Cerita Ramadhan 1

Kemarin malam sudah masuk sepuluh hari terakhir bulan ramadhan tahun ini. Nggak terasa, ya, Gaes. Alkhamdulillah puasa saya belum bolong, meski saya nggak tahu amalnya diterima Gusti Alloh atau nggak. Yang penting niat lillahita’ala aja, Gaes. Saya ingin cerita sedikit, nih, soal ramadhan saya.  Di kampung saya, tepatnya di RT saya tinggal, terdapat satu mushola yang sholat tarawihnya berjumlah 23 rakaat—termasuk sholat witir. Saya, sih, kadang berangkat kadang juga nggak. Kadang juga ikut tarawih delapan rakaat lalu pulang. 😀

Ramadhan tahun ini beda dengan tahun lalu. Tahun ini ada Copa Amerika tiap pagi, sayangnya Kompas TV di TV saya banyak semutnya, jadi euforianya nggak terlalu terasa di saya. Beda dengan tahun lalu yang marak dengan pesta sepak bola akbar piala dunia. Selain itu, ramadhan tahun lalu saya masih menjadi mahasiswa legend, dan sekarang sudah sarjana (dong). Tapi saya malah rindu dengan masa ramadhan tahun lalu. Tahun lalu, saya sering pergi ke kampus buat bertemu dengan Mamah dan Bunda—dua pembimbing skripsi saya yang keibuan—dengan keperluan bimbingan skripsi, sehingga setelah lebaran, saya bisa ujian skripsi. Mengingat tahun lalu, saya jadi rindu momen-momen itu. Momen-momen di mana saya belajar untuk terus mencari tahu, membaca, dan mengetahui makna perjuangan dalam menjalani tugas akhir perkuliahan yang saya kerjakan. Saya jadi rindu Mamah dan Bunda yang dengan sabarnya membimbing saya dengan penuh perhatian. Semoga beliau berdua selalu dalam lindungan Tuhan. Amin.

Saya juga ingat ketika menanti Mamah dan Bunda di depan lobi kantor, selalu ditemani junior-junior saya yang terus berganti-ganti hingga saya menempuh sidang skripsi. Mau tidak mau saya harus mengakrabi mereka yang bahkan sebelumnya tidak saya kenal sama sekali. Bahkan ada yang langsung akrab dan ngobrol seperti teman lama, tapi setelah melihat draft skripsi saya, mereka baru tahu ternyata saya senior mereka, dan mereka pun langsung hormat. Heuheuheu. Saya, sih, nggak terlalu mempermasalahkan, ya, senior atau junior, sama-sama nuntut ilmu ini. Karena adanya merekalah masa-masa pengerjaan skripsi saya menjadi ramai dan nggak kesepian. Entah bagaimana kabar mereka sekarang, saya jadi rindu.

Puasa saya tahun ini belum bolong sama sekali, semoga bertahan sampai akhir nanti. Sedang di puasa tahun lalu, saya bolong satu atau dua mungkin, karena tubuh saya drop. Saya yang nggak ngekos dengan jarak rumah 50 km terpaksa menahan kantuk luar biasa dan memaksakan diri untuk pulang dengan mata yang amat berat. Pantas saja, tidur saya di malam hari kurang, tidur beberapa jam lalu sahur dan nonton bola, paginya ngampus. Ya, ngedrop, deh. Sebenarnya banyak teman-teman saya yang ngekos, hanya saja kan bulan ramadhan, kampus libur, pada mudik. So, saya juga mudik-ngampus-mudik-ngampus, deh. Tapi sejujurnya saya rindu masa-masa nyekripsi di bulan ramadhan tahun lalu itu. Kenangan yang nggak terlupakan, deh.

