Umar vs. Kopi

2016-03-06 22.15.46

Berjumpa dengan kawan lama kembali adalah salah satu hal yang menyenangkan. Apalagi kawan yang dulu telah memberi kita banyak kenangan manis. Beberapa waktu lalu, kawan kuliah saya dulu, Umar, plesir ke Jogja. Katanya ia hendak menyurvey beberapa obyek wisata di Jogja untuk bisnis barunya, yaitu jasa tour and travel. Saya memintanya untuk dolan ke Jogja pada hari Minggu dengan tanggal yang sudah saya tentukan, agar saya juga bisa ke sana dan berjumpa dengannya. Hari yang saya pilih itu adalah hari di mana saya harus menghadiri pernikahan kawan saya di Wonosobo. Rencananya kami akan menginep di kos Yoga, kawan kuliah kami.

Umar mengatakan akan datang ke kos Yoga pada waktu petang hari, sehabis Magribh, dan tak lupa ia pun bertanya pukul berapa saya akan menyusulnya ke kos Yoga. Saya yang waktu itu sedang menikmati jamuan prasmanan pernikahan kawan saya harus membalas beberapa SMS Umar yang bertubi-tubi macam kereta―setelah me-reject teleponnya berkali-kali.

“Iya, aku sampai kos Yoga Magribh juga kalau gitu,” balas saya agak gusar karena memang Umar cerewetnya sedang kambuh.

Tenan, lho, ya!”

“Iya, Su!”

Yawis, tak tunggu nanti di kos Yoga.”

Tak lama saya menikmati makanan yang ada di piring saya kembali, Umar mulai lagi mengirimkan pesan singkat yang membuat saya harus menghentikan aktivitas saya itu.

“Kose Yoga di mana, Gun? Aku ndak tahu!”

“Jakal!”

“Jakal ngendi?”

“Jakal bagian dhuwur.”

“Daerah ngendi, dekat gua Jepang? Sik jelas gitu, lho.”

Aku mengelus dada meladeni kawan saya yang satu ini. Tapi saya harus bersabar, karena ia sudah berujar berkali-kali untuk main ke Jogja setelah bertahun-tahun meninggalkan kota tempat kami kuliah dulu. Saya sudah lupa kapan terakhir kali Umar datang ke Jogja. Yang saya ingat adalah ia lulus paling cepat di antara kami, atau lebih jelasnya meluluskan diri sendiri yang berakhir diluluskan tidak terhormat oleh kampus. Sedang saya sudah lulus dua tahun yang lalu, dan Yoga masih bahagia menyandang status mahasiswa hingga semester empat belas tahun ini.

“Nanti saja ketemuan di Kenthungan, terus kita mangkat bareng ke kos Yoga.”

“Kirimi nomere Yoga!”

Saya merasa bodoh ketika ide itu baru tercetus. Kenapa tidak dari tadi saya mengirim nomor handphone Yoga. Batin saya. Tapi nasi lauk rendang di piring saya lebih menggugah untuk dinikmati daripada mengeja nomor handphone Yoga saat itu.

Ndang kirimi, Su!”

Jangkrik! Maki saya geram saat sesuap nasi baru masuk ke kerongkongan saya. Akhirnya saya harus mengalah untuk menunda kegiatan makan saya demi mengirimkan nomor hanphone Yoga ke Umar. Setelah hal itu terlaksana, menyantap nasi lauk rendang adalah hal yang paling benar untuk dilakukan.

Nomere ora aktif re!”

Saya abaikan pesan singkat Umar itu. Fokus saya hanya menikmati nasi lauk rendang di piring saya. Tak lama, handphone saya berdering keras, nama Umar berkedip-kedip pada layar handphone. Hal yang paling benar adalah menonaktifkan handphone saya―sebelum melakukan hal yang lebih benar, yaitu menyantap nasi lauk rendang yang nikmatnya luar biasa.

Siang menjelang sore, setelah mengucap selamat kepada mempelai, rombongan kami bergegeas pulang ke Jogja. Pagi tadi rombongan kami berjumpa di Jogja dan berangkat naik mobil sewaan. Itu pun saya harus menunggu beberapa jam sampai mereka semua berkumpul. Kami sepakat untuk berkumpul pukul enam pagi, tetapi baru terealisasi pukul delapan. Ah, jam karet memang sudah jadi budaya. Atau saya yang terlalu bodoh berangkat setelah subuh agar sampai Jogja pukul enam pagi?

