Kawan Sehari Serasa Kawan Lama

Foto: Istimewa, diambil dari laman health.liputan6.com

Foto: Istimewa, diambil dari laman health.liputan6.com

Hai, Gaes, selamat jumpa kembali dengan saya di blog. Hmm … Alkhamdulillah si Paul─motor saya─sudah terpenuhi masalahnya dengan oli, pun rantai dan knalpotnya yang juga sedang eror. Sudah hampir dua bulan si Paul tak terpenuhi asupan olinya. Maklum, keadaan memang lagi sulit. Syukurnya si Paul tidak ngambek, meski saya tahu ia menahan diri untuk tidak ngambek. Ia masih baik meski rantainya ternyata juga kendor, baut di bagian knalpotnya juga hilang sehingga raungannya mengerikan. Dan kemarin saat dapat rezeki, saya ganti olinya, sekalian benerin rantai dan knalpotnya. Sekarang ia lumayan sehat bugar. Sebenarnya si Paul ini bukanlah tipikal motor yang sering merajuk, meski, ya, dulu sering banget bannya mendadak bocor. Tapi setelah semua ban diperbarui, si Paul tidak lagi merajuk macam itu. Sebenarnya saya juga paham itu bukanlah kemauannya, memang sudah sepantasnya bannya diganti, sih. Dan … pernah, sih, sekali ia susah banget dihidupkan akibat kena air hujan. Itu juga bukan kemauannya, dan saya harus akui itu salah saya. Si Paul saya biarkan kuyup sehingga mesinnya tak mau dihidupkan. Dan sekarang sudah lumayan enak kembali si Paul ini, skoknya juga empuk. Sudah hampir tujuh tahunanlah ia menemani saya. Thanks, Paul, tetaplah prihatin.

Beda lagi dengan Si Mustafa. Ia adalah komputer saya. Si Mustafa ini adalah kawan yang sering kali merajuk. Mungkin bisa dimaklumi, ia adalah barang elektronik. Sudah beberapa kali sejak bertahun-tahun lalu ia membuat saya pusing kepala. Masalah terbarunya kini adalah, layar LCD nya ada lubang hitamnya, yang kian hari kian besar saja, pun juga garis di bagian samping yang kian hari kian tebal juga. Belum lagi urusan keyboard. Beberapa tombol mati, meski kadang hidup, sih, tapi jarang-jarang. Itu harus ditiup dulu baru bisa berfungsi. Huruf dan tanda baca sialan itu meliputi: p;/’[- titik Jadi kalau di postingan sebelum-sebelumnya ada tanda baca atau huruf p yang seharusnya ada tapi tidak ada, maka itu tandanya si Mustafa sedang manja.

Masalah yang harus diselesaikan untuk Mustafa, sih, memang membeli keyboard baru, tapi belum punya doku, Cing. Alamak jan! Mungkin kau berpikir itu adalah masalah sepele, Kawan. Ya, memang sepele, setidaknya cukup itu dulu, deh, itu, jangan tambah merembet merajuknya ke bagian lain. Meski, Si Mustafa ini memang banyak membantu, tapi juga tak jarang membuat kepala pusing. Dulu sering banget ia merajuk, tiba tiba mati, gitu, butuh install ulanglah, susah booting-lah, banyak macamnya, deh. Harddisknya aja rusak sebenarnya, makanya cuma bisa instal windows XP. Itu saja saya sudah beryukur.

Hal yang paling fatal yang pernah diakibatkan oleh rajukan Mustafa adalah menghilangkan isi hard disk yang selama ini saya kumpulkan dengan susah payah. Sebut saja foto-foto bersama kawan-kawan saya. Sudah lima tahunan saya kumpulkan foto-foto itu, tapi lenyap dengan sekejap saja. Sedih sekali rasanya, karena foto-foto itu adalah bagian dari suatu perjalanan dan kenangan. Well, tapi hidup harus move up. Kalau ada rezeki besok saya mau mengganti Mustafa dengan komputer jinjinglah. Ya, bisa jadi pula malah saya upgrade saja si Mustafa ini. Setidaknya tentang keyboard-nya dulu digantilah, ya. Daripada membuat perasaan kesal terus. Yah, meski demikian saya mengucapkan terima kasih pada Mustafa ini karena juga telah menemani saya sekitar enam tahunanlah. Meski sering membuat saya muak, saya tetap berterima kasih. Saya belajar prihatin olehmu, Mus. Prek!

