Sepatu Untuk Anakku

ayah-dan-anak

Hati Darmin nyeri ketika mendapati sepatu anaknya sudah terlampau butut ketika digunakan. Entah ini kali ke berapa ia melihat sepatu itu digunakan anaknya ke sekolah, yang ia tahu hatinya selalu tercabik ketika menyadari hal tersebut. Lubang-lubang kecil menampakkan warna putih kaos kaki pada sepatu anak semata wayangnya tersebut. Bekali-kali Darmin berusaha menabung agar bisa membelikan sepatu baru untuk anaknya, namun uang tabungan selalu raib karena kebutuhan rumah tangganya belum sempurna tercukupi. Anaknya yang masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar itu tak pernah mengeluh atas sepatu butut yang dipakainya setiap hari. Bocah yang genap berusia sepuluh tahun itu tetap bersemangat walaupun hidup berkalang kemiskinan.

“Tak apa, Yah, aku masih bisa sekolah dengan sepatu ini, Ayah jangan terlalu memikirkan hal itu,” tukas anak itu ketika ayahnya berkata akan berusaha membelikannya sepatu baru. Senyum anak itu begitu tulus ketika menenangkan hati ayahnya, namun di dalam sudut hatinya sebenarnya ia begitu menginginkan sepatu yang lebih layak dari yang dipakainya saat ini. Anak sekecil itu memahami benar kondisi perekonomian keluarganya, maka ia tak pernah meminta macam-macam kepada ayahnya yang hanya bekerja sebagai pembeli barang-barang bekas atau rongsokan keliling.

Pagi itu setelah sarapan, Darmin bergegas berangkat bekeliling untuk mencari—untuk dibeli—barang-barang rongsokan milik warga. Ia melupakan sejenak apa yang dirasakannya ketika melihat sepatu anaknya kian usang. Namun semakin diabaikan semakin terang bayangan sepatu kumal itu menyeruak dari dalam pikirannya. Aku harus mendapatkan uang lebih banyak hari ini. Batinnya. Tetapi ketika menyadari sebanyak apapun uang yang ia kumpulkan hari ini setelah menjual barang-barang rongsokannya kepada pengepul, selalu terulang bahwa seluruh uangnya akan raib digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi untuk membayar hutangnya yang masih ia cicil hingga kini. Tempo hari, ia terpaksa berhutang kepada saudaranya untuk membayar biaya rumah sakit istrinya. Sebenarnya saudaranya tak pernah menagih hutangnya, namun ia selalu merasa tak enak hati apabila selalu menunda-nunda membayar hutang.

Di pagi yang cerah itu, ia menuntun sepedanya sambil terus berpikir bagaimana meminimalisir keuangan keluarganya agar ia bisa membelikan sepatu untuk anaknya. Tiba-tiba sebuah pikiran jahat menyeruak dari otaknya ketika matanya melihat sepasang sepatu seukuran kaki anaknya tergeletak di depan sebuah rumah, berderet dengan sepatu-sepatu yang lain. Rencana busuk itu muncul tanpa ia inginkan sebelumnya. Hatinya mulai bimbang, ini pertama kalinya ia begitu teracuni dengan pikiran busuk tersebut. Kesempatan emas itu terpampang jelas di hadapannya, keadaan tengah lengang dan pagar rumah tersebut terbuka lebar. Ia sempat ingin mengurungkan niat busuk itu, namun ketika bayangan senyum getir anaknya menghampiri, ia pun memutuskan untuk mengambil sepatu mungil tersebut. Dengan degup jantung yang kian kencang, tangannya dengan cepat menyambar sepasang sepatu kecil itu dan mengabaikan sepatu-sepatu lain yang ada di sekitarnya. Kepalanya tak berhenti menengok ke kanan dan ke kiri beriringan dengan rasa was-was yang terus hinggap di hatinya. Setelah berhasil mendapatkan sepatu mungil yang begitu diinginkannya, kedua kakinya sigap mengayuh sepeda butut miliknya menjauh dari rumah tersebut.

