Pulang Dari FKY

Jarum jam menunjukkan pukul 8.30 malam, tapi kantuk sudah menyergap bersamaan dengan letih di tubuhku. Hal itu memang tidak mengherankan, karena sejak tadi siang aku telah berkunjung di acara FKY ini. FKY merupakan Festival Kesenian Yogyakarta yang diadakan tiap tahunnya.

Aku memang sudah tidak ngekos lagi di Yogya, tapi masih banyak kawanku yang masih indekos di kota gudeg tersebut. Aku pun menghubungi kawanku, Galuh, untuk nginep semalam karena tubuhku benar-benar letih apabila harus menempuh perjalanan jauh untuk pulang ke Solo. Kukirim pesan singkat padanya. Memang lacur, tak ada balasan pesan singkat darinya, bahkan teleponku pun tak diangkatnya. Aku pun memutuskan untuk langsung ke kosnya.

Sesampainya di kosnya, segera kuparkir motorku di tempat biasanya para penghuni kos memarkir motor mereka. Keadaan tampak sepi, kulihat hanya tiga motor saja. Tempat kos dua lantai yang didominasi warna biru muda itu memang sudah sering aku kunjungi, jadi rasa tak perlu lagi bagiku untuk mengetuk gerbang atau menunggu Galuh turun dari kamarnya untuk menjemputku. Lagipula pesan singkatku tak dibalasnya sejak tadi.

Remang lampu dapur yang berada di samping tempat parkir memendarkan cahanya temaramnya. Entah mengapa aku merasa kian dingin, entah karena udara dingin malam atau karena suasana yang tampak sunyi. Aku baru ingat bahwa memang biasanya para penghuni kos pulang ke kampungnya masing-masing tiap akhir pekan, dan hari ini adalah hari Sabtu. Pantas saja sepi. Batinku. Kutapaki tangga menuju ke lantai dua. Beruntung lampu kamar Galuh tampak terang dari kejauhan, menandakan bahwa ia sedang tidak pulang kampung.

Kubuka lebar pintu kamar Galuh yang setengah terbuka. Ia menatapku sejenak, lalu beralih ke layar laptopnya.

            “SMSku kok, ora mbok bales, Cuk?”

Ia lantas meraih ponselnya dan menatapnya sejenak. “Oh, tak silent, Cuk. Sori,” pungkasnya ringan, “lha dari mana, Cuk?”

         “FKY, Bos. Mau pulang capek banget e, tak nginep, ya.”

Ia hanya mengangkat jempolnya menandakan setuju, sedang matanya tetap menatap layar laptopnya.

Aku pun langsung merebahkan tubuhku yang rasanya begitu lelah sekali. Baru beberapa detik kupejamkan mataku, Galuh bertanya sesuatu.

            “Sholat Isya, belum e?”

        “Nantilah, yen nglilir (kalau terbangun),” jawabku sekenanya sambil tetap mengatupkan kelopak mataku.

Aku pun mulai masuk ke alam mimpi. Sendi-sendiku yang tegang mulai melemas. Tepat pukul 03.00 aku tiba-tiba terbangun. Kulihat sekeliling, tak ada sosok Galuh di kamar. Aku pun teringat belum sholat Isya. Aku pun segera turun dari kamar Galuh sembari mencarinya di lantai bawah. Kali aja lagi  masak mie. Batinku.

Tiba di lantai bawah, tetap tak ada sosok Galuh. Pertanyaan demi pertanyaan mulai menghampiriku. Di mana Galuh? Apa sedang pergi ke Burjo? Ah, mungkins edang ke burjo. Batinku. Aku pun segera mengambil air wudhu, lalu menuju mushola kos yang berada di samping dapur kos. Di sana, aku berjumpa dengan pak Kos yang tengah khusuk berdzikir.

            “Sholat malam, Mas?” tanya beliau lirih saat aku menggelar sajadah.

            “Sholat Isya, pak,” jawab saya nyengir.

            Beliau hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.

            Setelah selesai sholat, sosok pak Kos yang tadi dzikir di belakangku sudah tidak ada. Mungkin beliau sudah masuk ke rumahnya yang mana masih satu area dengan kamar-kamar kos. Aku pun langsung naik ke lantai atas sembari menunggu sholat subuh. Ponselku berdering. SMS dari Galuh.

            “Sori, Cuk, aku sudah pulang dari kemarin, tadi malam aku sudah bobok.”

Aku terperanjat. Kubaca berkali-kali SMSnya. Kucermati dengan baik susunan hurufnya.

            “Lha kapan pulangmu?” balasku.

          Aku menanti pesasn singkatnya dengan cemas. Tak lama, sebuah SMS mendarat anggun di ponselku. Kubuka dengan gugup.

           “Kemarin sore, Cuk, kira-kira, ya, habis asharlah.”

Aku tersentak hebat. Tubuhku menggigil mendapati kenyataan tersebut. Aku tak percaya dengan pengakuan Galuh. Segera kutelpon Galuh untuk memastikan bahwa ia tidak mempermainkanku. Dari cara bicaranya, sepertinya ia benar-benar tidak mempermainkanku. Kudesak berulangkali tetap saja jawabannya sama, ia sudah pulang sejak kemarin sore. Kuusap keringat di dahiku. Berarti siapa yang kutemui semalam?

             “Sumpah, Cuk, aku pulang dari kemarin sore. Lha, listrik kos sering mati-mati e. Sudah bilang sama anaknya Pak kos, tapi ya belum diurus kayaknya. Sejak kematian Pak Kos, kos-kosan jadi nggak terurus e. Jadi agak males di kos,” paparnya masygul.

Aku kian tersentak oleh penuturan Galuh. Aku baru ingat bahwa Pak Kos Galuh sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Lantas siapa yang kutemui saat sholat tadi? Dadaku berdegup kencang. Kulitku mendadak kedinginan. Aku menggigil hebat.

            “Cuk …. Cuk ….” seru Galuh di ujung telepon.

           Aku masih terpaku di tempatku. Memikirkan apa yang baru saja terjadi padaku.

           “Cuk!”

           Tiba tiba lampu kamar Galuh mati. Kos-kosan itu gelap gulita. Membuat malam kian mengerikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s