Ternyata Berwisata Halal Itu Nyata!

Tahun lalu saya berkesempatan piknik ke Lombok. Saya berjanji pada diri sendiri bahwa Lombok bukanlah liburan terakhir saya. Setelah kembali ke rutinitas awal, saya pun membuat mimpi liburan selanjutnya. Liburan ini kemungkinan akan terealisasi pada akhir tahun/tahun baru, atau libur lebaran nanti. Kebetulan angan ini bukan milik saya sendiri, melainkan kawan-kawan kantor saya juga berencana untuk melakukan liburan. Terhitung tujuh orang setuju untuk melakukan liburan bersama-sama. Kami mempunyai jatah libur panjang pada libur lebaran dan juga libur akhir tahun/ tahun baru nanti.

Muncul diskusi panjang di antara kami terkait ke manakah kami akan liburan. Saya mengusulkan untuk liburan ke luar negeri, meski sebenarnya agak takut-takut untuk mengutarakannya. Namun, di luar dugaan, ide itu langsung disetujui oleh semua kawan saya. Senyum pun kontaan terulas di bibir saya. Diskusi panjang pun berguir kembali. Kami bertujuh mempunyai keinginan-keinginan yang berbeda-beda. Dua orang di antara kami, yaitu Rina dan Kania mengusulkan dengan gamblang untuk berlibur ke Korea Selatan. Ide itu langsung disetujui tiga orang lainnya, Ali, Fajar, dan Dhea. Kata mereka, Korea Selatan adalah kota yang indah dan sudah lama menjadi impian mereka. Tidak dimungkiri memang, mereka mengetahui keindahan Korea Selatan tak lain karena seringnya menyaksikkan drama-drama Korea yang mereka tonton secara estafet tiap akhir pekan.

Meski ide untuk berlibur ke Korea Selatan disetujui lebih dari separuh di antara kami, namun ide ke Bangkok muncul tiba-tiba oleh Topan. Ia menuturkan bahwa Bangkok mempunyai budaya dan tempat-tempat bersejarah yang indah. Ia sangat tertarik untuk pergi ke Bangkok karena dulu waktu kuliah ia mempunyai teman yang berasal dari Bangkok−seorang mahasiswa asal Thailand yang melakukan pertukaran pelajar/studi banding−yang tak henti-henti menceritakan keindahan kota Bangkok. Setelah diskusi panjang, akhirnya kami memutuskan bahwa kami akan melakukan liburan ke Bangkok dan Korea Selatan. Kami akan berlibur ke Bangkok pada masa libur lebaran, dan kami akan berlibur ke Korea Selatan pada akhir tahun, waktu musim dingin.

Muncul sebuah masalah baru. Kami buta sama sekali dengan urusan berlibur ke luar negeri. Kami pun saling bungkam beberapa saat sebelum Topan mengusulkan untuk menggunakan agen travel tour wisata. Ide yang sangat brilian yang langsung membuat wajah kami cerah kembali. Namun Rina mengajukan persyaratan, ia ingin berwisata halal dengan menggunakan agen travel tour wisata halal. Ia bercerita tentang kawannya yang pernah traveling ke Tiongkok yang selalu khawatir tanpa tahu makanan yang ia makan itu halal atau tidak. Meski saya menyukai Rina, namun dahi saya tetap mengerut. Memang ada agen travel tour wisata yang mengedepankan kehalalan? Saya kian menggeleng-gelengkan kepala saat Rina berujar tak akan ikut kalau tak ada jaminan wisata halal dari agen travel tour. Dengan berapi-api, ia menjelaskan tentang adanya fatwa MUI tentang wisata halal.

“Aku mau perjalanan kita nanti benar-benar halal sesuai fatwa MUI. Kita harus menggunakan agen travel wisata halal, baik itu terkait makanan, minuman, panduan ke tempat ibadah, pemilihan hotel yang baik, dan lain-lain sesuai fatwa MUI.” Rina menekankan pentingnya menu halal dalam wisata halal agar terhindar dari dosa, Ia tak ingin perjalanan kami nanti hanya menghasilkan keburukan tanpa memperhatikan menu halal di dalamnya.

“Emangnya MUI mengelurkan fatwa wisata halal? Kapan, Rin? Kok aku nggak tahu, sih?” Meski saya diam-diam menyukai Rina, tapi saya masih kurang percaya dengan penuturan Rina terkait adanya fatwa wisata halal MUI tersebut.

“Tahun lalu bulan Oktober, MUI mengeluarkan fatwa itu, yaitu tentang  Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Berdasarkan Prinsip Syariah. Fatwa ini ditujukan untuk wisatawan, biro perjalanan, pengusaha pariwisata, pemandu wisata, dan terapis. Lagi pula akhir tahun lalu, ‘kan kamu ke Lombok.”

“Apa hubungannya sama aku ke Lombok?” saya kian tak paham dengan alur perkataan Rina, meski penuturannya membuat saya tetap kagum.

“Yaelah,” decak Rina gemas, “Lombok meraih Worlds Best Halal Tourism Destination (Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia) dan Worlds Best Halal Honeymoon Destination (Destinasi Bulan Madu Halal Terbaik Dunia). di ajang World Halal Travel Awards (WHTA) 2015 lalu.”

