Melihat Sunset

Beberapa hari lalu saya pergi ke Jogja bersama kawan saya, Adi. Tujuannya ke Jogja adalah untuk berkunjung ke perpustakaan, soal skripsi Adi. Sedang saya adalah mencetak pas poto guna melamar pekerjaaan. Kami beangkat agak siang, sekitar waktu zuhur lah. Yah, perkara bangun pagi itu perjuangan, Bro. Hahaha. Setelah mencetak foto, kami pun langsung bergegas menuju ke kampus, sudah beberapa bulan lamanya saya tidak berkunjung ke sana. Hmm … Ada banyak kenangan yang silih berganti menghampiri kepala saya. Saya lumayan rindu berkegiatan di kampus lagi. #Alah.

Hal yang pertama kali saya lakukan di kampus adalah kencing. Skip. Setelah itu, kami menimbang berat badan. Yah, katakanlah saya yang menimbang berat badan. Sebenarnya saya agak deg deg an saat menimbang berat badan. Sudah sering sekali tiap bertemu kawan lama pasti muncul komentar, “sekarang gemukan, Gun.” Awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan menjadi sebuah momok yang amat mengerikan. Perut saya yang dulu rata sekarang sudah mulai membuncit pula. Pipi saya juga makin tembem, kata orang orang. Indikasi yang mengerikan benar benar terjadi pada diri saya. Beginikah rasanya menjadi gemuk? Oh, no! Saya bingung, diet yang baik itu seperti apa. Kawan saya mengatakan bahwa lebih baik makan tidak terlalu larut malam atau sebelum tidur. Ia juga menyarankan olahraga bersepeda, karena lelahnya tidak terlalu kentara. Katanya dengan bersepeda bobot tubuh bisa turun. Okey, ide yang keren.

Saat pertama kali melihat timbangan kampus, jantung saya mulai berdebar kian cepat. Akhirnya secara perlahan lahan saya naik di timbangan tersebut. Oh my god! Saya geleng geleng kepala. Berat tubuh saya naik tujuh kilo dari sebelumnya. What? Yah, bobot tubuh saya sekarang naik menjadi 72 kg yang semula hanya 65 kg. Tinggi saya berkisar 168 cm lah. Saya benar benar merasakan menjadi orang yang mulai gemuk. Celana makin susah dikancingkan, perut juga menjadi bemper paling menggelikan. Ah, beginikah rasanya menjadi gemuk?

Setelah menimbang berat tubuh, kami pun masuk ke perpustakaan. Ndilalah, mantan dosen saya, yang mana dulu menjadi ketua penguji skrisip saya, baru keluar dari kantor. Nah, kantor dosen jurusan saya itu depan perpustakaan tepat. Ketika beliau keluar, saya langsung kaget dan langsung berpaling, pura pura baca pengumuman. Kampret bener. Malu saya. Saya merasa menjadi mantan mahasiswa yang durhaka. Tapi sudahlah. Kata kawan saya, sih, beliau melihat saya, memandangi saya yang membaca pengumuman. Dengan kata lain beliau paham saya sedang pura pura tidak lihat. Sebenarnya, sih, tidak apa apa kalau pun berjumpa, hanya saja saya merasa malu karena sudah lulus agak lama tapi masih gini gini aja hidup. Hahaha.

Di dalam perustakaan, saya bingung hendak melakukan apa. Baru ambil buku, e malah ketemu sama kawan lama saya, Dina, yang kabarnya mau menikah tapi nunggu lulus dulu. Dan agak tercengangnya saya, ia memegang skripsi saya, mengambilnya dari dalam rak. Ia berujar bahwa skripsi saya sangat bermanfaat sekali. Keren! Hahaha. Saya pun mengatakan akan mengirimkan skripsi saya apabila ia membutuhkan, via fesbuk. Pertemuan sore itu pun usai setelah ia mohon izin untuk pulang. Sebelumnya saya sempat ngobrol dengan penjaga perpus, katanya skripsi skripsi itu bisa di buka di webnya, bisa di download. Ia mengira saya masih mashasiswa. Ya sudahlah, lha, ya, dandanan saya juga masih mahasiswa ini kok. Ia mengatakan bahwa skripsi skripsi itu bisa didownload full. Oke. Mahasiswa sekarang makin mudah saja. Dulu waktu saya masih kuliah, saya harus mencuri motret motret skripsi gitu. Hahahhaha.

Setelah puas di perusatakaan, kami pun pulang. Sebelum keluar perustakaan, saya terperanjat bukan main. Dosen pembimbing skripsi saya baru keluar dari kantor. Sontak saya terpaku di tempat, beruntung kami tidak papasan. Kalau papasan entah saya harus mengakui apa saja apabila ditanya kabar. Heuheuheu. Malu saya karena tak banyak kisah yang bisa saya bagi. Dan saya harus mengendap endap untuk menghindari dosen dosen saya. Hahaha. Aalah.

Dalam perjalanan pulang, Kawan saya mengajak saya untuk menemui sepupnya terlebih dahulu di daerah prambanan. Katanya, ia akan menyerahkan uang saku kepada sepupunya tersebut karena menjalani ‘pkl’ dari SMK nya. Sempat saya menikmati keindahan area candi prambanan hingga saya beralih peran dengan kawan saya itu menjadi sopir, dan kawan saya itu berperan menjadi penunjuk jalan melalui ‘gps’ nya. Kami sempat tersesat, dan setelah bertanya pada orang orang kami pun menemukan kandang ayam yang dimaksud.

Nah, kami menemukan ada beberapa kandang ayam yang sangat besar sekali. Sepupu kawan saya itu tidak punya pulsa, dan sayangnya kawan saya itu tidak punya pulsa telepon. Jadilah kami menunggu sedang sepupu kawan saya itu mencari kami di mana.  Dan baru berjumpa pada saat sayup sayup azan magribh berkumandang. Memang kondisi yang kampret dan Selo sekali. Tapi dalam saat saat menunggu itu, saya sangat bersyukur menunggu pada waktu yang tepat. Kami menunggu di waktu sunset. Kampret, ternyata sunset keren parah. Saya lupa kapan terakhir kali saya melihat sunset, saya benar benar lupa, apalagi menikamatinya. Dan sore itu, saya benar benar dimanjakan dengan keindahan alam yang benar benar luar biasa. Satu menitan matahari perlahan lahan tenggelam menyisakan semburat jingga di balik awan. Matahari itu benar benar sangat cantik kala bergerak lambat untuk menutup diri. Saya benar benar terpukau.

Mungkin kau bisa mengatakan saya lebai soal sunset itu, Kawan, tapi sumpah, sunset sore itu ajib parah. Saya sering meilhat jingga senja, tapi saya jarang sekali melihat proses matahari terbenam begitu eloknya. Benar benar elok tiada tara. Keren parah. Rasanya geli parah, ye, menikmati sunset bersama kawan laki laki. Kampret memang. Tapi tanpa misi mencari tempat ‘pkl’ sepupu kawan saya itu, mungkin saya tidak akan menikmati sunset semenakjubkan itu. Mungkin lebay, ya, dan kayaknya saya memang kurang piknik, deh. But, sunset memang indah sekali. Oh, God, thanks for this oportunity. Saya bersyukur bisa menikmati seni terindah Tuhan dengan penuh rasa syukur. Saya harap bisa menikmati keindahan alam yang lain penuh dengan rasa syukur yang luar biasa. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s