***

“Sultan, kemari kau, Nak,” seru Darmin pada anak kesayangannya. Tanpa menjawab anak itu pun menghampiri Darmin yang tengah terduduk di kursi rumah mereka. “Besok pagi, Ayah ingin memberikan sesuatu untukmu, coba kau tebak,” lanjutnya mengulas senyum.

Anak kecil itu pun berpikir sejenak, menyandarkan jari telunjuk ke sisi kanan dagunya. “Permen?” tebaknya polos. Darmin menggeleng pelan. “Kacang?” tebaknya lagi, dan Darmin masih menggeleng. Anak itu pun berpikir lagi sampai beberapa saat kemudian ia mengutarakan kata menyerah kepada ayahnya.

“Ayah ingin memberikanmu sepatu,” tukas Darmin.

“Sepatu baru, Yah? Wah asyik,” sahut anaknya kegirangan.

“Bukan sepatu baru, Nak, tapi masih bagus,”

“Tak apa, Yah, yang penting Ayah sudah berusaha keras untuk membelikanku sepatu, bagaimana pun sepatunya, aku sayang Ayah,” ucap anak itu tersenyum, kemudian memeluk Darmin dengan lembut.

Darmin begitu gembira melihat raut riang anaknya, tapi hatinya teriris mendengar pernyataan anaknya yang mengatakan bahwa ia telah berusaha keras untuk membelikan sepatu tersebut. Apakah aku ayah yang pantas dibanggakan? Batinnya. Perasaan bersalah sempat berkecamuk dalam dadanya, namun diusirnya cepat-cepat perasaan tersebut. Sekarang yang terpenting kau bahagia, Nak. Batinnya kembali.

Pintu rumah Darmin berdecit, sosok wanita yang sangat dicintainya muncul selepas bekerja. Istri Darmin bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah majikannya yang berada kira-kira lima kilometer dari rumahnya, ia baru bekerja selama tiga hari terhitung sampai hari ini. Melihat sosok sang istri yang muncul bukan pada waktu yang biasanya, dahi Darmin mengernyit. Pun ketika sang istri menampakkan raut sedih. Setelah dicecar beberapa pertanyaan oleh Darmin, akhirnya sang istri menceritakan apa yang tengah merundung batinnya. Wanita itu mengaku sedih karena anak majikannya kehilangan sepasang sepatu kesayangan miliknya. Sebagai asisten rumah tangga yang baru bekerja selama tiga hari, ia dipersalahkan atas insiden tersebut, alhasil ia diminta pulang lebih awal.

Mendengar cerita istrinya tersebut, hati Darmin terasa seperti dituangi timah panas. Ia merasa sedih, bersalah, takut, berdosa, serta bingung dalam waktu yang bersamaan. Pikirannya menerka-nerka. Apa sepatu yang kuambil itu milik anak majikan istriku? Batinya. Kemudian ia bertanya kepada istrinya terkait rumah tempat kerja sang istri karena sebelumnya memang ia tak pernah bertanya detail mengenai hal tersebut. Ia benar-benar merasa pilu ketika mendapati bahwa dugaannya benar, sepatu yang ia ambil adalah sebab musabab istrinya didamprat majikannya.

Menjelang subuh, Darmin kian gelisah memikirkan sepatu mungil curiannya tersebut. Ia masih terjaga hingga dini hari, memikirkan dampak dari sepatu kecil tersebut. Sempat terlintas di pikirannya bahwa sepatu itu memang layak ia ambil untuk memberikan pelajaran untuk anak majikan istrinya yang manja itu, toh tak lama kemudian pasti istrinya tak lagi bersedih, dan sang majikan tak akan mengungkit kembali kejadian itu terhadap istrinya. Namun, rasa bersalah itu lebih tebal menyelimuti hatinya dibandingkan sepercik pikiran liar tersebut. Ia memandangi sepatu mungil yang rencananya akan ia berikan kepada anaknya pagi ini. Matanya menyusuri tiap senti sepatu mungil itu. Dilihatnya ukiran huruf ‘R’—bukan merek—di masing-masing sisi sepatu tersebut yang sepertinya inisial pemiliknya. Setelah lama merenung, akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan sepatu tersebut.

