Teknologi Yang Mencuri Kawan

Sumber Foto: telsetnews.com

Sumber Foto: telsetnews.com

Perkembangan teknologi telah mengalami kemajuan begitu pesat dari tahun ke tahun. Tidak terkecuali perkembangan teknologi komunikasi, salah satunya ponsel─telepon jinjing. Dewasa ini ponsel bukan lagi barang mewah, baik ponsel dengan fitur sederhana hingga ponsel jenius sekalipun.

Sepuluh tahun terakhir perkembangan teknologi komunikasi memang berkembang gila-gilaan, dari berkirim pesan singkat, chatting, hingga bersosialisasi di beragam media social. Bagi saya perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi ini lumayan berdampak pada kehidupan social saya. Tentu ada dampak buruk dan dampak baiknya. Ya, dalam hal apa pun semua pasti ada untung ruginya.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 2006, di dunia pergaulan saya sudah mulai merebak yang namanya ponsel. Kala itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas terakhir, memakai baju putih dan celana biru tua, dengan tampang polos dan tanpa dosa. Beberapa teman saya sudah banyak yang mempunyai ponsel. Kala itu saya tak mempunyai ponsel, tapi orangtua saya sudah memilikinya sejak dua tahun sebelumnya.  Pada waktu itu, pembicaraan mengenai ponsel hanya sebatas mengirim pesan singkat, memutar lagu, dan bermain game. Dengan kata lain, ponsel untuk anak SMP pada zaman saya lebih ditekankan pada kebutuhan pamer dan mungkin menunjukkan strata social pergaulan anak beranjak gedhe pada zaman itu. Menyedihkan!

Setahun berikutnya, ponsel sudah bukan lagi representative strata pergaulan para abege labil kala itu. Tahun 2007, tahun di mana saya juga sudah mempunyai ponsel sendiri. Teknologi berkembang cukup pesat, tapi pada zaman itu, fungsi ponsel beralih fungsi dari alat bergaya menjadi alat berkomunikasi secara nyata. Kebetulan saya sudah mempunyai ponsel sendiri pada saat itu. Sering kali fungsi ponsel benar-benar membantu dalam berkomunikasi jarak jauh melalui fitusr pesan singkatnya. Saya jadi ingat, pada waktu itu, tim sepak bola kesayangan saya Liverpool kalah di final liga Champions Eropa melawan AC Milan. Kontan kawan saya yang kebetulan menggilai AC Milan mengirim pesan singkat bernada mengejek pada saya. Saya pun membalasnya dengan sedikit gusar. Yah, fungsi teknologi komunikasi benar-benar nyata bagi saya saat itu, meski harus irit mengirim pesan singkat karena memang cukup mahal bagi anak sekolahan seperti saya.

Setahun berselang, pada tahun 2008, perkembangan teknologi komunikasi di lingkup pergaulan saya juga turut berkembang. Ponsel pun berganti dengan ponsel yang bisa digunakan untuk internetan. Ponsel pun bertambah fungsi, yaitu untuk bermain game yang didownolad dengan mudah dari situs game ponsel. Kawan-kawan saya gila game ponsel meski tidak gila-gilaan. Dan yang paling nyata mereka gilai adalah situs chatting Mig33. Saya sempat membuat akun Mig 33 juga, dan rasanya memang menyenangkan chatting melalui aplikasi situs tersebut. Tapi tak lama saya menjual ponsel saya untuk saya belikan gitar. Saya ingin bisa bermain gitar dan saya rela kehilangan alat komunikasi saya, alat pergaulan saya pada saat itu: ponsel.

