Berpartisipasi Dalam Karnaval

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Tujuh belas Agustus adalah hari kemerdekaan NKRI, seyogyanya sebagai warga negara yang telah dimerdekakan oleh para pendahulu, kita sebaiknya mengisi peringatan hari kemerdekaan tersebut dengan hal hal yang positif. Hmm … mungkin kau sering menyaksikkan patwai kemerdekaan, Kawan, bukan patwai moge, lho, ya, tapi patwai karnaval kemerdekaan. Sejujurnya saya lupa kapan terakhir kali saya niat nonton patwai karnaval kemerdekaan. Dan tiba tiba, kampung saya mengadakan karnaval kemerdekaan setelah sekian puluh tahun kegiatan itu berhenti.

Awalnya saya agak kaget sekaligus bingung, hendak menampilkan apa dalam acara karnaval tersebut. Saya sama sekali belum pernah ikut karnaval seperti itu, ini pertama kalinya dalam hidup saya, dan semoga tidak yang terakhirlah, ya. Nah, setelah kumpul dengan Pak RT dan kawan kawan lainnya, kami pun berembuk macam macam hal, dari apa saja yang ditampilkan serta apa apa saja yang perlu dipersiapkan. Alhasil, kelomok RT kami mengisi acara karnaval tersebut dengan gejug lesung yang dilakukan oleh ibu ibu; drum black atau kotekhan yang dilakukan oleh ibu ibu lagi yang mana saya diminta melatih mereka; aneka profesi seperti tukang sayur, petani, tukang glodok, dan lain lain; Mas dan Mbak RT; para pengawal Mas dan Mbak RT; duo bayi; dan yang lain random sesuai kreatifitas masing masing. Karnaval ini dilombakan, dengan tujuan untuk memberikan semangat tiap RT dalam menyemarakkan karnaval tersebut. Meski swadaya, tapi semua masyarakat antusias dengan karnaval tersebut.

Karnaval ini diikuti oleh lima desa, entah jumlah RT nya saya kurang tahu. Dan kelomok yang maju adalah dibagi tiap RT, tapi ya ndilalah manusia, ada yang gabung jadi satu RW gitu, dan menang. Ya sudahlah, esensi karnaval ini bukan untuk memperoleh juara, kok, tapi mengisi kemerdekaan dengan berkarya. Hasyek.

Dalam karnaval ini, awalnya saya memang bingung. Mulanya ingin dandan seperti zombie, atau dandan sebagai wanita, secara saya merasa cukup cantik, heuheuheu, tapi saya memutuskan untuk dandan sebagai sosok The Joker dalam film Batman the Dark Knight. What? Bukan what! Why so serious Nah, baru bener. Heuhuehue.  Ternyata menjadi seorang Joker itu bukanlah perkara yang mudah. Sekilas memang gampang riasannya, putih-hitam-merah-rambut ijo, tapi ternyata cari alat alatnya, susah, Bro. Pertamanya saya tanya kawan saya yang dulu pernah dandan kayak gitu, lha ndilalah kawan saya jawabnya cat air, lha saya njuk cari cat air, dong. Nah, pas cari cat air di salah satu toko perlengkaan alat tulis di kota saya, saya konsultasi dengan pelayan tokonya. Lha cat air yang ditawarkan sekaligus yang paling murah adalah cat air yang harganya delapan ribuan. Ndilalah, tibatiba, muncul seorang pria bersama rekan wanitanya di samping saya bertanya,

“Lha buat aa tho mas?”

“Buat karnaval e, Mas,” jawab saya dengan mengulas senyum tanggung.

“Mending pakai siwit aja, Mas, kemarin kemarin yang karnaval juga pakai itu, lebih irit … Buat cloreng cloreng muka itu tho?”

“Iya, Mas. Apa tadi, siwit, ya?” gumam saya penasaran, karena namanya kok tidak keren, ya. “Lha carinya di mana, Mas?”

“Di toko bangunan banyak, Mas?”

“Oh … siwit ya tadi.”

Akhirnya transaksi pembelian cat air itu pun urung terjadi. Saya pun bergegas untuk mencari barang yang dimaksud. Setelah muter akhirnya menemukan toko bangunan dan setelah saya tanya siwit, mereka menjawab habis. Duh. Saya pun direkomendasikan ke toko lain, toko bahan makanan kayaknya, lha ndilalah juga tutup. Duh. saya belum mau mneyerah, saya cari toko bangunan lainnya, lha ndilalah saya lupa nama barangnya tadi. Saya tanya ke toko bangunan lain dan saya nyebutnya malah sitrin, lha yang jaga bingung tho. Setelah cari toko lain, saya berdiskusi dengan penjaga di salah satu toko bangunan yang mengatakan bahwa barang yang saya maksud namanya siwit, dan sayangnya tidak ada di toko tersebut. Setelah saya ingat, saya catat nama siwit itu di ponsel saya. Saya masih belum mau menyerah. Saya cari lagi toko bangunan demi barang yang bernama siwit tersebut. Nahas, setelah muter muter cari siwit di beberapa toko bangunan, tidak ada satu pun yang punya, bahkan tidak tahu siwit itu apa. Lha saya jelasinnya juga bingung, lha saya sendiri juga tidak tahu. Akhirnya karena tidak percaya dengan siwit karena namanya tidak terkenal sekaligus tidak keren, saya memutuskan untuk membeli cat air dan kuasnya saja.

