Bala Yang Menunggu

Malam kian larut, Udin dan kedua kawannya—Topan dan Mardi—masih bergantian menenggak beseloki-seloki wiski. Pesta miras ini adalah simbol kemenangan setelah mereka berhasil merampas barang-barang milik sepasang muda mudi yang melintas di salah satu jalanan sepi di kota mereka. Bukan hanya kali ini saja mereka melakukan aksi macam itu—merampas dengan cara menodong—terhitung sudah enam kali mereka melakukan aksi bejat tersebut—dengan Udin sebagai eksekutornya, sedang Topan atau Mardi sebagai pendamping. Tentu saja sebelum melakukan aksinya tersebut, mereka menenggak beberapa seloki wiski terlebih dahulu. Kata Udin, dengan menenggak minuman laknat itu, keberaniannya bertambah berkali-kali lipat. Tak ada yang namanya tubuh gemetar saat menodongkan sebilah golok yang ia hunuskan dari jaket lusuhnya. Dan tentu saja setelah berhasil merampas harta benda korbannya, mereka melanjutkan pesta miras kembali di markas mereka, yaitu bangunan kosong tak berpintu pinggir sawah, yang letaknya tak jauh dari kampung mereka.

“Aku pengen ngumrohke Simbok e, Bro,” cetus Udin tiba-tiba di sela-sela pesta miras mereka.

Topan dan Mardi saling tatap sejenak. Tatapan mereka seakan menumbukkan pertanyaan yang sama atas apa yang telah mereka dengar.

“Umroh?” tanya Topan tak percaya. Tak lama, tawa dua kawan Udin itu pun pecah hingga terbatuk-batuk.

Udin tak langsung menyahut, ia menenggak seseloki wiski terlebih dahulu. “Iyo, aku sudah ngecek ke biro perjalanan umroh beberapa bulan lalu soal biaya dan semua yang dibutuhke selama umroh, dan syukur alkhamdulillah biayane sudah hampir mencukupi.”

Topan dan Mardi makin terheran-heran mendengar bahwa apa yang diutarakan kawannya tersebut bukanlah sebuah gurauan atau keinginan semu akibat efek miras yang mereka tenggak.

“Serius iki? Cepet banget awakmu dapet duit sebanyak itu, Din?” tanya Mardi penasaran.

Tangan Udin mengibas, seulas senyum terpancar di bibirnya. “Soal duit?” Udin menunda sejenak penjelasannya, kemudian ia menenggak seseloki wiski kembali, ”aku nyisihke hasil nodong dan upah harianku jadi buruh bangunan buat ikut judi bola. Lha, ndilalah mungkin namanya orang hoki, tho, aku menang berlipat-lipat,” lanjutnya tergelak.

Mendengar penuturan kawannya itu, Topan dan Mardi pun turut tergelak. Terbayang oleh mereka timbunan uang yang telah didapatkan oleh Udin dalam benak mereka.

“Lha, duit judi itu mau buat biaya umroh ibumu, Din?” Kali ini Topan melontarkan tanya dengan cukup hati-hati.

“Kapan lagi, tho, iso ngewujudke cita-citane ibuku?” jawab Udin mengangkat bahu.

“Lha, soal Parti pacarmu itu piye, Din, ndak ada niat ngelamar dengan uang sebanyak itu?” tanya Mardi iseng setelah seseloki wiski ia tenggak. Parti adalah kekasih Udin yang telah dipacarinya sejak satu tahun lalu. Gadis ayu itu dipacari Udin secara diam-diam, karena Udin merasa tak memiliki kepercayaan diri untuk berjumpa dengan ayah Parti yang mana adalah seorang haji sekaligus orang terpandang di kampungnya.

Seseloki wiski mengaliri kerongkongan Udin, tangannya mengibas menganggapi pertanyaan kawannya tersebut. “Alah, mbebojo Parti hanya nambah hidupku amburadul. Iso-iso bapaknya Parti nyuruh aku ngaji tiap hari kalau aku bener-bener jadi suamine Parti. Lha gimana, tho, Alif, ba’, tak, saja aku ndak hapal e, tambah ruwet, tho?” jawab Udin terbahak.

“Lha, salahe macari, kok, anake Pak Haji … resiko, Din,” timpal Mardi cepat. Kedua rekan Udin itu pun turut terbahak.

“Lha gimana, ayu e si Parti,,” sahut Udin masih tergelak.

***

Udin bergegas melakukan aksinya kembali. Bersama Mardi, ia bersiap melakukan aksi yang lebih brutal dari biasanya, yaitu merampas sepeda motor milik korban. Topan yang awalnya diajak sebagai pendamping menolak tawaran Udin. Terlalu beresiko, katanya. Sedangkan Mardi tak bisa mengelak setelah dijejali tawaran akan mendapat bagian yang lebih besar dari sebelumnya.