Mulut saya langsung tebungkam. Saya malah tidak tahu tentang penghargaan yang diraih Lombok. Kekaguman saya kian menjadi. Bukan hanya pada keindahan Lombok, tapi juga pada kecerdasan dan ketelitian Rina. Saya tidak tahu apakah perasaan saya saja ataukah memang benar, kecantikan Rina naik drastis setelah penjelasan panjang tersebut. Tiba-tiba muncul sebuah bayangan di kepala saya bahwa setelah libur akhir tahun nanti, saya ingin Rina dan saya halal.

“Hoi …” senggol Ali membuyarkan lamunan yang saya rajut, “senyum-senyum sendiri, tahu nggak apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Tatatapan saya kosong, senyum tanggung terulas. “Tahu,” jawab saya ragu-ragu.

“Apa?”

“Menikah halal, eh, maksud gue wisata halal.”

“Yaelah, dari tadi juga bahasnya wisata halal, keles. Sekarang, tuh, kita harus cari agen travel wisata halal,” papar Ali gemas.

“Benar! Ini penting banget. Kita harus memikirkan pentingnya pemilihan travel yang mensuppport wisata halal. Aku nggak mau perjalanan ini hanya mendatangkan mudarat bagi kita,” sambar Rina berapi-api.

“Siap, Rin!” sahut saya semangat.

“Siap-siap aja, nih, anak. Langsung browsing keles,” sahut Fajar cepat.

Sambil curi-curi pandang ke arah Rina, saya pun langsung membuka handphone saya untuk browsing agen travel wisata halal. Belum sempat masuk ke pencarian, Kania mengatakan sudah menemukan agen travel halal yang cocok buat kami. Namun, kami tidak langsung memutuskan travel yang ditemukan Kania akan kami pilih. Setelah mengumpulkan banyak referensi agen travel, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada satu agen travel yang kami anggap cocok dengan keinginan kami. Namanya Cheria Travel, selain menyediakan wisata halal, menurut kami Cheria Travel juga memberikan harga yang relative terjangkau apabila dibanding dengan paket wisata yang ditawarkan.

“Tapi kira-kira legal nggak, tuh, agen? Yah, bukan gimana-gimana, sih, takutnya, ‘kan, kita diceburin ke laut, atau malah dijadiin korban perdagangan manusia, ‘kan, serem,” cetus Fajar tiba-tiba.

“Jangan drama, deh!” sahut Dhea, “nih, PT. Cheria Tour and Travel punya TDP 36/2014 Tanggal 7 Januari 2013 Dinas Pariwisata DKI Jakarta; mereka juga sudah jadi member International Air Transport Association (IATA) dengan Nomor 15314132; bahkan mereka punya izin Penyelenggara Ibadah Haji Khusus Madinah Iman Wisata Nomor 118 Tahun 2015 dan juga izin Umroh Madinah Iman Wisata Nomor D/70/2015.”

logo-cheria-travelsdgrf

“Makanya baca! Males baca, sih, lu,” sahut Ali mengejek.

“Eh, bentar. Mereka juga punya izin biro ibadah haji dan umroh?” tanya saya.

“Bentar,” jawab Dhea seraya menggeser halaman di handphone-nya,”nah, ini, selain menyediakan paket tour halal, mereka juga menyediakan paket umroh plus, paket haji plus, booking tiket, proses pembuatan visa, dan booking hotel.”

“Yaelah, lu sama aja kayak Fajar. Sama malesnya. Makanya baca!” sambar Ali.

“Baca, baca. Emang lu tahu paket umroh plus sama paket haji plus itu, plusnya apa coba?” saya agak gusar dengan kelakuan Ali.

“Ya tahu lah …” jawab Ali seraya menatap lekat handphone-nya, “Nih, umroh plus itu plusnya bisa plus sambil piknik. Misal lu ambil plus Umroh Turki, nanti lu bakal umroh sambil jalan-jalan ke Turki. Bahkan ada juga paket umroh pernikahan, nikah sekaligus umroh. Cuman, paket ini nggak cocok sama lu yang ngarep doi tapi nggak pernah ada pergerakan,” ekor mata Ali melirik Rina, “atau lu mau ngajak orangtua lu naik haji dengan paket haji plus, yaitu waku daftar tunggu tak terlalu lama ketimbang haji reguler dengan fasilitas yang lebih baik dengan hotel bintang lima malah.”

Seketika muncul impian itu. Menikah plus umroh plus jalan-jalan. Suatu hari nanti  saya dan Rina akan halal sebagai suami istri, kami akan melaksanakan pernikahan sekaligus ibadah umroh dengan mengambil paket umroh menikah plus Eropa. Rasanya pasti benar-benar romantic dan sakral.

“Hoi …” colek Ali membuyarkan lamunan indah yang saya rajut, “paham kagak, lu? Nglamunin Rina lu, ye?”

Kontan saya tergagap dengan wajah memerah.

“Yaudah, kita langsung ke kantornya aja. Di mana kantornya? Jangan-jangan cuma perusahaan fiksi lagi,” sambar Fajar yang menyelamatkan saya dari situasi memalukan itu.

“Ini, sih, alamatnya di Gedung Twink Lt. 3,Jl. Kapten P. Tendean No. 82 Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12790. Berarti benar-benar nyatalah, bukan agen fiktif. Kalau nggak, kita telepon dulu aja. Nih, nomor teleponnya: 021-7900 201 atau  021-700 216. Ada dua, sih, aktif semua kayaknya, deh. Coba aja,” papar Kania.

