Pensiun

Cahaya mentari mulai menyelinap melalui ventilasi rumah pria yang usianya mulai menapak senja itu. Senin pagi yang begitu cerah, secerah hatinya yang diselimuti kobar semangat. Pria itu sibuk mematut diri di depan cermin kamarnya. Baju berwarna krem telah membalut tubuhnya dengan anggun. Disisirnya rambut yang mulai memutih itu. Wah, kok mulai putih lagi, harus nyemir lagi ini. Batinnya seraya mengusap samar ubannya. Memang biasanya ia menyemir rambutnya ketika uban mulai tumbuh, agar terlihat lebih muda. Ketika ia tengah sibuk mematut diri, istrinya muncul menghampirinya. Wanita yang telah mendampingi hidupnya selama 33 tahun itu terperanjat dengan apa yang dikerjakan suaminya.

“Bapak mau kemana?” tanya sang istri dengan dahi mengerut.

Pria itu menyunggingkan senyum. Gigi palsu menghiasi senyumnya. “Walah, Buk, pertanyaanmu, kok, aneh? Yo ngajar, tho. Ini hari Senin, ada upacara bendera, Bapak ndak mau terlambat, Buk,” sahutnya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan istrinya.

Wanita itu dengan sabar menghampiri suaminya. Tanpa sadar tangan tuanya ikut merapikan baju suaminya. Kemudian didudukkannya pria yang dicintainya itu di tepi dipan kamar mereka. “Duduk dulu, Pak.”

Wajah pria itu tampak heran atas perangai istrinya, namun ia tetap menuruti apa yang dilakukan istrinya. Dipandanginya wajah sang istri dengan penuh kasih sayang. “Ada apa, tho, Buk?” Senyum damai terulas di bibirnya.

Mata wanita itu menatap mata suaminya lekat-lekat. “Pak, Ibuk minta maaf harus mengingatkan Bapak, sebaiknya Bapak di rumah saja. Ibuk juga sudah memasak buat Bapak,” kata istrinya lembut.

“Lha memangnya kenapa, tho, Buk? Ini tahun ajaran baru, ada upacara bendera, mosok Bapak ndak berangkat? Bapak ini sudah kangen sama murid-murid Bapak,” papar pria itu menanggapi perkataan istrinya yang tak ia pahami.

“Pak, mulai tahun ini ‘kan Bapak sudah ndak ngajar lagi? Bapak ‘kan sudah pensiun, tho, Pak?”

Astagfirullah …” Pria itu terkesiap. Wajah tuanya mendadak sendu.

“Seiring hari Bapak pasti akan terbiasa,” tukas istrinya seraya mengusap pundak pria itu berulang kali. Di dalam hati wanita itu, terpahat rasa ketidaktegaan untuk meninggalkan suaminya sendirian di rumah, namun ia juga tak akan mengabaikan kewajibannya untuk mengajar.

“Iya, Buk,” sahut pria itu menekur. Cahaya dari matanya redup seketika.

“Ya sudah, Pak, Ibuk pergi ngajar dulu, Ibuk sudah masak buat Bapak, kopi Bapak juga sudah Ibuk buatkan. Ibuk tinggal, ya, Pak,” ucap sang istri sambil mencium tangan suaminya.

Pria yang usianya menginjak angka 60 tahun itu bernama Joko. Ia adalah mantan guru Kimia di salah satu sekolah menengah atas negeri di kotanya. Anak didiknya sering memanggilnya Pak Jok. Kini, ia telah resmi pensiun dari dunia pengajaran. Sedangkan istrinya yang juga seorang pengajar di sekolah berbeda masih memiliki sisa waktu kurang lebih tujuh tahun lagi sebelum pensiun.