“Kali ini kita bukan lagi ngerampas HP atau dompet, Bro. Kita mau ngerampas motor … biar cepet genap, tho, biaya umrohe Ibu,” tutur Udin bersemangat.

Mardi mengedikkan bahunya sejenak. “Terserah awakmu, Din, aku ikut rencanamu asal aku dapet bagian yang lumayanlah,” tukas Mardi menyeringai.

“Yo, mesti, tho, Di, jangan kuatir,” jawab Udin menaikturunkan alisnya, memberi keyakinan pada Mardi.

Mereka pun mulai menanti korban di tempat yang telah mereka survei pada siang hari sebelumnya. Tempat yang sepi dan jauh dari penduduk, yang memungkinkan mereka untuk melakukan aksi jahanam tersebut selepas tengah malam.

“Masih belum pilih tikus buruanmu, Din?” tanya Mardi yang mulai bosan menanti korban yang hendak dipilih Udin. Sudah beberapa batang rokok diisapnya, tapi tak kunjung aksi bejat itu terlaksana.

“Santai, tho, Bro, kita tunggu sebentar lagi, biasane para mahasiswa pulang malam setelah puas internetan gratis nang kafe-kafe,” jawab Udin santai.

Tak lama berselang, target yang dipilih pun datang. Seorang pria dengan mengendarai sepeda motor matic melintas di jalanan yang mereka tunggu.

Iki mangsa kita, Di, kejar!” pekik Udin.

Mendengar aba-aba dari Udin, Mardi pun kontan menarik tuas gas motornya kuat-kuat. Di boncengan belakang, Udin mulai mempersiapkan goloknya yang sedari tadi disembunyikan di balik jaket. Tak butuh waktu lama, motor mereka pun telah berjajar anggun dengan motor buruannya. Dengan cepat golok Udin menebas lengan pengendara motor tersebut. Seketika sang korban ambruk. Udin segera turun dari boncengan motor Mardi. Ia bergegas menggasak tas yang ia terka berisi laptop, kemudian dengan cekatan ia menunggangi motor korbannya tersebut. Motor yang ditunggangi Mardi dan motor yang ditunggangi Udin itu pun melesat jauh meninggalkan korban yang terkapar tak berdaya sendirian. Mereka berpencar ke arah yang berlawanan untuk menjaga keamanan.

***

Mentari pagi mulai menyengat. Sinar keemasannya kian terpancar nyata. Udin melangkahkan kakinya menuju kediaman Topan—karena ia yakin Mardi pasti berada di sana. Tak bisa ia bendung senyum yang terus mengembang di bibirnya tatkala ingatannya tertuju pada sepeda motor dan laptop hasil rampasannya dini hari tadi. Sepeda motor dan laptop itu telah ia amankan di bangunan kosong yang biasa mereka pakai untuk mabuk. Pikirannya sibuk menghitung jumlah rupiah yang akan ia dapatkan dari semua yang telah ia rampas. Yah, semuanya lebih dari cukup buat nggenepi biaya umroh Ibu. Batinnya.

Topan dan Mardi sedang bercengkrama di beranda rumah. Udin yang melihatnya dari celah pagar pun kian bergegas menggerakkan tungkainya. Namun belum sampai tubuhnya digiring ke hadapan kedua kawannya itu, Topan sudah terlebih dahulu meraih motornya dan Mardi gegas membonceng.

“Hei … hei … kalian mau kemana?” seru Udin ketika motor yang ditumpangi kedua kawannya tersebut melesat meninggalkan dirinya yang berusaha mengejar. “Topan … Mardi … hei … Kampret!” pekik Udin ketika punggung kedua kawannya tersebut kian menjauh.

Udin geram bukan kepalang mendapati kedua kawannya tak acuh atas kehadirannya. Dengan gemuruh hati yang gusar, ia pun memutuskan untuk pulang saja. Kakinya berderap kembali tanpa mengenal lelah. Pikirannya terus membayang reaksi ibunya ketika ia memberikan hadiah umroh yang selalu diimpikan ibunya.

Hati Udin tak sabar ingin memberikan hadiah umroh itu kepada ibunya. Berkali-kali dan tak henti-henti pikirannya penuh hitung-hitungan matematika terkait uang yang ia dapatkan dari aksi begalnya dini hari tadi. Tak sedikit pun tebersit perasaan bersalah atau merasa tindakannya itu salah. Ketika ia sampai di depan rumahnya, ia melihat banyak orang berkumpul. Beberapa terpal terpasang memayungi pekarangan rumah. Bahkan ia juga melihat Topan dan Mardi berada di pekarangan rumahnya bersama para tetangganya. Detak jantung Udin mendadak berderap tak beraturan. Seketika panas menyelimuti tubuhnya yang gempal.

