Bulan Bahasa, Ikut Seminar

Sumber foto dari twitternya Mbak Windi

Sumber foto dari twitternya Mbak Windi

Bulan bahasa. Yes, Oktober merupakan bulan bahasa bagi kita semua. Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda masa lalu mengikrarkan diri dalam sumpah pemuda: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu bangsa Indonesia; menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ya, sejak itulah bulan Oktber menjadi bulan bahasa, bahasa Indonesia.

Dan di bulan bahasa tahun ini, saya ikut serta dalam seminar perjalanan sastra Indonesia yang diadakan oleh mahasiswa UGM. Pembicaranya keren-keren, yaitu Windy Ariestanty, Prof. Faruk, dan Seno Gumira Ajidarma. Saya sebagai peserta, sih, cukup senang untuk ikut serta dalam acara tersebut, apalagi pembicaranya Bapak Seno Gumira, Brur. Ajib, dah! Saya salah satu penggemar cerpen cerpennya.

Acaranya dilaksanakan tepat pada hari sumpah pemuda, yaitu 28 Oktober 2015. Memang sudah terkonsep sebelumnya mungkin, ya. Seminarnya sendiri dimulai pukul 10.30 hingga selesai. Sebelumnya saya, sih, tahu acara tersebut dari poster yang tertempel di kampus saya saat saya iseng main ke kampus. Nah, hari berikutnya saya ada keperluan di radio Swaragama yang mana masih satu area dengan kampus UGM. Ketika saya keluar dari kampus UGM, saya melihat dua orang pemuda sedang memasang baliho besar di sekitar bundaran UGM. Sontak saya pun langsung berhenti dan menanyakan di mana sebaiknya saya mendapatkan tiketnya. Lumayan, Jack, tiket pre ssale 30 ribu, on the spot 45 ribu. Lebih baik saya titipkan 30 ribu kepada dua pemuda itu. Ndilalah, pas saya tanya, mereka meminta nomor telepon saya untuk pemberitahuan lebih lanjut. Beberapa jam berselang, sebuah pesan singkat mendarat anggun di ponsel saya. Dan ternyata pesan singkat dari salah satu pemuda yang saya temui di bundaran UGM sebelumnya tadi. Namanya Faiz, katanya. Ia menyarankan saya untuk mengirimkan uang via bank saja, agar kena harga pre sale. Ide bagus, tuh.

Akhirnya, pada hari Senin tanggal 26 Oktober, saya pun mengirimkan uang ke rekening saudara Faiz ini. Faiz ini pun menanyakan nama lengkap saya untuk keperluan sertifikat. Nah, pas hari H, saya pun segera mencari tempat seminarnya. Cukup bingung juga, sih, di area UGM ini. Saya parkir motor saya di belakang ‘gsp’ UGM, e ndilalah kok, ya, tempat seminarnya kelewatan. Faiz ini pun menelpon saya terkait keberadaan saya, lalu memberikan penceraqhan jalan pada saya. Saya pun berjalan kaki menuju tempat yang di maksud Faiz. Kami pun berjumpa untuk kedua kalinya, dan saya langsung menyerahkan bukti transferan saya, lalu ia menyerahkan tiket seminarnya. Saya sampai di lokasi seminar pukul 10. 40 menitan lah. Terlambat sedikit, sih, lha namanya tidak paham lokasi. Heuheuheu. Dan ternyata itu belum berakhir. Saya musti ngantri untuk presensi. Saya disambut dua gadis manis di depan saya. Katanya, dengan nada yang ramah, saya diminta memasukkan email saya saja bukan nomor ponsel apabila ingin sertifikat saya nanti dikirim via email. Tapi apabila ingin diambil, isi nomor ponsel saja, dan sertifikat bisa diambil di FIB UGM. Sontak saya langsung bertanya, FIB itu mana. Dan gadis berhijab di hadapan saya kontan tertawa kecil. Apakah saya tersinggung karena ia menertawakan saya? Jujur, jack, saya tidak tahu menahu area kampus UGM. Saya tidak pernah kuliah di sana, dan saya bingung soal parkir, bahkan tata aturan masuk ke kampus itu. Apakah saya tersinggung ketika saya bertanya malah ditertawakan? Jawabannya adalah: Tidak! Alasannya sederhana, karena gadis yang tertawa saat saya tanya itu memiliki senyum dan tawa kecil yang memikat. Manis, Vroh. Duh. Skip. Abaikan.

