Stand Up Comedy Academy Indosiar, Bukan Sekadar Hiburan

Sumber Foto: twitter.com/IndosiarID

Sumber Foto: twitter.com/IndosiarID

Stand up comedy academy Indosiar. Lucunya tuh di sini … Grrrrrrr! Awalnya saya tahu acara ini dari iklan yang tak sengaja saya lihat di Indosiar. Pertama kali yang muncul di benak saya adalah sikap skeptic mengingat Indosiar sering menyuguhkan acara dangdut dengan pengisi acara itu-itu saja. (Sebenarnya sah-sah saja, karena di stasiun televisi lain pun juga menampilkan artis yang itu-itu saja, meski dengan format acaranya berbeda-beda.) Hingga muncullah line up pengisi acara di SUCA 2015 yang membuat saya sedikit penasaran seperti apa acara stand up comedy yang disuguhkan Indosiar. Berikut line up pengisi acara SUCA 2015:

Juri         : Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Eko Patrio, Abdel, dan So Imah.

Mentor    : Arief Didu, Mo Sidik, Isman, Daned Gustama dan Gilang Bhaskara.

Host         : Andhika Pratama, Gilang Dirga, dan Gading Martin.

Dilihat dari juri dan mentor memang cukup membuat penasaran. Tapi rasa skeptic masih ada saat melihat host acara tersebut, yaitu Gading Martin, Andhika Pratama, dan Gilang Dirga. Kita tahu, ketiga host tersebut (ditambah So Imah) rajin wara-wiri di beberapa stasiun televisi di negeri ini dengan menyuguhkan format acara yang bisa dibilang monoton dan terkesan itu-itu saja. Namun karena para pelaku stand up comedy, yang mana terkait dengan acara ini, macam: Ernest Prakasa, Arie Kriting, Raditya Dika, dan Pandji, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkesan skeptic dari para follower-nya dengan santai dan positif, maka tidak ada salahnya untuk membuktikannya.

Akhirnya saya sendiri pun membuktikan untuk menyaksikkan acara SUCA ini. SUCA memiliki format kompetisi yang tayang regular (empat kali dalam seminggu), berisi 24 peserta yang dibagi menjadi 4 grup, yang mana masing-masing grup berisi 6 peserta. Yang membuat berbeda kompetisi stand up comedy ini dengan kompetisi stand up comedy lain adalah terdapatnya mentor yang memberikan arahan para peserta. Para mentornya pun adalah para pelaku stand up comedy yang sudah professional, yaitu Arief Didu, Mo Sidik, Isman, Daned Gustama, dan Gilang Bhaskara. Juga ada Raditya Dika dan Pandji yang menjadi mentor special, datang pada waktu-waktu tertentu.

Sumber Foto: Liputan6.com

Sumber Foto: Liputan6.com

Rasa skeptic yang mulanya mendera di dada enyah seketika saat pertama kali menyaksikkan episode pertama SUCA. Di luar dugaan saya, acara ini sukses sebagai sebuah tontonan yang segar. Para peserta tampil dengan ciri khasnya masing-masing. Dan ketika mereka nge-boomb, tak ada tawa manipulasi yang dibuat-buat. Semuanya tampak alami dan terdengar alami dari layar televisi. Semua komentar yang dilontarkan para juri pun terdengar obyektif dan membangun. Para mentor pun juga turut menjelaskan karakteristik dan permasalahan apa yang telah dialami oleh para peserta kepada juri. Selain itu, interaksi antara juri, peserta, dan mentor terjalin begitu apik dan jenaka.

Dalam sesi mengomentari, suasana tampak amat hidup dan menghibur. Kelucuan-kelucuan yang dibangun oleh para juri saat mengomentari peserta patut diacungi jempol. Ini pula yang membedakan kompetisi stand up comedy ini dengan kompetisi atau acara stand up comedy lainnya, yaitu durasi waktu yang panjang, yang dibangun untuk menghidupkan acara. Bagian ini benar-benar menjadi salah satu nyawa dari acara ini.

Selain itu, rasa skeptic terhadap para host pun juga terbantahkan oleh suasana yang mereka bangun. Andika Pratama yang awalnya dikira akan menghasilkan kegaringan, ternyata menunjukkan kecerdasannya dengan joke-joke yang pecah. Pun dengan Gading Martin yang fleksibel dan begitu liar membuat joke-joke dengan act out. Sedang Gilang Dirga, masih butuh sedikit waktu untuk menyatu dengan dua host yang sudah sering membawakan acara bersama tersebut. Saya rasa ketiga host SUCA ini lumayan cepat beradaptasi dengan format acara seperti ini.

