Penyakit Pak Ahmad

Pak Ahmad terkulai lemas di ranjang salah satu rumah sakit di kotanya. Kian tua tubuhnya kian sering menjadi tempat bersarangnya berbagai macam penyakit, entah itu asam urat, pegal linu, demam, sakit kepala, batuk, dan semacamnya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut sering berkunjung ke tubuhnya, namun tak lama pula penyakit-penyakit itu pergi. Namun untuk penyakit yang dideritanya kini, sepertinya bukanlah penyakit remeh. Sebelumnya ia telah divonis oleh dokter mengidap penyakit diabetes militus, tapi ia tak pernah lupa untuk minum obat dan melakukan kontrol.

              Tiga hari lalu, Zaki dan Nurmala, anak Pak Ahmad, beserta suami Nurmala, Taufik, membawa Pak Ahmad  ke rumah sakit. Tubuh tua Pak Ahmad kian melemah, penglihatannya mulai kabur, entah apa yang tengah menimpanya kini, ia tak begitu paham.

            “Zaki, bapakmu ini sebenarnya sakit apa, kok sampai nginep di rumah sakit segala?” tanya Pak Ahmad kepada anak sulungnya.

              “Bapak cuma kecapekan, sekarang istirahat saja, Pak,” jawab Zaki yang duduk di samping ranjang Pak Ahmad.

Mendengar jawaban anaknya, Pak Ahmad tertawa kecil. “Kecapekan, ya?” gumamnya menatap langit-langit kamarnya. Kemudian ia menatap kembali mata anak sulungnya itu. “Bapakmu ini sakit diabetes, makin parah, ya?” lanjutnya tertawa kecil, kemudian mulai memejamkan matanya.

            Pak Ahmad mulai paham apa yang telah menimpanya kini. Penyakit yang diidapnya sepertinya makin parah. Ia jadi teringat mendiang istrinya yang meninggalkan dirinya beserta Zaki dan Nurmala tanpa tanda-tanda yang kentara. Ia ingat perasaan itu, perasaan ketika ditinggal istrinya, belahan jiwanya, cinta sejatinya. Dadanya terasa sesak, pikirannya kalut, ia benar-benar merasa tak berarti lagi untuk menapaki kehidupan ketika menyaksikkan wanita yang mendampinginya selama bertahun-tahun telah damai di alam yang berbeda dengannya. Hampir setiap hari ia menangis setelah ditinggalkan oleh wanita yang begitu dipujanya. Ia begitu didera keputusasaan yang luar biasa. Pikirannya terus membuncah, meratapi keadaannya. Namun hidup tetap berjalan, ada dua anak yang harus ia nafkahi hingga dewasa.

            Hidup tanpa istrinya adalah sebuah perjalanan kehidupan yang cukup sulit untuk ditapaki. Bukan hanya secara batiniah ia merasa kesulitan, namun juga secara ekonomi yang mana semasa hidup sang istri cukup membantu menopang peerekonomian keluarga dengan berjualan sayur. Pak Ahmad tak bisa terus-terusan mengandalkan hasil dari bertaninya, ia juga harus mengambil pekerjaan sambilan untuk menghidupi kedua anaknya. Meskipun kesedihan belum bisa dihentikan dari matanya, namun semangat memang harus ia kobarkan untuk melihat kedua anaknya tumbuh hingga dewasa. Ia tak ingin mengecewakan mendiang istrinya dengan menelantarkan kebutuhan kedua anaknya.

            Menjadi pekerja buruh bangunan memang sebuah kesempatan yang cukup baik pada saat itu. Sambil tetap bertani, ia dengan gigih melakukan pekerjaan tersebut, namun hanya dua bulan ia bertahan. Bukan karena ia pilih-pilih pekerjaan atau tak kerasan dengan pekerjaan itu, melainkan ada tawaran yang dianggapnya lebih baik. Sebuah sekolah dasar dekat kampungnya sedang mencari tukang kebun baru untuk megurus sekolah. Tukang kebun yang lama telah memasuki usia senja dan sepantasnya pensiun. Tak pikir panjang ia pun mengambil pekerjaan yang dipikirnya memberikan kesempatan emas untuk anaknya kelak. Tukang kebun bisa diangkat menjadi PNS, dan ia berharap pengangkatan serta profesi tersebut bisa digantikan oleh Zaki, anak sulungnya.