Malam harinya saya melakukan tes cat air itu di wajah saya. Dan eng ing eng. Gagal total. Tidak kentara sama sekali, tidak bagus, dan gagal lah. Sempat saya gabung dengan tepung kanji, tai pas kering pecah. Bisa saya katakan bahwa cat air murahan saya gagal. Saya pun langsung bergegas mengirim pesan singkat ke kawan saya dengan mengatkan bahwa cat air telah gagal sehingga urung menjadikan sebuah karya seni yang elok dan keren. Dari bahasa balasan pesannya, kawan saya sepertinya cengar cengir dengan mengatakan bahwa ia lupa cat air yang dulu ia gunakan merknya apa. Ia pun menyarankan memakai cat minyak. Dan saya tidak mau berekserimen dengan menghambur hamburkan uang saya yang tak seberapa.

Saya ingat kawan lama saya pernah dandan di teather sebagai punakawan. Saya langsung tanya bahan apa yang biasa digunakan untuk melumuri wajahnya tersebut. Lama menunggu, akhirnya ia membalas pesan singkat saya. Katanya, ia menggunakan singuit, yang mana nama lain dari siwit itu tadi. Lha hitamnya ia menyarankan body painting saja kalau mau warna warni, tapi mahal, carinya di toko make up atau kosmetik. Saya langsung browsing tentang harga body panting dan ternyata memang mahal. Ahaha. Saya pun menyimpannya dalam benak bahwa saya harus mencari singuit atau siwit itu tadi pagi esok harinya. Entah hitamnya, bisa menggunakan eye shadow dari Ibu RT.

Setelah hanya tidur tiga jam, saya bangun dan keliling kota mencari toko yang direkomendasikan oleh toko bangunan kemarin. Ternyata masih tutup. Saya pun survey lagi mencari toko kosmetik. Lha ndilalah beruntung saya menemukan dua toko kosmetik, tapi masih tutup juga. Kalau dibilang kepagian, sih, sepertinya tidak, lha wong itu jam delapan e. Untuk mengisi kekosongan waktu, saya pun keliling dulu cari angin. Setelah puas, saya kembali melewati toko kosmetik yang awlanya saya temukan. Beruntung toko itu buka dan saya langsung menghampiri toko tersebut. Hal yang pertama kali saya tanyakan adalah siwit. Yes, ada, puji Tuhan. Harganya lima ribu rupiah, jauh lebih murah dari bayangan. Saya sempat bertanya untuk mencampur warna siwit tersebut dengan pewarna makanan, dan Mbak penjaga tokonya meng oke kan. Belum puas saya tanya sekalian untuk menghitamkannya sebaiknya apa, karena memang perwarna makanan susah cari yang warna hitam. Mbak penjaga tokonya menyarankan pakai pidih, yang biasanya digunakan untuk manten, harganya sepuluh ribu rupiah. Saya sempat mikir, sepuluh ribu sayang uangnya tidak, ya. Setelah saya lihat isinya banyak, oke saya ambil. Saya iseng bertanya lipstik sekalian, males camur camur soalnya merah pewarna makanan jadinya merah muda. Mbaknya menyarankan untuk beli listik yang murah saja, sayang kalau beli yang mahal. Ada juga customer lain yang menyarankan listik pilihannya, katanya nyaman buat bibir. What? Saya beli beli lipstik mah nggak peduli nyaman bukannya, Mbak. Hahahha. Setelah pilih pilih lipstik warna merah yang tak kunjung ketemu, Mbak penjaga toko kosmetik yang sepertinya yang punya toko itu sendiri, mengeluarkan lipstik warna merah tester miliknya. Ia memberikan pada saya dengan cuma cuma. Saya girang tak alang kepalang menerima lipstik tersebut seraya mengucapkan terima kasih beruntun. Akhirnya saya membeli pidih dan siwit itu tadi.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, inilah siwit itu

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, inilah siwit itu

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, inilah Pidih itu

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, inilah Pidih itu. Betewe liPstiknya nggak kefoto, heuheuheu

Sesampainya di rumah, beberapa kawan kawan saya menanyakan soal melukis wajah tidak mumpung ada pelukisnya. Saya jawab saya bisa sendiri, gitu. Tapi tetap diajak bareng sekalian. Akhirnya pada kumpul di rumah saya untuk dandan. Awalnya cuma tiga orang, yaitu pelukis, saya, dan tetangga saya. Sang pelukis mulanya pengen jadi zombie, tapi waktunya mepet, Bos. Saya bersedia dirias tapi setelah sholat zuhur karena karnavalnya memang setelah sholat zuhur. Nah, kawan saya yang mau dirias itu pun dirias duluan, ia dandan sebagai kuntilanak. Menggunakan pelembab, dasaran siwit, lalu lukis hitam dengan pidih, dan lipstick sebagai efek darahnya. Baju putihnya ia menggunakan rukuh sholat ibunya.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, meranin kuntilanak, nih heuheuheu

