Lelaki Biadap

 Susi menatap prihatin sosok Rima anaknya yang masih murung sejak lima hari lalu. Berkali-kali dicecar pertanyaan oleh ibunya, gadis berusia 18 tahun itu tetap bergeming. Susi kian sedih melihat anak semata wayangnya sejak hari pertama sampai hari kelima ini terus-terusan menitihkan air mata meski tanpa suara.

“Kau ini kenapa, Nak, Ibu jadi ikut sedih jika kau murung macam ini terus?” tanya Susi gemas. Rima hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan ibunya, lalu perlahan-lahan air matanya menetes kembali. “Ceritalah sama Ibumu ini jika punya masalah, jangan memendam semuanya sendiri,” lanjut Susi sambil mengusap-usap punggung Rima.

Rima tetap membisu, hanya kepala dan matanya saja yang bereaksi tiap kali ibunya menanyakan hal serupa selama lima hari ini. Nafsu makannya juga menurun drastic. Ibunya kelimpungan tiap kali harus membujuknya untuk mengisi perut. “Kau harus tetap makan, Rima, jangan terus-terusan muram macam ini,” kata ibunya mencoba menyuapi. Berkali-kali Susi memasak makanan kesukaan Rima, macam: semur jengkol, sop jamur, oseng ati empela, dan soun pedas, tapi gadis itu hanya memakannya beberapa sendok saja, itu pun harus disuapi oleh ibunya.

Susi tampak kewalahan menghadapi kemurungan anaknya. Kesabarannya pun kian terkikis dengan sikap anaknya yang dari hari ke hari tak ada perubahan. Sampai pada akhirnya bibir Susi merepet bak petasan mengeluarkan segala yang dipendamnya selama beberapa hari ini terhadap Rima. Kemarahannya terlimpah sudah tanpa tedeng aling-aling. “Sudah berhari-hari kau murung macam mayat, tiap ditanya selalu menggeleng, menangis, menggeleng, menenagis, seakan tak punya mulut saja,” Susi menarik napas sejenak, “semua makanan kesukaanmu sudah Ibu masakkan, tapi tetap saja kau hanya memakannya beberapa sendok. Sudah berhari-hari pula kau tak berangkat kuliah, kau pikir bayar kuliah pakai daun? Ibu tahu kau bekerja paruh waktu, tapi gajimu tak sepenuhnya cukup untuk membayar kuliah. Sampai kapan kau akan seperti ini terus, Rima?” lanjutnya geram. Semua yang tertanam di hati Susi dimuntahkan sekaligus. Rima menangis tersedu mendengar rutukan ibunya sehingga membuat matanya kian sembab.

“Apa yang sebenarnya kaualami, Rima? Bilang pada Ibu!” bentak Susi. Ia menatap anaknya yang masih terisak dengan tatapan masygul. “Ibu benar-benar muak, Rima, Ibu benar-benar …”

“Aku hamil, Ibu!” sahut Rima keras, memotong perkataan ibunya, “aku hamil,” lanjutnya dengan suara parau sambil terisak.

Susi terkesiap mendengar pengakuan anak tunggalnya tersebut. Ia seperti disambar petir di cerahnya hari—kaget bukan kepalang. “Hamil?”gumamnya tak percaya. Telapak tangannya menutup mulutnya yang menganga. Ia benar-benar tak percaya bahwa anak yang ia didik dengan sebaik-baiknya hamil di luar nikah. Anak yang ia didik sendirian, yang tak henti ia beri petuah, sedang mengandung dari hasil hubungan gelap.

Pipinya mulai digenangi air mata. Tangis ibu dan anak itu beriringan bak duet diva pada layar kaca televisi yang mereka saksikan bersama dua pekan lalu.

“Kenapa ini terjadi lagi, kenapa …?” gumam Susi masih terisak.

Susi sedih tak alang kepalang. Bukan saja karena kehamilan Rima dari hasil hubungan gelap itu, melainkan juga akan masa lalunya yang kelam. Susi pun terlempar jauh ke masa 19 tahun yang lalu. Kala usianya tak berbeda dengan usia Rima sekarang.

Susi muda yang dimabuk asmara, menjalin kasih dengan seorang pemuda bernama Danang. Pertautan kasih di antara dua insan itu kelewat batas sampai pada akhirnya janin tertanam di rahim Susi. Ayahnya murka ketika Susi mengatakan bahwa di dalam perutnya terdapat janin hasil hubungannya dengan lelaki yang dicintainya itu.

“Dasar anak tidak tahu diuntung, kau mencoreng wajah ayahmu, kau mencoreng wajah keluargamu!” pekik ayah Susi seraya mendaratkan tamparan di pipi halusnya.

Susi tak henti-hentinya menangis menghadapi murka ayahnya, begitu pula ibunya yang sedari tadi masih tak percaya bahwa anak gadis yang dididiknya dengan baik tengah mengandung bayi haram.

“Pak, maafkan Susi, Pak, semua di luar kendali Susi,” pintanya mengiba.

