Cerita Ramdhan 3

Bulan ramadhan sudah hampir habis. Hmm … saya yakin pasti banyak sekali yang akan merindukan bulan ramadhan, padahal pas bulan ramadhannya, ya, gitu, deh, melakukan rutinitas yang biasa-biasa saja tanpa memanfaatkannya secara nyata. Saya juga yakin akan banyak status-status fesbuk galau karena ditinggal bulan ramadahn. Ah sudahlah, namanya juga manusia, bener, kagak, Tong? Buset! 😀

Mushola di tempat saya sering tarawih, sudah mulai menampakkan tanda-tanda kesepiannya. Padahal di hari pertama ramadhan, saya hampir tidak mendapatkan tempat untuk menjalankan sholat. Tapi ada satu hal yang membuat saya salut, yaitu anak-anak kecil yang masih antusias ikut sholat tarawih, setidaknya hingga malam ke dua puluh satu. Bayangkan saja, sholat dua puluh tiga rakaat tanpa ceramah, tanpa bertujuan mengisi buku ramadhan, tanpa jaburan atau takjil, dan tanpa tahu makna kekusyukan sholat; tapi mereka tetap berangkat untuk menjalankan ibadah sholat. Keren! Kebanyakan dari mereka, sih, mengobrol di saat sholat berlangsung, yah, tak beda jauh lah dengan saya di kala masih usia dini.

Saya dulu, saat masih kanak-kanak, rajin sekali ikut sholat tarawih. Rakaatnya juga cuma sebelas rakaat. Habis sholat, pastilah ada ceramah, jadi ada waktu buat berbincang-bincang ria. 😀 Selesai sholat, ada jaburannya, pasti itu. Apalagi di malam ke dua puluh satu bulan ramadhan, bukan main bahagianya. Di malam ke dua puluh satu itu, kami sudah menyiapkan perut kosong untuk pesta. Bener-bener malam itu banyak sekali makanan. 😀 Momen malam ke dua puluh satu dan malam takbiran adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu anak-anak kecil.

Bukan hanya sholat isya tarawih aja, sih, kami rajin ke mushola, sholat subuh juga. Setelah sholat subuh, saya dan kawan-kawan pasti menghabiskan waktu di jalanan, bermain petasan. Di jalanan, pasti kami banyak menemukan anak-anak seusia kami juga jalan-jalan. Seru banget, Bro. Bukan hanya sholat subuh dan tarawih saja, sih, kami menghabiskan ramadhan dengan bersuka ria, tapi juga tiap malam harinya. Seingat saya dulu, kami seneng banget tidur di masjid, bahkan tidak tidur—begadang. Kami keliling naik sepeda, bekeliling ria, pokoknya menghabiskan malam begitu nikmat sekali. Tepat pukul dua dini hari, microfon mushola selalu menjadi alat kami untuk membangunkan warga bersantap sahur. Ya, semua itu kami jalani dengan penuh suka cita, terlebih libur puasa juga panjang—seperti libur puasa tahun ini yang juga panjang. Itu adalah masa-masa yang membahagiakan dalam hidup saya. Saya jadi rindu masa-masa itu. Bahkan tiap kali berjumpa mereka sekarang, mereka sering berujar, “Gun, ayo reuni.” Aku kadang tergelak, kapan sekolah barengnya? 😀 😀 Kenangan tak akan habis untuk dilamunkan, terlebih kenangan indah.

Tahun ini? Entahlah. Aku tak lagi tahu bagaimana pagi anak-anak sekarang di jalan setelah subuh hari. Aku tak tahu lagi apa yang membuat mereka bersemangat menjalani ramadhan bersama-sama. Tahun demi tahun berganti, anak-anak yang kulihat di mushola pun juga berganti. Berganti anak-anak baru yang lebih kecil dari sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya melihat anak-anak yang masih duduk di bangku SMP atau SMA, berbincang ringan di sela terawih, membicarakan hal-hal ringan anak-anak remaja. Tahun-tahun berganti, mereka sudah digantikan oleh bocah-bocah yang lebih muda. Berganti dengan anak-anak yang lebih kecil dengan celoteh yang lebih ringan. Remaja-remaja itu sudah beranjak dewasa dan menjalani hidup dengan semestinya. Beberapa sudah jarang yang ke mushola. Betewe, saat saya kecil, mushola yang sering saja kunjungi untuk sholat tarawih sekarang bukanlah mushola yang saya habiskan pada saat usia saya masih kanak-kanak. Mushola yang saya kunjungi sekarang adalah mushola yang baru dibangun beberapa tahun terakhir.

