Bom Waktu

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, Dapet motret pas di pom bensin

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, Dapet motret pas di pom bensin

Hai, Gaes, gimana kabar pilkada serentak di kotamu? Keren? Ah, atau kampretkah? Yah, ya … kemarin memang hari anti korupsi, tapi malah saya lihatnya tonggak awal munculnya korupsi. Money politic, Bro. Kampret! Uang dua puluh ribu saja sampai mana, sih, dibandingkan dengan janji-janji perbaikan dari calon yang tidak mengambil ranah money politic. Ya, namanya pemilu, kita cuma bisa mengandalkan rekam jejak, ya, kan? Soal janji semua sama saja. Visi misi mungkin beda, tapi intinya gembar gembor akan melakukan perubahan. Tapi, yah, yah … masyarakat yang menjadi korban nantinya yang mana bisa jadi pada masa pemilu ini ikut andil dalam memuluskan jalannya. Ya, kalian yang menyemai, kalian yang memanen. Pendidikan politik itu penting, tapi kalau tak acuh, ya sudahlah, telan sendiri keluhan. Dari pada baper, mending sudahlah, ya. Toh, sudah berlalu jua. Yang kuat memang yang menang, tapi pasti ada pertanggung jawaban kalau-kalau main kotor, kalau tidak di dunia, ya, di neraka. As simple as that. Sudah lihat hasil pilkada? Ya, semoga Tuhan selalu memberikan twist-twist yang keren nantinya, ya. We’ll see.

Desember. Hmm … sudah akhir tahun saja, ya. Bulan ini tepat saya lulus kuliah tahun lalu. Well, saya sudah mencoba melakukan sesuatu yang dulunya sering saya kalau ingin melakukannya selalu beralasan kepentok kuliah, padahal cuma alasan semata. Ya, sudahlah. Dan rasanya kini saya merasa juga belum maksimal-maksimal amat melakukan semua itu. Tapi yang penting sudah mencoba dan berlanjutlah, ya.

Bulan terakhir di tahun ini, nih. Hmm …  Saya lagi pengen nulis, nih. Lama tak menulis-nulis ria di blog ini. Terakhir posting kisah hidup Pak Ahmad, dan bulan bahasa itu. Yah, saat ini ….  suasana hati sedang kalut, jadi saya ingin nulis saja, Dap. Betewe saya sudah menumpahkan semua kemuakan di kertas lain, dan siap untuk dienyahkan itu kertas, jadi tak perlu risau menjadi tempat sampah atau sumpah serapah dari apa yang tengah saya rasakan. Energi negatifnya sudah berpindah. Jadi, kini tinggal sharingnya saja, Blog. Hmm … Jadi gini. Akhir bulan kemarin dan berlanjut awal bulan ini saya seperti menerima bom waktu. Bom yang tak pernah saya sangka-sangka sebelumnya. (Bom serupa pernah meledak dulu, dan kadarnya kayaknya lebih besar dulu, deh. Perumpamaannya kampret banget, ye. But, whatever-lah.) Karena bom itu, mood saya jadi berantakan, saya kesulitan memadamkannya, dan saya benar-benar kesulitan untuk bersabar.  Mungkin sampai tahun baru.

Yes, semacam itulah masalah saya saat ini. Rumit, ya, perumpamaan-perumpamaannya. Antara rumit dan lebaylah. Yah, kalau tidak paham dengarkan sajalah, ya. Bentar-bentar. Hmm … Perlahan-lahan saya runut dulu apa yang sedang saya rasakan. Dan saya sebenarnya tak perlu susah-susah merunutnya, karena saya dengan mudah menemukannya. Yaitu: saya susah berdamai dengan keadaan; saya tidak bisa bersabar; dan saya harus mencari jalan keluar sebanyak-banyaknya. Saya harus keluar dari keadaan ini apabila ingin segera menemukan ketentraman yang hakiki. #Alah. Betewe, kemarin, sih, saya sudah mendapat panggilan kerja (lagi), dan salah satu syaratnya adalah tes membaca Al-qur’an. Kayaknya sudah lama sekali saya tidak membaca kitab suci saya. Maka dari itu, saya meminta kawan saya untuk membimbing saya membaca kitab suci kembali. Alkhamdulillah, saya cukup tenang setelah saya mulai membacanya kembali, tapi belum jadi jaminan saya bisa rutin membacanya. Usahalah, ya, toh menenangkan ini.