“Iya, semua terjadi karena tubuhmu dikuasai setan sepenuhnya!” pekik ayahnya, dadanya naik turun tak beraturan, “sekarang kau cari lelaki yang telah membuatmu bunting itu, bawa kemari, akan kunikahkan kalian segera, lalu suruh lelaki itu menanggung hidupmu dan calon bayimu itu!” lanjutnya kian murka.

Susi masih menangis mengutuki kenyataan yang telah terjadi. Ibunya yang juga menangis memeluknya erat seakan merasakan kepedihan anaknya. Pikirannya menerawang jauh pada kejadian-kejadian yang membawanya pada murka ayahnya itu. Harusnya ia menolak ketika Danang memaksanya untuk membuka resleting celana ketika mereka sedang asyik bercanda di taman kota. Harusnya ia tak pernah membalas surat cinta Danang yang dititipkan ke Marni sahabatnya. Harusnya ia tak perlu merasa penasaran terhadap lelaki yang terus menanyakan dirinya kepada Marni sahabatnya itu. Dan banyak lagi pengandaian yang muncul dalam benaknya seakan itu semua bisa diubah setelah semuanya terjadi.

Susi bersama janinnya yang baru tiga bulan itu pergi untuk menemui sosok Danang, lelaki yang telah merebut hati dan kesuciannya. Ia ingin meminta pertanggung jawaban lelaki yang telah menanam benih di dalam rahimnya tersebut dengan segera. Lelaki itu sudah mengatakan bersedia bertanggung jawab saat ditemui pada hari sebelumnya. Ia merasa hanya lelaki itulah satu-satunya sandaran hati dan hidupnya. Cinta yang tertanam di hatinya begitu besar untuk lelaki itu. Masih teringat jelas ketika ia mengadu soal kehamilannya kepada lelakinya itu, meski sempat kaget, akhirnya lelakinya itu menerima kenyataan itu dengan usapan tangan di pipinya yang basah seraya berjanji akan membahagiakan dirinya beserta bayi mereka kelak.

Pintu rumah susun lantai tiga milik Danang itu tak hentinya digedor oleh Susi setelah ia tak menemukan kunci yang biasanya ditinggalkan kekasihnya itu di pot bunga dekat pintu.

“Sepertinya Danang tak akan kembali lagi, Nak, kemarin malam ia pergi membawa tas besarnya,” sahut perempuan paruh baya samping rumah Danang.

Mendengar penuturan wanita itu, tubuh Susi mendadak lemas. Matanya seketika terasa panas, dadanya kian sesak. Mulutnya menganga, dan tangisannya pun pecah. Kepalanya yang terasa berat bersandar ke pintu rumah lelaki yang telah mencabik-cabik batinnya. Tangannya yang tak lagi bertenaga berusaha menggedor-gedor pintu rumah tersebut. Ia benar-benar merasa hancur dan tak berarti lagi ketika menyadari bahwa lelaki yang memberinya janji-janji surga itu telah kabur meninggalkan dirinya bersama janin yang tertanam di rahimnya.

Susi tampak linglung. Tatapannya kosong ketika kakinya menyusuri trotoar. Semua pasang mata menatapnya heran, tapi ia tak peduli bahkan tak menyadari. Matanya sembab, namun tak lagi mengalirkan air mata. Sepertinya air matanya telah habis untuk meratapi dan merutuki nasibnya yang mengenaskan tersebut. Lelaki biadap! Makinya dalam hati berulang-ulang. Setelah puas memaki lelaki yang telah menghancurkan hidupnya itu, ia pun pulang. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, dengan gesit kedua tangannya mengemasi semua barang-barang miliknya. Dengan bermodalkan tabungan yang tak seberapa, ia memutuskan untuk minggat.

Dengan menumpang bus antar kota, Susi memilih kota yang belum pernah disinggahinya—jauh dari kota kelahirannya. Sesampainya di kota tersebut, kakinya segera berderap tanpa tujuan memasuki gang demi gang. Ia hidup luntang-lantung beberapa hari, dan sering tidur di pom bensin. Berkali-kali ia menawarkan diri untuk bekerja di beberapa toko, rumah makan, dan beberapa gerai usaha yang lain, namun hasilnya nihil. Ia sempat didera keputusasaan, namun akhirnya seorang wanita paruh baya yang berprofesi sebagai buruh cuci merasa iba terhadapnya, sehingga memberikan tawaran untuk membantu pekerjaannya. Wanita paruh baya itu tak hanya membantu Susi untuk bekerja, ia juga mengangkat Susi sebagai anak. Susi menceritakan semua yang dialaminya tanpa tedeng aling-aling. Ia merasa amat beruntung, pun ibu angkatnya yang belum pernah merasakan memiliki anak hingga suaminya meninggal. Wanita itu menerima Susi dan bayinya dengan tangan terbuka serta rekah bahagia di bibirnya. Dan pada akhirnya ibu angkat Susi itu pun menyusul suaminya ketika usia Rima—anak Susi—menginjak lima tahun. Wanita yang amat berjasa dalam kehidupan Susi itu pun menghadap yang maha kuasa. Kemudian Susi melanjutkan profesi buruh cuci ibu angkatnya tersebut hingga sekarang.

