Membuat SKCK

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke polres daerah saya. Terakhir ke sana saat perpanjang SIM, setahun yang lalu, kayaknya. Dan keperluan saya kemarin adalah memperoleh SKCK. Entah fungsinya untuk apa, karena kebanyakan perusahaan yang saya lamar tidak mencantumkan SKCK sebagai salah satu syaratnya, tapi tetap saja saya buat.

Pertama-tama saya parkir motor saya di luar gedung. Dan ternyata saya langsung disambut tawaran untuk menggunakan jasa calo. (Masih ada saja calo percaloan di polres, ya. Kirain sudah enyah. Tapi ya, sudahlah.) Saya pun kemudian masuk dan bertanya pada pak polisi dan Mbak resepsionis yang lumayan ramah. Mereka memberi unjuk jalan pada saya terkait tempat membuat SKCK. Dengan langkah pasti, saya pun berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Di sana saya berjumpa dengan beberapa orang yang sudah mengantri untuk membuat SKCK seperti saya. Duh, ngantri lumayan banyak ternyata. Saya pun mempersiapkan syarat-syarat untuk membuat SKCK saya. E lha ndilalah, saat saya serahkan kepada ibu polisi yang bertugas, saya diminta untuk mengurus surat sidik jari terlebih dahulu, yang berada di samping ruangan pembuatan SKCK tersebut.

Dengan rahang mengeras, saya langsung berjalan menuju ke ruangan pembuatan sidik jari. Di sana, saya langsung mempersiapkan syarat syarat untuk membuat surat sidik jari tersebut. Saya masukkan ke dalam keranjang berkas dan tak lama nama saya diserukan. Saya pun diberi pengarahan untuk mengisi biodata diri di lembaran kertas dan di sebuah kartu kuning. Kartu kuning itu katanya digunakan seumur hidup. Waow.

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Tak lama, Mbak Mbak memanggil saya untuk duduk di sebelahnya. Semua jari saya diraihnya dengan tegas, lalu ditempelkannya pada alat sidik jari. Kalau kau adalah tipikal orang ‘baperan’, kawan, kau pasti merasakan aliran listrik saat tanganmu diraih Mbak Mbak petugas. Serius. Bayangin aja, sepuluh jari tangan diraihnya lalu ditekankan pada alat cap sidik jari.

“Yang lemes, Mas,” ujar Mbaknya melemaskan jari jari tangan saya.

Untung saya bukan pribadi yang suka kebawa perasaan atau istilah kerennya baperan. Meski jari jari saya tidak lemes, tapi saya tetap menjalani tahap sidik jari ini dengan sewajarnya. Then, saya dan Mbak petugas pun ngobrol ngobrol ringan. Ya, beliau menanyakan keperluan SKCK saya buat daftar di mana. Saya menjelaskan salah satu lowongan yang sebenarnya ingin saya lamar yang satu syaratnya menggunakan SKCK, sayangnya itu lowongan sudah tutup. Beliau pun menyarankan lebih baik saya mengambil pekerjaan di bidang perkuliahan saya saja. Saya mengiyakan sajalah, daripada baper. #Alah.

Setelah sidik jari selesai, saya pun mendapatkan surat surat sebagai syarat melanjutkan perjalanan membuat SKCK ke tempat ibu polisi yang berada di sebelah ruangan sidik jari tersebut. Setelah saya serahkan berkas berkasnya, saya diberikan kertas berisi formulir. Saya pun segera mengisinya dengan begitu serius. Tak lama, ibu petugas menutup jendelanya. Waktu istirahat. Hmm…

            “Jajan, yok, jajan, dikira apa kalau nggak jajan,” cetus salah satu gadis pada segerombolan gadis gadis alay lainnya.

            “Yuk, yuk, yuk … jajan di luar ajalah,” sahut perempuan lainnya.

Dan mereka pun enyah entah ke mana. Sedang saya masih mengisi formulir yang rasa rasanya kok banyak bener. Cukup beberapa menit saya mengisi formulir pembuatan SKCK tersebut. Setelah terisi semua, saya pergi ke masjid di polres tersebut. Sholat dzuhur, Boy, biar berkah.

Setelah sholat Dzuhur, saya kembali ke ruangan pembuatan SKCK yang masih tertutup rapat. Sembari menunggu, saya iseng melamun. #Alah. E kok malah tetep tidak dibuka buka jendela dan pintunya. Istirahat kok lama, ya. Saat injury time, saya putuskan jajan angkringan di depan polres. Sembari makan, ibu penjual nasi kucing menceritakan kisah kerjanya selama di Jakarta yang cukup menyenangkan. Katanya, beliau cukup menyesal karena keluar dari pabrik tersebut. Itu dulu, kerja di sana katanya enak. Tapi sekarang dengan kondisi perekonomian yang tengah carut marut apakah masih enak? PHK di mana mana, perusahaan pada gulung tikar. Ah, pusing juga saya mikirin itu semua. Tapi ya, sudahlah.

Setelah saya rasa cukup jajan angkringan, saya pun kembali ke kantor. Saat memasuki koridor tempat pembuatan SKCK, saya melihat sekawanan gadis gadis alay yang gemar jajan yang saya lihat sebelumnya tadi. Woh, sudah buka rupanya kantornya. Saat saya tiba di sana, saya langsung menyerahkan formulir yang sudah saya isi tadi. Tak lama, saya diberikan SKCK saya, dan langsung saya fotokopi sepuluh lembar untuk dilegalisir. Menunggu sejenak dan akhirnya semuanya usai. Tuhan memberkati saya hari itu. Ternyata tidak serumit yang saya duga. Sebelumnya saya menduga apabila saya berangkat siang hari, saya akan dipermainkan oleh para penegak hukum di sana. Ternyata di sana para polisi berlaku ramah. Kadang under estimate akan selalu menjadi under estimate kalau kita tidak membuktikannya sendiri. #Alah. Akhir kata, maju terus penegakan hukum di negeri ini. Semoga korupsi, kolusi, dan nepotisme bisa diberantas habis sampai ke akar akarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s