Pria itu termenung sendirian di beranda rumahnya. Sesekali ia sesap kopi dari gelas besar miliknya. Kesepian mulai tampak di keningnya setelah menyadari bahwa ia tak lagi mengajar. Entah apa yang akan ia lakukan selama istrinya mengajar, ia pun tak tahu. Pun dengan hari-hari setelah hari ini. Ia mulai teringat dengan masa-masa ketika ia masih menekuni profesi yang digelutinya sejak puluhan tahun lalu tersebut. Ia ingat beberapa tahun lalu ketika ia menjadi wali kelas dari salah satu kelas XI di sekolahnya. Kala itu anak-anak didiknya memenangkan perlombaan tamanisasi antar kelas yang digelar oleh pihak sekolah. Mereka pun mendapatkan sebuah piala dari kepala sekolah. Sebagai wali kelas, ia pun turut bahagia atas keberhasilan anak-anak didiknya tersebut. Dibopongnya piala itu tinggi-tinggi ketika seorang fotografer mengabadikan momen membahagiakan itu. Sang fotografer dengan cekatan memotret dirinya bersama para anak didiknya di depan taman yang dimenangkan anak-anak didiknya. Kini foto itu terpajang di dinding rumahnya bersebelahan dengan foto-foto yang lain. Ah, andai masa lalu bisa terulang, ia ingin mengulangi momen tersebut.

Selipan ingatan lain yang menghampirinya adalah ketika ia mendapatkan hadiah sepatu pantofel dari kepala sekolah karena ia terpilih sebagai guru favorit di sekolah yang ditetapkan melalui voting siswa. Entah mendapat ide darimana kepala sekolah yang baru itu membuat agenda macam itu, yang pasti itu amat membuat hatinya bahagia.

Senyum benar-benar terulas dari bibirnya ketika mengingat semua kejadian demi kejadian yang kini telah menjadi kenangan itu. Kerinduan kepada para anak didiknya benar-benar ia rasakan. Tawa dan canda anak didiknya terus membayang di kepalanya. Ah, andai ia masih mengajar hari ini, pasti kerinduannya terobati.

Kebahagiaan-kebahagiaan yang telah ia lalui selama menjadi seorang guru terus membayang di kepalanya. Namun tak jarang pula ia mengingat kejadian-kejadian yang mengiris hatinya. Ia jadi teringat tentang seorang anak didiknya yang harus dikeluarkan dari sekolah karena terlampau banyak membolos. Padahal berulangkali ia telah mencoba membujuk anak didiknya tersebut untuk tetap masuk sekolah dan mencoba meminta keringanan kepada pihak sekolah, tapi apa daya si anak tetap enggan untuk bersekolah yang mengakibatkan pihak sekolah memutuskan mengeluarkan anak tersebut. Perasaan sedih benar-benar menimpa dirinya kala itu. Meski sempat merasa seakan menjadi seorang guru yang gagal, setidaknya ia telah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu anak itu untuk melanjutkan sekolahnya.

Ingatan-ingatan lain yang mengiris hatinya mulai berdatangan. Ia teringat kala anak-anak didiknya dari kelas yang telah bersamanya meraih juara lomba tamanisasi sekolah pada tahun sebelumnya menampakkan ketidaksukaan terhadapnya lantaran mereka menganggap ia telah menghasut panitia lomba tamanisasi untuk mengubah peraturan. Pada tahun sebelumnya ia menjadi wali kelas anak-anak yang memberinya kebahagiaan itu, setelah setahun berselang, ia tak lagi mengampu anak-anak tersebut sebagai wali kelas mereka. Perseteruan terjadi ketika panitia lomba yang awalnya adem-adem saja mendadak membuat peraturan baru yang menyatakan bahwa tanaman yang dibawa ke sekolah tidak boleh dibawa pulang kembali, pernyataan yang seakan sebagai sebuah tuduhan kepada tindakan yang akan dilakukan anak-anak itu setelah perlombaan usai. Anak-anak itu menganggap dirinyalah yang menghasut para panitia lomba untuk mengubah peraturan. Meskipun berhasil meraih juara—juara ketiga—namun perseteruan itu tak kunjung usai hingga lambat laun berakhir, samar-samar menghilang. Ah, berseteru dengan anak-anak didik membuatnya berjiwa muda kembali.

