Setelah Matahari Terbenam

Jarum jam dinding rumah Burhan berdentang sebanyak tujuh kali. Bocah berusia dua belas tahun itu masih setia menanti ayahnya yang tak kunjung pulang. Hal semacam ini memang sering ia alami hampir setiap hari, menunggu dan berharap ayahnya segera pulang dari bekerja.

Pikiran Burhan terbang ke masa beberapa tahun silam kala ayahnya masih bekerja di salah satu perusahaan di kotanya yang mana cukup menopang perekonomian keluarga mereka. Pada masa itu ia tak pernah merasa kehilangan waktu kebersamaan dengan sang ayah yang begitu dicintainya. Masa-masa yang begitu membahagiakan batinnya. Namun semua itu tak lagi dirasakannya ketika perusahaan tempat ayahnya bernaung gulung tikar karena tak mampu mengikuti UMSP (Upah Minimum Sektor Provinsi) daerah yang ditetapkan oleh Pemda setempat. Kini ayahnya beralih profesi sebagai pelukis yang selalu menjajakkan lukisannya di tengah kota. “Hidup kita sudah berbeda, Ayah mensyukuri pekerjaan ini, cukup memuaskan hasrat Ayah bisa melukis kembali,” ucap sang ayah ketika pertama kali ia menanyakan pekerjaan baru ayahnya.

Burhan sering memaki dalam hati ketika mendapati hatinya begitu merindukan kebersamaannya dengan sang ayah.

“Kapan Ayah pulang?” tanya Burhan kepada ayahnya

“Tepat setelah matahari terbenam, Ayah pasti pulang,” jawab ayahnya mengusap kepala Burhan.

Pertanyaan itu Burhan lontarkan dua tahun silam, sejak ia masih duduk di kelas empat sekolah dasar. Namun kenyataan pahit harus ditemuinya saban hari, ayahnya jarang sekali pulang tepat setelah matahari terbenam. Pun hari ini, meski jarum jam rumahnya sudah berdentang sebanyak sembilan kali, namun sosok yang begitu dicintainya tak kunjung tampak.

“Kenapa Ayah selalu pulang malam, katanya pulang tepat setelah matahari terbenam?” tanya Burhan beberapa hari lalu, kebetulan ia masih terjaga ketika menyambut kepulangan ayahnya.

“Ayah tak tahu waktu, Ayah pikir baru satu jam setelah matahari terbenam, ternyata sudah cukup larut, ya?” sahut ayahnya terkekeh.

Semenjak hari itu Burhan menyadari apa yang dibutuhkan ayahnya agar pulang tak larut malam. Sebuah jam tangan. Berhari-hari ini ia memikirkan cara untuk bisa membeli sebuah jam tangan untuk ayahnya. Butuh waktu lama apabila mengharapkan hasil tabungan dari uang sakunya yang hanya tak seberapa itu.

Mata Burhan mulai lelah, kantuk begitu menyerang kelopak matanya. Sebelum tidur, terlintas perkataan kawannya, Badrun tadi siang ketika ia bercerita mengenai keinginannya untuk membelikan ayahnya sebuah jam tangan.

“Ikut Bang Andi sama Bang Norman mencopet saja, aku juga kadang ikut mereka jadi tangan ketiga?” bisik Badrun.

“Tangan ketiga?” tanyanya polos.

“Iya, biasanya yang nyopet Bang Andi, kemudian diserahkan ke Bang Norman sebagai tangan kedua, lalu diberikan kepada tangan ketiga untuk diamankan.”

Burhan terdiam sejenak. Dengan cepat ia tolak ide laknat tersebut. “Mencopet? Tak maulah aku melakukan hal macam itu.” Sahutnya geram.

“Terserah kau,” jawab Badrun mengangkat bahu.

Perbincangannya dengan Badrun tadi siang masih teringat dengan jelas. Tak pernah terbesit keinginan untuk menjadi pencopet, mengikuti jejak Andi dan Norman yang usianya lebih tua tiga tahun darinya. Namun hatinya yang selalu merindukan kebersamaan ayahnya, membuatnya berkeinginan untuk ikut mencopet. Setelah kubelikan Ayah jam tangan, aku yakin ayah akan pulang tepat setelah matahari terbenam. Batinnya. Pemikirannya amat sederhana, sesederhana keinginannya untuk sekadar menikmati waktu bersama ayahnya selepas matahari terbenam.

***

“Baiklah, tugasmu menerima dompet yang diserahkan Norman, kemudian kau pergi menuju gedung kosong di ujung jalan, nanti kita bertemu di sana,” ucap Andi kepada Burhan.