Kembali ke topic. Saya sebenarnya tidak pernah memprediksi sebelumnya bahwa ini adalah sebuah bom. Dan ternyata sebuah ledakan mendarat di hidup saya. Duar! Rasanya sakit yang menggurita. Yah, kayaknya, gitu. Saya sadari benar bahwa sebelumnya hidup saya seperti seorang lelaki abege yang kerjaannya hanya main-main saja; menjalani kehidupan dengan tawa; tanpa adanya rasa pusing memikirkan banyakl hal. Yah, seperti tetap di jalur mimpi-mimpi semu anak mudalah. Damn it! That’s made me so happy. Siapa yang tidak senang kalau hidup selalu dipenuhi tawa ala anak muda? Ketemu teman-teman baik, cerita-cerita seru; ketemu bocah-bocah ingusan, bercanda-bercanda ria; serta berjumpa dengan klebahagiaan yang saya bangun sendiri. Hingga suatu ketika semuanya seperti terguling dengan begitu cepatnya. Semua kebahagiaan itu harus saya akhiri, bukan karena kesedihan, tapi karena sebuah realita yang membelalakkan mata saya.

Kau masih tak paham, Kawan? Tak perlu kaupahami, hanya perlu kaudengar, itu pun kalau kaumau! Hahaha. Kalau dipiikir-pikir, ledakan ini cukup keras dan keren. Hal ini membuat saya sadar bahwa saya tak lagi anak berusia belasan tahun. Saya ingat saat saya duduk di bangku SMA, hidup saya dipenuhi tawa; setiap hari hanya tertawa dan tertawa. (Kita tidak sedang membicarakan percintaan yang menye-menye, ya, bagian itu ada di dimensi tersendiri.) Pun ke masa selanjutnya yang juga dipenuhi dengan hal yang sepertinya sia-sia tapi juga penuh dengan tawa dan cerita. Berlanjut ke bagian saya mencoba total ngiidealis. Hmm … jika dipikir-pikir hidup saya ini terlalu menye-menye. Mungkin karena saya selalu dikelilingi kawan-kawan yang menggairahkan untuk terus menikmati kehidupan dengan berbagi. Kegalauan pasti pernah menghampiri, tapi kalau dipikir-pikir semua bermula dari pikiran.

Sekarang saya sadar bahwa saya tidak akan terus hidup di alam khayal dan tawa macam itu. Saya sudah cukup, yah, katakanlah tua atau dewasa untuk melalui kehidupan yang realistis. Untuk lelaki seusia saya, sepertinya hal-hal yang saya lakukan tak lagi relevan dalam kehidupan. Saya memang bisa hidup sederhana dengan semua kebahagiaan itu, tapI saya tidak seharusnya selamanya seperti itu, bukan? Saya harus melakukan hal hebat, keluar dari semua seloroh kehidupan yang mana sampai kapan pun akan seperti itu bila terus dipelihara. But, saya tidak mengatakan bahwa hidup dengan tawa dan hal menye-menye itu salah, tapi yang ingin saya tekankan, harus seimbang! Intinya, saya sudah harus bangun dari bualan belaka. Mata harus membelalak, menanap menatap kehidupan dengan penuh pemahaman. Buat semuanya seimbang.

Saya sering menyesali waktu yang sudah berlalu, yang sering saya gunakan untuk hal yang menye-menye. Sering saya bertanya dalam hati, kenapa dulu saya tidak melakukan hal-hal yang seharusnya saya lakukan, padahal saya punya banyak waktu? Yah, sebenarnya jawabannya simpel, yaitu saya selalu menemukan alasan untuk bermalas ria. As simple as that. Selalu ada pembenaran di balik kemalasan. Bisa jadi kalau saya kembali ke masa itu, saya akan melakukan hal yang sama saja menye-menye-nya. Pengandaian itu tidak nyata, jadi untuk apa diandaikan, bukan? Yang sudah berlalu biarlah berlalu, toh, dari masa lalu selain bisa belajar saya juga bisa menghimpun kenangan. Bisa jadi kenangan adalah harta yang paling indah yang pernah dimiliki.

Satu hal yang saya sesali dulu adalah, saya menjadi seorang yang idealis, tapi sungguh tidak total menjalankan keidealisan hidup ini. Jadi malah cenderung mencari pembenaran dari apa yang tidak diinginkan. Yah, begitulah.

Sekarang adalah sekarang. Saya yang mulanya menjalani hari dengan jiwa muda macam anak berusia 19 tahunan atau awal 20an, kini tak sepantasnya lagi melakukan hal itu. Mau tidak mau saya harus berkembang secara penghidupan. Satu hal yang harus saya lakukan adalah totalitas. Keluar. Dan mewujudkan semua yang saya khayalkan. Waktu akan habis begitu saja tanpa kita sadari. Mengerikan kalau kita menemukan diri kita dalam kehampaan saat kita menyadari bahwa usia kita mulai menapak senja. Janganlah. Pergunakan waktu sebaik-baiknya. Kita tidak akan pernah merasa terkejar oleh waktu apabila semua pembenaran selalu membela kita, dan kita baru merasakan ledakan apabila kita terus-terusan menggantungkan kenyamanan yang sejatinya fana. Sumpah, sok puitis banget gue!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s