Beda lagi dengan puasa tahun 2013—dua tahun silam. Ramadhan tahun itu, saya menjalani semester pendek bersama kawan-kawan saya. Mata kuliah praktik. Saya sering sekali mendekam di kampus setelah kuliah berakhir guna mengerjakan tugas di pertemuan berikutnya sekaligus melakukan latihan. Tujuannya cuma satu, biar bisa pulang ke rumah. Kalau saya ikut teman-teman saya ke kos mereka dan cuma menye-menye, saya yakin akan kesulitan di pertemuan berikutnya. Saya sengaja mengerjakan tugas dulu di kampus dan latihan beberapa saat. Dan sehari sebelum pertemuan, saya ke Yogya dan nginep di tempat kos teman saya buat ikut latihan. Hmm … semenjak tahun 2013, saya sudah nggak ngekos lagi, karena mata kuliah tinggal sedikit. Dan saya tinggal nomaden di tempat teman-teman saya. 😀 sejujurnya saya merindukan masa-masa itu. Ya, terlebih masa ramadhan dua tahun silam itu. Pada saat itu, saya sering sekali menginap di kos teman saya, yang paling sering, ya, si Edy (nama sebenarnya). Nah, karena kamar kos Edi nggak enak buat ditinggali, kami pun tinggal di tempat kos kawan kami yang lain, Tyo, yang beliaunya sedang pulang kampung. Di tempat itu, kami sering berbagi kisah, bercerita ria, dan makan bersama. Tambah seru saat datang kawan kami yanng lain, Angki. Kami bertiga seperti tiga sejoli yang selalu berbagi kisah dan berbagi nasi. Sejujurnya kondisi keuangan Edy ini kembang kempis, jadi sering kali kalau saya pulang kampung saya pinjami uang. Dia biasanya minta dua puluh ribu, tapi saya tinggali lima puluh ribu. Entah duit saya kok lumayan juga. Saya cuma nggak ingin kondisi Edy ini kelaparan tanpa daya dan upaya. Tapi setelah Angki sering main bareng Edy, saya merasa lega. Makhluk kurus kering itu mendapat suplay karbohidrat yang layak. Angki pun meminjami Rosi majic jar. Majic jar itu adalah alat penyambung hidup Edy yang paling mashyur dan keren. Ditambah, Edy mendapatkan kiriman lauk berupa kering ikan teri dan sambal khas buatan ibunya yang mampu bertahan hingga lama. Sumpah, itu sambal mantap tiada tara.

Saya begitu rindu dengan sambal itu. Sering kali saya meracau di time line Edy tentang sambal itu, seperti :”Boy, aku rindu sambal buatan mamak kau.” Dan Edy pun sering menjawab, “Berkunjunglah, sambalku melambai-lambai.” Sumpah, itu godaan paling mantap untuk lidah maniak sambal macam saya. Edy memang seringkali mendapat kiriman sambal macam itu. Dan teman-teman yang telah mencicipi sambal buatan mamak Edy, pasti ketagihan, meski resikonya harus berkencan dengan lubang pembuangan air limbah perut.

Hal yang sering saya dan Edy lakukan—sering juga bersama Angki—adalah menanak nasi yang dicampur sambal. Jadi, setelah nasi di dalam majic jar matang, Edy memasukkan sambal itu ke dalam nasi, lalu mengaduknya hingga merata, kemudiam ia mendiamkannya beberapa jenak. Setelah dirasa cukup, ia membuka majic jar itu. Kontan aroma nasi sambal itu melambai-lambai untuk segera dinikmati. Dicampur dengan kering ikan teri, malam yang mantap itu menjadi malam-malam yang nggak bisa dilupakan dalam hidup saya. Sungguh saya merindukan sekali masa-masa itu. Bukan hanya makan makanan yang mantapnya nggak ketulungan itu, malam-malam panjang di tahun itu juga kami habiskan dengan berbincang serius membicarakan kehidupan. Sungguh malam-malam yang kerennya nggak terlupakan. Selain itu, saya juga kadang ikut sholat tarawih di masjid di kampung kos Edy. Jumlah rakaatnya 23. Kayaknya ditambah ceramah juga. Saking lamanya, Edy lebih memilih sholat di kos saja. Bahkan saya ingat benar kalimat Edy saat rakaat sholat tarawih berakhir dan menyisakan tiga rakaat sholat witir. “Akhirnya penantian panjang ini segera berakhir, Boy.” Saya hanya tersenyum geli mendengarnya, meski dipungkiri atau nggak saya juga merasa lega sudah memasuki waktu sholat witir. 😀

Selain tidur di kosan Edy, saya juga sering menginap di kos Arief dan Yoga untuk numpang latihan. Di sana, saya sering menjalani masa-masa penuh dengan obrolan ringan dan saling bertukar pandangan. Perbincangan antar teman itu bukan melulu soal menye-menye khas anak muda, tapi lebih sering membicarakan kondisi negara, kondisi sepak bola, kehidupan, kampus, masa depan, mimpi, kesulitan hidup, dan banyak lagi. Semuanya seakan menjadi hal yang keren. Saya sangat merindukan teman-teman saya itu. Semoga mereka selalu dalam keadaan sehat dan sejahtera. Amin.

Bulan ramadhan tahun lalu dan dua tahun lalu sudah saya ceritakan, saya pikir ramadhan tiga tahun silam nggak perlu diceritakan, ya. Sedangkan ramadhan tahun ini? Hmm … saya rasa sudah cukup dan nggak perlu juga diceritakan lagi. Ya, gini-gini ajalah. Heuheuheu. Over all, untuk ramadhan tahun lalu dan ramadhan dua tahun silam, semuanya telah terukir menjadi kenangan indah di dalam hati dan pikiran saya. Entah mengapa setiap kenangan yang terjadi terasa lebih indah dibandingkan masa itu sendiri. Tapi saya merasa bersyukur, karena dengan cerita masa lalu, saya jadi mempunyai kenangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s