Beberapa hari lalu, saya menghadiri tes calon pekerja, dan tesnya adalah membaca Al—Qur’an. Sebelumnya, sih, saya kurang begitu antusias untuk datang, karena saya akan dimasukkan sebagai pekerja freelance. Bosan, Bos, freelance terus, pengennya yang kerja tetaplah, ya. Tapi tetap saja saya datang ke tes tersebut. Beberapa orang yang saya temui sebelumnya juga berada di sana. Akhirnya tes pun digelar, saya diminta membaca lima ayat surat ke-41. Dan di luar dugaan, ketika saya salah membaca, tidak dibetulkan oleh penguji, hingga pada akhirnya saya pahami hurufnya dan saya baca kelanjutannya. Setelah selesai membaca, sang penguji bertanya pada saya

            “Maaf. Sebelumnya Mas Gunawan sering membaca Al-Qur’an, tidak?”

            “Jarang, sih, Mas,”” jawab saya santai dan jujur, karena sejujurnya saya nothing to lose untuk pekerjaan ini.

            “O, jarang, ya,” gumamnya lantas mencatat sesuatu di bukunya.

Tes berakhir hari itu, katanya tanggal 20 nanti akan dihubungi kembali. Entahlah, saya akan berangkat atau tidak. Please, kalau freelance, saya kayaknya bimbang, deh. Sebelumnya saya ingat ketika saya ditanya motivasi saya untuk mendaftar lowongan di lembaga tersebut. Dan saya pun menjawabnya secara jujur. Saya ingin mengubah hidup saya menajadi lebih baik, maksudnya saya ingin mengentaskan hidup saya untuk mencapai kemandirian. Mungkin kalau saja saya adalah tipe penjilat lebai agar bisa diterima kerja di lembaga tersebut saya akan menjawab: motivasi saya mendaftar untuk lowongan yang ditawarkan di lembaga tersebut adalah saya ingin masuk surga. Beres! Tapi itu lebai parah, jack. Gila! Yah, untuk pekerjaan itu saya tak terlalu berharap banyak lagi lah.

Beberapa hari kemudian, panggilan wawancara kerja lain menghampiri saya. Yaitu dari salah satu pabrik atau perusahaan manufaktur di Sragen. Saya tercenung sejenak, saya mendaftar ada bagian apa, ya? Sumpah, Jack, saya lupa. Hahahaha. Akhirnya  saya searching kembali di internet terkait lowongan yang telah saya lamar, yaitu staf admin.

Senin pagi, saya pun berangkat ke pabrik yang telah memanggil saya untuk wawancara kerja tersebut. Yah, baju yang saya kenakan saat itu adalah baju batik. Biasanya tiap kali wawancara kerja yang saya datangi, orang-orang yang datang wawancara biasanya memakai baju kemeja yang tampak lebih kasual. Jadi saya memutuskan untuk memakai batik saja. Dan ternyata sesampainya di sana, hampir semua yang menghadiri wawaancara kerja memakai baju rapi. Baju putih polos, atau kemeja yang amat rapi. Damn, seketika saya langsung berkurang kepercayaan diri saya. Tapi saya meyakinkan diri saya untuk lebih santai, tidak panic. Saya ingat tujuan saya menghadiri wawancara kerja tersebut adalah dengan keyakinan nothing to lose saya. Dapat, ya, syukur, tidak pun, ya, belum rezeki. As simple as that. Pada saat wawancara saya berjumpa dengan seorang pria yang mana ternyata berasal dari satu kota dengan saya. Ia juga berangkat setengah enam pagi seperti saya. Ia pernah bekerja sebagai marketing dealer, atau leasing selama enam bulan. Namanya Endi. Ia adalah orang yang ramah dan pendiam. Tapi bisa dibilang sangat baik diajak bicara. Tipikal pendengar yang baik.

Tak lama berselang, semua calon pekerja pun diajak masuk di salah satu ruangan untuk melaksaanakan tes posikologi. Setelah melaksanakan tes psikologi, saya baru menyadari bahwa tes itu menentukan karakter diri, yaitu melankolis, sanguinis, plegmatis, koleris. Soal tes psikologinya terdiri dari dua jenis, yaitu kelebihan dan kekurangan, dan tentu saja skor paling banyak yang saya dapatkan adalah pada jenis melankolis. Iseng-iseng saya tengok samping kiri saya juga melankolis, tapi samping kanan saya sanguinis. Saat selesai mengerjakan tes, saya yang selalu gatal untuk berbincang mengajak samping kiri saya untuk berbinbcang, lalu samping kanan saya juga saya ajak berbincang. Sejujurnya kalau sendiri saya sering melamun, tapi kalau bersama saya selalu ingin berbincang, karena memang selalu banyak cerita kita dulang saat mendengarkan kisah orang lain. Tak lama, sang HRD datang dan menjelaskan tentang peraturan kerja yang akan kami jalani apabila kami keterima kerja di sana.