***

“Apakah lelaki yang menghamilimu kabur, Rima?” tanya Susi dingin sekaligus getir mengingat kisah hidupnya dulu. Rima hanya diam, mendung masih menyelimuti sorot matanya. “Jawab, Rima!” teriak Susi murka.

Sambil tersedu, Rima pun akhirnya membuka mulutnya. “Tidak, Bu,” jawabnya singkat.

“Apakah lelaki itu tak mau bertanggung jawab?” tanyanya kembali seolah kegamangan yang ia rasakan belasan tahun lalu muncul kembali.

“Lelaki itu bersedia bertanggung jawab, Ibu, lelaki itu mau menikahiku,” tukasnya lemah, kepalanya tertunduk sedih.

Rasa lega mengaliri dada Susi begitu mengetahui nasib anaknya tidak serupa nasibnya. Meski rasa kecewa dan marah terus berkecamuk dalam dadanya, setidaknya harapan untuk hidup anaknya lebih baik daripada hidupnya dulu. “Sudahlah, hapus air matamu, yang penting lelaki itu mau bertanggung jawab atas perbuatan nista kalian,” papar Susi mulai meredakan amarahnya.

“Tapi, Ibu …” sahut Rima ragu melanjutkan kalimatnya.

“Tapi apa, Rima?” tanya Susi penasaran. Ia menatap Rima yang masih tertunduk terisak.

“Tapi lelaki itu sudah beristri, Ibu, aku akan dijadikan istri keduanya,” jawab Rima terbata-bata.

Susi terperanjat kembali atas pengakuan anaknya. Ia merasa telah gagal sebagai seorang ibu. Pikirannya benar-benar kalut, air matanya menggenang kembali. Kemudian ia mencoba menegar-negarkan diri, menguatkan diri untuk menghadapi permasalahan yang begitu menggoncang batinnya ini. “Suruh lelaki itu datang melamarmu! Apa pun statusnya, yang paling penting lelaki itu bertanggung jawab atas janin yang kaukandung,” pungkas Susi menahan pilu yang meluruhkan jiwanya.

***

Lelaki yang menanam janin di rahim Rima itu telah berada di depan pintu rumah Susi. Dengan mata sembab dan senyum seadanya, Rima menyambut lelaki yang akan menjadi suaminya tersebut. Dikecuplah kening Rima dengan lembut oleh lelaki beristri itu. Usia lelaki tersebut tak lagi muda, namun perawakannya masih gagah dan rautnya masih rupawan. Kemudian Rima menghampiri ibunya yang tengah memasak di dapur.

“Ibu, lelaki itu sudah ada di ruang tamu,” tandas Rima lirih.

“Maksudmu calon suamimu?” tanya ibunya. Rima hanya mengangguk mengiyakan.

Berderaplah kaki Susi menuju ruang tamu tempat lelaki yang telah menanam benih di rahim anaknya itu berada. Ketika Susi berhadapan dengan lelaki itu, hal yang tak terbayang di benak Rima pun terjadi. Susi yang awalnya menatap datar lelaki itu, dengan seketika dihinggapi murka yang luar biasa. Ia pun dengan sigap berusaha memukuli lelaki itu dengan kedua tangannya seraya merutukinya dengan sumpah serapah. “Dasar lelaki biadap, lelaki bangsat, kenapa kau tak mati saja, keparat!” pekik Susi marah, kedua tangannya tak henti-henti mendaratkan pukulan pada tubuh gempal lelaki tersebut, sedang Rima berusaha menghentikan aksi ibunya. Dengan seketika pipi Susi tergenang air mata, begitu pun dengan pipi Rima. Sumpah serapah masih terus merepet dari mulut Susi. Lelaki itu menutup kepalanya dengan kedua tangan menahan kemurkaan Susi yang membabi buta. “Lelaki tidak tahu diri, lelaki setan, kau adalah manusia paling terkutuk yang pernah ada …” Lelaki itu pun lantas pergi, menghindari kemarahan Susi yang begitu mengerikan. “Pergi kau lelaki bangsat!” lanjutnya dengan suara yang mulai parau.

Rima tersedu-sedu mendapati ibunya marah besar. Ia tak menyangka bahwa ibunya semarah ini setelah semuanya terkesan baik. Kegeraman muncul di hatinya, ia merasa akan kehilangan lelakinya tersebut karena ulah ibunya.

“Kenapa Ibu mengusir lelaki itu? Kenapa? Bukannya Ibu sudah mengatakan yang penting ia bertanggung jawab?” pekik Rima terisak-isak.

“Lelaki itu lelaki biadap, Rima …” pekik Susi marah sambil terisak, mengambil jeda untuk melanjutkan kalimatnya, “lelaki itu adalah ayah kandungmu yang kautanyakan setiap hari saat kau masih ingusan. Lelaki biadap yang sepantasnya mati!” lanjutnya murka memuntahkan semua kebenciannya selama ini terhadap lelaki biadap tersebut.

Tubuh Rima mendadak lemas, pandangannya gelap, dan dalam hitungan detik ia tak sadarkan diri.

Klaten 2015

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

Gunawan Giatmadja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s