Perjuangan Yang Memotivasi

Sumber Foto: togaptartius.com

Sumber Foto: togaptartius.com

Cerita ini sebenarnya ingin saya bagi saat bulan puasa lalu, tapi terpentok kuota internet, yasudahlah bisanya bagi sekarang. Heuheuheu. Suatu hari di bulan puasa kemarin, saya bersama tiga teman saya berbuka puasa bersama di warung soto. Ketiganya adalah tiga teman SMA saya, di antaranya: Tejo, Angga, dan Eswe. Sebelumnya saya diajak Tejo untuk keliling ke tempat rongsok dalam misinya bisnis daur ulang sampah plastik. Well, melelahkan juga, sih, ya. Ketiga teman saya itu baru mudik dari Jakarta dengan mengendarai sepeda motor. Hmm. Lebih meleahkan lagi itu pasti.

Kali ini saya tidak akan menceritakan diri saya, Tejo, maupun Angga. Kali ini saya akan bercerita tentang kawan saya yang bernama Eswe itu. Hmm … Eswe ini adalah kawan yang saya kenal ketika saya duduk di bangku SMA kelas satu. Ia adalah anak yang humoris gila, koplak, rendah hati, sederhana, dan bertanggung jawab. Dalam perbincangan panjang sore itu, saya memahami alur cerita hidupnya pasca lulus SMA. Saya berkawan dengannya pada saat kelas satu SMA, sedang kelas dua dan tiga saya satu kelas dengan Angga dan Tejo.

Sumber Foto: mobavatar.com

Sumber Foto: mobavatar.com

Di remangnya warung soto lesehan di kota kami, semua kisah itu saya dengar baik-baik. Enam tahun lalu, Eswe yang lugu memutuskan untuk merantau ke  Jakarta tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Eswe pun memperoleh pekerjaan di salah satu perusahaan yang berperan dalam bidang perdagangan alat-alat bangunan. Pekerjaan Eswe ini adalah kurir. Kerjanya adalah mengantar jemput barang. Tapi dalam pengaplkikasian pekerjaannya, ia melakukan antar jemput barang, mengurusi pajak motor dan mobil, dan melakukan pekerjaan lainnya apabila tugasnya selesai. Beliau ini bekerja secara fleksibel.

Eswe berujar bahwa dua tahun pertama ia bekerja, ia begitu kelelahan dan begitu kesulitan menjalani hari-harinya. Dengan upah yang amat minim, sekuat tenaga ia bersabar dan bersabar menjalani kisahnya di ibu kota. Semua kebutuhan hidupnya kurang tercukupi, tapi beruntung ada gaji lembur yang bisa menutupi semua kebutuhan hidupnya di Jakarta. Dan ia pun memang harus menalani lembur setiap hari. Jadi kerjanya itu dari jam setengah delapan pagi hingga jam sepuluh malam. Setiap hari. Hampir dua tahun. Masa-masa itu begitu melelahkan baginya. Terlebih ia juga harus mengirimkan uang untuk ibu dan biaya sekolah adiknya. Di masa dua tahun yang berat itu, ia mulai dilanda kebimbangan yang luar biasa. Ia merasa kelelahan dan ia merasa hidupnya tidak ada peningkatan sama sekali. Ia hampir menyerah. Ia hampir menyerah dan memutuskan untuk pulang. Tapi setelah merenung berkali-kali, ia mengurungkan niat untuk pulang kampung. Di kampung, ia akan kesulitan mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik. Bahkan mungkin bisa jadi malah kesulitan membantu perekonomian ibunya. Semua kegundahannya itu ia musnahkan. Ia enyahkan jauh-jauh. Ia menolak untuk menyerah terhadap jalan hidup yang berat. Akhirnya, ia memutuskan terus berjuang bertahan dan bekerja lebih giat lagi. Tahun pun berganti, masa pun berubah. Ia pun telah bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa dari sebelumnya. Gajinya naik tiap tahun, kondisi perekonomiannya berubah ke arah jauh lebih baik. Pekerjaan yang awalnya kesulita ia tangani kini dengan entengnya ia jalani. Semuanya berjalan dengan amat baik. Buah kesabaran dan pantang menyerahnya telah membuahkan kesempatan yang lebih baik lagi. Kini tanpa lembur pun hidupnya sudah lumayan tercukupi meski ditambah harus mengirim uang ke ibunya di kampung. Hidupnya sudah cukup.

Perihal percintaan, Eswe ini adalah lelaki yang bisa dikatakan beruntung. Berkali-kali mendekati wanita, selalu saja si wanita mempunyai kekasih. Sepertinya susah sekali mendapatkan wanita yang bersedia menjadi kekasihnya. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan gadis Palembang yang bekerja di perusahaan yang sering Eswe datangi dalam bertugas. Lambat laun benih cinta itu tumbuh. Dan mereka pun kini menjalin pertalian kasih yang baik. Butuh waktu agak lama memang untuk Eswe menemukan tambatan hati yang baik. Mungkin juga inilah buah kesabaran. Eswe pun kini kian semangat menjalani pekerjaannya sekalipun lelah selalu menyergap saban hari. Hidup Eswe lumayan tertata, meski tidak sepenuhnya tercukupi atau lebih dari cukup. Yang pasti, hidup Eswe lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Malam itu saya mendengarkan semua kisah perjuangan hidup Eswe dengan amat baik. Saya pun mendulang banyak pelajaran dari Eswe. Tentang memupuk keyakinan untuk menolak menyerah pada kenyataan. Tentang bersabar untuk terus berjuang. Tentang mensyukuri apa yang dimiliki. Tentang semangat yang kian berkobar karena cinta. Tentang kasih sayang terhadap orang-orang mendukungnya. Tentang perjuangan menolong diri sendiri. Dan tentang menyikapi kehidupan. Yang pasti, yang mebuat saya salut terhadap Eswe malam itu adalah: ia tidak hidup secara wah dengan kebutuhan yang selalu tercukupi, tapi ia selalu berusaha mensyukuri hidupnya. Begitu baiknya ia menceritakan kerasnya hidupnya tanpa pilu di dalamnya, tapi terdengar penuh motivasi dan penghargaan. Penuturannya benar-benar dewasa dalam menuturkan perjuangan hidup, sekalipun itu berat. Malam itu saya bukan mendengar keluhan, tapi saya benar-benar mendengar motivasi tentang perjuangan dalam menghadapi kerasnya hidup. Saya tak tahu harus mengakhiri cerita ini dengan bagaimana, tapi atas sharingnya yang memotivasi, saya berdoa supaya ia selalu berada di jalan yang benar. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s