Cinta Monyet Sialan!

Tak henti-hentinya Dulah memeluk erat benda yang baginya sangat berarti itu. Sebuah benda yang ia temukan di dalam kotak kecil kolong lemari, bercampur dengan benda-benda lusuh lain milik istrinya. Air yang mengucur dari sudut matanya benar-benar tak bisa ia bendung. Ia merasa menjadi seorang pria paling bodoh dari seluruh pria di muka bumi ini. Tak lama kemudian, ia pun meluncur cepat mengendarai sepeda motornya.

“Memang sebaiknya kita bercerai saja, Dul, aku tak sanggup lagi menjalani pernikahan yang selalu mengikis hatiku secara perlahan,” ujar istrinya beberapa jam yang lalu.

Dulah menatap lekat istrinya. Tak ada sahutan dari bibirnya—tidak menolak, tidak pula mengiyakan.

“Maafkan semua kesalahanku selama ini, aku juga memaafkan kesalahanmu terhadapku, semoga ini keputusan terbaik yang kita ambil … aku akan segera mengajukan surat gugatan perceraian kita ke pengadilan agama, Dul. Terima kasih untuk semuanya,” lanjut istrinya sebelum pergi meninggalkannya. Dulah hanya terdiam merenungi rumah tangganya yang tengah berada di ujung tanduk.

Pernikahan Dulah dengan istrinya hanya berlangsung selama dua tahun. Mereka memang tak banyak cek-cok dalam berumah tangga, namun juga tak semesra pasangan suami istri kebanyakan. Dulah mengenal istrinya, Kiran, baru beberapa bulan sebelum pernikahan mereka digelar. Tak butuh waktu lama untuk memutuskan menikah, atau bisa dibilang yang memutuskan pernikahan bukanlah Dulah ataupun Kiran, melainkan orangtua mereka. Awalnya Dulah tak mau dijodohkan, namun karena tak ada alasan untuk menolak, ia pun akhirnya menurut.

Dulah tak pernah merasa mencintai Kiran dalam rumah tangga mereka. Dipungkiri atau tidak, hal itu dikarenakan suatu alasan yang terdengar cukup ganjil. Dulah merasa masih mencintai seorang gadis yang didambanya puluhan tahun lalu. Gadis yang ia kenal ketika usianya masih teramat belia. Semua itu hanya cinta monyet, cinta anak-anak ingusan yang akan berubah seiring waktu. Pikir Dulah berkali-kali. Celakanya sampai dewasa rasa cinta itu tak urung hilang dari hatinya.

Dulah ingat benar ketika ia dan teman-temannya—termasuk gadis yang didambanya itu—bersama-sama memadu tawa puluhan tahun lalu. Dulah ingat ketika ia dan gadis yang didambanya itu melangsungkan permainan nikah-nikahan ala anak-anak belia bersama kawan sepermainan mereka. Meskipun itu hanya sebuah permainan belaka, namun muncul sebuah rasa yang tak bisa ia sebut atau namai. Rasa bahagia yang lebih dari bahagia biasanya. Ketika usianya mulai menginjak remaja ia baru tahu bahwa rasa itu dinamakan cinta. Ah, anak ingusan mana tahu cinta? Batinnya dengan berkali-kali mengenyahkan rasa yang terpahat dalam hatinya tersebut seiring usianya yang kian dewasa. Celakanya cinta monyet yang ia alami itu tak bisa ia hapus dari lubuk hatinya hingga usianya tak lagi belia, meskipun telah lama ia terpisah jarak dengan gadis dambaan hatinya tersebut. Ya, Dulah terpisah dengan gadis cinta monyetnya itu ketika mereka bedua menginjak kelas empat sekolah dasar. Katanya, gadis idamannya itu pindah ke Yogyakarta mengikuti jejak kedua orangtuanya. Mereka meninggalkan Samarinda sejak saat itu dan tak kembali lagi hingga sekarang. Saat itu yang dirasakan Dulah adalah kehampaan. Entah perasaan bernama apakah itu yang pantas ia sebut ketika rasa sepi berkecamuk dalam hatinya. Yang pasti setelah hari itu ia benar-benar merasa kehilangan sosok yang membuatnya bersemangat itu.