Guys,” Rina mulai menengahi,” perusahaannya, tuh, legal. Track record-nya bagus. Banyak testimoninya juga. Alamat jelas. Masak agen fiksi, sih, ada-ada aja, deh,” helaan napas panjang Rina terdengar halus, “sekarang gini. Kita ke kantor Cheria travelnya besok aja, sekarang kita buat list tempat wisata mana aja yang akan kita kunjungi nantinya.”

Testimoni Bapak Sharil Manado Jamaah Umrah Cheria Travel

“Eh, tapi kalau paket wisata domestik ada, nggak? Gue pengen juga kapan-kapan ke Lombok. Envi gue sama, nih, bocah,” ekor mata Fajar melirik pada saya, “secara gue, kan, nggak punya temen orang Lombok.”

“Bisa. Tinggal pilih paket wisata halal dengan tujuan ke Lombok. Beres,” sahut Rina yakin. Rina juga mengatakan pada Fajar bahwa ia bukan hanya bisa wisata halal ke Lombok, tapi juga bisa ke tujuan wisata domestik yang lain, karena, lanjut Rina, Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia. “Yaudah, sekarang kita bisa lanjut diskusinya?”

Kami pun melanjutkan diskusi terkait tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Tujuan wisata yang akan kami datangi pada libur lebaran adalah Bangkok. Topan sangat semringah saat diskusi tentang Bangkok dimulai. Kami pun mulai browsing terkait tempat-tempat wisata di sana sebagai bahan diskusi. List pun mulai kami buat dengan banyak pertimbangan dari paparan Topan. Berikut tempat-tempat di Bangkok yang kemungkinan akan kami pilih:

  1. Wat Arun.

Menurut teman Topan pertukaran pelajar/studi banding asal Thailand, Wat Arun merupakan salah satu tempat bersejarah yang wajib kami kunjungi. Wat Arun adalah sebuah kuil yang merupakan Candi Budha yang terletak di kota Bangkok, di hulu sungai Chao Phraya. Untuk mencapai ke sana, kami dapat menaiki perahu melalui jalur sungai  Chao Phraya. Lewat sungai yang bersih dengan tatanan kota yang rapi, kami akan mendapatkan pengalaman bertransportasi yang asik. Wat Arun sendiri terlihat sangat indah terlebih saat senja datang. Selain itu, hal cantik lainnya adalah dinding pada bangunan Wat Arun berwarna-warni seperti keramik yang begitu memesona.

  1. Pantai Pattaya

Pantai Pattaya ini merupakan pantai yang berbentuk bulan sabit. Dengan dihiasi pohon palem dan hamparan pasir yang cantik, pantai ini tepat menjadi tujuan wisata kami. Selain itu, terdapat pulau-pulau kecil di Pattaya, salah satunya Koh Larn atau sering diserbut Coral Island. Dengan menempuh perjalanan laut 45 menit dengan perahu, kita akan bisa menikmati keindahan pulau indah nan eksotis ini. Kami berencana untuk berenang dan diving di pantai pulau ini, karena keindahan bawah lautnya yang sangat indah nan beragam. Coral Island mempunyai dua pantai yang sangat indah, yaitu Long Beach dan Banana Beach. Keduanya mempunyai keindahan, ketetenangan, dan keromantisan. Tempat yang membuat saya bermimpi untuk segera memiliki pasangan halal seperti Rina untuk berbulan madu di sana. Selain itu, snorkeling di Banana Beach adalah ide bagus, karena batuan karang di sana begitu indah dan memesona.

  1. Wat Pho

Wat Pho merupakan kuil tertua di Bangkok. Di kuil ini terdapat patung Budha berlapis emas dengan posisi berbaring berukuran besar dengan panjang 45 meter dan tinggi 15 meter yang pasti akan membuat kami berdecak kagum. Patung Budha ini melambangkan Budha Nirwana. Selain itu, lukisn-lukisan indah pada dinding kuil tampak cantik dan mengesankan. Keindahan penuh sejarah tak akan kami lewatkan.

  1. Royal Grand Place

Royal Grad Place merupakan kompleks istana Raja Thailand yang dibangun sejak tahun 1782 di Bangkok. Tempat ini dianggap suci oleh masyarakat Thailand, sehingga untuk masuk ke sana, kita diperkenankan untuk berpakaian yang rapi dan sopan. Kami tidak diperkenankan untuk mengenakan celana pendek, tangtop, bahkan sandal jepit. Sebagai wisatawan memang sebaiknya taat aturan, karena tempat yang akan kami datangi adalah tempat suci. Untungnya di antara kami bertujuh tak ada satu pun yang suka bergaya aneh-aneh bahkan seksi. Aman.

  1. Wat Phra Khew

Wat Phra Khew ataau lebih dikenal dengan nama Temple of Emerald Budha merupakan kuil Budha yang masih satu area dengan kompleks Grand Palace. Di dalam kuil tersebut terdapat patung Emerald Budha dengan posisi sedang meditasi atau duduk bersila. Bagi masyarakat Thailand, tempat ini dianggap sangat suci. Ada aturan yang menghimbau kepada wisatawan untuk tidak mengambi foto atau berfoto ria di sana. Kami pun harus menekankan kepada Ali untuk tidak mengambil foto, karena kami tahu ia adalah manusia yang gila foto selfie.