Bagaimana rasa skeptis dari juri So Imah? So Imah adalah comedian dengan persona kaya raya. Saya rasa ia sebagai juri dari kaca mata penonton awam bisa dibilang sangat baik. Semua yang diutarakannya jujur dan tidak dibuat-buat. Soal bagi-bagi duit atau nyawer, bagi saya sah-sah saja, malah menambah kelucuan. Salah satunya saat Pandu diminta menyanyikan lagu Woyo-woyo milik So Imah dan ternyata fals luar biasa, dan pada pertunjukan berikutnya apabila Pandu bisa menyanyikan lagu Woyo-woyo dengan amat baik, maka So Imah akan memberikan uang padanya. Pada pertunjukan berikutnya Pandu menyanyikan Woyo-woyo dengan amat baik, ditambah cengkok-cengkok yang diminta oleh So Imah. Bahkan Pandu memberikan penampilan menyanyikan lagu itu dengan versi rock. Sumpah saya tercengang. Seorang yang mulanya nyanyi saja fals minta ampun, baru seminggu langsung luar biasa nyanyinya. Tapi yang namanya sebuah komedi, ternyata Pandu hanya bergaya menyanyi, sedang Gilang Dirga yang sebenarnya menyanyi. Dengan kata lain, Pandu bernyanyi secara lipsinch, dan itu membuat saya tertipu. Bagi saya itu luar biasa keren.

Selain itu, tentang nyawer, Pandu juga mendapatkan saweran atas potong kumis dan botakin kepala. Hal ini menjadi tolok okur para komika lain untuk mendulang puindi-pundi rupiah dari So Imah. Saya pikir hal-hal seperti ini menjadi bumbu-bumbu yang bagus dalam acara ini, karena membuat acara lebih hidup.

Semakin minggu semakin berkurang saja peserta. Tapi kelucuan malah semakin bertambah. Banyak sekali kejadian-kejadian unik yang terjadi sekaligus sangat menghibur. Seperti kisah cinta Ipul dengan Musdalifah dan Yudha; atau kisah cinta Ipul dan Kelly—penonton yang diikutsertakan dalam menghidupkan suasana; Yudha Keling yang ternyata mempunyai pacar yang cantik; kisah Cemen, pacarnya, dan Zaskia Gotik; kisah nikah muda cabe-cabean ala Musdalifah; dan masih banyak lagi. Semuanya seperti dibangun secara alami tanpa dipaksa terjadi, pun materi-materi yang disuguhkan para peserta yang kian apik.

Sumber Foto: Bintang.com

Sumber Foto: Bintang.com

Hingga pada akhirnya tersisa tiga komika yang melaju di babak final, yaitu Musdalifah, Cemen, dan Ephy. Dan pada akhirnya Cemen lah yang berhasil mengukuhkan diri sebagai juara pertama; sedang Ephy juara kedua; dan Musdalifah juara ketiga. Dilihat dari kematangan berkomedi, Cemen memang lebih baik dari dua kompetitornya. Terbukti dari komedi dadakan yang dibuat oleh para mentor dan juri di partai final yang dengan pecahnya dilakukan oleh Cemen. Sedang dua kompetitornya masih terlihat gelagapan. Meski demikian, ketiga komika ini memiliki persona masing-masing. Cemen dengan komedi yang sering mengangkat tentang dangdut di Cengkareng, pacarnya, dan Zaskia gotik yang mana selalu membuat penonton tergelak. Selain itu, rentetan punchline yang Cemen bangun begitu khas dan membekas di benak penonton. Sedang Ephy, security ini memiliki persona yang selalu menceritakan budaya ketimurannya secara jenaka. Entah mengapa ia tampak jujur dan menarik, baik dari materinya, maupun logatnya. Dan satu hal yang perlu diacungi jempol adalah Ephy mengikuti kompetisi ini dengan masih aktif bekerja sebagi security, tidak cuti, atau libur. Menurut saya itu keren! Untuk Musdalifah, gadis Pinrang ini begitu polos dan lugu. Bahkan saking polosnya, sering ia membuat materi tentang cabe-cabean, yang mana ia sendiri salah mengartikan makna cabe-cabean. Dengan kepolosannya, Musdalifah menumpahkan semua keresahan yang mengendap di benaknya dalam bentuk materi komedi yang tampak alamiah.

CTtRo6KWoAAgjJT

Sumber Foto: Twitter @ismanhs

Saya rasa acara Stand Up Comedy Academy indosiar ini berhasil menyedot penonton tanah air hanya dalam waktu tak sampai dua bulan. Terbukti dari perolehan rating yang tinggi, bahkan ketika acara itu diulang kembali. Menurut saya ada beberapa faktor yang memengaruhi acara ini bisa meledak.