Pada tahun 2009, tahun terakhir saya duduk di bangku sekolah menengah atas, kemampuan bermain gitar semakin bertambah baik. Saya cukup senang bisa menyanyikan lagu sekaligus bermain gitar, meski tanpa ponsel sebagai alat besosialisasi. Dan tanpa ponsel pun saya masih mampu bersosialisasi dengan baik dengan kawan-kawan saya. Tapi ada satuy hal yang bagi saya mulai ada yang berubah. Salah satunya adalah dikarenakan oleh ponsel. Ternyata alat teknologi komunikasi itu tetap saja menjadi alat pergaulan yang nyata di edunia anak-anak remaja yang baru akan beranjak dewasa. Sering saya merasa kehilangan kawan-kawan saya dalam bercanda, berseloroh, berkelakar yang dulu sering kami lakukan bersama-sama. Saya seakan hanya menadapati kawan-kawan saya cekikikan setelah melihat ponsel mereka masing-masing. Mereka sibuk membicarakan aplikasi situs Mig33 mereka, bahkan mulai merambah ke dunia friendster yang saya tak pernah tahu hingga sekarang. Serings aya dapati kawan-kawan saya saling pandang lalu tertawa tertahan setelah menyelia ponsel mereka masing-masing. Dan saat itu saya sadari benar bahwa saya mulai kehilangan kawan-kawan saya gara-gara sebuah alat komunikasi. Mereka tetap berkomunikasi dengan baik melalui ponsel mereka, meski jarak mereka begitu dekat, tapi bagi saya yang kala itu tak mempunyai alat komunikasi seperti mereka, tak pernah tahu perbincangan apa yang mereka rajut. Tapi tidak semua kawan saya mempunyai ponsel kala itu, yang tidak pun saya ajak berbincang, karena mereka adalah kawan nyata di dunia nyata.

Pada tahun 2009/2010, saya memasuki jenjang perkuliahan. Saya mempunyai ponsel kembali, dan saya mulai mengenal media social bernama facebook. Media social yang menyatukan yang jauh dan merajut persahabatan dari jarak jauh. Tapi media social yang satu ini begitu mengerikan, karena bisa mengubah seseorang dari tertutup menjadi jujur tanpa celah. Saking mengerikannya bahkan media social ini membuat banyak orang ketagihan tidada tara. Tapi media social ini bisa menampilkan perubahan seseorang dari waktu ke waktu, kita bisa melihat diri kita berubah menjadi kian dewasa seiring bertambahnya waktu.

Masih di tahun yang sama, Twitter juga menjadi salah satu media social favorit banyak orang karena mampu membuat seseorang dekat dengan idolanya. Para artis idola yang dulu hanya bisa digilai di layar kaca, sekarangs udah bisa dilihat di media social ini. Selain itu, media social ini memberikan informasi-informasi cepat.

Sekarang suidah tahun 2016. BEgitu banyak media social sebagai perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat. Dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, Whatsap, BBM, dan lain sebagainya. Bagi saya perkembangan teknologi komunikasi ini banyak positifnya, memberikan kabar dengan cepat, sebagai alat komunikasi yang ringkas, serta alat bersosialisasi yang baik. Demnghan banyaknya macam media social tersebut, kita lebih cepat tahu banyk informasi, baik secara personal maupun informasi public. Tapi bagi saya pribadi, dengan begitu banyaknya media social tersebut, malah membuat saya pribadi kehilangan kawan-kawan saya. Saya merasa sedih ketika berkumpul kawan-kawan saya, mereka sibuk dengan gadget mereka masing-masing. Entah itu facebookan, intagaraman, chattingan BBM, atau meramu pasukan COC-nya. Hingga saat ini, media social yangs aya gunakan hanya face book dan twitter, itu pun untuk mendulang informasi-informasi dari media-media online. Sedang untuk alat komunikasi saya menggunakan whats up dan SMS. Saya kadang berpikir, dewasa ini esensi perjumpaan itu apa? Dulu banyak cerita kita hasilkan,s ekarang perjumpaan hanya menyisakan cerita-cerita di luar perjumpaan itu. Apakah benar perkembangan teknologi komunikasi itu berdampak baik bagi kehidupan bersosialisasi seseorang, atau malah sebaliknya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s