            Tak terasa air mata Pak Ahmad menetes secara perlahan. Ia benar-benar merasa rindu kepada mendiang istrinya, ia juga rindu dengan tawa bocah-bocah di sekolah, ia rindu bertani, dan ia rindu melantunkan azan di mushola Al Ikhlas di kampungnya. Ternyata banyak sekali hal yang ia rindukan.

            Sebentar lagi bulan puasa, namun kondisinya malah seperti ini. Kesedihan mulai menghampirinya. Ia selalu bahagia dalam menyambut bulan puasa. Karena di bulan puasa, mushola Al Ikhlas selalu ramai oleh jamaah. Tidak seperti biasanya, hanya satu shaf saja yang mengisi mushola tersebut. Ia rindu melengkingkan suaranya di depan mikrofon mushola, mengumandangkan azan yang begitu keras nan khas. Ia juga teramat rindu memimpin sholat tarawih di mushola yang mana ia ikut menjadi bagian dalam pembangunannya. Apalagi ketika anak-anak kecil berebutan meminta tanda tangannya untuk mengisi buku kegiatan bulan ramadhan mereka. Anak-anak kecil itu memang kesulitan untuk memalasukan tanda tangannya lantaran ia bekerja di sekolah mereka, guru agama mereka pasti mafhum benar perihal tanda tangannya yang asli. Ah, banyak sekali kerinduan yang ia rasakan ketika terbaring di ranjang rumah sakit tersebut. Kapan ia akan sembuh? Apa ia akan sembuh? Atau mungkin memang sudah saatnya ia menyusul mendiang istrinya, wanita yang begitu amat dicintainya semasa hidup.

            “Bapak sudah tidur, Mas?” Suara Nurmala terdengar olehnya, matanya tetap terpejam.

                 “Sudah, Nur, baru saja setelah minum obat,” sahut Zaki.

            Derap kaki Nurmala yang kian kentara terdengar oleh telinga Pak Ahmad. Ia mencoba membuka sedikit matanya—mengintip. Terlihat olehnya Nurmala yang menarik lengan Zaki untuk menjauh dari tempatnya berbaring. Tepat di bibir pintu, Nurmala melontarkan pertanyaan kepada kakaknya dengan berbisik.

              “Apa hasilnya, Mas?” bisik Nurmala agar tak terdengar oleh ayahnya. Zaki tampak cemas, ia mengusap keningnya yang mulai meruap. “Apa hasil dari dokter, Mas?” desak Nurmala.

            “Bapak kena komplikasi, Nur,” tukas Zaki dengan wajah pucat.

Nurmala terkesiap, matanya mulai basah. Kedua telapak tangan Nurmala menutup rapat mulutnya yang menganga karena keterkejutannya. Kepalanya menggeleng tak percaya. Kemudian ia pun berlari menjauh dari kamar ayahnya, dan mulai terisak.

Taufik, suami Nurmala, yang melihat istrinya tersedu-sedu, langsung mendekapnya tanpa melontarkan banyak tanya. Ia sudah tahu perihal penyakit yang diderita ayah mertuanya dari mulut Zaki tadi siang.

Isak Nurmala terdengar meski wajahnya terbenam di dada bidang suaminya. Cukup lama ia menangis di pelukan suaminya. Lamat-lamat ia mendengar gumaman lirih suaminya. Senandung lagu yang beberapa kali ia dengar di kantin rumah sakit. Ia pun teringat, suaminya sering berkata bahwa apabila sedang menghadapi kesedihan, mendengarkan lagu atau menyenandungkan suara hati bisa melegakan jiwa. Kontan ia pun ikut menyenandungkan lagu bersama suaminya. Tanpa disadarinya, perasaannya berangsur-angsur tenang.

              “Semua pasti baik-baik saja, Nur,” pungkas Taufik seraya mengusap sisa tangis di wajah istrinya.

Nurmala mengangguk, lantas membenamkan wajahnya kembali di dada suaminya. Lagu itu mengalun kembali dari bibir suami istri tersebut.