“Jadi orang ketiga, Bang?” tanyanya polos.

Andi dan Norman saling tatap kemudian mengiyakan pertanyaan Burhan. Ia benar-benar ikut dalam misi pencopetan itu. Toni yang biasanya menjadi rekan kerja Andi dan Norman dialihtugaskan ke kelompok lain. Burhan tak tahu siapa yang berada di balik koordinasi pencopetan ini yang melindungi para pencopet remaja tersebut. Andi dan Norman hanya memberikannya tugas menjadi tangan ketiga tanpa menceritkan hal-hal yang mungkin tak perlu diceritakan kepada anak baru tersebut.

Hari itu mereka sukses melaksanakan tugas dengan baik. Tiga kali Andi mampu merogoh dompet dari para korban. Dompet-dompet itu langsung sampai ke tangan Norman dan tak lama kemudian berada di tangan Burhan. Dengan lugu Burhan menyelipkan dompet di celananya dan ia tutupi dengan kaos yang membungkus tubuhnya.

“Hanya segini?” tanya Burhan ketika menerima bagiannya.

“Kau ini hanya membawa hasil copetan, bukan mencopet, resikomu tak terlalu besar, kalau kau ingin mendapat bagian yang lebih besar, jadilah tangan pertama!” sahut Andi sedikit geram.

Ini pertama kalinya Burhan turut serta komplotan pencopet remaja itu. Dan ia merasa uang yang diterimanya tak cukup untuk membeli jam tangan. Kepalanya selalu terngiang kalimat Andi untuk menjadi tangan pertama dalam aksi pencopetan itu. Hasratnya untuk membelikan jam tangan untuk ayahnya begitu menggebu. Ia benar-benar merindukan kebersamaan ayahnya tanpa memahami resiko dari profesi copet tersebut.

Empat hari sudah ia menekuni profesi copet itu. Tugas menjadi tangan ketiga masih diembannya dengan baik. Empat dompet sudah ia amankan, dan bagiannya tetap saja kecil. Ia paham benar bahawa penghasilan ikut komplotan sebagai tangan ketiga ini tak terlalu besar, sehingga ia mengajukan diri untuk menjadi tangan pertama.

“Aku ingin menjadi tangan pertama, Bang,” ucap Burhan ketika Andi membagi uang hasil copetannya setelah dipotong untuk jatah bos.

Andi terkesiap mendengar penuturan anak baru itu, kedua matanya menatap tampang polos Burhan. Kemudian kedua mata Andi bersitatap dengan mata Norman, dagunya terangkat cepat seolah menanyakan pendapat Norman. Norman mengangkat bahu, menyerahkan semuanya kepada Andi.

“Kau yakin, kalau tertangkap bisa mati kau?” tanya Andi tidak yakin.

“Aku yakin, Bang lariku cepat seperti kijang,” jawabnya lugu.

Andi tampak bingung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku pikirkan dulu, besok aku kabari,” kata Andi sebelum kedua kakinya meninggalkan bocah itu.

Burhan benar-benar tak memperhitungkan resiko yang akan ia hadapi. Di kepalanya hanya terbayang senyuman ayahnya ketika menerima hadiah darinya. Satu-satunya yang dipikirkannya adalah sebuah jam tangan yang terpampang di balik kaca lantai lima pusat perbelanjaan yang ia dan Badrun datangi tempo hari. Jam tangan itu harganya begitu mahal, dan uang yang ia kumpulkan pun belum genap mencapai setengah dari harga jam tangan tersebut.

Keesokan harinya Burhan tetap bertugas menjadi tangan ketiga. Upah yang ia terima masih tetap kecil. Ia pun bertanya kembali terkait perannya untuk menjadi tangan pertama.

“Nikmati dulu tugasmu sebagai tangan ketiga, jadi tangan pertama tak main-main resikonya,” tukas Andi.

“Tapi aku yakin aku bisa, Bang,” sahutnya cepat.

Andi mengibaskan tangan kanannya dan menyuruh Norman dan Burhan bersiap kembali pada aksi berikutnya. Kemudian mereka pun melakukan aksi mereka kembali. Sampai pada dompet ketiga, Andi merasa muak dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Burhan berulang kali. Pertanyaan yang terus diualng-ulang itu membuat telinganya kebas. Akhirnya Andi pun menerima permintaan Burhan dengan raut kurang berselara.

“Kau yang memaksa, aku anggap kau paham resiko yang kaupikul,” tutur Andi kepada Burhan.

