Kegamangan

Mia tak henti-henti mengusap cincin yang terpasang di jari manis tangan kirinya. Cincin emas bermata berlian indah itu adalah cincin yang diberikan oleh Danu, kekasihnya. Mia sangat mencintai Danu, begitu pula sebaliknya.

Will you marry me, Mia?” pinta Danu berlutut seraya menyodorkan cincin itu pekan lalu.

Mia tak langsung menjawab. Ia memandangi cincin yang disodorkan Danu, kemudian matanya beralih ke mata Danu, beralih lagi ke cincin itu. Muncul perasaan takut yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya, meski hatinya merasa bahagia dengan apa yang dilakukan kekasihnya tersebut. “Apa kau yakin, Dan?” tanya Mia. Dahi Danu mengerut melihat reaksi Mia. “Maksudku, apakah kau bersedia menerima semua yang ada dalam diriku?” ralat Mia.

Danu menghela napas panjang. “Mia, aku tak pernah seyakin ini sebelumnya. Cintaku tak pernah sedalam ini sebelumnya pada wanita lain. Seiring bertambahnya usia, juga bertambahnya kedewasaan, banyak sekali pelajaran yang telah kuambil dari perjalanan hidupku. Sepertinya memang ini waktu yang tepat untuk memutuskan semua ini. Aku yakin memilih dirimu sebagai pendamping hidupku, baik dalam susah, apalagi senang. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan dirimu. Karena bersamamulah aku merasa lebih menikmati hidup. So, will you marry me, Mia?” Seulas senyum menghiasi bibir Danu.

Secara perlahan air tumpah dari sudut mata Mia. Segera ia mengusap air mata yang mulai mengalir bebas tersebut. “Kau akan menerima semua yang ada padaku, Dan?”

“Ya,” jawab Danu lugas.

“Semua kenyataan yang ada pada diriku, juga masa laluku?”

“Ya, semuanya,”

“Meskipun itu buruk,”

“Mia, aku akan menerima apapun dirimu, sekalipun kau memiliki masa lalu yang teramat buruk. Semua orang mempunyai masa lalu, pun diriku. Tak penting bagaimana masa lalumu, yang terpenting adalah masa depanmu, masa depan kita, Mia,”

Sambil menangis, Mia mengangguk-angguk tanda setuju. “Aku bersedia, Dan, aku bersedia.”

Danu pun memasangkan cincin itu ke jari manis Mia, kekasih yang begitu dicintainya tersebut. Kemudian Danu memeluk Mia dengan penuh cinta. Danu merasa amat bahagia atas itu semua. Atas keputusannya, atas cintanya, atas peneriamaan kekasihnya. Hatinya telah benar-benar ia tambatkan selama hayatnya, sepanjang hidupnya, kepada gadis yang amat dicintainya itu. Sedangkan Mia merasakan hal lain dengan apa yang dirasakan oleh Danu. Mia merasa belum layak menjadi istri Danu sepenuhnya. Mia merasa belum sepenuhnya Danu paham akan dirinya. Akan ketakutannya selama ini. Akan penderitaan batinnya selama ini.

Mia tak bisa berhenti mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Selama ini ia begitu memikul penderitaan batin yang amat berat. Tak seorang pun mengetahui siksaan dalam hatinya tersebut. Tidak papanya, tidak mamanya, apalagi Danu kekasihnya. Papanya sibuk bekerja mengurus perusahaan, sedangkan mamanya sibuk mengurus butik dan restoran milik keluarga, satu-satunya orang yang paling dekat dengannya adalah kekasihnya, Danu. Ia ingin sekali mencurahkan masalah itu kepada kekasihnya sejak pertama kali mereka menjalin kasih, namun keberanian itu tak pernah muncul. Sekarang ini mungkin waktu yang tepat untuk mengakui semuanya. Semua yang menggganjal hatinya selama dua tahun belakangan.

Dua tahun lalu, Mia mengalami kejadian yang menimbulkan pergolakan batin baginya sampai saat ini. Malam itu, mamanya menelpon Mia memintanya untuk segera pulang karena papanya mendadak sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Mia yang sedang bermain di rumah temannya di Bandung bergegas pulang ke Jakarta dengan mengendarai mobilnya. Kekalutan menghampirinya, ia begitu khawatir akan kondisi papanya yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit. Mungkin Papa hanya kelelahan karena sibuk bekerja. Batinnya sebelum mamanya memberitahukan bahwa papanya tak henti-henti menyebut namanya.