Dulah ingat saat ia berhasil memperoleh ranking tiga di kelasnya yang tak pernah ia raih sebelumnya. Entah mengapa setelah perasaan itu muncul, ia jadi sering mencuri pandang ke arah gadis itu, dan entah mengapa pula ia jadi rajin belajar untuk bisa masuk peringkat tiga besar di kelasnya—bersama gadis cinta monyetnya itu yang selama bertahun-tahun selalu juara kelas.

Atas pencapaiannya memperoleh ranking tiga di kelasnya, Dulah diberikan hadiah oleh ayahnya, apapun yang diinginkannya—asal masih masuk akal untuk anak seusianya. Ia pun berpikir berkali-kali terkait hadiah apa yang benar-benar diinginkannya. Pada akhirnya ia meminta sebuah alat musik tiup yang pernah ia lihat pada tayangan layar televisi rumahnya. Harmonika.

Dulah tak mahir memainkan harmonikanya. Bahkan ia tak pernah membayangkan untuk memainkan alat musik itu sebelumnya. Sejatinya ia meminta hadiah harmonika itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk diberikan kepada gadis yang begitu didambanya itu. Hadiah itu adalah hadiah pertama dan terakhir yang ia berikan kepada Rana, sebelum gadis cinta monyetnya itu benar-benar pergi dari hidupnya. Jika mengingat semua kenangan itu, rasa geli menjalari tubuhnya. Ah, cinta monyet.

“Tetapi aku tak bisa memainkan harmonika, Abi” kata gadis itu ketika Dulah menyerahkan harmonika tersebut—panggilan Abi diambil dari nama panjang Dulah, Abdulah, hanya Kiran yang memanggilnya begitu.

“Kaupunya banyak waktu untuk belajar, sampai kita bertemu kembali, Rana,” tukas Dulah menyunggingkan senyum.

“Aku tak tahu apakah kita bisa berjumpa kembali atau tidak,” sahut gadis itu menekur, sendu membayang di wajahnya yang manis.

“Aku yakin kita akan berjumpa kembali, Rana, entah itu setahun lagi, dua tahun lagi, atau ketika kita sudah dewasa kelak,” balas Dulah yakin.

Gadis itu mendongakkan kepalanya, seketika sebuah senyum manis terulas pada bibirnya. Senyum itu membuat hati Dulah bergetar hebat. Senyum yang pasti dirindukan Dulah hingga dewasa.

“Aku akan merindukan kaubernyanyi, Rana, apalagi dengan lagu yang kaunyanyikan di depan kelas tempo hari, apa judulnya?”

Some where over the rainbow.”

“Ya, lagu itu.”

Mereka pun terdiam sejenak. Kecanggungan mulai tampak pada wajah keduanya.

“Jika kita bertemu lagi, aku akan memainkan lagu itu dengan harmonika ini, Abi,” ucap gadis itu setelah menghela napas panjang.

“Kauberjanji, Rana?”

“Ya, aku berjanji, Abi.”

Setelah hari itu Dulah tak berjumpa lagi dengan gadis idaman hatinya tersebut. Setahun, dua tahun, tiga tahun, sampai Dulah lulus sekolah menengah atas, gadis cinta monyetnya itu tetap tak pernah kembali lagi. Sedikit pun Dulah tak lupa akan gadis itu, bahkan ia tak mempercayai bahwa rasa cintanya tetap terpatri untuk gadis cinta monyetnya tersebut. Berkali-kali ia menyakinkan dirinya bahwa semua yang dirasakannya hanyalah cinta monyet belaka, berkali-kali ia mengubur cinta masa kecilnya tersebut dalam-dalam dengan berpikiran gadis yang dicintainya itu telah melupakannya dan menjalin cinta dengan pria lain. Tetapi rasa cinta itu tetap terpatri di hatinya, ia tak pernah bisa merasa jatuh cinta seperti yang ia rasakan pada gadis cinta monyetnya tersebut. Cinta monyet sialan! Seharusnya semua itu hanyalah cinta semu belaka, tapi mengapa rasanya masih tetap ada? Sialan! Makinya dalam hati. Ia benar-benar tak percaya di hatinya masih tertanam perasaan itu, meskipun usianya mulai menginjak dewasa.