Akhirnya saya pun bisa masuk ke dalam dan duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pihak panitia. Sampai di sana, ternyata acaranya sudah dimulai. Sejujurnya, ini adalah seminar pertama saya yang mana panitianya benar benar tepat waktu dalam pelaksanaan acaranya. Salut maksimal. Keren parah. Meski saya kehilangan beberapa menit yang mana amat berarti itu, tapi saya tetap bisa mengikuti acara dengan amat baik. Pembicara pertama adalah prof. Faruk. Beliau tidak ada di baliho atau poster, tapi beliau ini orang besar. Beliau memaparkan materi tentang perjalanan sastra Indonesia. Terkait soal isinya, saya hanya menangkap beberapa saja, karena saya datang sudah mulai, Jack. Heuheuheu. Jadi saya hanya mencatat apa yang dipaparkan Mbak Windy dan Bapak Seno saja.

Pak Seno lebih memaparkan terkait sastra perjalanan. Menurut pak Seno, sastra perjalanan sendiri berbeda dengan laporan perjalanan. Laporan perjalanan sendiri lebih cenderung membahas tentang tarif hotel, biaya perjalanan, serta data data terkait daereh yang dituju. Laporan perjalanan juga berkecenderungan seperti sebuah keharusan melakukan perjalanan, bukan keinginan melakukan perjalanan.

Lebih lanjut, pak Seno mengatakan bahwa tersesat, berkeliling, dan keluar dari hidup melahirkan sastra perjalanan. Bahkan di masa colonial pun juga banyak lahir sastra perjalanan berupa melihat tempat tempat eksotis. Pak Seno juga mengatakan bahwa Travel writing rasanya kurang menarik karena adanya patokan patokan tertentu. Sebaiknya seluruhnya adalah sebuah pengalaman. Sekalipun menemukan kejadian yang kurang menarik dalam traveling, ceritakan saja apa yang ada dan dirasakan, bisa jadi seperti worst journey.

Banyak penagalaman menarik yang diceritakan oleh pak Seno, salah satunya perjalanan ke Mongolia yang kadar dinginnya mencapai -25 derajat Celcius. Beliau dijamu oleh orang orang Mongol dengan susu, tapi tak disangkanya bahwa susu yang disajikan berupa balok susu, bukan susu cair. Jadi dengan kata lain, bukan minum susu, tapi makan susu.

Di Mongolia, pak Seno mmenempuh perjalanan berhari hari menuju gurun Gobi, yang sekelilingnya hanya hamparan salju. Apabila berjumpa dengan pemotor, biasanya sepeda motor dipenuhi dengan ban cadangan. Pom bensin di sana pun tidak ada yang menjaga, dan cara membayarnya harus mencari rumah penjualnya.

Beralih ke tempat lain, pak Seno juga menceritakan pengalamannya jalan jalan ke Jepang. Katanya, di Jepang, kejujuran begitu nyata. Ketika beliau pulang dari berpergian menuju tempat kawannya, beliau memutuskan untuk naik kereta. Tapi pada pukul 10 malam, loketnya sudah tutup. Orang orang yang ingin naik kereta meletakkan uang mereka di loket hingga menggunung, dan ajaibnya tidak ada satupun orang yang berniat mengambilnya. Melihat fenomena itu, pak Seno jadi teringat tentang kisah di keraton Kalingga pada zaman Hindu. Pada masa itu, uang diletakkan di jalan pun tidak diambil. Pernah ada yang mengambilnya yang membuat sang ratu murka. Dan ternyata yang mengambilnya adalah adik sang ratu sendiri. Sang ratu tetap menghukum adiknya dengan memotong tangan sang adik.

Lanjutnya, di Indonesia ternyata ada pulau yang sebagian besar penduduknya jujur. Adalah di pulau Bawean, Gresik. Perjalanan ke tempat itu memang harus menggunakan kapal. Ketika beliau hendak memesan kamar, ternyata beliau dipersilakan untuk memilih kamar sendiri yang masih ada kuncinya. Dan cara membayarnya pun harus menghampiri yang punya penginapan. Hendak mengaku kamar yang murah atau yang mahal sebenarnya bisa, karena tidak akan dicurigai pula. Tapi di tempat itu benar benar menjunjung rasa kejujuran.