Pertama, SUCA menampilkan komika-komika professional yang mana sangat memberikan pengaruh besar pada seni stand up comedy di negeri ini. Katakanlah yang paling menonjol adalah Raditya Dika yang begitu dielu-elukan para fansnya. Bahkan Radit, sapaan Raditya Dika, menjadi tonggak majunya seni stand up comedy di Indonesia. Selain Radit, Pandji Pragiwaksono juga mempunyai andil besar di dalam dunia stand up comedy di Indonesia. Bahkan, Pandji beberapa waktu lalu melakukan world tour stand up comedy-nya bersama dengan beberapa komika lain. Selain itu, Pandji yang begitu kritis dengan apa yang sering terjadi di negeri ini bisa menjadi poros dalam membentuk pemikiran follower-nya untuk membuktikan bahwa acara ini tidak seburuk yang dibayangkan. Tidak ketinggalan Ernest Prakasa yang sering membawakan materi yang cenderung nyata terjadi, menjadi pelengkap juri di acara tersebut. Pengalamannya ditempa kehidupan sebagai kaum minoritas dan menertawakannya sebagai bahan komedi, memberikannya ruang untuk berbagi pengalaman kepada para peserta untuk menertawakan apa yang sudah berlalu—dengan kata lain berdamai dengan masa lalu. Para komika professional yang menjadi juri di SUCA 2015 ini memiliki fan base yang besar, yang mana juga berperan besar dalam meyakinkan penonton untuk menonton acara ini.

Kedua, SUCA tayang di waktu prime time. Acara ini sungguh memikikat karena ditayangkan pada jam-jam orang pulang kantor dan sedang membutuhkan hiburan. Tak heran, jika banyak yang mengganderungi dan mengatakan acara ini bisa jadi obat penghilang stress. Berbeda dengan acara komedi lain yang tayang pada waktu prime time yang mana ide kreatif berasal dari tim kreatif, yang mana pula tim kreatifnya kadang mencari jalan pintas untuk proses kreatifnya, (seperti membuat kelucuan dari phobia), SUCA menyuguhkan lawakan-lawakan yang mana tim kreatifnya adalah pelaku komedi itu sendiri. Mereka sudah ditempa untuk kreatif dan tidak mengorbankan nama tenarnya untuk ide-ide pintas, atau komedi situasi yang gaya lawakannya itu-itu saja. Mereka adalah orang-orang kreatif yang melakukan seni secara kreatif dan kolekjtif.

Ketiga, kompetisi ini mempunyai banyak durasi waktu untuk menyuguhkan komedi. SUCA bukan hanya kompetisi, tapi juga interaksi, pula pendidikan tentang teknik-teknik stand up comedy, seperti: premis, set up, punchline, setlist, roasting, act out, dan sebagainya. Penonton bukan hanya mendapat hiburan, tapi juga mendapatkan pembelajaran tentang teknik-teknik stand up comedy secara nyata. Karena acara ini seperti tak terbatas waktu, mengalir tanpa henti, tapi memiliki komposisi waktu yang pas.

Keempat, acara ini tayang di televisi yang terjangkau di pelosok negeri. Selain tayang regular di waktu prime time, SUCA juga tayang di televisi yang tersiar hingga ke pelosok negeri, sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang dari berbagai kalangan.

Dengan adanya SUCA ini, seni stand up comedy menjadi lebih relevan di hadapan masyarakat kita. Semua lawakan bisa pecah dengan mujdahnya karena selain disuguhkan secara jujur, juga dibantu dengan pendidikan teknik dari para peserta, juri, dan mentor secara tidak langsung. SUCA terbukti sukses secara rating dan secara prestis. Alhasil, televisi lain pun mulai ikut bagian menayangkan acara stand up comedy secara regular dan pada waktu prime time demi mengejar rating. Dodit Mulyanto yang pernah menjadi bintang tamu di acara ini berkata bahwa stand up comedy akan menjadi murahan apabila ditayangkan tiada henti, tanpa jeda. Saya harap Indosiar mempunyai kiat khusus untuk menanggulangi hal ini, agar tidak habis dalam masa yang singkat. Pintar-pintar mengatur timing, mungkin salah satu caranya.

Menyaksikkan Stand Up Comedy Academy Indosiar, selesai acara membawa sesuatu yang berharga, bukan hanya sekadar menghibur dan kemudian terlupa. Grrrr berantakan nan kleweran!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s