Kuat Melawan Diri Sendiri

Sumber Foto: appadvice.com

Sumber Foto: appadvice.com

“Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.” Andrea Hirata – Sang Pemimpi

Hai, Kawan, sudah 2016. Hmm … tak terasa sudah berganti tahun, pastinya sudah bertambah pula usia. Rasanya menyesakkan sekali apabila merefleksikan diri yang didapati hanyalah kegagalan. Menyesali banyak hal tapi tetap saja tak mampu mengubah diri menjadi lebih baik.

Ya, tahun baru, selalu penuh dengan resolusi. Benar, bukan? Seperti kau dan orang-orang lainnya, Kawan, saya pun punya resolusi tiap tahunnya. Yang pasti resolusi paling nyata adalah menjadi lebih baik dari tahun kemarin. Caranya? Meyakinkan diri sendiri dan terus melangkah. Benar!

Sudah sepuluh hari Januari datang, tapi cukup menyedihkan pula bagi saya kalau menyadari sudah hari kesepuluh. Rasanya belum ada perubahan di tahun baru ini. Iya, masih sama kampretnya dengan tahun kemarin. Keadaan masih sama, dan resolusi hanya wacana. Saya sudah lama sekali tidak ngetik semacam ini lagi. Kuku saya sudah mulai memanjang dan harus saya potongi satu persatu.  Duh, rasanya saya benar-benar menjadi manusia wacana.

Saya berkontemplasi, merenungi semua yang telah saya lalui selama ini. Dan saya merasa saya belum terlalu kuat dengan adanya paksaan dari diri saya sendiri. Saya masih saja mencari pembenaran, mencari alasan, dan masih saja mengedepankan kenyamanan yang fana dibandingkan yang hakiki. Setelah saya renungkan masak-masak, ternyata saya lebih banyak melamun dan tidur. Melamun, mungkin bisa berkontemplasi; atau hanya berdialog dengan bayangan; atau berbincang dengan diri sendiri. Entahlah, yang pasti saya cukup jemu dengan hidup saya yang, yah, tidak ada progress secara nyata.  Saya ingin rebahan, saya ingin tidur, dan saya ingin merealisasikan semua impian saya. Dan yang menjadi kenyataan adalah saya rebahan, tidur, dan bermimpi. Masih bermimpi, dalam tidur pula. Ah, nikmatnya dunia dengan hal-hal yang fana ini.

Seperempat abad hidup di dunia ini saya sudah menyesali banyak hal, dan saya ingin kembali ke masa lalu. Tapi memang masa lalu tidak bisa diubah, hanya bisa direnungkan untuk menjadi sebuah pelajaran. Memaafkan diri sendiri adalah cara terbaik untuk melanjutkan langkah. Tapi tak akan ada perubahan setelah memaafkan diri sendiri, tapi tak tahu kesalahan yang dilakukan oleh diri; atau tahu kesalahan yang kita buat, tapi tak pernah mau memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dengan kata yang lebih tepatnya adalah tak mampu mengubahnya karena memanjakan diri. Hmm … saya sudah berusaha keras mengubah yang seperti itu, hanya saja saya tidak sekuat yang saya bayangkan. Saya selalu tertarik oleh rayuan kasur yang memikat; atau rayuan televisi yang menampilkan tayangan-tayangan yang sejatinya tak penting untuk disaksikan; atau game bodoh yang selalu dimainkan berulang-ulang; atau lamunan yang selalu menggiring ke ranah riuh pikiran. Ah, semuanya menghambat untuk terus maju ke depan. Ah semuanya begitu mencengkeram begitu hebat. Ah, saya mulai menyalahkan sekeliling. Ah, saya masih sama seperti setahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan seterusnya, dan seterusnya.

Apa yang harus saya lakukan? Itu bukan sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Karena pertanyaan itu adalah pertanyaan retoris, pertanyaan yang bahkan saya sendiri sangat paham jawabannya. Yah, saya harus kuat menaklukkan diri saya sendiri. Saya harus kuat membimbing diri menuju jalan yang lebih baik. Sehari berisi 24 jam, dan menyedihkan kalau hanya digunakan untuk tidur, merasai keadaan, dan melamunkan sesuatu yang fana. Semua memang butuh latihan. Yah, karena latihanlah kita jadi terbiasa. Jadi masih mau bertanya apa yang harus saya lakukan?

Hmm … Minggu lalu saya menyaksikkan kartun Doraemon. Saat itu adegannya adalah Nobita sedang malas-malasan dengan tiduran. Kemudian Doraemon dengan cerewetnya menceramahi Nobita dengan kata-kata: Waktu adalah uang. Tentu saja Nobita tak acuh dengan semua perkataan Doraemon. Hingga selanjutnya Doraemon mengeluarkan alat yang menggambarkan waktu yang dibuang Nobita berwujud uang. Nobita yang melihat uang berserakan di sekelilingnya sontak berusaha meraih uang-uang tersebut. Yah, intinya seperti itu. Andai kita paham benar makna waktu bagi hidup kita, maka kita tidak akan menyia-nyiakannya. Ya, sejujurnya saya masih banyak menyia-nyiakan waktu. Saya menyesalinya, sungguh. Tapi tahukah kau, Kawan, menyesal pada diri sendiri itu hanyalah omong kosong besar. Karena kalau kita melakukan kesalahan yang sama, yang rugi adalah diri kita sendiri dan yang marah adalah diri kita sendiri, dan tentu saja yang kecewa adalah diri kita sendiri. Dan tak lain dan tak bukan karena ulah kita sendiri. Dan bisa jadi kita memaafkan diri sendiri untuk melakukan hal serupa kembail (dengan catatan kalau kita lemah). Jadi penyesalan pada diri sendiri itu hanyalah fatamorgana apabila kita tak mampu menguatkan diri untuk menjalani komitmen yang telah kita buat untuk memperbaiki diri atau berlaku lebih baik lagi dari masa sebelumnya.  Itu semua tidak mudah, sangat tidak mudah, makanya butuh latihan. Butuh penguatan diri. Tentu saja agar kita tidak mencari pembenaran, misalnya: sedang tidak mood, keadaan sekeliling kurang mendukung, lagi hujan, lagi malas, gerah banget, ngantuk, ngegame sebentar, rebahan dulu, ingin tidur lagi; dan kita akan sadar bahwa hari telah berganti, bulan telah berlalu, dan tahun yang baru telah kita temui. Membuat resolusi lagi semacam euphoria menyedihkan yang dilakukan agar tampak seperti manusia-manusia lain yang ingar bingar dengan detas-detas tahun barunya. Ah, semuanya hanya bualan pada diri sendiri.

Musuh terbesar bagi diri sendiri adalah diri sendiri. Susah memang melawannya, tapi bukannya tak mungkin untuk melawannya. Andai kita bisa melawannya, maka kita harus terus bisa melawannya dengan latihan. Kuatkan latihan, karena dengan latihan kita bisa semakin lebih kuat, lebih hebat, dan lebih terasah. Maka, niscaya apabila semua telah diperjuangkan, bukannya tidak mungkin kita akan mendapatkan emas yang telah kita impikan. Keep fighting. Terus bermimpi dan kuatlah memperjuangkan mimpi-mimpimu; tanpa mimpi hidup akan tetap saja hambar, tanpa memperjuangkan mimpi, maka mimpi tak akan pernah menjadi kenyataan. Jadi untuk 2016 yang anggun ini, resolusi paling nyata adalah menjadi kuat, terutama kuat melawan kemanjaan diri. Semangat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s