  1. Siam Ocean World

Tempat ini merupakan akuarium raksasa yang menjadi tempat favorit masyarakat Thailand. Bahkan akuarium ini merupakan akuarium terbesar di Asia Tenggara. Siam Ocean World sendiri berada di Basement floor, Siam Paragon Mall. Akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan bagi kami dapat melihat hewan-hewan laut di akuarium tersebut.

  1. Pattaya Floating Market
floating-market

Sumber Foto: Bangkok.com

Pattaya Floating Market merupakan pasar apung yang terkenal di Bangkok. Pasar ini merupakan pasar apung terbaik dan terbesar di Thailand. Pedagang di pasar ini rata-rata menjual buah-buahan dan sayur-sayuran di atas perahu mereka masing-masing. Selain itu, terdapat pula berbagai kerajinan dan makanan khas Thailand di tempat ini. Bahkan wisatawan dapat menyewa perahu untuk berkeliling pasar. Akan menjadi pengalaman yang asyik apabila kami mendatangi pasar terapung ini nantinya.

  1. Kebun Binatang Sriracha
sriracha-tiger-zoo

Sumber Foto: tripadvisor.com

Berbeda dengan kebun binatang pada umumnya, kebun binatang ini merupakan kebun binatang yang memiliki populasi harimau sebanyak 200 ekor dan populasi buaya sebanyak 10.000 ekor (terbanyak di dunia). Mendengar hal itu, saya langsung bergidik ngeri. Selain itu, kami juga dapat menyaksikkan atraksi harimau dan buaya. Ada hal lain yang membuat saya kian bergidik, namun malah membuat Rina bersemangat, yaitu kita dapat berfoto bersama harimau-harimau yang sudah jinak. Hal yang membuat saya dilema, apakah saya akan berfoto ria harimau itu hanya untuk terlihat macho di hadapan Rina, atau saya memilih untuk tidak melakukannya untuk menjaga keselamatan diri. Namun, yang pasti berkunjung ke kebun binatang Sriracha akan menjadi pengalaman wisata luar biasa bagi kami.

  1. Silver Lake Grape Farm
1fc372946c0b98fb8d7f87d4c38ea83a_XL

Sumber Foto: asiandestination.com

Silver Lake Grape Farm merupakan hamparan perkebunan anggur dengan taman-taman indah di setiap sudutnya. Tempat ini menawarkan wisata alam yang asri dan menenangkan. Kami bisa berkeliling dengan berjalan kaki atau menyewa sepeda untuk menikmati semua keindahan yang ada di tempat tersebut. Kami memaklumi saat Ali terlihat girang saat kami membahas tempat ini. Hasratnya untuk berfoto ria akan tersalurkan di tempat ini. Selain itu di Silver Lake Grape Farm terdapat Green House, yaitu tempat di mana tanaman anggur akan selalu ada tanpa mengenal musim.

  1. Khoa San Road

Banyak orang menyebut Khoa San Road merupakan surga berkumpulnya para backpacker dari seluruh dunia. Selain penginapan murah, makanan murah juga mudah ditemui di tempat ini. Khoa San Road akan ramai sesak pada malam hari. Untuk mendapatkan oeh-oleh atau souvenir khas Thailand, tempat ini adalah tempat yang tepat.

Saya yakin perjalanan kami ke Bangkok, Thailand akan menyenangkan, terlebih setelah perdebatan panjang berakhir. Kami telah menemukan agen travel yang mengedepankan wisata halal, yaitu Cheria Travel. Tak ada kerisauan lagi terkait menu halal dan wisata halal yang akan kami jalani. Terlebih kian besarnya kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Rina.

Dan pada akhirnya kami memilih Paket Tour Wisata Halal Bangkok  (sesuai yang ditawarkan Cheria Travel yang menurut kami cocok bagi kebutuhan kami

Sebelum diskusi kami terkait perjalanan ke Korea Selatan dimulai, Fajar mengajukan sebuah usul untuk menamai kelompok liburan kami. Saya pikir ini tidak terlalu penting sekali. Tanpa nama pun kelompok liburan ini juga akan berangkat kalau perencanaan matang.

“Gimana kalau Cheria Halal Holiday?” usul saya agak malas-malasan.

“Setuju,” sahut Rina yang kontan membuat mata saya terbelalak, “bener, tuh, Cheria Halal Holiday nama yang terdengar enak di telinga. Yang artinya kita bisa liburan dengan ceria dan halal.”

dgfd

Senyum pun terulas di bibir saya. Tak pernah saya sangka ide saya begitu disukai oleh Rina. Dan beruntungnya semua anggota langsung setuju dengan usulan nama itu. Akhirnya kami pun menyebut kelompok kami dengan sebutan Cheria Halal Holiday untuk perjalanan kami nanti.

Membahas diskusi tentang perjalanan kami ke Korea Selatan, Rina tampak begitu bersemangat yang secara tak langsung membuat saya ikut bersemangat. Terdapat beberapa Paket Tour Wisata Halal Korea Selatan (yang bisa kami pilih. Tanpa berlama-lama, kami pun langsung memilih paket yang disediakan oleh Cheria Travel, yaitu paket musim dingin atau winter di Korea Selatan pada liburan akhir tahun/tahun baru nanti.