Mobil Mia melaju begitu cepat menyusuri jalanan yang terlihat sepi. Namun di sebuah tikungan jalan, mobil itu hampir menabrak sebuah sepeda motor. Mobil Mia berhasil terhindar dari tabrakan maut, tetapi nahas bagi pengendara motor yang menghindari tabrakan dengan mobil Mia. Sang pengendara motor menabrak pohon di sekitar area tersebut. Darah pun berceceran di mana-mana. Motor yang dikendarai oleh dua orang itu hancur. Wanita paruh baya dan seorang pemuda terkapar tak sadarkan diri. Mia terperanjat bukan kepalang. Ketakutan benar-benar menyelimutinya. Air matanya tumpah menyaksikkan kejadian tersebut. Ia hendak menolong tapi takut dengan bayangan hukuman yang akan menimpa dirinya. Entah sadar atau tidak, kakinya pun menginjak gas, mobilnya melaju dengan kencang meninggalkan kecelakaan tersebut.

Mia terus dirundung ketakutan semenjak kejadian itu. Darah selalu membayang di kepalanya. Kondisi Mia kian memburuk seiring membaiknya kondisi papanya. Wajahnya tampak pucat dari hari ke hari.

“Kenapa kau tampak murung, Mia, bukankah papamu kondisinya makin baik?” tanya mamanya penasaran.

“Tidak apa-apa, Ma, aku hanya sedih melihat Papa terbaring lemas karena terlalu lelah bekerja,” jawab Mia mencoba tersenyum.

“Jangan kaumurung, papamu pasti sehat kembali. Kalau papamu melihat wajahmu saat ini, ia pasti juga akan sedih. Jangan kautampakkan kemurunganmu di hadapan papamu apabila kau ingin ia sembuh, Mia,” seru mamanya yang sibuk mengecek laporan keungan butik dan restorannya.

“Baik, Ma,” sahutnya lirih seraya menekur.

Mia tak berani jujur kepada mamanya perihal apa yang telah menimpa dirinya itu. Terlebih ketika kondisi papanya masih terbaring lemah di rumah sakit. Meski kondisi papanya kian membaik setiap harinya, namun batin Mia malah kian tersiksa mengingat kecelakaan yang menimpanya tersebut. Mia selalu terbayang darah yang tercecer di mana-mana. Kejadian tabrakan itu terus membayang di kepalanya. Air matanya tiba-tiba menggenang membayangkan semua itu. Ia benar-benar gamang.

“Mia, kau menangis?” tanya mamanya, membuatnya kaget. Buru-buru ia usap air matanya. “Setidaknya jangan menangis di depan papamu, Mia,” lanjut mamanya mengusap punggung Mia.

“Mia ke toilet dulu, Ma, mau cuci muka,” ujar Mia mencoba tersenyum ke arah ibunya.

Kaki Mia pun berderap menuju toilet setelah melihat ibunya mengangguk tersenyum. Air mata Mia benar-benar tumpah tak terbendung lagi di toilet rumah sakit. Ia menangis tersedu-sedu karena tersiksa akan penderitaan batinnya. Beberapa orang di sekelilingnya melihatnya dengan tatapan penuh tanya. Mia tak memedulikan itu semua, karena ia benar-benar tengah dirundung derita.

Ketika papanya sembuh dari sakit, Mia berusaha tegar dan selalu tersenyum di hadapan papanya. Ia selalu ingin tampak ceria agar papanya semakin lebih sehat lagi. Kepalsuan itu berhenti ketika papanya benar-benar telah sembuh dari sakitnya dan mulai bekerja kembali. Kedua orangtunya pun mulai sibuk kembali dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan ia kian sering mengurung diri di kamar meratapi semua yang telah terjadi.

Mia semakin merasa terpuruk dari hari ke hari. Ia pun meminta izin kepada orang tuanya untuk tinggal bersama kakek neneknya di daerah Pangandaran. Ia sering pergi ke pantai setiap sore hari, berteriak-teriak melepas kerisauannya. Namun upayanya seakan sia-sia, air matanya yang ia tutup dengan kaca mata hitam tetap meleleh selepas ia berteriak. Meski demikian, ia tetap melakukan hal yang sama hampir setiap harinya.