Kami pun diminta keluar ruangan dan menjalani tes wawancara satu persatu. Di luar, kami pun menunggu giliran untuk tes wawancara dengan HRD tersebut. Saat menunggu, saya berbincang dengan samping kanan saya tadi. Ia yang penasaran dengan karakter dirinya, sanguinis, mencari informasi lewat ponsel pintarnya. Kampi pun langsung akrab bak teman lama yang baru berjumpa. Saya sempat menanyakan namanya, dan ia mengaku namanya adalah Alex Situmorang. Saya pun langsung tercengang, apakah ia orang Medan? Dan saya langsung menanyakan apakah ia orang Medan atau bukan. Dan dengan enteng ia menjawab orang Solo. Dan kami pun terppingkal-pingkal, setelah gurauan nama tersebut. Dan setelah saya desak ia mengaku namanya adalah Chandra.

Terdapat enam calon pekerja saat itu, dan  akan dipilih lima saja, otomatis salah satu dari kami akan gugur. Saat wawancara HRD, saya diberi penjelasan. Saya pikir bekerja sebagai admin, tapi beliau mengatakan kami akan dimasumkkan ke managemen trainee. Saya pikir bukankah admin dan managemen trainee itu berbeda? Setelah wawancara, beliau mengatakan setelah ini akan ada tes komputer. Saya dan Chandra yang buta tentang Microsoft excel akhirnya mencarinya di google lewat ponsel pintar Chandra. Saya menegur Chandra yang mencari informasi secara teoritis, dan ia pun terbahak menyadari apa yang dilakukannya tidak berguna. Hari itu kami penuh dengan tawa keriangan dan canda-canda bak kawan lama yang baru saja berjumpa.

Sampai pada akhirnya setelah tes komputer yang mana adalah memasukkan data dan belum sampai menjumlah sudah dihentikan, kami pun diminta kembali setelah jam makan siang, yaitu pukul satu. Saya, Endi, dan Chandra pun pergi mencari makan di sekitar pabrik. Ketemulah kami di salah satu angkringan. Chandra memesan pecel, sedang saya dan Endi memesan nasi sayur. Sumpah, aroma pecelnya mantap parah. Saya cukup menyesal kenapa tidak memesan pecel saja, ya. Saat kami hendak kembali ke pabrik, pemilik warung angkringan menyetopp seorang penjual kue yang entah apa namanya membuat saya dan Chandra bernostalgia ke masa kecil kami. Kue yang saya harus akui terakhir memakannya adalah saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Damn! Chandra pun mengakui bahwa ia memakan kue itu terakhir kali juga saat masih SD. Malangnya, kami sudah kenyang, kalau tidak saya akan ikut beli kue itu. Dan saya sempat bergurau akan kembali ke sana lagi demi  kue itu, ternyata Chandara pun menyetujuinya.

Sesampainya di pabrik, saya dan Chandra menunaikan ibadah sholat dzuhur. Kemudian kembali ke ruang tunggu untuk panggilan wawancara oleh user. Saya berjumpa kembali dengan lima orang lainnya. Kali ini saya duduk dekat dengan orang yang sedari tadi diam saja. Saya pun mengajak berbincang. Namanya Angga. Ia pernah bekerja di Jakarta tapi setelah bolak balik rumah sakit karena jam kerja yang gila-gilaan, lalu ia memutuskan untuk bekerja di kampungnya saja. Satu hal yang membuat saya geli adalah, ia sempat menanyakan umur saya, dan saya langsung memintanya untuk menebak. Ia menebak umur saya adalah dua puluh tahun. Saya girang tak alang kepalang. Saya beritahu Chandra, dan Chandra mengatakan bahwa yang berusia dua puluh tahun adalah dirinya. Kami pun terbahak bersama-sama. Angga pikir Chandra adalah kawan saya sejak lama, padahal baru pagi harinya kami kenal. Dan sore itu pun kami bertiga menjadi satu kesatuan yang akrab. Semua gurauan-gurauan yang benar-benar membuat perut sakit terlontar dari bibir kami. Salah satunya adalah gurauan-guaruan lepas topeng yang mirip di serial kartun sponge bob. Dari gurauan-guirauan itu, Angga sendirilah yang sering melontarkan kata-kata yang tidak saya dan Chandra mengerti, yang mana menimbulkan buly-an baginya. Dari hal itu kami terbahak bersama-sama. Dan dua orang itu ternyata penyuka sinetron Anak Jalanan, Raya, dan entah apalagi yang mereka sebut, saya tak paham. Sore itu benar-benar menjadi sore yang begitu ceria bagi saya. Saya baru mengenal orang-orang itu pagi hari, dan siang sudah seperti kawan lama yang baru berjumpa kembali. Bahkan makian-makian saling kami lontarkan denganb begitu akrabnya. Sejujurnya saat pulang tenggorokan saya sakit karena kebanyakan tertawa.