Pak Seno berlanjut menceritakan kisah perjalanannya ke Flores. Saat di sana, beliau menginap di salah satu penginapan. Beliau disodori dua pilihan kamar, yaitu kamar ber AC atau menggunakan kipas angin. Beliau memilih yang kipas angin saja. Saat memasuki kamarnya, beliau heran melihat ada AC di kamarnya. Belaiu menanyakan kepada petugas penginapan bahwa ada AC di kamarnya. Dan sang petugas menyarankan pada beliau untuk tidak menyalakan AC nya. Sebagai gantinya, sang petugas penginapan membawakan kipas angin besar untuk diletakkan di kamar beliau. Padahal kalau malam bisa juga AC beliau nyalakan, tapi kejujuran memang yang paling utama. Dan ternyata di negeri ini masih banyak ditemui orang orang jujur dan percaya pada orang lain.

Mungkin kalau diceritakan masih banyak lagi pengalaman pak Seno, tapi beliau memilih menceritakan beberapa itu saja. Sastra perjalanan memang merupakan sebuah pengalaman, tidak perlu mendiskripsikan sejarah dan data data tempat. Karena semuanya menyangkut sudut padang kita. Secara garis besarnya, sih, begitu terkait apa yang dikatakan pak Seno.

Membicarakan sastra perjalanan memanglah seru. Pun dengan yang diceritakan oleh Mbak Windi. Sastra perjalanan bekembang pesat, baik di Indonesia maupun di Eropa. Kata Mbak Windi, perjalanan merupakan melakukan perjalanan tentang proses menuju ke sana, ke tempat tujuan. Sastra perjalanan dan panduan perjalanan memang berbeda. Beberapa kali Mbak Windi mengutip beberapa kalimat dari … saya lupa, Nike paul, entah tulisannya kayak gimanalah, ya, yang berbunyi kurang lebih seperti ini: “Dalam sastra perjalanan yang dipunyai awalnya adalah imajinasi, kemudian menjadi interaksi … manusia merupakan destinasi perjalananan, jadi lebih memahami manusia manusia yang ditemui … karena selalu ada dunia di setiap diri manusia.”

Siang itu, Mbak Windi memaparkan banyak sekali cerita, sampai sampai  dua gadis di samping saya terus terusan berujar, “gila … menginspirasi banget, ya, dia.” Memang benar, setiap diri manusia terdapat dunia, maka memang mengherankan bahwa sebagai penulis ada yang mengatakan tidak ada ide. Kata Mbak Windi, “penulis bisa membentuk cerita dari dunia yang berserak dari diri manusia … lihat sekeliling dan berinteraksi, maka tidak akan terkungkung di dalam tempurung.” Kurang lebihnya seperti itulah yang dipaparkan Mbak Windi. Sebenarnya, sih, masih banyak ceritanya. Tapi saya hanya mencatat beberapa poinnya saja, karena hanyut dalam cerita Mbak Windi. #alah.

Jadi siang itu saya memperoleh banyak pembelajaran. Cukup puaslah seminar siang itu, hanya saja terlalu singkat waktunya. Dua setengah jam, Bro. But, panitianya keren. On time itu keren, karena beberapa kali saya ikut seminar, selalu molor. Dan satu hal lagi yang susah dihilangkan dari seminar atau pagelaran seni adalah, selalu ada saja penonton yang rela mengeluarkan biaya atau menghabiskan waktu hanya untuk ngobrol dalam jalannya acara. Kampret emang. Nggak ada tempat lain buat ngobrol apa. Ngoahahahha.

Over all, dewasa ini semua orang sudah bisa berjalan menemukan berbagai hal hal yang belum ditemuinya. Terlebih dalam berinteraksi dengan manusia yang pasti memiliki dunia yang lain dengan kita. Interaksi itu penting, pengalaman dari perjalanan itu asik. Yes, kata Mbah Jiwo, Gusti maha asik. Dolan, yo, Dap!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s