Kebetulan sekali kami akan melakukan liburan pada musim dingin akhir tahun, sehingga kami akan berjumpa dengan salju. Beberapa tempat yang akan kami datangi pada liburan akhir tahun nanti sesuai paket yang disediakan Cheria Travel, sebagai berikut:

  1. Nami Island

Pada hari kedua setelah pendaratan pada hari pertama di Korea Selatan, kami akan berkunjung ke Nami Island. Nami Island atau pulau Nami adalah pulau kecil yang terletak di wilayah Chuncheon-si, Gangwon-do. Rina menjelaskan bahwa pulau ini merupakan pulau tempat syuting Winter Sonata. Sebuah drama Korea romantic yang sangat terkenal, yang mana sedikit pun tidak saya ketahui. Saya pun berjanji ada diri sendiri untuk menyaksikkan drama itu sebagai bahan pembicaraan saya nanti dengan Rina. Lebih anjut, Rina menjelaskan bahwa di Nami Island, terdapat banyak pohon menjulang tinggi yang khas yang mana menambah kecantikan dan keromantisan pulau tersebut. Dari rautnya, Rina tampak bahagia membicarakan pulau Nami ini. Akan lebih romantis andai saja saya dan Rina kelak berbulan madu di tempat ini. Eh.

Setelah puas berjalan-jalan ke Nami Island, perjalanan akan kami lanjutkan ke Teddy Bear Farm. Adalah kawasan bangunan yang diisi oleh beberapa boneka Teddy dalam berbagai pose, postur, dan kostum. Bagi pencinta Teddy Bear, tempat ini sangat memanjakan. Boneka-boneka Teddy dalam berbagai ukuran tersebar di area ini.

  1. Sorak – Ski Resort

gwongeumseong-fortress-mtsorak.jpgPada hari ketiga, kami akan memanjakan diri dengan suguhan keindahan Mount Sorak, gunung yang kokoh dengan pemandangan indah. Kami akan menggunakan cable car untuk mengunjungi Gwongeumseong Fotress, yaitu situs reruntuhan kastil di salah satu puncak Mount Sorak. Pengalaman mengasyikan akan kami temukan dengan menaiki cable car atau gondola dengan pemandangan Mount Sorak yang diselimuti salju untuk mencapai Gwongeumseong Fotress. Di Gwongeumseong Fotress, kita akan melihat pemandangan alam yang begitu indah berupa hutan dan bukit-bukit berselimut salju, serta tebing-tebing batu yang kokoh.

Selain itu, kami juga akan mengunjungi Shinheungsa Temple dan Great Bronze Budha, yaitu kompleks kuil tua Budha dengan arsitektur yang indah, serta patung Budha berukuran besar setinggi 18 meter. Kemegahan bangunan-bangunan itu akan membuat kami berdecak kagum dan tak akan melupakan perjalanan tersebut. Setelah puas menikmati kemegahan tempat-tempat bersejarah itu, siang harinya kami akan menuju ke ski resort untuk bermain ski dan salju. Saya sungguh tak sabar untuk melakukan itu, karena seumur hidup, saya belum pernah menyentuh salju. Rasanya mendebarkan sekali.

  1. Seoul

Pada hari kempat, kami akan diajak membuat Kimci oleh Cheria Travel, yaitu makanan khas Korea Selatan yang sangat terkenal di negeri ginseng tersebut. Selain itu, kita akan mencoba memakai Hanbok, pakaian tradisional Korea Selatan. Hal itu membuat Rina teriak-teriak kegirangan yang membuat hatiku kian luluh. Ia begitu cantik saat kebahagiaan terpancar dari wajahnya.

Destinasi kami pada hari keempat ini adalah Hanok village, yaitu desa tradisional di Korea Selatan. Di kawasan desa itu, kami akan melihat rumah-rumah adat rakyat Korea zaman dulu. Kata Rina, tempat itu adalah tempat yang sering digunakan untuk syuting drama-drama Korea kolosal. Rina berujar, kami akan tahu banyak tentang budaya dan tempat-tempat tradisional di desa ini.

Pada sore harinya, kami akan berkunjung ke Itaewon Shopping Street di Seoul, yaitu tempat nongkrong asik di Korea untuk sekadar jajan makanan atau berbelanja. Selain itu, kami juga akan mengunjungi megahnya satu-satunya masjid di Seoul, yaitu Masjid Itaewon.

  1. Seoul

Hari kelima destinasi kami masih di kota Seoul, namun berbeda dengan hari sebelumnya. Pada hari kelima ini kami akan berkunjung ke Gyeongbok Palace, yaitu salah satu istana terbesar pada masa Dinasti Joseon. Kami akan melihat kemegahan istana Gyeongbok yang penuh sejarah. Selain itu, National Folk Museum yang berada di halaman Gyengbook Palace tak akan kami lewatkan. National Folk Museum ini mengoleksi ribuan artefak dan alat-alat bangsa Korea pada masa lampau. Tak lupa kami juga akan melewati Blue House Presidential Palace atau sering disebut Cheong Wa Dae, yaitu kantor kepresidenan sekaligus kediaman presiden yang berada tidak jauh dari Gyeongbok Palace. Blue House Presidential Palace memiliki atap berupa susunan genting berwarna biru yang sangat mencolok keindahannya.

