Teknologi Yang Mencuri Kawan

Sumber Foto: telsetnews.com

Sumber Foto: telsetnews.com

Perkembangan teknologi telah mengalami kemajuan begitu pesat dari tahun ke tahun. Tidak terkecuali perkembangan teknologi komunikasi, salah satunya ponsel─telepon jinjing. Dewasa ini ponsel bukan lagi barang mewah, baik ponsel dengan fitur sederhana hingga ponsel jenius sekalipun.

Sepuluh tahun terakhir perkembangan teknologi komunikasi memang berkembang gila-gilaan, dari berkirim pesan singkat, chatting, hingga bersosialisasi di beragam media social. Bagi saya perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi ini lumayan berdampak pada kehidupan social saya. Tentu ada dampak buruk dan dampak baiknya. Ya, dalam hal apa pun semua pasti ada untung ruginya. Lanjutkan membaca

Iklan

Kuat Melawan Diri Sendiri

Sumber Foto: appadvice.com

Sumber Foto: appadvice.com

“Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.” Andrea Hirata – Sang Pemimpi

Hai, Kawan, sudah 2016. Hmm … tak terasa sudah berganti tahun, pastinya sudah bertambah pula usia. Rasanya menyesakkan sekali apabila merefleksikan diri yang didapati hanyalah kegagalan. Menyesali banyak hal tapi tetap saja tak mampu mengubah diri menjadi lebih baik.

Ya, tahun baru, selalu penuh dengan resolusi. Benar, bukan? Seperti kau dan orang-orang lainnya, Kawan, saya pun punya resolusi tiap tahunnya. Yang pasti resolusi paling nyata adalah menjadi lebih baik dari tahun kemarin. Caranya? Meyakinkan diri sendiri dan terus melangkah. Benar! Lanjutkan membaca

Kawan Sehari Serasa Kawan Lama

Foto: Istimewa, diambil dari laman health.liputan6.com

Foto: Istimewa, diambil dari laman health.liputan6.com

Hai, Gaes, selamat jumpa kembali dengan saya di blog. Hmm … Alkhamdulillah si Paul─motor saya─sudah terpenuhi masalahnya dengan oli, pun rantai dan knalpotnya yang juga sedang eror. Sudah hampir dua bulan si Paul tak terpenuhi asupan olinya. Maklum, keadaan memang lagi sulit. Syukurnya si Paul tidak ngambek, meski saya tahu ia menahan diri untuk tidak ngambek. Ia masih baik meski rantainya ternyata juga kendor, baut di bagian knalpotnya juga hilang sehingga raungannya mengerikan. Dan kemarin saat dapat rezeki, saya ganti olinya, sekalian benerin rantai dan knalpotnya. Sekarang ia lumayan sehat bugar. Sebenarnya si Paul ini bukanlah tipikal motor yang sering merajuk, meski, ya, dulu sering banget bannya mendadak bocor. Tapi setelah semua ban diperbarui, si Paul tidak lagi merajuk macam itu. Sebenarnya saya juga paham itu bukanlah kemauannya, memang sudah sepantasnya bannya diganti, sih. Dan … pernah, sih, sekali ia susah banget dihidupkan akibat kena air hujan. Itu juga bukan kemauannya, dan saya harus akui itu salah saya. Si Paul saya biarkan kuyup sehingga mesinnya tak mau dihidupkan. Dan sekarang sudah lumayan enak kembali si Paul ini, skoknya juga empuk. Sudah hampir tujuh tahunanlah ia menemani saya. Thanks, Paul, tetaplah prihatin. Lanjutkan membaca

Stand Up Comedy Academy Indosiar, Bukan Sekadar Hiburan

Sumber Foto: twitter.com/IndosiarID

Sumber Foto: twitter.com/IndosiarID

Stand up comedy academy Indosiar. Lucunya tuh di sini … Grrrrrrr! Awalnya saya tahu acara ini dari iklan yang tak sengaja saya lihat di Indosiar. Pertama kali yang muncul di benak saya adalah sikap skeptic mengingat Indosiar sering menyuguhkan acara dangdut dengan pengisi acara itu-itu saja. (Sebenarnya sah-sah saja, karena di stasiun televisi lain pun juga menampilkan artis yang itu-itu saja, meski dengan format acaranya berbeda-beda.) Hingga muncullah line up pengisi acara di SUCA 2015 yang membuat saya sedikit penasaran seperti apa acara stand up comedy yang disuguhkan Indosiar. Berikut line up pengisi acara SUCA 2015:

Juri         : Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Eko Patrio, Abdel, dan So Imah.

Mentor    : Arief Didu, Mo Sidik, Isman, Daned Gustama dan Gilang Bhaskara.

Host         : Andhika Pratama, Gilang Dirga, dan Gading Martin.