Tak ambil tempo lama, Darmin bergegas mengembalikan sepatu itu kala hari masih gelap. Dalam rintik hujan yang kian lebat, ia mengayuh sepeda bututnya. Ia masih hafal benar warna cat rumah tempat ia mengambil sepatu mungil tersebut. Keadaan benar-benar lengang, dalam rintik hujan yang kian lebat, ia melemparkan sepatu mungil itu ke beranda rumah tersebut. Rasa takut berkecamuk dalam dadanya, tapi setelah ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan sesuai nuraninya, hatinya menjadi lega. Adzan Subuh terdengar sesampainya ia di rumah.

***

Darmin meminta maaf kepada anaknya karena batal memberikan sepatu yang telah ia janjikan kemarin. Ia beralasan kepada anaknya bahwa uang yang akan digunakan untuk membeli sepatu ia gunakan untuk membayar hutang. Dengan nada penyesalan, ia berjanji kepada anaknya untuk tetap berusaha menyisihkan uang sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepasang sepatu baru untuk anaknya. Anak kecil itu tersenyum getir menanggapi janji ayahnya. Sempat merasa kecewa, tapi ketika melihat wajah sendu ayahnya, kekecewaan yang dirasakannya itu buru-buru ia tepikan.

Keesokan harinya sepulang bekerja, Darmin bercengkrama bersama anak semata wayangnya di ruang tamu rumahnya. Darmin pulang lebih awal, karena tubuhnya terasa lelah sekali. Dua tangan mungil anaknya memijat punggung Darmin seraya bercerita tentang pelajaran di sekolahnya hari ini. Sambil menyesap kopi, Darmin mendengarkan dengan begitu antusias seakan ia telah melupakan kejadian hari kemarin. Tak lama berselang, pintu rumah mereka diketuk. Lima anak berseragam sekolah berdiri di depan pintu rumah mereka dengan menampakkan senyuman khas anak kecil. Mereka adalah teman-teman sekolah anaknya. Kelima anak itu pun dipersilakan duduk oleh empunya rumah. Setelah menyalami anak-anak itu, mata Darmin secara tak sengaja melihat sepatu salah satu teman anaknya tersebut. Ia terkesiap ketika mendapati huruf ‘R’ pada sepatu yang dikenakan salah satu tamunya tersebut—sepatu yang amat dikenalnya. Ia benar-benar kaget dan tak menyangka bahwa sepatu yang dicurinya kemarin adalah milik kawan anaknya. Syukur pun diucapkannya dalam hati karena telah mengembalikan sepatu curian tersebut. Andai ia tak mengembalikan sepatu curian itu, pasti anaknya akan mengetahui tabiat buruk ayahnya; pasti anaknya akan marah kepadanya; pasti teman-teman anaknya akan mengolok-olok anaknya dengan sebutan anak pencuri. Beruntung semuanya tak pernah terjadi.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Darmin kepada salah satu teman anaknya tersebut.

“Randy, Paman,” sahutnya mengulas senyum.

“Mohon maafkanlah kesalahan orang yang telah berbuat salah padamu, Nak,” tukas Darmin seraya membelai rambut anak tersebut.

Anak itu tampak bingung, pun keempat kawannya. Anak itu pun sempat menanyakan apa maksud perkataan Darmin, namun pria paruh baya itu menggeleng pelan, lantas menjauh dari anak-anak tersebut. Ia lebih memilih diam daripada memperburuk suasana. Sedikit pun tak ada keberanian untuk mengakui kesalahannya, ia begitu takut apabila anaknya membencinya; ia begitu takut anaknya akan menjadi bahan cibiran kawan-kawannya; ia begitu takut apabila anaknya …. Ia menghentikan kegamangannya, kemudian ia menyesap kopinya kembali. Kemudian anaknya muncul dengan mengenakan sepasang sepatu di hadapannya. Ia terperanjat dari duduk santainya.

“Ini pemberian Randy dan teman-teman, Yah,” tutur anak itu tersenyum bahagia memamerkan sepatu barunya.

 

 

 

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

 

Gunawan Giatmadja

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s