2d4b0cc6aca438f15b89d0710beaee6a

Sumber Foto: Pinterest.com

Setelah puas menikmati wisata bersejarah, kami pun melanjutkan kunjungan ke Cheonggye Stream, yaitu sungai cantik yang terletak di Jung-gu, Seoul. Terdapat dua puluh jembatan cantik membentang di sungai ini yang menjadi destinasi wisata yang patut untuk dinikmati keindahannya. Saya yakin, Ali pasti girang ke tempat ini karena dapat melampiaksan jiwa selfinya sepuas hati. Tak lupa kami akan mengunjungi tempat-tempat berbelanja, seperti Ginseng Outlet, Cosmetic Shop & Duty Free Shop, Red Pine, Amethyst Factory untuk membeli oleh-oleh. Untuk melanjutkan hasrat berbelanja oleh-oleh, pada malam harinya kami ke berkunjung ke Myeongdong Fashion Street yang merupakan surga berbelanja di kota Seoul sekaligus pusat fashion dan kehidupan malam anak-anak muda Seoul. Sekali lagi Rina tampak girang dan begitu menginginkan kunjungan ke tempat ini. Katanya, Myeongdong Fashion Street adalah salah satu lokasi syuting drama Korea Princess Hours. Drama yang sedikit pun tak saya ketahui, dan untuk kesekian kalinya saya berjanji untuk menonton drama itu demi bisa lebih dekat dengan Rina.

Kami yakin liburan kami ke Korea Selatan dan Bangkok tidak akan terlupakan seumur hidup kami nantinya. Dan dengan menggunakan bantuan Cheria Travel, kami yakin kekhawatiran tentang bagaimana perjalanan kami terkait wisata halal nantinya akan lenyap. Saya yakin, Cheria Halal Holiday akan membuat kami semakin solid dan akan membuat saya lebih dekat dengan Rina.

P.S.

Betewe, kami bukan hanya berencana wisata halal bersama Cheria Travel ke Bangkok dan Korea Selatan saja, namun kami juga nge-wish list beberapa tujuan wisata yang akan kami kunjungi entah kapan. Mungkin tahun depan. Atau bisa jadi wisata halal bulan madu saya bersama Rina setelah halal nanti. #Eh Berikut paket-paketnya:


Lomba Menulis Artikel Cheria Wisata

Iklan

Bala Yang Menunggu

Malam kian larut, Udin dan kedua kawannya—Topan dan Mardi—masih bergantian menenggak beseloki-seloki wiski. Pesta miras ini adalah simbol kemenangan setelah mereka berhasil merampas barang-barang milik sepasang muda mudi yang melintas di salah satu jalanan sepi di kota mereka. Bukan hanya kali ini saja mereka melakukan aksi macam itu—merampas dengan cara menodong—terhitung sudah enam kali mereka melakukan aksi bejat tersebut—dengan Udin sebagai eksekutornya, sedang Topan atau Mardi sebagai pendamping. Tentu saja sebelum melakukan aksinya tersebut, mereka menenggak beberapa seloki wiski terlebih dahulu. Kata Udin, dengan menenggak minuman laknat itu, keberaniannya bertambah berkali-kali lipat. Tak ada yang namanya tubuh gemetar saat menodongkan sebilah golok yang ia hunuskan dari jaket lusuhnya. Dan tentu saja setelah berhasil merampas harta benda korbannya, mereka melanjutkan pesta miras kembali di markas mereka, yaitu bangunan kosong tak berpintu pinggir sawah, yang letaknya tak jauh dari kampung mereka.

“Aku pengen ngumrohke Simbok e, Bro,” cetus Udin tiba-tiba di sela-sela pesta miras mereka.

Topan dan Mardi saling tatap sejenak. Tatapan mereka seakan menumbukkan pertanyaan yang sama atas apa yang telah mereka dengar.

“Umroh?” tanya Topan tak percaya. Tak lama, tawa dua kawan Udin itu pun pecah hingga terbatuk-batuk.

Udin tak langsung menyahut, ia menenggak seseloki wiski terlebih dahulu. “Iyo, aku sudah ngecek ke biro perjalanan umroh beberapa bulan lalu soal biaya dan semua yang dibutuhke selama umroh, dan syukur alkhamdulillah biayane sudah hampir mencukupi.” Lanjutkan membaca

Lelaki Biadap

 Susi menatap prihatin sosok Rima anaknya yang masih murung sejak lima hari lalu. Berkali-kali dicecar pertanyaan oleh ibunya, gadis berusia 18 tahun itu tetap bergeming. Susi kian sedih melihat anak semata wayangnya sejak hari pertama sampai hari kelima ini terus-terusan menitihkan air mata meski tanpa suara.

“Kau ini kenapa, Nak, Ibu jadi ikut sedih jika kau murung macam ini terus?” tanya Susi gemas. Rima hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan ibunya, lalu perlahan-lahan air matanya menetes kembali. “Ceritalah sama Ibumu ini jika punya masalah, jangan memendam semuanya sendiri,” lanjut Susi sambil mengusap-usap punggung Rima.

