Cerita Ramadhan 4 (Sampai Jumpa, Ramadhan 2015)

Ramadhan, hai Ramadhan. Ah, tak akan habis membicarakan bulan yang benar-banar suci ini. Banyak sekali kenangan kisah-kisah yang saya lalui bersama bulan ramadhan. Hmm … Saya punya kawan, namanya Kim Rombs. Ia adalah senior saya dalam menjalani perkuliahan. Bisa dibilang ia adalah kawan baik saya. Rombs ini unik, sekaligus kampret kelakuannya. Tentang banyak hal, saya akan membicarakannya lain kali saja, ya, kali ini saya akan menyinggungnya sedikit.

Saya ingat, pagi itu ada salah satu mata kuliah yang kami ikuti. Rombs yang merasa dosen kami masih lama datangnya pun menyulut rokok. Baru menyulut beberapa saat, Pak Dosen datang. Rombs pun langsung mematikan rokonya tersebut. Di dalam kelas, Pak Dosen tiba-tiba berujar, “Maaf, ya, Mas Rombs untuk rokoknya yang belum sempat dinikmati,” cetus Pak Dosen yang entah itu menyindir atau maaf tulus, saya tak peduli. Tapi saya agak heran, kenapa hal itu sampai diungkit di kelas, ya? Unik, nih, Pak Dosen. 😀 SKIP. Setelah kuliah selesai, saya mulai bertanya pada Rombs apa yang terjadi hingga Pak Dosen meminta maaf atas hal itu. Ternyata saat Pak Dosen belum masuk, Rombs menyulut rokok terlebih dahulu. Tapi sayang, Pak Dosen keburu dateng. Ceritanya belum tahu, nih, kalau Pak Dosen datang pas Rombs belum lama menyulut rokok. Setelah saya tahu, saya pun mengolok Rombs dengan tawa yang berderai-derai. Dan satu yang membuat saya tercengang. Pada mata kuliah itu, ternyata Rombs memakai baju koko. Saya pun kontan berkomentar. “Kampret, awakmu meh kuliah opo pesantren kilat, Rombs?” kataku dengan tawa berderai-derai. Dengan tenang, Rombs pun hanya menjawab, “Bajuku dilaundry semua, Nang.” Setelah puas tertawa renyah, saya pun melupakan hari itu. Dan ternyata, di hari lain di mata kuliah lain, Rombs memakai baju koko yang sama pada saat kuliah berlangsung. Saya yang melihat hal itu langsung bertanya berkelakar “Meh pesantren kilat, Romb?” dengan derai tawa tentunya. Rombeng cuma menjawab “yoi” sambil tertawa lebar. Saya benar-benar heran sekaligus kagum dengan manusia satu itu. Ini fenomena yang jarang sekali terjadi. Kuliah dengan baju koko, ialah satu-satuya orang yang saya lihat dengan alasan baju habis. Semangat yang tak padam 😀

Membicarakan tentang pesantren kilat, saya jadi ingat masa-masa sekolah dulu. Waktu sekolah dulu, saya sering ikut dalam kegiatan pesantren kilat. Ya, kayak gitulah pesantren kilat. Baca Al-qur ‘an. Dengar ceramah. Ya gitu, deh. Tapi ada sebuah kejadian yang membuat saya menelan ludah berkali-kali. Kala itu pesantren kilat masa SMA. Pada saat itu, tiga teman saya mengajak untuk bermain pe es setelah sepulang dari pesantern kilat. Dan kebetulan saya malas. Dan keesokan harinya, ketiga teman saya itu berceloteh kampret tentang penjaga pe es yang membuat puasa mereka kala itu penuh tantangan. Katanya, si penjaga pe es itu memakai celana pendek saat menyalakan pe es. Dan mereka hanya menelan ludah berkali-kali saat kesulitan mengalihkan pandangan. Terkesan berlebihan cerita mereka, tapi berhasil membuat saya menelan ludah berkali-kali juga, sih. 😀 Bagaimana tidak terbayang, orang saya kenal benar sang penjaga pe es. Bukan, bukan saya sendiri, tapi kami kenal benar penjaga pe es itu. Bahkan sering ketemu. 😀 Just info, usia beliau katakanlah 24 tahun kala itu, dan usia kami 16 tahun. Itu cerita paling kampret yang pernah saya dengar dari mereka. Mereka benar-benar kampret, tak layak! 😀 😀 Lupakan, lupakan. Ingat dosa, Vroh! 😀