Dilihat dari juri dan mentor memang cukup membuat penasaran. Tapi rasa skeptic masih ada saat melihat host acara tersebut, yaitu Gading Martin, Andhika Pratama, dan Gilang Dirga. Kita tahu, ketiga host tersebut (ditambah So Imah) rajin wara-wiri di beberapa stasiun televisi di negeri ini dengan menyuguhkan format acara yang bisa dibilang monoton dan terkesan itu-itu saja. Namun karena para pelaku stand up comedy, yang mana terkait dengan acara ini, macam: Ernest Prakasa, Arie Kriting, Raditya Dika, dan Pandji, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkesan skeptic dari para follower-nya dengan santai dan positif, maka tidak ada salahnya untuk membuktikannya. Lanjutkan membaca

Membuat SKCK

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Sumber Foto: Koleksi Pribadi,

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke polres daerah saya. Terakhir ke sana saat perpanjang SIM, setahun yang lalu, kayaknya. Dan keperluan saya kemarin adalah memperoleh SKCK. Entah fungsinya untuk apa, karena kebanyakan perusahaan yang saya lamar tidak mencantumkan SKCK sebagai salah satu syaratnya, tapi tetap saja saya buat.

Pertama-tama saya parkir motor saya di luar gedung. Dan ternyata saya langsung disambut tawaran untuk menggunakan jasa calo. (Masih ada saja calo percaloan di polres, ya. Kirain sudah enyah. Tapi ya, sudahlah.) Saya pun kemudian masuk dan bertanya pada pak polisi dan Mbak resepsionis yang lumayan ramah. Mereka memberi unjuk jalan pada saya terkait tempat membuat SKCK. Dengan langkah pasti, saya pun berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Di sana saya berjumpa dengan beberapa orang yang sudah mengantri untuk membuat SKCK seperti saya. Duh, ngantri lumayan banyak ternyata. Saya pun mempersiapkan syarat-syarat untuk membuat SKCK saya. E lha ndilalah, saat saya serahkan kepada ibu polisi yang bertugas, saya diminta untuk mengurus surat sidik jari terlebih dahulu, yang berada di samping ruangan pembuatan SKCK tersebut. Lanjutkan membaca

Bom Waktu

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, Dapet motret pas di pom bensin

Sumber Foto: Koleksi Pribadi, Dapet motret pas di pom bensin

Hai, Gaes, gimana kabar pilkada serentak di kotamu? Keren? Ah, atau kampretkah? Yah, ya … kemarin memang hari anti korupsi, tapi malah saya lihatnya tonggak awal munculnya korupsi. Money politic, Bro. Kampret! Uang dua puluh ribu saja sampai mana, sih, dibandingkan dengan janji-janji perbaikan dari calon yang tidak mengambil ranah money politic. Ya, namanya pemilu, kita cuma bisa mengandalkan rekam jejak, ya, kan? Soal janji semua sama saja. Visi misi mungkin beda, tapi intinya gembar gembor akan melakukan perubahan. Tapi, yah, yah … masyarakat yang menjadi korban nantinya yang mana bisa jadi pada masa pemilu ini ikut andil dalam memuluskan jalannya. Ya, kalian yang menyemai, kalian yang memanen. Pendidikan politik itu penting, tapi kalau tak acuh, ya sudahlah, telan sendiri keluhan. Dari pada baper, mending sudahlah, ya. Toh, sudah berlalu jua. Yang kuat memang yang menang, tapi pasti ada pertanggung jawaban kalau-kalau main kotor, kalau tidak di dunia, ya, di neraka. As simple as that. Sudah lihat hasil pilkada? Ya, semoga Tuhan selalu memberikan twist-twist yang keren nantinya, ya. We’ll see. Lanjutkan membaca

Penyakit Pak Ahmad

Pak Ahmad terkulai lemas di ranjang salah satu rumah sakit di kotanya. Kian tua tubuhnya kian sering menjadi tempat bersarangnya berbagai macam penyakit, entah itu asam urat, pegal linu, demam, sakit kepala, batuk, dan semacamnya. Meskipun penyakit-penyakit tersebut sering berkunjung ke tubuhnya, namun tak lama pula penyakit-penyakit itu pergi. Namun untuk penyakit yang dideritanya kini, sepertinya bukanlah penyakit remeh. Sebelumnya ia telah divonis oleh dokter mengidap penyakit diabetes militus, tapi ia tak pernah lupa untuk minum obat dan melakukan kontrol.

              Tiga hari lalu, Zaki dan Nurmala, anak Pak Ahmad, beserta suami Nurmala, Taufik, membawa Pak Ahmad  ke rumah sakit. Tubuh tua Pak Ahmad kian melemah, penglihatannya mulai kabur, entah apa yang tengah menimpanya kini, ia tak begitu paham.

            “Zaki, bapakmu ini sebenarnya sakit apa, kok sampai nginep di rumah sakit segala?” tanya Pak Ahmad kepada anak sulungnya.