Rima tetap membisu, hanya kepala dan matanya saja yang bereaksi tiap kali ibunya menanyakan hal serupa selama lima hari ini. Nafsu makannya juga menurun drastic. Ibunya kelimpungan tiap kali harus membujuknya untuk mengisi perut. “Kau harus tetap makan, Rima, jangan terus-terusan muram macam ini,” kata ibunya mencoba menyuapi. Berkali-kali Susi memasak makanan kesukaan Rima, macam: semur jengkol, sop jamur, oseng ati empela, dan soun pedas, tapi gadis itu hanya memakannya beberapa sendok saja, itu pun harus disuapi oleh ibunya. Lanjutkan membaca

Penegak Hukum Sejati

Mobil berwarna hitam yang mereka tunggangi mendarat di pekarangan sebuah rumah megah setelah ada dua orang penjaga membuka gerbangnya. Rumah mewah itu memiliki pagar yang tinggi sehingga tak seorang pun bisa melihat dari seberang jalan. Ia bersama kedua rekannya—yang lebih senior—turun dari mobil. Matanya langsung menanap menatap rumah mewah dengan pilar-pilar besar sebagai penyangganya tersebut. Tanpa diberi aba-aba, tungkainya berderap mengikuti langkah kaki kedua rekannya menuju pintu rumah mewah tersebut. Dua orang penjaga mengangguk hormat lantas membukakan pintu besar rumah tersebut. Setelah pintu dibuka, matanya terbelalak mendapati banyak sekali orang memegang kartu-kartu remi bergerombol di setiap meja. Tak hanya itu, ia juga melihat permainan putaran judi yang juga dikerubungi banyak orang, serta permainan-permainan judi yang lain sepaket dengan gadis-gadis berpakaian minim yang masing-masing memegang botol wiski. Bau keringat dari para manusia itu menusuk hidungnya, ia merasa tak nyaman dengan aroma yang menguar dari tubuh para penjudi tersebut. Matanya masih mengamati orang-orang di sekelilingnya bersuka ria dengan permainan-permainan perjudian tersebut.

Tak pernah kukira ada tempat semacam ini di daerah kumuh ini, sialan! Batinnya meracau. Tak berselang lama, seorang pria ceking berambut ikal menyambut mereka dengan ramah. Senyum hormat yang pria ceking ulas dari bibirnya itu disambut datar oleh kedua rekannya.

“Silakan, Pak, sudah ditunggu Bos,” ujar pria ceking tersebut seraya menunjukkan jalan. Lanjutkan membaca

Cinta Monyet Sialan!

Tak henti-hentinya Dulah memeluk erat benda yang baginya sangat berarti itu. Sebuah benda yang ia temukan di dalam kotak kecil kolong lemari, bercampur dengan benda-benda lusuh lain milik istrinya. Air yang mengucur dari sudut matanya benar-benar tak bisa ia bendung. Ia merasa menjadi seorang pria paling bodoh dari seluruh pria di muka bumi ini. Tak lama kemudian, ia pun meluncur cepat mengendarai sepeda motornya.

“Memang sebaiknya kita bercerai saja, Dul, aku tak sanggup lagi menjalani pernikahan yang selalu mengikis hatiku secara perlahan,” ujar istrinya beberapa jam yang lalu.

Dulah menatap lekat istrinya. Tak ada sahutan dari bibirnya—tidak menolak, tidak pula mengiyakan.

“Maafkan semua kesalahanku selama ini, aku juga memaafkan kesalahanmu terhadapku, semoga ini keputusan terbaik yang kita ambil … aku akan segera mengajukan surat gugatan perceraian kita ke pengadilan agama, Dul. Terima kasih untuk semuanya,” lanjut istrinya sebelum pergi meninggalkannya. Dulah hanya terdiam merenungi rumah tangganya yang tengah berada di ujung tanduk. Lanjutkan membaca

Pensiun

Cahaya mentari mulai menyelinap melalui ventilasi rumah pria yang usianya mulai menapak senja itu. Senin pagi yang begitu cerah, secerah hatinya yang diselimuti kobar semangat. Pria itu sibuk mematut diri di depan cermin kamarnya. Baju berwarna krem telah membalut tubuhnya dengan anggun. Disisirnya rambut yang mulai memutih itu. Wah, kok mulai putih lagi, harus nyemir lagi ini. Batinnya seraya mengusap samar ubannya. Memang biasanya ia menyemir rambutnya ketika uban mulai tumbuh, agar terlihat lebih muda. Ketika ia tengah sibuk mematut diri, istrinya muncul menghampirinya. Wanita yang telah mendampingi hidupnya selama 33 tahun itu terperanjat dengan apa yang dikerjakan suaminya.

“Bapak mau kemana?” tanya sang istri dengan dahi mengerut.

Pria itu menyunggingkan senyum. Gigi palsu menghiasi senyumnya. “Walah, Buk, pertanyaanmu, kok, aneh? Yo ngajar, tho. Ini hari Senin, ada upacara bendera, Bapak ndak mau terlambat, Buk,” sahutnya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan istrinya. Lanjutkan membaca

Umar vs. Kopi

2016-03-06 22.15.46

Berjumpa dengan kawan lama kembali adalah salah satu hal yang menyenangkan. Apalagi kawan yang dulu telah memberi kita banyak kenangan manis. Beberapa waktu lalu, kawan kuliah saya dulu, Umar, plesir ke Jogja. Katanya ia hendak menyurvey beberapa obyek wisata di Jogja untuk bisnis barunya, yaitu jasa tour and travel. Saya memintanya untuk dolan ke Jogja pada hari Minggu dengan tanggal yang sudah saya tentukan, agar saya juga bisa ke sana dan berjumpa dengannya. Hari yang saya pilih itu adalah hari di mana saya harus menghadiri pernikahan kawan saya di Wonosobo. Rencananya kami akan menginep di kos Yoga, kawan kuliah kami.

