Penegak Hukum Sejati

Mobil berwarna hitam yang mereka tunggangi mendarat di pekarangan sebuah rumah megah setelah ada dua orang penjaga membuka gerbangnya. Rumah mewah itu memiliki pagar yang tinggi sehingga tak seorang pun bisa melihat dari seberang jalan. Ia bersama kedua rekannya—yang lebih senior—turun dari mobil. Matanya langsung menanap menatap rumah mewah dengan pilar-pilar besar sebagai penyangganya tersebut. Tanpa diberi aba-aba, tungkainya berderap mengikuti langkah kaki kedua rekannya menuju pintu rumah mewah tersebut. Dua orang penjaga mengangguk hormat lantas membukakan pintu besar rumah tersebut. Setelah pintu dibuka, matanya terbelalak mendapati banyak sekali orang memegang kartu-kartu remi bergerombol di setiap meja. Tak hanya itu, ia juga melihat permainan putaran judi yang juga dikerubungi banyak orang, serta permainan-permainan judi yang lain sepaket dengan gadis-gadis berpakaian minim yang masing-masing memegang botol wiski. Bau keringat dari para manusia itu menusuk hidungnya, ia merasa tak nyaman dengan aroma yang menguar dari tubuh para penjudi tersebut. Matanya masih mengamati orang-orang di sekelilingnya bersuka ria dengan permainan-permainan perjudian tersebut.

Tak pernah kukira ada tempat semacam ini di daerah kumuh ini, sialan! Batinnya meracau. Tak berselang lama, seorang pria ceking berambut ikal menyambut mereka dengan ramah. Senyum hormat yang pria ceking ulas dari bibirnya itu disambut datar oleh kedua rekannya.

“Silakan, Pak, sudah ditunggu Bos,” ujar pria ceking tersebut seraya menunjukkan jalan.

Ia dan kedua rekannya itu pun mengikuti langkah kaki pria ceking itu menuju ruangan yang berada di lantai atas rumah tersebut. Berkali-kali ia mendengar desah demi desah dari balik pintu-pintu kamar yang mereka lewati. Rumah bordil sialan! Makinya dalam hati.

Setelah melewati beberapa koridor, mereka masuk ke salah satu ruangan. Ia melihat seorang pria tambun berkumis tebal tengah duduk di kursi empuknya. Pria tambun itu tersenyum tawar mempersilakan duduk para tamunya. Bibir pria tambun itu masih sibuk mengisap cerutunya yang panjang. Kemudian jari tengah dan ibu jari pria tambun itu bertautan menjentik sebagai pertanda perintah. Tak lama, seorang perempuan berpakaian minim datang dengan membawa tiga gelas wiski berserta botolnya pada sebuah nampan.

“Silakan diminum, Tuan,” katanya setelah menuangkan wiski pada gelas-gelas yang sudah ia letakkan di atas meja.

Kedua rekannya buru-buru meraih gelas yang dipenuhi dengan minuman keras tersebut, sedang ia yang tak biasa minum minuman macam itu, tetap bergeming. Sedari tadi pikirannya melayang ke mana-mana, ia masih tak mengerti mengapa kedua rekannya tak bergegas melaksanakan apa yang telah menjadi tugas mereka, malah terlihat menikmati jamuan pria tambun tersebut.

“Kau tak lupa, bukan?” tutur salah satu rekannya.

Pria tambun itu tergelak sebentar, kemudian diisaplah dalam-dalam cerutu yang diapit oleh kedua jari tangan kirinya. Tangan kanannya sibuk meraba-raba isi dari dalam jasnya. Sebuah amplop coklat ia keluarkan lalu diletakkannya di atas meja, bersisian dengan botol wiski.

Melihat amplop tebal tersebut, salah satu rekannya menyeringai senang dengan menatap mata satu rekannya yang lain yang juga turut menyeringai. Ia masih bergeming menyaksikkan hal yang bertentangan dengan nuraninya tersebut.

Keparat! Mereka disuap. Batinnya geram. Namun ia tak berani bertindak apa-apa, ia hanya bisa diam dan diam mendapati kedua rekannya menerima uang suap dari pria tambun yang diduganya bos rumah bordil dan perjudian tersebut.

“Terima kasih, Bos,” sahut salah satu rekannya menyeringai pada bos rumah laknat tersebut.

Sang pria tambun masih sibuk dengan cerutunya yang ia isap dalam-dalam, tangannya mengibas menanggapi ucapkan terimakasih tersebut. Tanpa obrolan basa basi, ia dan kedua rekannya itu pun bergegas meninggalkan rumah bordil tersebut. Mobil yang mereka tumpangi melesat jauh seakan tak pernah datang ke tempat biadap tersebut.

“Keparat! Ternyata kalian menerima suap dari rumah bordil itu!” pekiknya kepada kedua rekannya dari kursi belakang mobil.

Kedua rekannya tersebut saling tatap sejenak, lalu terbahak bersamaan. “Mario, Mario, naif sekali kau ini,” sahut salah satu rekannya.

“Ini tidak dibenarkan!” tandasnya geram.

“Hei Mario, lantas apa yang dibenarkan?” tanya rekan satunya setelah berhenti terbahak.