Setelah lulus dari bangku sekolah meengah atas, Dulah pun melanjutkan kuliahnya. Entah mengapa ia merasa ingin melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sekaligus mencari gadis yang didambanya sejak belia. Ia merasa Tuhan telah membukakan jalan baginya untuk bertemu kembali dengan gadis cinta monyetnya tersebut.

Setelah bertahun-tahun kuliah di Yogyakarta, tak sekalipun Dulah berjumpa dengan gadis yang didambanya itu. Ia paham benar bahwa hanya sedikit kemungkinan ia bisa bertemu dengan gadis cinta monyetnya itu, terlebih setelah dewasa mungkin ia tak lagi bisa mengenali wajah gadis idamannya tersebut. Namun ia masih percaya bahwa ia akan bertemu dengan gadis itu entah melalui keajaiban macam apa.

Dulah menghabiskan waktu lima tahun untuk menyelesaikan kuliahnya. Selama lima tahun itu pula ia telah berusaha mencari gadis cinta monyetnya tersebut. Entah mengapa selama lima tahun itu ia tersadar telah melalui waktu yang sia-sia untuk mencari gadis cinta monyetnya, yang bahkan wajahnya pun tak ia tahu.

Dulah belum bisa jatuh cinta lagi seperti yang ia rasakan dulu, meski ia lupa rasanya. Ia belum bisa melupakan senyum gadis masa kecilnya itu. Mungkin kalau dikatakan yang sebenarnya, ia bukannya tak bisa melupakan gadis idamannya tersebut, melainkan tak mau melupakannya. Namun keputusasaan menghampirinya setelah selama lima tahun ia menunggu keajaiban untuk bertemu kembali dengan gadis cinta monyetnya tersebut. Keputusasaan yang berbalut kesadaran.

Setelah lulus kuliah, Dulah pun pulang ke kampung halamannya di Samarinda. Bekerja sebagai staff acounting pada salah satu perusahan di kotanya. Saat itu pulalah ayah Dulah mulai mencecar berbagai pertanyaan yang membuatnya sedikit limbung.

“Dulah, apa kau masih suka pada perempuan?” tanya ayahnya lugas.

Dulah sedikit terperanjat mendengar pertanyaan ayahnya. “Tentu saja, Ayah!” sahutnya cepat.

“Apa kaupunya kekasih, Dulah?” Dulah menggeleng. “Ada wanita yang telah mengisi hatimu?”

Dulah menimbang-nimbang pertanyaan tersebut. Ia merasa tak layak mengatakan bahwa ia mencintai gadis yang ia cintai ketika masih kecil, bahkan kabar gadis itu pun ia tak pernah tahu. “Tidak, Ayah.”

Ayahnya mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Memahami apa yang harus dilakukannya untuk sang anak. Dulah dijodohkan dengan anak kolega ayahnya yang tinggal di Palangkaraya. Dulah yang awalnya tak mau akhirnya tak bisa menolak keinginan ayahnya. Daripada terus meratapi cinta monyet sialan lebih baik mengikuti kemauan Ayah. Pikirnya.

Dulah pun akhirnya menikah dengan anak kolega ayahnya tersebut. Wanita itu berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah dasar di kotanya. Mereka hanya bertemu beberapa kali. Tak ada yang spesial dari pernikahan mereka. Meskipun sulit, Dulah selalu berusaha belajar mencintai sang istri. Sedang sang istri secara total mencurahkan perhatiannya kepada sang suami, laiknya istri kebanyakan.

Lambat laun pernikahan mereka terasa hambar. Dulah benar-benar tak bisa melupakan gadis cinta monyetnya. Semakin hari ia semakin bersikap dingin kepada sang istri. Berkali-kali sang istri menanyakan perihal sikapnya, namun ia selalu menjawab dengan beralasan “sedang dirundung lelah”. Sampai pada akhirnya sang istri mengambil keputusan akan menggugat cerai dirinya. Ia hanya terdiam, tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

***

Dahi Kiran mengernyit ketika membuka pintu rumah orangtuanya.“Ada apa lagi, Dul?” tanya Kiran acuh tak acuh.