            Pak Ahmad yang secara tak sengaja mendengar pembicaraan anak-anaknya terkait penyakitnya, turut menangis dalam hati. Ia benar-benar tak menyangka bahwa penyakit diabetes yang menimpanya berakhir pada komplikasi. Mungkin memang ini waktu yang tepat baginya untuk meninggalkan kedua anaknya yang memang sudah dewasa. Kerisauaan tak terperam dalam batinnya ketika melihat anak-anaknya telah mendewasa secara baik.

            Tiga bulan lalu, Taufik dan kedua orangtua beserta kerabatnya datang ke rumah dengan tujuan untuk meminang anak perempuannya, Nurmala. Pada saat itulah ia merasa tersentak. Ia baru menyadari bahwa anak-anaknya sudah mulai dewasa dan siap untuk menikah. Rasanya baru kemarin ia menemani istrinya melahirkan. Rasanya baru kemarin ia mendidik kedua anaknya sendirian. Tapi waktu memang berjalan tanpa manusia sadari. Ia pun menerima pinangan keluarga Taufik dengan tangan terbuka. Taufik adalah seorang pemuda baik yang dicintai anaknya. Sudah berkali-kali Taufik datang ke rumah, namun ia tak menyangka bahwa pria itu akan menikahi anak bungsunya secepat itu.

            “Apakah kamu sudah minta izin sama kangmasmu, Nduk?” tanyanya kepada Nurmala meminta persetujuan melangkahi Zaki mengingat kakaknya tersebut memang belum berencana untuk menikah.

               “Mas Zaki sudah bilang ke Nur, Pak, katanya kalau Nur mau menikah, ya, menikah saja, ndak usah nunggu Mas Zaki nikah duluan. Katanya kalau nunggu dia nikah dulu, aku malah ndak nikah-nikah, Pak, gitu,” tutur Nurmala.

Pak Ahmad tergelak mendengar jawaban putri kesayangannya itu. Memang benar apa yang dikatakan Zaki, kalau menunggunya mendapatkan jodoh, bisa-bisa Nurmala malah bakal menjadi perawan tua mengingat tak sekali pun Zaki memperkenalkan wanita kepada ayahnya untuk dipersunting.

            “Zaki, kamu ada rencana nikah, ndak?” tanya Pak Ahmad di suatu sore.

            “Belum, Pak, masih mau main-main dulu, menikmati masa muda,” jawab Zaki.

            “Kamu ini cuma banyak alasan saja, Zaki, Zaki … Bilang saja kalau sebenernya kamu ini ndak ada calon ‘kan?” Pak Ahmad tergelak menggoda anaknya.

            “Bapak itu ngenyek, ya, biar gini-gini Zaki ini banyak yang naksir, Pak,” gerutu Zaki.

            “Siapa?”

Zaki kesulitan menjawabnya. “Ya pokoknya ada, masih rahasia,” jawab Zaki sekenanya.

Pak Ahmad tergelak keras sampai terbatuk-batuk. “Ya, kalau belum mau menikah, ya, terserah kamu, yang penting kamu harus giat bekerja, lalu tetap berusaha cari istri,” papar Pak Ahmad, “apa sama Bu Wanda saja, guru yang mengajar di SD itu?” tanya Pak Ahmad dengan menjulurkan kepalanya mendekat ke wajah Zaki, alisnya naik turun menggoda anaknya.

            “Pak, Pak … Aku ya mau mau saja sama Bu Guru cantik itu, tapi, ya, apa dianya mau sama aku? Lha, wong dia guru, aku cuma lulusan SMK e, calon tukang kebun malah,” tukas Zaki pesimis.

Pak Ahmad kembali tergelak. “Lha, ya, harus usaha, dipepet teruslah. Kalau Bu Guru ndak mau, ya, itu nasibmu,” pungkas Pak Ahmad sekenanya sambil tergelak lebih keras.