Dalam perjalanan pulang, saya menyalakan handphone kembali, dan SMS Umar langsung menyerbu tiada henti. Saya langsung mengabari Umar bahwa saya sedang dalam perjalanan pulang ke Jogja.

Wis, ora butuh, nanti ketemu di kos Yoga wae habis Magrib. Aku wis nelpon Yoga tadi!” Pesan singkatnya tampak ketus, mungkin muak karena baru saya balas sore harinya.

Menjelang Isya, mobil kami tiba di Jogja. Kami pun berpisah setelah makan di salah satu warung tenda di jalan Monjali. Saya langsung bergegas menuju ke kos Yoga, tak enak hati membiarkan Umar lama menunggu di sana.

“Lha Umar mana, Yog?”

Yoga hanya mengangkat bahu dan terus melanjutkan kegiatanya, yaitu mengarsir lukisan realis wajah Fransesco Totti. Yoga adalah kawan saya yang gemar melukis dan fans berat tim sepak bola Italia, AS Roma.

Saya melirik jam di pergelangan tangan kanan saya. Pukul setengah delapan, dan Umar mengingkari janjinya. Saya pun segera mengirimkan pesan singkat padanya.

Kowe nang ngendi, Su? (Kamu di mana?)”

“Aku sebentar lagi sampai, aja kuatir.”

Saya pun memutuskan menunggunya sambil bermain handphone, sedang Yoga masih asyik dengan lukisannya. Hingga pukul delapan, Umar tak menunjukkan tanda-tanda kedatangan.

Sida apa ora, Mar? (Jadi apa tidak?)”

Sida re, sebentar, lagi otewe.”

“Aku mulih! (Saya pulang)” balas saya gusar menanti kawan saya itu.

Asui! Aku jauh-jauh dari Purwodadi, malah kowe meh mlethas mulih! (Kamu mau pergi pulang!)”

Kowe kesuwen! (Kamu kelamaan!)”

“Sabar, re! Iki lagi nyampai Gejayan, sebentar lagi sampai sana.”

Muncul kelegaan di dada saya ketika Umar mengatakan sudah sampai Gejayan yang mana tidak terlalu jauh dengan tempat kami berada.

Yawis, tak tunggu, aja kesuwen.

“Oke!”

Kemudian saya meletakkan handphone setelah meghela napas lelah. Sebatang rokok saya sulut, membuat diri menjadi lebih rileks. Tak lama, Yoga menyusul menyulut rokok dan meninggalkan Totti-nya.

Asu Umar ki, katanya Magribh datangnya, ini sudah jam delapan lebih, belum muncul!” gerutu saya tak surut malah menjadi.

“Lha kowe yang baru nyampai saja mangkel e (geram), apa lagi aku yang sudah dari tadi nunggu.”

Asap rokok mengepul di udara. Menjadi saksi kemuakan kami atas perangai Umar yang gemar dengan jam karetnya.

“Tapi wis mbok kandani kosmu nang ngendi? (Sudah kamu kasih tahu kosmu di mana?)”

“Tadi sudah tak beri ancer-ancer, jawabe ho’a ho’o wae, tak anggep mudeng lah.”

Setelah rokok yang kami isap habis dan saya memutuskan untuk menyulut lagi, handpohoe saya baru bergetar kembali.

“Masuk gang terus ke mana lagi, Gun?”

“Masuk gang terus belok kanan, ndak jauh ada gerbang warna hijau kiri jalan..”

Beberapa saat kemudian hanphone saya bergetar kembali.

“Kos-kosane ciri-cirine apa?”

“Gerbange cat ijo!”

Ora eneng kos-kosan gerbang cat ijo, re!”

Eneng!”

Ora ana, Cuk, juh picek! Alah jemput aku nang ngarep gapura pintu masuk gang waelah!”

Saya pun yang dilanda kelelahan harus mengalah menjemputnya. Kuputuskan untuk berjalan kaki karena jarak yang tak terlalu jauh.

“Masuko gang sampai menthok, aku berdiri di situ.”

“Halah, kowe sing rene waelah!”

“Aku mlaku, Ndes, wis pokoke manut aku!”

Tak lama motor Umar sudah sampai di hadapan saya. Tubuh tambun, kulit gelap, dan raut gusar bercampur lega saya sambut dengan senyum lelah.

“Bajingan … duwe kanca kok kaya kadal, disuruh njemput ora gelem malah nggawekne aku tersesat! (Disuruh jemput tidak mau malah membuat saya tersesat!)”

