Cerita Ronda 2

Hae, Gaes, how are you to day? Sebelumnya saya ingin mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia, kita semua yang selalu mencintai Indonesia dengan berbagai cara, yaitu: Selamat ulang tahun hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70 tahun. Semoga Indonesia makin berjaya di kancah dunia; makin makmur dan rukun rakyatnya; dan makin aman di tiap daerahnya, serta yang baik baik, deh. ^_^

Untuk poin terakhir, nih, Gaes, makin aman tiap daerahnya. Hmm … keamanan memang menjadi poin penting di manapun orang berada. Saya berharap para penegak hukum kian berani, tegas, dan teliti dalam memerangi kejahatan di mana pun berada. Saat para penegak hukum sangat brilian melaksanakan pekerjaannya, kami sebagai rakyat sangat bangga dan terlindungi. Pasti. Yes.

Soal kemanan di kampung saya, sejauh ini aman terkendali. Ronda yang digalakkan tiap hari dari pukul 21.00 hingga pukul 04.00 berjalan lancar tiap malamnya. Sempat santer terdengar ada yang kecolongan dua karung gabah ketan di RT sebelah, dan warga mereka kontan segera menggalakkan ronda keliling seperti di RT lainnya. Di RT kami, Alkhamdulillah, aman, dan semoga masih akan tetap aman. Program ronda ini memang bukan inisiatif warga, tapi intruksi dari atasan, dan tiap RT selalu datap dukungan dana. Dan syukur Alhamdulillah, intruksi tersebut disambut dengan suka cita oleh warga.

Kemarin, grup ronda kami sibuk membicarakan siapa yang mendapatkan giliran membawa air minum dari rumah, dan eng ing eng, terjadi perdebatan seru. Akhirnya perputaran dimulai dari awal lagi. Dan kejadian unik lain yang terjadi adalah salah satu anggota ronda kami bernama Mas Sur yang ingin sekali menyudahi kegiatan ronda malam Sabtu lalu, tapi sang ketua dengan getolnya mengatakan bahwa ia hanya ikut apa kata aturan, lagi pula yang menunjuk dirinya sebagai ketua adalah Mas Sur. Alhasil perdebatan kecil jenaka yang membuat tertawa itu pun terjadi cukup seru.

Sejujurnya kegiatan ronda di grup saya cukup menyenangkan. Saya sebagai anak muda pasti ogahlah ikut ambil jimpitan, tapi saya memilih untuk ikut pengawalan ambil jimpitan dengan “kothekkan”, membuat music dari barang barang sekitar. Ketika sang pengambil jimpitan mengatakan wadah jimpitan salah satu rumah kosong, di situlah kami memukul alat alat music secara keras dan lama. Itu adalah salah satu momen  yang ditunggu oleh kami. Yes, we like it. Tapi setelah keliling RT untuk kothekan, pasti lelah menyergap.  Sungguh, deh, melelahkan. Dan saat kembali ke pos, itulah masa masa krisis kami sebagai peronda. Biasanya pulang keliling pukul 02.00 dini hari. Kantuk menyergap. Keinginan ingin pulang pasti datang. Tanpa makanan rasanya krisis itu terasa amat panjang. Dan saya menyiasatinya dengan mengobrol ria dengan salah satu anggota peronda, yaitu Lik Gie.

Hmm … Lik Gie ini asli Solo yang menikah dengan wanita dari kampong saya, dan ia rajin pulang ke kampong saya ketika ronda malam Sabtu kita itu. Tubuhnya gempal, matanya agak sipit, dan tawanya khas. Ketika berbincang dengannya, saya banyak mendulang cerita hidupnya. Hmm … misalnya. Dulu, pada tahun 2000-an, Lik Gie yang bekerja di Solo pulang ke kampung saya dengan menaiki angkutan umum. Dan ia berhenti sekitar dua kilo meter dari kampung kami. Ia pun berjalan kaki ke kampung kami pada malam hari itu. Dan ia dicegat oleh tiga orang di jembatan. Dulu, konon katanya, tempat itu sering ada pembegalan. Sekarang, sih, tidak. Kalau soal demit demitan, tempat itu masih ada sampai sekarang. Nah, saat ditodong, kebetulan Lik Gie nggak bawa uang sepeserpun. Uangnya sudah habis untuk ongkos dan beli rokok. Lik Gie pun menjawab apa adanya, tapi dibumbui dengan perkataan yang membuat para pelaku penodongan berkerut kening.

            “Lha saya cuma punya rokok ini, baru tak udud sebatang. Kalau duit ndak punya, tadi saja saya njambret di pasar (sensor) ndak dapet. Ini kalau mau.”

Para penodong itu pun mengambil rokok Lik Gie dengan mengucapkan terima kasih. Dan bukan hanya hari itu saja. Memang bukan setiap hari para penodong itu melakukan aksinya, hanya waktu waktu tertentu saja. Di waktu lain, Lik Gie yang paham akan ditodong, ia pun memasukkan dompetnya ke dalam beras yang dibawanya dari Solo. E ndilalah beneran ditodong. Ya Lik Gie ngomong jujur tho, ya. Ndak bawa dompet, cuma bawa beras, gitu. Nah setelah hari itu, baru para penodong itu mulai akrab dengan Lik Gie. Mereka menawari rokok Lik Gie dan mereka merokok bersama di jembatan. Para  penodong itu percaya bahwa Lik Gie ini beneran jambret di salah satu pasar di Solo, padahal itu modus Lik Gie untuk meggertak para penodong itu saja. Di satu kesempatan, Lik Gie juga bertanya apakah para penodong itu pernah melakukan aksinya sampai mengilangkan nyawa atau tidak. Dan mereka menjawab itu adalah rahasia. Dan malah mereka menanyakan hal serupa pada Lik Gie apakah pernah mengancam nyawa korbannya atau tidak, dan Lik Gie juga menjawab hal serupa, rahasia. Dan setelah hari itu, Lik Gie kalau ketemu mereka sering nongkrong di jembatan dulu untuk berbincang beberapa patah kata. Tapi entah beberapa kesempatan pulangnya Lik Gie ke kampung istrinya, karena memang jarang Lik Gie pulang ke kampung istrinya dulu, ia tak menemui lagi para penodong itu. Kabarnya, dulu ada razia, dan mereka pun lari tunggang langgang. Itu kisah dulu, ya. Sekarang Alkhamdulillah, di jembatan itu sudah lumayan aman. Lha sudah ramai banget. Tapi ya kudu tetap waspada dong, ya. Segitu dulu, ya, lain kali disambung lagi. Salam Damai. Indonesia merdeka, damai, aman, tenteram, dan bersahabat. #alah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s