Akhirnya wawancara degan User pun bergulir setelah menunggu cukup lama. Ya, kami dimasuk kerjakan di managemen trainee, hal yang sangat jauh dari admin. Awalnya saya sempat ragu memang, tapi saya merasa itu adalah pekerjaan yang sangat banyak pengalamannya. Meski saya butuh pulang untuk memikirkannya. Sang user menjelaskan job desk nya kepada kami satu per satu. Usernya begitu ramah dan sangat menghargai. Ia menjelaskan bark out barang dengan mengatakan seperti yang terdapat pada BBM. Secara garis besar saya paham maksud yang dikatakan sang user. Tapi sesampainya di luar ruangan saya menanyakan hal itu pada Angga, maklum saya tidak punya BBM, jadi saya tidak tahu apa itu bark out. Kata sang user, kami diminta menunggu untuk keputusan siapa yang akan tersisih dan siapa yang akan keterima. Dan sekaligus akan ada nego gaji. Setelah kami menunggu sembari bercanda ria, sang HRD keluar dan mengatakan keputusan sudah diambil dan para calon pekerja yang diterima kerja akan dihubungi nanti. Kami diminta pulang. Kami pun berpisah dengan rona kebahagiaan akibat canda tawa kami. Dan kami sempat bertukar nomor ponser untuk kabar-kabar kedepannya.

Di rumah, saya merenungi semuanya. Saya siap untuk pekerjaan tersebut. Saya sudah membayangkan saya akan keluar dari keterpurukan. Saya akan mendapatkan pekerjaan. Hidup saya akan berubah. Saya begitu bersemangat untuk hal ini. Dan sehari kemudian Angga mengirim pesan singkat kepada saya, apakah ada tindak lanjut dari peprusahaan tersebut atau tidak. Dan damn, ternyata saya yang tersisih di antara enam calon pekerja itu. Kesediahan langsung merambat di hati saya. Harapan itu punah sudah. Saya merenung. Endi, melalui pesan singkat, mengatakan masih banyak kesempatan lain di luar sana. That’s true. Saya berpikir memang ini bukanlah rezeki saya. Saya ingat awalnya saya menghadiri wawancara tersebut dengan ke-nothing to lose-an saya. Dan saya lupa akan hal itu sejenak. Saya hanya burtuh pengyakinan bahwa rezeki tidak bakal lari ke mana-mana. Setidaknya hari itu, hari wawancara kerja, saya menemukan keceriaan sekaligus kebahagiaan dari gurauan-gurauan dengan kawan-kawan yang saya temui hanya dalam waktu sehari. Meski demikian, hari itu benar-benar layak untuk dikenang sebagai hari tertawa. Dan mengenai tidak diterimanya saya, ternyata bukan saya sendiri yang ditolak, ternyata Joshua juga tidak diterima. Dan saya pikir mungkinkami gagal pada tes psikologi. Tidak bisa dibenahi kalau itu sudah menjadi sebuah karakter pada diri manusia. Melankolis. Hmm … kami mempunyai imajinasi tinggi. Setidaknya Chandra mengatakan saya mempunyai imajinasi yang tinggi dari gurauan saya. Dan setelah tes wawancara dan tes panggilan kerja itu, saya tidak akan memperjuangkan sebuah pekerjaan dengan memulai kebohongan. Saya akan tetap mengisi atau menjalani tes apapun secara jujur, karena memang kejujuran di awal itu lebih baik dari pada kebohongan yang mungkin akan merembet pada penyesalan. Terima kasih, Tuhan, atas hari yang luar biasa ceria, yang mana membuat saya terlupa akan permasalahan kehidupan ini. Tetap semangat dan terus berusaha, hanya itu yang kita punya, Boy. Semangat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s