              “Bapak cuma kecapekan, sekarang istirahat saja, Pak,” jawab Zaki yang duduk di samping ranjang Pak Ahmad.

Mendengar jawaban anaknya, Pak Ahmad tertawa kecil. “Kecapekan, ya?” gumamnya menatap langit-langit kamarnya. Kemudian ia menatap kembali mata anak sulungnya itu. “Bapakmu ini sakit diabetes, makin parah, ya?” lanjutnya tertawa kecil, kemudian mulai memejamkan matanya. Lanjutkan membaca

Bulan Bahasa, Ikut Seminar

Sumber foto dari twitternya Mbak Windi

Sumber foto dari twitternya Mbak Windi

Bulan bahasa. Yes, Oktober merupakan bulan bahasa bagi kita semua. Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda masa lalu mengikrarkan diri dalam sumpah pemuda: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu bangsa Indonesia; menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ya, sejak itulah bulan Oktber menjadi bulan bahasa, bahasa Indonesia.

Dan di bulan bahasa tahun ini, saya ikut serta dalam seminar perjalanan sastra Indonesia yang diadakan oleh mahasiswa UGM. Pembicaranya keren-keren, yaitu Windy Ariestanty, Prof. Faruk, dan Seno Gumira Ajidarma. Saya sebagai peserta, sih, cukup senang untuk ikut serta dalam acara tersebut, apalagi pembicaranya Bapak Seno Gumira, Brur. Ajib, dah! Saya salah satu penggemar cerpen cerpennya. Lanjutkan membaca

Pulang Dari FKY

Jarum jam menunjukkan pukul 8.30 malam, tapi kantuk sudah menyergap bersamaan dengan letih di tubuhku. Hal itu memang tidak mengherankan, karena sejak tadi siang aku telah berkunjung di acara FKY ini. FKY merupakan Festival Kesenian Yogyakarta yang diadakan tiap tahunnya.

Aku memang sudah tidak ngekos lagi di Yogya, tapi masih banyak kawanku yang masih indekos di kota gudeg tersebut. Aku pun menghubungi kawanku, Galuh, untuk nginep semalam karena tubuhku benar-benar letih apabila harus menempuh perjalanan jauh untuk pulang ke Solo. Kukirim pesan singkat padanya. Memang lacur, tak ada balasan pesan singkat darinya, bahkan teleponku pun tak diangkatnya. Aku pun memutuskan untuk langsung ke kosnya. Lanjutkan membaca

Bando Bertanduk Dari Kota Hujan

Sore itu, Camat dan kawan-kawan satu band-nya nongkrong di salah satu taman di kota Bogor─setelah pulang pentas di acara musik pagi di kota tersebut. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah bando bertanduk di taman tersebut. Kontan langsung ia kenakan di kepalanya dan ia pamerkan pada teman-temannya. Setelah puas bermain di taman, mobil yang mereka tumpangi meluncur ke kota Solo. Dan bando bertanduk itu dibawa Camat pulang.

Keesokan harinya, Camat mulai menemui hal aneh. Bulu kuduknya sering merinding tanpa sebab. Perasaannya sering berubah gamang. Malam harinya, ia mengalami tindihen, seperti ada sosok yang menghimpit tubuhnya sehingga tak bisa digerakkan.

Bukan hanya malam itu saja hal itu terjadi, tapi juga malam-malam berikutnya. Puncaknya adalah malam ketiga. Ia merasa tidak bisa tidur, tapi lambat laun ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Matanya setengah memicing, tapi semua syaraf tubuhnya tak bisa ia fungsikan. Ia terperanjat ketika samar-samar melihat sosok pria tua bersurban, memakai baju putih, dan berjenggot putih panjang. Perasaan jeri sontak muncul dengan amat kuat dalam dadanya. Rasa gamang yang luar biasa mendera batinnya. Ingin rasanya ia lari dari kamarnya, tapi tubuhnya benar-benar kaku.

                 “Ijinkan saya ikut denganmu, Tuan,” ujar pria tua itu santun.

Mulut Camat masih bungkam. Dadanya kian berdebar kencang. Butir butir keringat jatuh bercucuran. Tubuhnya kian memanas saja. Camat tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Lambat laun, sosok pria tua itu menghilang.  Dan tubuh Camat kembali bisa digerakkan. Kontan ia berlari ke kamar ayah dan ibunya karena kepalang takut.

Keesokan harinya, Camat menceritakan semuanya pada bibinya yang mana memiliki indera keenam. Dari penuturan bibinya, sosok pria tua itu mendiami bando yang dibawa oleh Camat. Ada dua cara untuk menanganinya, yaitu mengembalikan bando itu ke muasalnya, yaitu Bogor, atau berkawan dengan sosok itu sebagai pendampingnya. Dan Camat pun memilih mengembalikan bando itu ke tempat asalnya, meskipun harus menempuh perjalanan jauh.