Kaki Udin berderap lebih cepat. “Pakdhe, ada apa, Pakdhe?” tanya Udin kepada pamannya yang sedang mengisap rokok tepat di depan gerbang rumahnya. Sang paman menekur bergeming, kepalanya menggeleng perlahan seraya mengembuskan asap rokoknya.  “Pakdhe?” pekik Udin kesal.

Firasat Udin kian memburuk. Apa Ibu meninggal? Batinnya. Udin pun berlari masuk ke dalam rumah, mengabaikan orang-orang di beranda rumahnya. Matanya terbelalak ketika melihat sosok mayat terbujur kaku di meja ditutupi kain batik dikelilingi banyak orang. Udin benar-benar terkesiap atas apa yang dilihatnya tersebut.

“Ibu,” ucapnya lirih, matanya mulai memanas.

Baru beberapa detik ia dikejutkan dengan sosok mayat tersebut, kini ia dikejutkan kembali ketika matanya melihat seorang wanita paruh baya dipapah wanita lain untuk didudukkan di samping mayat tersebut. Wanita itu tersedu-sedu menangisi sang mayat. Dan wanita itu adalah ibunya. Kalau Ibu masih hidup, lha mayate sopo iki? Batinnya bertanya-tanya. Ah, pasti mayat Bapak, tapi kenapa harus Ibu yang ngurusi kematiane, bukane Bapak punyai istri muda? Batinnya bertanya-tanya kembali.

Tangan Udin mengibas. Ia pun mulai beringsut meninggalkan mayat yang dikelilingi oleh banyak orang itu setelah menyadari bahwa mayat tersebut adalah mayat pria yang telah menelantarkan dirinya beserta ibunya. Persetan denganmu tua bangka, hidup nyusahke, mati nyusahke! Batinnya geram.

Baru beberapa langkah kaki Udin berjalan meninggalkan mayat itu, ia berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang hendak menghampiri mayat tersebut. Wajah pria paruh baya itu benar-benar familier bagi Udin, namun ia tak kunjung tahu siapa pria tersebut. Tangannya mengibas, ia lebih memilih mengabaikan pria itu dan terus menderapkan kakinya.

Seketika langkahnya terhenti kala ia menyadari bahwa pria itu adalah pria yang telah menelantarkan dirinya beserta ibunya. Pria paruh baya itu adalah ayah kandungnya. Bapak? Lha, mayate sopo iku? Batinnya. Tenggorokannya tercekat tiba-tiba. Ia benar-benar tak percaya bahwa mayat yang terbujur kaku itu bukanlah mayat ayahnya. Ia pun dirundung penasaran yang luar biasa. Seketika kakinya melangkah kembali masuk ke dalam rumah dan hendak menanyakan hal itu pada ibunya. Namun belum sempat ia bertanya pada ibunya, ayahnya yang begitu ia benci secara perlahan-lahan membuka kain batik yang menutupi mayat tersebut. Udin terkejut bukan kepalang ketika melihat rupa mayat yang terbujur kaku tersebut.

“Aku?” pekiknya tak percaya, “itu benar-benar aku? Aku udah mati?” Kepalanya menggeleng tak percaya. Dadanya berdesir hebat. Napasnya berkejaran. Dilihatnya berulangkali tubuhnya dari kaki hingga tangan, lalu beralih ke mayat di hadapannya. Ia benar-benar tak mempercayai bahwa mayat yang di hadapannya itu benar-benar dirinya.

Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di punggung Udin. Ia pun sontak membalikkan badannya. Di hadapannya berdiri dua sosok berjubah hitam tanpa wujud dan langsung mengenyahkan tubuh gempalnya.

***

Keesokan harinya surat kabar setempat memberitakan pembegalan yang telah dilakukan Udin dan Mardi. Sang korban yang terkena sabetan golok di bagian lengan masih bisa diselamatkan dan kini dirawat di rumah sakit. Mardi, salah satu komplotan perampok itu pun akhirnya masuk bui. Sedangkan Udin mengalami kecelakaan setelah motor yang ia rampas bertabrakan dengan sebuah truk beberapa jam setelah perampokan itu berlangsung. Nyawa Udin tak terselamatkan.

Keterangan:

  1. Iki : Ini
  2. Awakmu : Kamu
  3. Ndilalah : Ternyata
  4. Iso : Bisa
  5. Ndak             : Tidak
  6. Mbebojo : Memperistri
  7. Nang : Di

 

Terima kasih telah membaca cerpen saya,

Gunawan Giatmadja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s