Binar mata Burhan tampak jelas setelah Andi menerima permintaannya untuk menjadi tangan pertama. “Kakiku ini bisa berlari seperti kijang, Bang, bahkan aku ditunjuk untuk ikut lomba lari mewakili sekolahku,” sahut Burhan polos.

“Yah, terserah kau sajalah,” balas Andi kian tak berselera.

Matahari akan tergelincir beberapa jam lagi, hari mulai sore. Andi memberikan arahan sedetail mungkin agar Burhan lancar melakukan aksinya. Burhan mengangguk-angguk mendengarkan pengarahan Andi. Sebelum melaksanakan aksinya, Andi memperingatkan kembali untuk berhati-hati. Burhan mengagguk takzim.

Mereka pun menempati posisi masing-masing. Jantung Burhan mulai berdetak kencang. Namun hatinya tetep kukuh untuk melakukan aksi tersebut. Demi Ayah, aku akan melakukan ini, Bang Andi saja bisa, kenapa aku tidak? Batinnya meyakinkan dirinya sendiri. Burhan pun sudah mengincar korbannya. Andi dan Norman memantaunya dari jauh. Di tengah hiruk pikuk suasana kota, kaki Burhan berjalan mengikuti seorang pria yang baru turun dari mobil. Ia terus mengikuti pria itu. Tak berselang lama, dompet pria itu sudah ada digenggamannya. Kemudian kakinya segera bergegas untuk menjauhi pria itu cepat-cepat. Namun tak disangkanya, teriakan copet memekakkan telinganya. Tak pikir panjang kaki Burhan langsung berlari dengan begitu kencangnya macam kijang dikejar singa. Ia terus berlari menjauh dari kejaran orang-orang di belakangnya. Ia baru merasakan ketakutan yang begitu membakar dadanya itu ketika puluhan orang mengejar tubuh kecilnya. Orang-orang itu tertinggal cukup jauh darinya. Sambil berlari, ia menoleh untuk memastikan jarak antara dirinya dan kejaran massa. Nahas, ia menabrak seorang pria yang berada di depannya. Ia pun terpental dan terjerembab. Dompet yang ia bawa pun jatuh.

“Burhan, ada apa?” tanya pria itu heran dan kaget.

“Ayah?” Burhan tak kalah kaget melihat orang yang ditabraknya.

Tak ingin ayahnya marah atau terlibat, ia pun melanjutkan larinya untuk menghindari kejaran massa. Sang ayah masih heran dengan apa yang terjadi kepada anaknya. Diambillah dompet yang terlepas dari tangan Burhan itu. Tak lama kemudian wajah-wajah beringas muncul di hadapan ayah Burhan. Mereka pun langsung mendaratkan pukulan demi pukulan kepadanya setelah melihat ia memegang dompet tersebut. Tuduhan-tuduhan bahwa ialah yang menyuruh anak kecil itu untuk mencopet keluar dari mulut orang-orang tersebut. Ayah Burhan pun babak belur dipukuli massa. Beruntung para polisi yang awalnya mendapat laporan akan adanya tawuran pelajar di daerah itu segera menyelamatkannya.

***

Burhan bersama pamannya mengunjungi ayahnya yang kini berada dalam jeruji besi. Perasaan sedih, takut, serta menyesal menyelimuti hatinya. Ketika menemui ayahnya di kantor polisi, air matanya tak henti-henti mengalir.

“Mengapa kaulakukan itu semua, Bur?” tanya ayahnya berbisik, sedikit geram. Namun ia juga tak ingin Burhan terseret dalam kasus tersebut. Keadaan lengang, hanya tangisan yang ditunjukkan Burhan di hadapan ayahnya. “Jawab, Burhan!” lanjut ayahnya.

“Maafkan aku, Yah, aku melakukan itu semua agar aku bisa membelikan Ayah jam tangan,” kata Burhan terbata-bata karena tersedu dalam tangisan.

“Ayah tak butuh jam tangan,” kata ayahnya masih berbisik geram.

“Aku ingin membelikan Ayah jam tangan agar Ayah tak lupa waktu … agar Ayah pulang tepat setelah matahari terbenam,” jawab Burhan masih tersedu-sedu.

Dada ayah Burhan itu mulai sesak. Matanya mulai panas. Kemudian dipeluknya erat-erat tubuh kecil Burhan. Ayah dan anak itu pun tak henti-hentinya mengucap maaf, air mata mereka menetes secara bersamaan.

 

 

 

 

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

 

Gunawan Giatmadja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s