Cerita Ramadhan 2 (Berkunjung Ke Rumah Kawan)

Sumber Foto: palembang.tribunnews.com

Sumber Foto: palembang.tribunnews.com

Ramadhan. Buka puasa. Tarawih. Kali ini saya mau bercerita tentang kegiatan saja. Murni kegiatan, jadi tidak terlalu berisi, namanya juga jurnal kegiatan. Hmm … Beberapa hari lalu saya berkunjung ke rumah kawan saya, namanya Sangaluh. Tujuan utama saya adalah sharing tentang wawancara kerja dan melamar kerja. Saya mencatat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang sering ditanyakan dalam wawancara kerja, dan tetek bengek lainnyalah. Kemane aje gue selame ini? Molor, Bang! 😀 Dari pagi hingga sore, kami ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. Bukan hanya dengan Sangaluh saja, tapi juga dengan dua kawan saya yang lain, Somad dan Onggot. Rencananya, sih, saya berkunjungnya hingga sore hari saja, tapi malah sampai nginep. Saya merasa belum puas saja, terlebih perkataan Ayah dan Ibu Sangaluh yang membuat saya ingin menginap.

Ini bukan kali pertama saya menginap di rumah Sangaluh. Pertama kali saya berkunjung ke rumahnya, sepertinya sudah lama sekali. Tepatnya … beberapa tahun yang lalu. :p Saat pertama kali itu, saya diajak Sangaluh untuk menyaksikkan pertandingan sepak bola tarkam di sekitar kampungnya. Awalnya saya tidak terlalu tertarik, bisa dibilang biasa saja kali, ya. Hayuk, deh, nonton tarkam, kayaknya seru. Batin saya waktu itu.

Terakhir saya nonton tarkam sepak bola mungkin saat saya masih kecil. 😀 Dulu, saya kecil—sekitar kelas satu SD—sering diajak teman-teman saya yang usianya lebih dewasa untuk menonton tarkan di lapangan kampung. Biaya masuknya, sih, masukin koin ke kotak masuk. Seingat saya, saya diberi uang saku oleh nenek saya sebesar empat ratus rupiah: seratus rupiah buat masuknya, dua ratus rupiah buat beli bakso dan es, dan seratus rupiah lagi buat jaga-jaga mungkin. Bisa dibilang masa-masa itu nyenengin, meski diakui atau tidak, saya tidak terlalu paham apa yang sebenarnya ditonton waktu itu. Yang saya ingat, saya ikut-ikutan saja, itu juga sudah senang sekali.

Kembali ke kunjungan ke rumah Sangaluh. Kala itu, kami menyaksikkan pertandingan antara dua kesebelasan. Para penonton tumpah ruah di sekeliling lapangan. Awalnya saya merasa biasa saja, tapi setelah pertandingan dimulai, saya merasa seru sekali. Berbeda dengan menyaksikkan pertandingan besar, tarkam menyajikan warna berbeda bagi penglihatan mata. Menyaksikkan dari pinggir lapangan dan hanya melihat dari satu sisi datar, membuat kebahagiaan saya pecah. Saya bahkan ikut-ikutan kecewa saat pemain kehilangan bola atau menyia-nyiakan kesempatan. Biasanya, sih, tarkam identik degan tawuran, tapi hari itu aman terkendali. Hal yang seru lainnya dalam pertandingan adalah tekstur lapangan yang bergelombang hingga mengakibatkan aliran bola menjadi sulit ditebak. Sore itu saya benar-benar menikmati pertandingan sepak bola tarkam itu. Ditambah lirikan-lirikan para gadis dengan bedak yang agak tebal, membuat sore pertama saya di kampung Sangaluh begitu menggairahkan. Saya pun menyadari benar, keseruan baru bisa dirasakan nyata pada waktu yang tepat. Ya, saat saya sudah paham gaya bermain bola itu seperti apa, sorak sorai penonton yang begitu menggairahkan, serta pemandangan para gadis dengan dempul bedak tebal; saat itu pulalah saya paham makna menyaksikkan sepak bola tarkam itu. Pantas saja waktu kecil saya tidak paham apa-apa tentang menonton sepak bola tarkam. 😀

Setelah hari itu, saya jadi sering berkunjung beberapa kali ke rumah Sangaluh. Sebelum beberapa hari kemarin, terakhir kali, sih, kayaknya tahun lalu waktu saya hendak sidang skripsi. Saya khusus datang ke rumah Sangaluh untuk meminjam laptop, maklum, saya tidak punya laptop. 😀 Saya memang sering berkunjung ke rumah Sangaluh, terlebih dengan tujuan yang menye-menye. Heuheuheu.

Terbilang sudah dua kali saya menjalani satu malam bulan ramadhan di rumah Sangaluh. Selain kemarin, tahun lalu saya datang ke rumah Sangaluh dan ikut sholat tarawih bersama di masjid kampungnya. Di kampung Sangaluh, sholat tarawih hanya delapan rakaat, ditambah tiga witir. Setelah sholat Isya, baru ceramah, dan setelah ceramah, melaksanakan sholat tarawih dan witir berjamaah. Pembicara dan imam malam itu adalah ayah Sangaluh. Keren. Sedangkah tarawih saya beberapa hari lalu di kampung Sangaluh, saya tidak tahu karena saya dan Sangaluh tertidur selepas Magrib. 😀

Menu sahur dan buka puasa pun tahun ini dan tahun lalu di rumah Sangaluh terbilang begitu enak. Pasti ada gorengan tiap buka puasa. Dan kolak buatan ibunya Sangaluh, enak banget karena dibuat dengan gula Jawa. Yang ini jarang banget saya nikmati, kolak dengan gula Jawa.

Sumber Foto: resepumi.net

Sumber Foto: resepumi.net

Buka puasa tahun ini di rumah Sangaluh beberapa hari lalu, saya makan sedikit saja, karena tidak terlalu lapar. Tapi saat sahur, saya nambah sampai dua piring. Menunya adalah sayur sop, ayam, tempe, dan bergedel. Sumpah, bergedel adalah makanan favorit saya. Saya bersyukur bisa makan masakan ibunya Sangaluh yang enak banget itu. Dan satu kabar terbaru yang diutarakan Sangaluh adalah, tanggal sembilan Agustus nanti, Sangaluh akan menikah dengan kekasihnya. Akhirnya menikah juga, alkhamdulillah, ya.  Saya jadi kian berpikir, ternyata hidup saya selama ini terlalu banyak saya habiskan dengan hal yang menye-menye dan tidak terlalu penting. Memang proses kali, ya, dan mungkin sekarang saya kian mendewasa. Amin. Over all, berkunjung ke rumah Sangaluh selalu memberikan kehangatan tersendiri. Sesederhana apapun keadaan keluarga Sangaluh, tapi kehangatan tak pernah luntur dari keluarga mereka. Doa saya, semoga keluarga kawan saya itu selalu diberkati Gusti Alloh. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s