“Mestinya kita amankan mereka, itu tugas kita sebagai penegak hukum!”

Kedua rekannya kembali terbahak mendengar reaksinya. “Mario, santai, Kawan, kau akan dapat bagian dari ini semua …” timpal salah satu rekannya berusaha menahan tawa, “mereka itu lahan kita, karena mereka kita bisa meraup lebih banyak uang,” lanjutnya terbahak kemudian.

Ia bergeming mendengarkan penuturan rekannya tersebut. Hatinya memaki tiada henti. Matanya menatap jalanan yang lengang, pikirannya mulai menjelajah. Ia tercenung mengingat ayahnya yang selalu membangga-banggakan dirinya sebagai seorang penegak hukum. Ayahnya adalah seorang PNS guru kimia di salah satu sekolah negeri di kampungnya. Masih teringat jelas cerita ayahnya yang bercita-cita menjadi seorang penegak hukum, namun gagal karena kecelakaan sepeda motor yang mematahkan kakinya. Setelah kejadian itu ayahnya berjalan terpincang-pincang hingga sekarang. Kini setelah cita-cita ayahnya dapat ia wujudkan dengan perjuangan keras, dengan mudahnya ternoda oleh insiden suap tersebut. Tentu ia sangat ingat apa yang disampaikan oleh ayahnya terkait kejujuran kala ia masih hijau. Dalam hidup, ayahnya selalu menanamkan sifat kejujuran serta rasa tanggung jawab dalam hal apa pun.

“Ini bagianmu, Mario!” Salah satu rekannya menyerahkan segepok uang kepadanya.

“Terimalah, Mario, tak baik menolak rezeki,” sahut salah satu rekannya yang lain. Kemudian kedua rekannya itu pun tergelak kembali.

Mulutnya tetap terkunci rapat, namun tangannya tak bisa menolak uang haram tersebut. Matanya menatap lekat uang tersebut. Terselip sebuah hasrat untuk melupakan kejadian itu lalu menikmati uang hasil tugas kotor tersebut. Kalau tidak seperti ini tak mungkin bisa membeli rumah sendiri. Setan dalam hatinya berbicara demikian. Ditepisnya cepat-cepat, ia berusaha menguasai nuraninya kembali.

“Bersenang-senanglah dengan uang itu, Mario, dan tutup mulutmu, selanjutnya kita akan meraup lebih banyak lagi,” papar salah satu rekannya santai.

Setelah hari itu, hatinya terus dihantui kecamuk bimbang. Ia merasa seakan hatinya terbelah dua, antara menggunakan uang itu lalu menjemput kehidupan yang lebih layak atau menegakkan apa yang seharusnya ditegakkan. Terlebih tak lama lagi ia harus mempersiapkan pernikahannya dengan Prasti, kekasihnya. Tapi keyakinannya masih berkata bahwa uang haram tak akan membawanya dalam kebahagiaan.

Lima hari setelah kejadian itu, ia memutuskan mengikuti nuraninya untuk menegakkan hukum seperti apa yang diajarkan oleh ayahnya. Dengan debar jantung tak beraturan, ia pun menghadap atasannya untuk mengadukan semua yang telah terjadi. Atasannya mendengarkan semua yang diceritakan olehnya dengan saksama. Mengangguklah sang atasan memahami apa yang telah terjadi terhadap para anggotanya. Didampratlah kedua rekannya di depan matanya, murka tak bisa dibendung oleh sang atasan. Berkali-kali kedua rekannya itu memohon ampunan, tapi tak digubris sang atasan yang mulai kehilangan kendali. Sebuah surat pemecatan disodorkan kepada kedua rekannya, tapi dengan sigap ia memohon dengan sangat agar kedua rekannya diampuni. Setelah diskusi alot yang cukup melelahkan, akhirnya sang atasan hanya memberikan teguran keras kepada kedua rekannya dan tak sampai memecat mereka.

Berterima kasihlah kedua rekannya kepada sang atasan, pun kepadanya yang telah menyelamatkan karir mereka. Kedua rekannya itu pun mengaku khilaf dan merasa jera telah melakukan pekerjaan laknat yang beresiko terhadap karirnya. Ia pun merasa bahagia karena telah berlaku jujur sebagai penegak hukum, pun merasa senang karena kedua rekannya telah keluar dari hasrat laknat yang menaungi diri mereka.

***

Ia masih tak sadarkan diri setelah mulutnya dibekap kain berbius oleh orang yang tak ia ketahui. Keesokan paginya ketika ia terbangun, seorang wanita sudah terisak-isak di samping tubuh kekarnya. Matanya terbelalak ketika mendapati wanita itu menangis tanpa mengenakan busana. Ia kian terkesiap ketika menyadari bahwa tak sehelai kain juga tak membalut tubuhnya.

“Kau memperkosaku, dasar lelaki bangsat!” pekik wanita itu kepadanya.

“Apa maksudmu? Kenapa bisa seperti ini?” tanyanya bingung.