Ia juga teringat tentang kejadian ketika ia menghukum salah satu anak didiknya lantaran tak berangkat pramuka. Yah, ia memang aktif dalam kegiatan pramuka sekolah, ingin total bersama anak-anak, katanya. Kala itu, ia menghukum salah satu anak didiknya berlari keliling lapangan sebanyak tiga kali ketika pelajaran sekolah berlangsung. Ia tetap mengajar seperti biasa sambil sudut matanya sesekali mengawasi jalannya hukuman tersebut. Tak lama berselang, anak didiknya itu menghadap kepadanya dengan mengaku telah menjalankan hukuman yang diberikannya. Ia yang merasa mengawasi anak itu menjalankan hukuman dari tepi jendela mengatakan tak percaya atas apa yang telah dikatakan anak tersebut. Dengan tegas ia mengatakan bahwa anak itu telah berbohong.

Anak itu pun geram dan melontarkan perkataan yang amat mengiris hatinya. “Bapak ibuku saja ndak pernah nyuruh saya kayak gini, Pak, kok malah Bapak yang bukan siapa-siapa saya berlaku semena-mena!” seru anak itu kemudian pergi.

Ah, apabila mengingat ucapan itu hatinya seakan teriris kembali. Memang setelah kejadian itu ia berbesar hati meminta maaf kepada anak didiknya itu, setelah anak itu beberapa kali tak mengikuti pelajaran yang diampunya. Namun, entah mengapa mengingat hal tersebut hatinya tetap teriris.

Ingin rasanya ia memarahi anaknya kandungnya sendiri, menghukumnya bila salah, mendidiknya dengan petuah-petuahnya. Tapi … Ah, hal yang selalu membuat gundah hatinya.  Sejujurnya ia amat sedih menyadari bahwa pernikahan yang selama ini ia jalani bersama sang istri terasa kurang lengkap karena ketidakhadiran sang buah hati. Yah, sampai usianya menapak senja ia belum juga dikaruniai seorang anak. Kadang ia merasa kesepian, namun sang istri selalu menguatkan hatinya, pun dirinya yang juga selalu menguatkan sang istri. Mereka saling menguatkan satu sama lain.

Setahun lalu ia dan istrinya menunaikan ibadah haji. Ia memang tak banyak memanjatkan doa, hanya ingin diberi kebahagiaan dan kesehatan selalu dalam mengarungi kehidupan bersama sang istri. Ia seakan merasa lelah untuk berdoa agar dikaruniai buah hati. Meskipun ketika sepulang ibadah haji tak ada yang menyambutnya, namun ia tetap menyadari benar bahwa tanpa kehadiran anak dalam keluarganya, ia dan istrinya tetap bahagia. Sudah cukup hidup dikelilingi anak-anak didiknya yang begitu ia sayangi, yang membangkitkan gairah hidupnya setiap hari. Tetapi kini semua telah berlalu, ia mulai merasa kesepian tanpa anak-anak didik yang mewarnai hidupnya tersebut. Entah apa yang akan ia lakukan untuk mengisi hari-harinya yang mulai hampa itu.

Tak lama berselang sebuah mobil berwarna merah memasuki pekarangan rumahnya. Seketika dahinya mengerut menerka-nerka siapa yang mengunjunginya. Setelah terparkir, pintu mobil dibuka. Seorang pria paruh baya muncul dengan menyunggingkan senyum damai. Ia terkesiap melihat rupa pria yang dilihatnya tersebut.

“Handoyo?” pekiknya.

“Halo Jok, piye kabarmu?” sahut sang tamu.

Ia pun mempersilakan tamunya itu duduk setelah mereka berpelukan. Pria itu adalah sahabat lamanya.

***

“Bapak mau kemana pagi-pagi sudah rapi begitu?” tanya sang istri.

“Bapak mau ngajar, Buk,” jawabnya mengulas senyum. Dahi istrinya langsung berkerut mendengar jawabannya. “Bapak mau ngajar di sekolah swasta, Buk, Handoyo kawan Bapak menawari Bapak pekan lalu, kebetulan dia kepala sekolahnya. Dari pada di rumah ndak ngapa-ngapain, ya, Bapak bersedia, Buk.”

Alkhamdulillah.”

Klaten, 2015

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

Gunawan Giatmadja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s