Sore itu, seorang laki-laki menyodorkan tisu kepadanya ketika air matanya mulai menggenang. Ia pun meraih tisu yang diberikan oleh laki-laki tersebut dengan cepat.

“Berteriaklah, biar debur ombak yang mendengarnya … Menangislah, biar air mata yang melepaskan semua bebannya …” papar laki-laki itu sok puitis—anggapan Mia.

“Kacamataku memang tak bisa diandalkan,” kata Mia seraya mengusap air matanya.

Laki-laki itu tersenyum. Ia mengatakan bahwa ia mengetahui Mia menangis bukan hanya hari itu saja, namun beberapa hari sebelumnya ketika Mia berteriak-teriak dan kemudian tubuhnya terguncang-guncang yang menandakan bahwa Mia terisak. Laki-laki itu bernama Danu, laki-laki yang menjadi kekasih Mia sampai saat ini.

Danu suka ke pantai, untuk melepas penat, melepas semua beban yang tertanam di hatinya. Tak jauh beda dengan Mia, yang juga suka pergi ke pantai untuk berteriak, menangis, melupakan masalah-masalah dalam hidupnya. Di pantai itu pulalah Danu melamar Mia pekan lalu, jauh dari sunset, namun dekat dengan kedamaian.

Semenjak berjumpa dengan Danu, hidup Mia lambat laun memang membaik. Pun dengan hidup Danu yang kian berwarna dengan adanya cinta di antara mereka. Dengan cepat Mia berubah menjadi wanita yang tangguh, wanita yang bersemangat, wanita yang dinamis. Mia benar-benar menikmati kehidupan. Namun, setelah Danu melingkarkan cincin di jari manisnya, bayangan-bayangan itu muncul kembali. Kegamangan-kegamangan yang pernah Mia rasakan. Ia ingin sekali berbagi semuanya dengan Danu, tapi ia juga takut jikalau Danu akan meninggalkan dirinya setelah mengetahui dosa yang telah dilakukannya. Dengan cepat pikiran-pikiran itu ia tepis. Ia pun meyakinkan dirinya sendiri untuk mengatakan hal tersebut kepada Danu, sebelum pernikahan mereka benar-benar berlangsung. Mia benar-benar ingin berbagi suka maupun duka kepada Danu, agar beban yang ia tanggung selama ini lebih ringan.

Mia berhenti mondar-mandir di ruang tamu rumahnya ketika deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah—mobil Danu. Mia hafal benar suara mesin mobil Danu. Mia pun mempersilakan Danu duduk. Tak lama asisten rumah tangga Mia mengantar segelas the hangat untuk Danu.

Mia ingin mulai mengakui kenyataan yang telah menyiksanya selama ini, namun ia ragu. Tak henti unjung roknya ia remas hingga kusut. Ia pun menghela napas panjang sejenak, dan segera mulai untuk mengatakannya.

“Mia, besok aku ingin mengajakmu,” kata Danu tiba-tiba, Mia menunda pengakuannya.

“Ke mana, Dan?” tanya Mia setelah melepaskan remasan pada rok yang dikenakannya.

“Ke makam ibuku,” sahut Danu seraya menyesap teh.

Dahi Mia kontan mengernyit. “Ibumu? Bukannya ibumu masih …?” Mia urung melanjutkan kalimatnya.

“Itu ibu tiriku. Ibu kandungku sudah meninggal dua tahun yang lalu. Ayah dan Ibu sudah bercerai sejak lama. Aku tinggal bersama Ibu di rumah kami di Bandung. Sampai pada suatu malam setelah kami menghadiri pesta perkawinan anak dari teman Ibu, kami mengalami kecelakaan. Kami mengendarai motor malam itu, dan motor kami menghindar dari pengemudi mobil yang ugal-ugalan yang hampir menabrak kami. Setelah berhasil menghindar, motor kami menabrak sebuah pohon. Setelah aku sadar, Ibu sudah dimakamkan. Entah siapa pengemudi mobil keparat itu, rasa dendam seakan tak bisa luntur mengingat itu semua,” papar Danu dengan nada kesal, “maaf, Mia, aku terlalu emosional,” lanjutnya seraya menekur memegangi dahinya.

Mia kian terpuruk mendengarkan kenyataan yang baru saja dipaparkan oleh Danu, calon suaminya.

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

 

Gunawan Giatmadja

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s