“Dasar bangsat! Kau …” Gadis itu tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Wanita itu pun pergi meninggalkannya dengan berusaha menutupi lekuk tubuhnya dengan selimut tebal. Sedang ia masih bingung atas apa yang telah menimpanya. Aku memperkosa? Batinnya getir. Kontan ia teringat wajah ayu Prasti. Ia ingat janjinya pada gadis itu bahwa ia tak akan berbuat yang macam-macam sejak mereka berpacaran tujuh tahun lalu. Dan sekarang ia melanggarnya, tanpa ia ketahui secara pasti kejadiannya. Lebih dari itu, semua harapan orangtuanya yang berada di pundaknya kini luruh sudah dengan kejadian ini. Wajahnya kusut masai. Ia masih tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi ia paham selanjutnya sesuatu akan terjadi padanya.

Tak lama, tiga penegak hukum—yang mana dua di antaranya adalah rekannya—membawanya ke kantor tempat ia bekerja.

“Aku dijebak! Aku dijebak!” pekiknya saat kedua rekannya hendak menggiringnya.

“Nanti bisa kaujelaskan di kantor, Mario, kami hanya melaksanakan tugas,” papar rekannya prihatin.

“Percayalah, aku dijebak!” ujar Mario penuh kesedihan.

“Maafkan kami, Mario!” raut getir tampak jelas pada wajah rekannya.

Di hadapan atasannya—yang semula bangga padanya—racau pembelaan tak berhenti dari mulutnya, mencoba mengatakan yang sebenarnya terjadi, meski ia tak sebenarnya tahu apa yang telah menimpa dirinya. Atasannya terlihat muram, wajahnya sendu menatap anak buah kebanggaannya telah melakukan hal yang amat mengecewakan dirinya. Dan surat pemecatan pun dilayangkan atasannya setelah semua barang bukti mengatakan bahwa ia memang bersalah.

Kini ia telah benar-benar diberhentikan secara tidak hormat dari profesi yang amat membanggakan ayahnya. Belum lagi proses hukum dengan tuduhan pemerkosaan masih bergulir. Rasa kecewa terus mengiris batinnya, ia merasa sangat terzalimi. Sebuah kenyataan bahwa ia harus menanggung kesalahan yang tak pernah ia lakukan membuatnya marah, terlebih ketika menyadari bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Perasaannya kalut, kebimbangan menghantuinya ketika ia harus mengatakan kenyataan itu kepada ayahnya yang selalu membanggakannya selama ini. Hidupku hancur, hidupku hancur! Batinnya menangis. Belum lagi ia harus mengatakan semuanya pada Prasti dan calon mertuanya. Semuanya terasa gamang dan menyakitkan. Ia akan kehilangan semuanya.

Harapan dalam dadanya telah luntur bersamaan dengan sikap kepahlawanannya selama ini. Beberapa mantan rekannya telah menunggu di luar pintu kamarnya. Menunggu dirinya mengemasi seragam dan peralatan dinasnya untuk dikembalikan. Ia duduk mencangkung di sudut kamarnya. Meratapi kepiluan hidupnya yang teramat giris itu. Mantan rekannya sedang menunggunya untuk memasukkan dirinya ke dalam jeruji besi. Apa salahku, Tuhan? Batinnya memekik. Kemudian tanpa sadar ia meletakkan pistol di pelipis kanannya. Setan girang telah memenangkan dirinya.

***

Kedua pria berjaket kulit itu memberikan sebuah amplop coklat kepada seorang wanita yang terduduk di sofa dengan memamerkan pahanya yang mulus.

“Kau melakukan tugasmu dengan baik, kami menyukainya.”

Wanita itu tersenyum setelah menerima amplop coklat berisikan uang tersebut. “Kau bertemu orang yang tepat, Tuan, aku suka memperkosa pria kekar,” sahutnya manja.

Kedua pria itu bersitatap, lalu tergelak secara bersamaan. “Sekarang Mario sudah kita singkirkan, Don,” ujar salah satu pria itu.

“Anak ingusan itu terlalu kurang ajar, Jar,” timpal rekannya.

Kembali mereka terbahak girang atas keberhasilan yang telah mereka capai. Tiba-tiba handphone salah satu pria itu meraung-raung.

“Halo, selamat malam, Pak.”

“Iya, selamat malam, Fajar. Kerja kalian amat baik, anak ingusan itu akhirnya tersingkir. Ia bisa saja menjadi ancaman besar. Lain kali kalian harus berhati-hati menjalankan tugas macam itu, kau mengerti?” papar pria di seberang telepon.

“Mengerti, Pak, selanjutnya kami akan lebih berhati-hati,”

“Bagus!” Pria di ujung telepon dengan cepat mengakhiri pembicaraan tersebut.

“Atasan kita sangat lihai bermain peran, Don,” tukasnya menyeringai ke arah rekannya.

“Ehm ….” Wanita itu berdeham, “aku juga lihai dalam ….” Wanita itu membasahi bibir dengan lidahnya sendiri, kedua matanya menatap manja kedua pria yang ada di hadapannya.

Kedua pria itu pun bersitatap sejenak, kemudian terbahak kembali dan langsung melakukan apa yang ingin mereka lakukan sekarang.

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

Gunawan Giatmadja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s