Hmm … saya ingin bercerita saja tentang TPA di bulan ramadhan. Baru-baru ini di bulan ramadhan, keponakan-keponakan saya giat sekali ikut TPA di mushola. Satu keponakan saya bernama Fauzan, sempat tidak mau TPA lantaran gurunya galak. Usut punya usut, ternyata mereka dimarahi sang guru karena ramai. Sang guru pun langsung meminta mereka diam dan kebetulan menunjuk Fauzan untuk membaca Al Fatiqah. Fauzan yang kaget pun hanya terlongo tanpa bisa mengucap satu ayat pun.  Besoknya, ia merajuk tak ingin ke TPA. Aih, ada-ada sajalah. Tapi tak berselang lama, ia pun akhirnya bersedia berangkat TPA. Saat pulang, dengar-dengar, Fauzan hanya mau diajar mengaji oleh guru ngaji perempuan muda yang masih duduk di bangku SMA bernama Irma. Betewe Fauzan masih duduk di bangku kelas tiga SD. Kebetulan adik laki-laki saya juga guru ngaji dan teman Irma. Ia mengatakan, “Fauzan maunya cuma diajar Irma, pinter memang, milih yang cantik.” Setelah itulah saya sering mengolok Fauzan berkelanjutan. Fauzan pun langsung bersemu merah karena malu. Dan terlihat jengkel-jengkel gemas saat diolok-olok tentang Kak Irmanya. 😀 Hahaha … anak-anak kecil memang lucu.

Saya dulu saat TPA juga mempunyai guru favorit. Namanya Mbak Gia (kalau tidak salah). Entah mengapa saya menjadi adik kesayangan Mbak-Mbak pengajar ngaji tersebut. Entah itu pikiran saya sendiri atau bukan, tapi rasanya memang berbeda kalau diajar beliau. Beliau baik hati dan lembut banget dalam menngajar ngajinya. Saya lupa, sih, tepatnya seperti apa, lha wong ngajinya sudah lama banget, saya SD-lah. Pokoknya saya merasa nyaman diajar beliau, deh. Namanya juga bocah. 😀

Mebicarakan TPA memang hal yang menyenangkan. Dulu, TPA waktu ramadhan adalah waktu-waktu yang dirindukan anak-anak seusia saya. Setiap sore hari menjelang magrib, anak-anak berjejar rapi di depan meja dengan takjil masing-masing dan gelas warna-warni seraya menunggu azan Magrib berkumandang. Setelah azan Magrib mengalun lama, semua anak pulang dengan membawa takjil mereka masing-masing. Soal takjil, tiap orang tua sering banget, nih, dapat undangan pemberi takjil. Saya ingat ketika orangtua saya kebagian bagi takjil. Saat itu, teman saya Budi mengajak saya berangkat. Dengan sepeda kecil, kami berangkat bersisian. Tapi sayangnya, di tengah jalan rantai sepeda saya lepas, di kala hujan pula. Kami pun kembali pulang. Setelah pulang, kami berangkat jalan kaki dengan membawa payung masing-masing. Dan pada akhirnya hanya saya sendiri yang datang ke masjid buat TPA, sedang Budi memutuskan pulang setelah kehilangan pulpen di tengah jalan. Hmm … padahal kayaknya ia pulang karena waktu itu bertepatan ujian membaca doa melaui microfon masjid langsung secara bergiliran. Entah Budi hafal doa tidak, yang pasti saya hanya hafal doa orang tua dan doa mau makan, doang. 😀 Ah, masa-masa itu.

Banyak sekali kenangan-kenangan saya di masa kecil. Terlebih kenangan ramadhan. Tidak akan habis secepat itu. Saya melupakan banyak hal yang tidak saya sukai, dan saya akan selalu mengingat kenangan-kenangan indah dalam hidup saya. Masa-masa indah itu tak akan terulang lagi dan lagi, dan hanya akan menjadi kenangan indah dalam benak. Sekali lagi, kenangan indah itu terus membekas tanpa harus dihapus. Sedang kenangan pahit, entah bagaimana caranya memang harus berdamai dengan diri sendiri. Entahlah. Yang pasti, ramadhan sudah sampai penghabisan. Sebentar lagi juga akan menjadi kenangan. Akankah dirindukan atau lewat begitu saja? Yang pasti, mari memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Bagaimana pun ramadhan tahun depan, yang pasti kondisi yang akan dihadapai sudah pasti berbeda. Semoga berjumpa dengan ramadhan tahun depan. Amin. Sampai jumpa, Ramadhan. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s