Angga, Kawin?

Sumber Foto: atjehlink.com

Sumber Foto: atjehlink.com

Tanggal 27 Juli lalu, teman lama saya, sahabat saya, kawan baik saya, Angga, menikah. Yes, ini adalah kabar baik yang saya dengar secara tiba tiba. Tapi sejujurnya saya bersyukur akhirnya waktu di mana ia mempersunting kekasihnya itu tiba juga. Sore itu, di bulan puasa, Angga menghubungi saya. Berkali kali ia mengirim pesan singkat ke ponsel saya.  Saya yang pada saat itu sedang menemani kawan saya, Tejo yang berkunjung ke tempat saudaranya, mengatakan sebentar lagi akan menemuinya. Saya pikir kami tidak menemukan waktu untuk berjumpa setelah mengira ira waktu yang dibutuhkan untuk melakukan hal hal sore itu bersama Tejo. Tapi Angga malah mengajak saya dan Tejo untuk berbuka puasa bersama. Akhirnya saya, Tejo, Angga, dan Eswe kumpul di warung soto untuk berbuka puasa bersama. Sudah saya singgung pada postingan sebelumnya soal kawan saya Eswe itu, ya, ia adalah sahabat Angga juga.

Saya yang awalnya tak tahu menahu tujuan Angga sebenarnya, hanya mengiyakan saja untuk berkumpul dengannya. Saya pikir kumpul kumpul biasa, tapi ternyata secara tiba tiba ia memberikan undangan pernikahannya pada saya. What? Kok mendadak? Jujur bagi saya itu terasa mendadak karena kala itu saya benar benar tidak punya uang untuk menyumbang atau membeli kado. Sebenarnya sudah lama sekali Angga ini mengatakan akan menikah, yah, kira kira setahun lalu lah. Dulu saya berkata padanya, kalau saya belum kerja saya minta maaf untuk tidak datang karena tidak punya uang untuk kado atau apalah. Dengan enteng ia hanya meminta saya untuk berangkat bawa badan doang. Saya hanya senyum senyum sajalah. Dan pada saat memberikan undangan pernikahannya kemarin itu, ia tahu gelagat saya yang tak punya uang untuk beli kado pernikahannya, dan ia pun langsung berkata bahwa saya datang bawa badan doang saja. Saya tersenyum tawar menanggapi perkataannya. Benar benar keadaan yang cukup membuat saya agak gimana gitu.

Hari demi hari berlalu, saya masih saja tidak punya uang. Lebaran berlalu seminggu, saya tetap tak punya uang. Akhirnya saya pun membungkus apa yang bisa saya bungkus sebagai kado. Sejujurnya bagi saya esensi untuk pernikahan Angga adalah doa yang tulus, itu yang saya punya. Dan sebelum hari H, saya membungkus sebuah buku biografi Chairul Tanjung dengan kertas kado yang rapi, dan disisipi ucapan gitu. Pesta pernikahan kadonya buku biografi, nggak matching banget. Hahaha. Biarlah.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Saya datang bersama tiga teman lain yang juga diundang Angga, salah satunya Tejo tentunya. Di sana, Angga bersama mempelai wanitanya duduk begitu bahagianya. Raut kocak yang selalu menghiasinya  wajahnya tak tampak sedikit pun. Ia benar benar tampak serius untuk menjalani pesta pernikahan ini. Dan hari itu saya merasa kawan saya itu benar benar keren sebagai pria dewasa. Hasyeek.

Angga ini memang sahabat lama saya. Banyak cerita indah saya habiskan dengan kawan saya ini kala masih duduk di bangku SMA. Ia adalah pria kocak yang mengisi hari hari saya dulu. Kala saya mengingat masa masa indah itu, saya tak bisa melupakan sosok yang menjadi kawan dekat saya kala itu. Ia benar benar telah menjadi sahabat yang telah menorehkan warna dalam masa SMA saya. Sampai sampai banyak sekali cerita saya catat dalam benak dan tulisan. Saya bersyukur ia akhirnya memulai kehidupan yang lebih baik lagi.

Beruntunglah Angga mendapatkan memepelai wanita yang begitu mencintainya setulus hati. Wanita itu sudah dipacari Angga sejak sembilan tahun lalu. Ya, mereka berdua adalah kawan sekolah saya waktu di kelas satu. Dan kebetulan persahabatan Angga dengan saya berlanjut hingga kelas dua, tiga, hingga sekarang. Saya cukup mengenal Angga, dulu, tapi setelah lulus sekolah kami pun berpisah. Selama berpisah itu, Angga menjalani hidup penuh pengalaman. Ia merantau ke Jakarta. Kekasihnya merantau ke Jakarta pula untuk kuliah dan bekerja. Kebetulan lagi, mertua Angga juga merantau ke Jakarta. Lengkap sudah. Saya berpikir, Angga ini benar benar beruntung mendapatkan wanita yang dicintainya itu sebagai istri. Begitu cinta, setia, perhatian, dan tulus mendampingi Angga yang mana memang harus didukung oleh sosok yang benar benar sabar dan mencintai Angga. Saya bersyukur Angga mendapatkan mempelai yang tepat. Terlihat lebay ya? Mungkin iya, tapi sepengetahuan saya, wanita yang diperistri Angga itu benar benar tulus merawat, mencintai, mendampingi Angga. Selain semua itu, saya juga yakin, istri Angga juga merasa bersyukur mempunyai suami seperti Angga. Mereka saling melengkapi. Selamat menempuh hidup baru, Kawan, semoga kebahagiaan selalu menyertai perjalanan kalian berdua. Tuhan memberkati. ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s