Hmm … Membicarakan tentang anak-anak itu. Yah, saya ingat sesuatu. Celoteh mereka lebih ringan dibandingkan celoteh-celoteh khas remaja yang saya temui pada anak-anak beberapa tahun sebelumnya. Di sela-sela sholat tarawih, anak-anak ingusan itu bercerita tentang kutu rambut. Itu membuat saya geli sekaligus bahagia karena bisa mengingat masa kanak-kanak bersama mereka. Saat saya sholat tarawih, anak di samping saya berulang kali memegangi rambutnya. Saat doa-doa dilantunan, anak itu menindasi hewan-hewan kecil. Anak lain pun melakukan hal serupa. Setelah usai sholat, ternyata mereka membicarakan perihal kutu rambut. Sempat dengar sedikit, kata salah satu anak, kutu-kutu itu asal muasalnya dari salah satu kawan sekolah mereka. Namanya Digol. Terdengarlah gosip-gosip tentang kutu rambut itu. Aih, sudah lama sekali saya tidak dengar ada kutu di rambut manusia. Baru kali ini saya mendengar kembali perihal kutu rambut dari anak-anak ingusan itu. Sungguh indah. Padahal dulu waktu saya kecil, teman-teman saya dan saya juga sering bermasalah dengan kutu rambut. I think selalu ada masa kanak-kanak yang indah dan membekas. Ya, semua ada masanya.

Hmm … ada juga yang berbeda dari ramadhan-ramadhan sebelumnya. Setiap kali saya sholat tarawih, saya pasti menempatkan diri saya di shaf terakhir di mushola. Dan seringkali di depan saya adalah seorang pria tua yang sangat rajin sekali sholat berjamaah. Masalahnya cuma satu: aroma kakinya membuat saya benar-benar hampir pingsan. Aroma yang mengerikan. Tak lain dan tak bukan adalah aroma kaki Pak De Sabar—usinya enam puluhan tahun lebihlah. Dan tahun ini, entah apa yang dilakukannya pada kedua kakinya, saya tidak tahu. Yang pasti, saya tidak mencium aroma mengerikan itu lagi. Tak mengherankan apabila aroma itu begitu menyengat, mengingat pekerjaan beliau adalah seorang petani. Tapi sejujurnya saya salut dengan beliau yang dengan semangat masih terus ada di barisan shaf sholat berjamaah mushola. Bersama pria-pria berumur lainnya tentunya. Semoga Gusti Alloh selalu melindungi sampean-sampean, Pak. Amin.

Yah, mungkin saya akan merindukan ramadhan lagi bulan demi bulan ke depan. Tapi yang pasti, saya berharap saya bisa menemui ramadhan tahun depan dengan kondisi yang berbeda. Menemui ramadhan dengan kedewasaan diri yang lebih dari sebelumnya. Mungkin terasa membosankan apabila membicarakan kedewasaan, tapi dipungkiri atau tidak, itu yang membedakan waktu hari ini dan sebelumnya. Dan setelah melewati waktu demi waktu, saya harap bisa mendulang cerita demi cerita. Dari cerita-cerita itu, saya kian paham bahwa kenangan itu tidak bisa didapatkan hanya dengan melaluinya secara biasa-biasa saja, saya harus melaluinya dengan sudut pandang dan pemahaman yang berbeda. Refleksi dari semua kegiatan yang saya lakukan akan menghasilkan kenangan manis di masa depan. Ah, kenangan akan selalu indah untuk dilamunkan. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s