“Lha tersesat piye?”

“Juh, masuk gang terus kekanan, lha jebul ada tiga gang, re. Kowe ki ora ngomong yen mlebu gang sampai menthok lalu ke kanan, lha aku masuk gang sing pertama re. Juh puwicek tenan, tak ulat-ulatke kok ora eneng gerbang werna ijo, apa salah gang, batinku. Jebul sing ngandani kaya asu! (Saya lihat-lihat kok tidak ada gerbang warna hijau, apa salah, ternyata yang kasih tahu seperti anjing!)” paparnya gusar bercampur tawa.

Saya yang baru menyadari kesalahan saya langsung menggiringnya ke kos Yoga. Tebersit rasa malu dalam benak. Tapi saya langsung mengalihkan perhatian dengan menanyakan perjalanannya dari Purwodadi ke Jogja.

Yoga telah menyiapkan teh panas untuk tamu agung kami. Umar langsung mengambil posisi duduknya dan menyalakan sebatang rokok. Puji dan kekagumannya terlontar saat memandangi lukisan-lukisan Yoga yang terpampang pada dinding kamar kos Yoga.

“Kok suwe e, Mar?” tanya Yoga lugas.

Umar pun menceritakan kegiatannya menjelajah beberapa pantai di Gunung Kidul. Ia juga bercerita bisnis tour and travel yang baru dirintisnya. Dengan takzim kami mendengarkannya meracau tentang pantai-pantai dan beberapa obyek wisata tersebut.

“Asline pas aku ngomong tekan Gejayan mau, aku ijik nang UAD, tempate ponakanku,” cetusnya terbahak.

Juh, tukang ngapusi kowe ki!”

Lha piye re, diparani malah ngomong mulih, puwicek tenan! (Didatangi malah bilang pulang!)”

“”Lha kowe ki suwene ngepol e. Asu tenan!”

Ia hanya menanggapi gerutu saya dengan gelak tawanya yang khas.

“Ngopi, yo!” ajaknya tiba-tiba yang membuat saya langsung menghela napas berat. Sejujurnya saya kelelahan luar biasa.

Apa kowe ora kesel, ye? (Apa kamu tidak capek?)” tanya saya pasrah.

“Loh, lha meng ngopi ora gawe tambah kesel, ta,” ujarnya enteng, “ayo, ta, aku suwe banget, lho ora nang Jogja,” rayunya setelah melihat raut kuyu di wajah saya.

Aku mengadu pandang dengan Yoga. Dia hanya mengangkat bahu tanda terserah. Kami pun langsung bergegas ke kedai kopi tak jauh dari kos Yoga. Tempatnya kecil, dan hanya terdapat beberapa meja saja. Beberapa tulisan serta lukisan menghiasi dinding kedai kopi itu. Kami pun langsung memesan kopi pada barista nyentrik dengan senyum ramah di balik alat-alat pembuat kopinya. Umar memesan kopi kembang yang sepertinya memiliki nama kapucino; Yoga memesan susu coklat setelah berkata tidak terlalu suka kopi; sedang saya berpikir sejenak dan baru memutuskan memesan kopi tetes, itu pun masih ditanya pilih jenis kopi apa. Saya yang buta tentang kopi hanya asal pilih saja, setidaknya mencoba menjadi penikmat kopi sejati.

Tak lama pesanan kami selesai dibuat, dan kami pun mulai mengambil kopi-kopi pesanan kami di meja barista.

Ora enak!” ujar Umar setelah mencicipi kopi kembangnya.

Ia menjulurkan lidahnya beberapa kali. Kontan dahi saya mengerut heran atas komentarnya tentang kapucinonya itu. Setahu saya, kopi itu terkenal enak, atau setidaknya bisa dibilang lumayan.

“Coba punyamu, Gun,” cetusnya dan langsung menyeret kopi saya.

Diamatinya dengan saksama kopi saya yang tengah menetes perlahan-lahan dari wadah perak ke dalam gelas yang ada di bawahnya.

“Juh, iki carane ngombe piye? (Caranya minum bagaimana?)” gumamnya bingung.