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, meranin kuntilanak, nih heuheuheu

Sebelum zuhur saya mandi dulu, lalu menunggu azan. Lha pas saya selesai sholat, siwit saya sudah digunakan banyak orang buat nglukis. E ada pula yang menggunakannya untuk putihin tubuh. Lak ya kampret banget. Saya pun berkata tegas siwitnya habis, hendak saya gunakan. Lha gimna, saya berjuang bangun pagi keliling keliling nuat cari, e lha kok yang pakai ngawur. Masalahanya juga mepet e, coba ngomong dari awal, lak ya tak belikan to, ya. Hahahaha, pidih dan listiknya juga dibawa kemana. Haduh haduh haduh. Susahlah pokoknya, yang punya ikut antri.

Setelah buat dasaran putih pada wajah saya, teman pelukis saya itu melukis mata saya. Nah pas melukis mata, para kelompok sudah berangkat ke lapangan. Haduh, saya masih ngerias, nih. Lha ndilalah pas bagian bibir, cukup amburadul. Sepertinya kawan pelukis saya kurang menguasai karakter Joker. Saya minta bekas luka Joker, tapi mungkin sepenangkapannya malah bekas luka zombie. Terlebih dikejar waktu, sudah ditinggal rombongan. Duh. akhirnya setelah dilipstik kok yang besar bekas lukanya, akhirnya saya merahin semuanya sampai cukup besar di bagian bibir. Terkesan tidak terlalu miri Joker. Why so serious? Bisa jadi malah jadi karakternya the next Joker. Hahahaha. Setelah usai dandan, saya pun langsung ganti pakaian, kemeja ambil yang mana sajalah dari lemari; jaket ungu sudah saya siapkan biar terkesan seperti jas ungu milik Joker─lha ya jas susah e; dasi hitam karena tidak punya dasi warna mirip Joker, dan dasinya malah tabrakan dengan warna kemeja, but sudahlah why so serious-lah; dan terakhir rambut saya diijoin dengan gel rambut yang saya campur dengan pewarna makanan warna hijau tua dan kayaknya gagal karena tidak kentara warnanya. Why so serious? Sebelum berangkat, saya ambil kartu joker dulu di pos ronda, lumayanlah buat kemantapan peran.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi , ini saya, backgroundnya diubah kawan saya karena background aslinya Pohon Pisang

Sumber Foto: Koleksi Pribadi , ini saya, backgroundnya diubah kawan saya karena background aslinya Pohon Pisang

Saya berangkat ke lapangan bersama para tentara gadungan, yang salah satunya adalah adik saya. Lumayan keren, Joker dikawal oleh dua tentara.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Sumber Foto: Koleksi Pribadi

Sesampainya di lapangan kami langsung gabung dengan gerombolan. Dan karnaval pun dimulai dengan berjalan melewati rute rute lima desa itu tadi. Rasanya cukup melelahkan terlebih melewati tengah sawah yang mana notabena tidak ada yang nonton. Hahahaha. But nyenenginlah. Setelah berjalan panjang dan disaksikkan oleh banyak pasang mata, kami pun tiba di lapangan kembali. Istirahat, dan pengumuman juara. Ada hiburannya, Gaes, ndangdutan. Selanjutnya, para rombongan pulang sendiri sendiri, tapi saya tetap bertahan di lapangan bersama kawan kawan muda yang masih joget, sayangnya saya tidak berselera untuk joget. Setelah puas, kami pun pulang dengan kelelahan dan kepuasan yang cukup.  Meski ini pertama kalinya kami ikut karnaval, tapi hal ini cukup membuat kami kecanduan. Ini beda lho, ya dengan iring iringan moge. Hahahha. Lagi trend, tuh. Abaikan. Why so serious?

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, kunti ketemu Pocong di jalan terus minta Poto, nih

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, kunti ketemu Pocong di jalan terus minta Poto, nih

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, bancinya Pulang, habis laku Hahaha

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, bancinya Pulang, habis laku Hahaha

Over all, mengisi ulang tahun kemerdekaan dengan berkarya itu menyenangkan, tak perlulah mendebatkan kita sebenarnya sudah merdeka atau belum, itu hanya mempersulit diri, lebih baik mengisi hasil kemerdekaan yang dulu telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan hal hal positif, terlebih kegiatan yang membangun bangsa ini, setidaknya tidak melakukan hal yang merugikan orang lain adalah tidakan yang benar. Jika terlalu memikirkan kita sejatinya merdeka atau belum, atau apalah apalah, lebih baik melakukan hal positif yang menyenangkan saja. Tidak perlulah terlalu diikirkan terlalu mendalam. Why so serious? Selalu berkarya! ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s