“Kiran, aku minta maaf untuk semuanya, bersediakah kau kembali memulainya dari awal denganku?” tutur Dulah penuh harap.

Kiran terkesiap, setengah tak percaya atas apa yang dilihatnya. “Begitu mudahnya kaubicara, Dul, kenapa baru sekarang kaupeduli dengan pernikahan kita?” Mata Kiran menatap Dulah dalam-dalam. Sorot matanya mencabik hati Dulah, menenggelamkannya dalam ranah penyesalan.

Mata Dulah mulai panas. “Kiran, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf, aku menyesal … aku mohon berilah kesempatan untukku.” Suara Dulah mulai parau, air matanya mulai mengalir, pun air mata istrinya yang buru-buru disekanya.

“Maafkan aku, Dul, aku tetap akan mengajukan gugatan cerai.” Kiran berpaling dari Dulah, seakan ingin menjauh dari kelemahannya sendiri.

“Aku mencintaimu, Kiran, aku amat mencintaimu …” tukas Dulah tegas. Hati Kiran tersentak mendengar penuturan suaminya itu, ini kali pertama ia mendengar kalimat cinta dari suaminya. Dinding hati yang ia bangun sedemikian rupa pun runtuh perlahan, namun ia terus mencoba mencegahnya.

“Kiran, atas nama Tuhan dan kedua orangtuaku, aku berjanji akan membahagiakanmu apabila kau bersedia memberiku kesempatan lagi. Aku akan memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya untuk memberikanmu kebahagiaan. Ini pertama kalinya aku mengucapkan janji kepadamu dengan sepenuh hatiku. Jika sikapku nanti tak berubah, aku siap kehilanganmu, aku siap …”

“Cukup, Dul, cukup …” sela Kiran terisak, dinding hatinya benar-benar telah luluh lantak. Keadaan hening beberapa saat, hanya isak tangis Kiran yang terdengar. Cukup lama Kiran menangis tersedu, sebelum mengatakan apa yang menggempur dinding hatinya. “Aku bersedia, Dul, aku bersedia memulai hubungan kita kembali,” ungkapnya parau diiringi isak tangis.

Dulah menghampiri tubuh Kiran, memeluknya erat dengan penuh cinta cukup lama. Setelah ia melepaskan pelukannya, ia mengeluarkan benda yang begitu berharga baginya. “Kirana … Kiran … Rana … cinta pertamaku, cinta terakhirku, cinta sejatiku … aku amat mencintaimu, lebih dari yang kautahu, bahkan lebih dari yang aku sendiri pahami … Maukah kau memainkan lagu some where over the rainbow dengan harmonika ini?” pinta Dulah seraya menyerahkan sebuah harmonika. Dulah baru menyadari bahwa Kiran adalah Rana, cinta monyetnya yang hilang, ketika ia menemukan harmonika lusuh itu.

Kiran terkesiap melihat harmonika itu. Dahinya mengernyit menatap mata Dulah.

“Aku menemukannya di dalam kotak di bawah lemari kamar kita,” ungkap Dulah seakan ingin menjawab pertanyaan yang tersirat dari wajah Kiran. Dulah bukan hanya menemukan harmonika tersebut, namun juga menemukan cinta monyetnya yang lama hilang, cinta sejatinya.

“Dulah? … Abdulah? … Abi?” seru Kiran digenangi air mata.

Dulah langsung menekap erat tubuh Kiran. “Aku mencintaimu, Kiran … sangat mencintaimu.”

Tubuh Kiran kaku. Ia terpaku dengan mata terbelalak.  Dadanya kian nyeri mendengar semua itu. Tubuhnya hampir luruh menyadari bahwa suaminya adalah pria yang selama lima tahun terakhir diceritakan sahabatnya Rana. Ya, Rana adalah sahabat kuliahnya di Bandung. Rana memberikan Harmonika itu padanya karena Rana ingin terlepas dari bayang-bayang masa lalu, bayang-bayang masa kanak-kanak.

Klaten 2015

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

Gunawan Giatmadja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s