                Membicarakan perihal jodoh untuk Zaki memang tak akan ada habisnya. Antara tak pernah ada yang cocok dan tak ada yang mau bisa dibilang beda tipis. Mengingat semua itu membuat hati Pak Ahmad terenyuh. Ia benar-benar merindukan momen-momen kebahagiaan bersama anaknya tersebut. Kini ia lemah terbaring sakit di ranjang rumah sakit. Mengidap penyakit komplikasi yang membuatnya sedih.

            Sebulan lalu ia telah menikahkan Nurmala dengan Taufik. Penikahan anak bungsunya tersebut merupakan hari yang paling bersejarah dalam hidupnya. Hari yang begitu membuatnya merasa menjadi seorang ayah yang berhasil. Berhasil mengantarkan anaknya ke depan kehidupan yang baru. Sedangkan untuk Zaki? Yah, sulit mengutarakan apa yang akan ia berikan kepada anak sulungnya itu ketika ia telah pergi nanti. Sebuah rumah sederhana serta pekerjaan sebagai tukang kebun yang berpeluang menjadi PNS mungkin tepat untuk Zaki. Nurmala sudah diboyong oleh suaminya ke rumah baru mereka. Maka sepeninggal dirinya nanti, Zaki tak perlu risau terkait pekerjaan dan rumah berteduh. Bekerja sebagai tukang kebun lebih baik daripada kerja serabutan, dan memiliki rumah yang kokoh sembari menanti sang calon istri dikirim Tuhan, bisa jadi menjadi hadiah terakhir yang bisa ia berikan.

            “Zaki!” sebut Pak Ahmad.

            “Ya, Pak,” sahut Zaki mendekat.

            “Mana Nurmala?”

Zaki pun memanggil Nurmala yang duduk di depan kamar pasien, kini bersama Taufik suaminya. Nurmala dan Taufik pun menghambur mendekat ke tubuh renta Pak Ahmad.

            “Dengarkan ini,” kata Pak Ahmad, kemudian terbatuk-batuk kecil, “Nur, kamu sudah dewasa, Bapak senang dan bangga bisa mengantarmu ke dalam kehidupan yang baru, keluarga baru, keluarga kecilmu bersama Taufik. Rasanya baru kemarin Bapak menggendongmu, mengajarimu mengerjakan PR, sekarang sudah jadi istri orang,” Pak Ahmad tersenyum, sedangkan Nurmala mulai menangis, “Taufik, Bapak minta sekali lagi sama kamu, jaga baik-baik Nurmala, ya, bimbinglah dia menjadi istri yang baik, ibu yang baik, untuk keluarga kalian.”

                 “Baik, Pak,” sahut Taufik lugas.

Mata Pak Ahmad kemudian mengarah ke anak laki-lakinya, Zaki. Tawanya pecah ketika melihat rupa anak sulungnya tersebut. “Zaki, Zaki … Rumah kita akan sepi kalau kamu ndak cepat-cepat cari istri.” Zaki menggaruk kepalnya yang tak gatal. “Zaki, sepertinya bapakmu ini sudah saatnya untuk pensiun, lanjutkan perjuangan Bapak menjaga sekolah itu, Bapak minta tolong. Semoga kamu juga diangkat jadi PNS kelak. Maafkan Bapak ndak bisa carikan kamu calon istri … Jadi tugas Bapak sudah selesai, ya?” tutur Pak Ahmad tersenyum damai. Pak Ahmad menghela napas panjang, kemudian memejamkan matanya. Keadaan berubah menjadi hening.

            “Pak … Bapak … Pak … Bapak?” panggil Zaki cemas, ia menatap adiknya yang wajahnya telah basah oleh air mata.

            “Pak … Bapak … Bangun, Pak … Bapak,” Kini Nurmala yang berusaha memanggil bapaknya sambil terus menangis.

Zaki mulai tersedu-sedu, ia pun memeluk tubuh bapaknya yang terbujur kaku di ranjang rumah sakit tersebut. Pun Nurmala yang menghambur memeluk tubuh bapaknya, memanggil-manggil bapaknya berulang kali.

            “Pak … Bapak … Bangun, Pak,” ratap Nurmala.

            “Uhuk … uhuk, uhuk … Kalian ini kenapa, Bapak mau tidur, jangan menangis keras-keras,” sahut Pak Ahmad tersenyum setelah terbatuk-batuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s