendengar ujaran Nobita itu pun gusar bukan main. Giant pun mengejar Nobita untuk memukulnya. Dengan cepat Nobita memasukkan disk ahli beladiri ke tubuhnya, tapi sayangnya butuh waktu beberapa saat untuk disk itu bekerja. Saat Nobita sudah terpojok dan akan menerima bogem mentah Giant, alat itu bekerja dan Nobita mampu menangkis pukulan Giant. Giant dan Suneo pun dihajar hingga babak belur, dan mereka pun kabur. Nobita puas bukan main. Lalu ia melihat-lihat disk apa saja yang ada di kotak disknya. Ia pun penasaran saat melihat disk ahli pemikir. Ia memasukkan disk pemikir itu kedalam tubuhnya. Dengan cepat, semua renungan langsung memenuhi isi kepalanya. Renungan bahwa semua yang dilakukannya bukanlah usahanya sendiri. Semua pujian untuknya bukanlah dari kerja kerasnya sendiri. Sampai kapan ia akan terus bergantung pada alat Doraemon. Ia tidak akan selamanya menjadi anak kecil. Ia akan tumbuh dewasa dengan masalah-masalah yang lebih besar. Ia harus melalui hidupnya dengan kerja keras. Tak mungkin selamanya ia akan bergantung pada Doraemon. Ia tidak akan selamanya menyelesaikan masalahnya dengan bantuan alat Doraemon. Ia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia harus melakukan itu dengan kerja keras. Akhirnya, Nobita pun pulang dan menyerahkan disk ahli itu ke Doraemon. Doraemon terharu karena Nobita sadar bahwa semua yang dilakukannya bukanlah yang hasil jerih payah sendiri.

Kisah Nobita ini membuat saya merenung bahwa tujuan dari kerja keras adalah kepuasan batin, bukanlah semata hasil. Andai saya berteman dengan Doraemon sejak kecil, bisa jadi saya tidak paham apa itu kerja keras, perjuangan, atau kepuasan batin yag hakiki. Sama seperti Nobita. Benar, jerih payah yang kita lakukan dengan murni akan membuat kita bangga dan puas bukan main. Semua bukan soal hasil, semua tentang proses. Sebuah perjalanan dari belajar akan mengajari kita banyak hal dari pada membeli hasil tanpa tahu makna perjuangan. Kadang hal yang didapatkan dengan mudah, juga mudah lenyap atau hilang karena rasa memiliki yang kurang. Namun apabila sesuatu kita dapatkan dengan penuh perjuangan, kita tidak akan menyia-nyiakan sesuatu yang kita dapatkan itu. Ini sama juga seperti mengerjakan skripsi di akhir kuliah dengan tangan sendiri. Saya ingat benar perkataan teman saya namanya Om Anggi, seperti ini: “Kalau kita membeli skripsi, kalau anak kita besok pusing skripsi, apa kita pantas mengucapkan ‘semangat, Nak!'” Sangat tepat. Bisa jadi hal itu salah satu bentuk belajar berjuang.

Kembali ke topik. Semua hasil yang didapatkan Nobita dalam kisah tersebut sangat fana, dan ia sadar saat menjadi seorang pemikir. Ia sadar benar bahwa jika menginginkan sesuatu harus dengan kerja keras. Bahkan di salah satu versi Doraemon ending, Nobita harus bekerja keras hingga dewasa untuk menghidupkan Doraemon kembali dari tidur panjangnya. Alangkah sebuah kerja keras tak mengenal batas, bukan? Naik turun semangat akan selalu ditemui, tapi tidak menyerah adalah kunci untuk meraih sesuatu yang diingikan. Over all, semata tujuan bukanlah akhir, perjalananlah yang paling penting. So, warnai hidup dengan kerja keras, agar kita mendulang kepuasan seperti Nobita. Bukan untuk menggurui, hanya saja mengingatkan pada diri sendiri untuk tetap bekerja keras menjalani hidup. Semangat! Go go go Semangat! ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s