Kenangan Manis Pada Kue Eplekenyes yang Legendaris

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Beberapa pekan lalu, tepat pada hari karnavalnya kampung saya, saya menemukan penjual kue ‘eplekenyes’ ketika mencari alat kosmetik siwit dan pidih. Saya sempat terperangah ketika melihat seorang pria paruh baya menjual kue yang sudah lama sekali tidak saya lihat itu. Entah terakhir kali saya memakan kue eplekenyes itu tahun kapan, saya benar benar lupa.Pagi itu setelah saya mendapatkan siwit dan pidih untuk  keperluan karnaval, pulangnya saya sengaja mampir untuk membeli kue eplekenyes ini. Kue yang menyimpan seribu kenangan masa kecil anak 80an dam 90an. Jika kau pernah menyaksikkan film warkop DKI yang berjudul Gengsi Dong, kau pasti tahu kue yang saya maksud, kawan. Kue eplekenyes ini sempat dibawakan Slamet alias Dono saat niat ngapel di rumah anak dosennya. Kue yang ditenteng tenteng paijo alias Indro dengan olok olok jenaka terhadap Dono karena membawa kue yang tidak keren sama sekali saat ngapel ke rumah cewek, memang kue yang amat legendaris.

Kembali ke cerita awal. Pagi itu saya langsung memarkirkan motor saya di dekat penjual kue eplekenyes itu. Beberapa orang sudah mengantri di sana. Tak lama saya pun akhirnya dilayani oleh pria paruh baya penjual kue eplekenyes itu. Saya yang terheran heran sekaligus terlempar ke masa jauh sekali itu pun iseng memotret sang penjual yang sedang memasak kuenya itu.

“Banyak, Mas, yang tiap ketemu saya moto moto saya, gitu, terus dimasukkan ke internet, gitu,” cetusnya cepat.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Saya langsung merasa tidak enak atau sungkan oleh perkataan beliau. Ternyata keisengan saya ketahuan. Heuheuheu. Saya pun malah minta izin sekalian untuk memotret beliau, sejujurnya karena makanan khas ini benar benar keren di era sekarang ini. Beliau dengan senang hati mempersilakan saya mengambil fotonya.

Selanjutnya, saya yang dirundung penasasran yang luar biasa pun kontan bertanya semua tentang beliau. Well, dari pertanyaan yang saya lontarkan, beliau menyebutkan namanya, yaitu pak Sunarto. Pak Sunarto ini sudah berjualan kue eplekeyes ini sejak empat puluh tahun yang lalu. Waow. Beliau berjualan sejak masih bujang hingga mempunyai cucu. Katanya, beliau mempunyai adik banyak. Dan waktu itu belau sudah kehilangan kedua orangtuanya. Alhasil, beliau harus berjuang untuk mempertahankan kehidupan. Beliau yang tidak mengenyam pendidikan pun mencoba peruntungan menjaual kue eplekenyes. Selain itu, adik adiknya juga ada yang ikut berjualan kue eplekenyes ini, ada juga yang bekerja lain. Seingat saya , sih, gitu.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Saya sempat tanya, kalau saya ingin membeli kue eplekenyes in lagi harusi ke mana, dan beliau menjelaskan bahwa beliau selalu berada di sana, di tempat saya temui kemarin. Kalau tidak ada, berarti ia masih di sekitar masjid di daerah rumahnya. Beliau selalu berangkat menjajakan kue eplekenyesnya setiap pukul enam pagi di sekitar masjid. Katanya, tiap pagi sudah berjejar pembeli yang mengantri untuk membeli kue eplekenyes beliau. Agak siangan, baru beliau mangkal di sekitar pasar. Tak sampai tengah hari, lebih tepatnya pukul sebelas siang, semua bahan untuk membuat kue eplekenyesnya habis. Yes. Pukul sebelas,  pak Sunarto sudah pulang, dagangannya laris manis. Dan setelah pulang, biasanya belaiu langsung pergi ke area pemancingan, menghabiskan waktu hingga sore menjelang, menikmati hobinya memancing. Keren. Yes, pak Sunarto memang hobi memancing. Belaiu selalu memancing, setidaknya seminggu tiga kali, Gaes.

Pak Sunarto ini selalu menjajakkan dagangannya dengan berjalan kaki. Dengan topi koboi kebanggaannya, ia memikul  barang dagangannya. Bahan untuk membuat roti eplekenyes sendiri, yaitu gandum dan parutan kelapa. Sempat alat memasak dan jualnya ditawar oleh seseorang seharga satu juta rupiah, padahal beliau sudah menunjukkan tempat kalau buat alat semacam itu dengan biaya hanya empat ratus ribu rupiah. Tapi sang penawar tetep saja kukuh untuk membelinya. Pak Sunarto pun tak mungkin menjual alat jualannya, karena nilai sejarah pada alat itu yang bepitu tinggi. Roti eplekenyes pak Sunarto ini selain laris manis juga sering disewa di acara reuni para guru dan orang orang lawas lainnya. Over all, roti eplekenyes pak Sunarto ini mantap, Gan, terlebih dinikmati bersama secangkir kopi panas, mantap maksimal, dah. Bukanlah rasa eplekenyesnya yang utama, tapi nostalgia masa kecil terhadap kue elekenyes tersebutlah yang menggali beribu kenangan indah masa kecil. Terima kasih kepada pak Sunarto karena telah menjadi media nostalgia yang keren. Kenangan itu tetap terasa nikmat berapa kali pun diingat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s