Saya hampir terbahak, tapi setelah saya perhatikan, ternyata saya pun jauh dari tahu tentang kopi macam ini. Malu hati ini mengakuinya, apalagi bertanya ke baristanya, untuk sekadar tahu tentang cara meminum kopi yang sudah saya pesan. Saya pun melirik ke meja seberang yang terpaut satu meja dari kami. Meja itu ditempati empat perempuan cantik. Kebetulan tiga dari empat di antaranya meminum kopi yang sama dengan kopi yang saya pesan. Wadah perak itu mereka letakkan di nampan beling putih, dan mereka meminum kopi dalam gelas hasil tetasan wadah perak itu.

Ngene, lho,” saya pun meletakkan wadah perak di atas nampan beling yang langsung merekat rapat, “nah, gini, lagi diminum.”

Umar menatap lamat-lamat gelas saya. “Sik, kayake udu ngono, Gun! Kayake ngombene soko kene langsung,” paparnya menunjuk wadah perak di atas nampan kecil itu.

Udu, Su, deloken mbak-mbak kae, ngombene, ya, soko gelase! (lihat mbak-mbak itu minumnya dari gelasnya).”

Tak butuh waktu lama untuknya menyetujui apa yang saya katakan. Diseruputnya kopi saya itu. Lidahnya langsung menjulur, dan matanya kontan terkatup rapat-rapat.

Asu … puwaite, pol! Rasane kaya uyuh jaran! (Rasanya seperti kencing kuda).” komentarnya lirih tapi lugas.

Wo, wong ramudheng kopi, nyupute ki alon-alon, Cuk.” saya pun langsung meraih gelas kopi saya dan menyeruputnya perlahan. Jancuk, pahit! Batin saya.

Piye, kaya uyuh jaran, ta?”

Saya tak mungkin mengakui bahwa kopi yang saya pesan rasanya seperti yang dikatakan Umar. Dengan raut tenang dan beberapa anggukan kepala, saya puji-puji kopi tetes saya itu.

“Enak … racikannya mantap! Kowe wae sing ramudheng kopi, ora isoh ngrasakne sejatinya kopi.”

Juh, picek! Wis ngombe kopine mikir ngombene kepiye, bareng bisa ngombene rasane kaya uyuh jaran, (sudah minumnya disuruh mikir, rasanya seperti kencing kuda,)” cibirnya lugas, “coba rasakno, Yog!’ tawarnya ke Yoga.

Dengan sigap Yoga mengangkat tangannya. “Wis aku iki wae,” jawabnya menunjuk susu coklat miliknya.

Lha kowe wae sing kampungan, Cuk, dhelok en mbak-mbak kae pesene padha kopi kaya ngene.

Juh, cen semakin modern semakin susah cara nikmati donya. Semakin akeh juga wong pekok pesen kopi uyuh jaran, padahal dandanane ayu-ayu ngana. Ketoke cah kuliahan kae. Ah, paling kae, ya, ramudheng nikmati kopi uyuh jaran iki.”

Asuik! Kowe ki meng pekok kopi kok ngeyel. Semakin modern ki semakin akeh cara atau sudut pandang menikmati donya. Lha kowe memahami hal meng njobone thok. Mulane yen kuliah ki mlebu, ora mung titip absen wae. Luluse cepet dewe, ta …” cibir saya tergelak.

Lulus mbahmu ngligo kui. Sing penting, pernah nyicipi dadi asdos, re,” sahutnya diiringi tawa yang berderai.

Asdos silit!

Mendengar penuturannya, tawa saya kian menjadi. Terlebih mendengar makian “Mbahmu ngligo”. Bagi orang Jawa, itu adalah makian dengan diksi out of the box. Diksi yang sangat jarang digunakan.

“Eh, delok en mbak-mbak kae … ayu-ayu, ya?

“Kowe ki wes nduwe bojo, Mar, jik pengen, pa?”

Ora, re, aku ki nduduhke kowe kok. Gage cedak i, Gun, sopo ngerti jodhomu, lho.”

“Preklah.

“Tapi kok padha betah main kertu, ya, gek wadon kabeh sisan,” kemudian ia mendekat ke arah kami, lalu berujar lirih, “aja-aja kae padha LGBT, ya?” lanjutnya terbahak kemudian.

Lha kowe iso mikir kaya ngono, kemungkinan besar mereka juga mikir kaya ngono tentang kita.”

Juh, mulane Gunawan ra gelem nyedak i, homo ne ora mari mari ngono kok (Tidak mau mendekati, homo tidak sembuh-sembuh).”

Kemudian tawa mereka berderai tak henti-henti.

Saya pun hanya bisa berkomentar, “Taingasulah!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s