Umar mengatakan akan datang ke kos Yoga pada waktu petang hari, sehabis Magribh, dan tak lupa ia pun bertanya pukul berapa saya akan menyusulnya ke kos Yoga. Saya yang waktu itu sedang menikmati jamuan prasmanan pernikahan kawan saya harus membalas beberapa SMS Umar yang bertubi-tubi macam kereta―setelah me-reject teleponnya berkali-kali.

“Iya, aku sampai kos Yoga Magribh juga kalau gitu,” balas saya agak gusar karena memang Umar cerewetnya sedang kambuh.

Tenan, lho, ya!”

“Iya, Su!”

Yawis, tak tunggu nanti di kos Yoga.”

Tak lama saya menikmati makanan yang ada di piring saya kembali, Umar mulai lagi mengirimkan pesan singkat yang membuat saya harus menghentikan aktivitas saya itu.

“Kose Yoga di mana, Gun? Aku ndak tahu!”

“Jakal!”

“Jakal ngendi?”

“Jakal bagian dhuwur.”

“Daerah ngendi, dekat gua Jepang? Sik jelas gitu, lho.” Lanjutkan membaca

Kegamangan

Mia tak henti-henti mengusap cincin yang terpasang di jari manis tangan kirinya. Cincin emas bermata berlian indah itu adalah cincin yang diberikan oleh Danu, kekasihnya. Mia sangat mencintai Danu, begitu pula sebaliknya.

Will you marry me, Mia?” pinta Danu berlutut seraya menyodorkan cincin itu pekan lalu.

Mia tak langsung menjawab. Ia memandangi cincin yang disodorkan Danu, kemudian matanya beralih ke mata Danu, beralih lagi ke cincin itu. Muncul perasaan takut yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya, meski hatinya merasa bahagia dengan apa yang dilakukan kekasihnya tersebut. “Apa kau yakin, Dan?” tanya Mia. Dahi Danu mengerut melihat reaksi Mia. “Maksudku, apakah kau bersedia menerima semua yang ada dalam diriku?” ralat Mia.

Danu menghela napas panjang. “Mia, aku tak pernah seyakin ini sebelumnya. Cintaku tak pernah sedalam ini sebelumnya pada wanita lain. Seiring bertambahnya usia, juga bertambahnya kedewasaan, banyak sekali pelajaran yang telah kuambil dari perjalanan hidupku. Sepertinya memang ini waktu yang tepat untuk memutuskan semua ini. Aku yakin memilih dirimu sebagai pendamping hidupku, baik dalam susah, apalagi senang. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan dirimu. Karena bersamamulah aku merasa lebih menikmati hidup. So, will you marry me, Mia?” Seulas senyum menghiasi bibir Danu. Lanjutkan membaca

Sepatu Untuk Anakku

ayah-dan-anak

Hati Darmin nyeri ketika mendapati sepatu anaknya sudah terlampau butut ketika digunakan. Entah ini kali ke berapa ia melihat sepatu itu digunakan anaknya ke sekolah, yang ia tahu hatinya selalu tercabik ketika menyadari hal tersebut. Lubang-lubang kecil menampakkan warna putih kaos kaki pada sepatu anak semata wayangnya tersebut. Bekali-kali Darmin berusaha menabung agar bisa membelikan sepatu baru untuk anaknya, namun uang tabungan selalu raib karena kebutuhan rumah tangganya belum sempurna tercukupi. Anaknya yang masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar itu tak pernah mengeluh atas sepatu butut yang dipakainya setiap hari. Bocah yang genap berusia sepuluh tahun itu tetap bersemangat walaupun hidup berkalang kemiskinan.

“Tak apa, Yah, aku masih bisa sekolah dengan sepatu ini, Ayah jangan terlalu memikirkan hal itu,” tukas anak itu ketika ayahnya berkata akan berusaha membelikannya sepatu baru. Senyum anak itu begitu tulus ketika menenangkan hati ayahnya, namun di dalam sudut hatinya sebenarnya ia begitu menginginkan sepatu yang lebih layak dari yang dipakainya saat ini. Anak sekecil itu memahami benar kondisi perekonomian keluarganya, maka ia tak pernah meminta macam-macam kepada ayahnya yang hanya bekerja sebagai pembeli barang-barang bekas atau rongsokan keliling. Lanjutkan membaca

Setelah Matahari Terbenam

Jarum jam dinding rumah Burhan berdentang sebanyak tujuh kali. Bocah berusia dua belas tahun itu masih setia menanti ayahnya yang tak kunjung pulang. Hal semacam ini memang sering ia alami hampir setiap hari, menunggu dan berharap ayahnya segera pulang dari bekerja.

Pikiran Burhan terbang ke masa beberapa tahun silam kala ayahnya masih bekerja di salah satu perusahaan di kotanya yang mana cukup menopang perekonomian keluarga mereka. Pada masa itu ia tak pernah merasa kehilangan waktu kebersamaan dengan sang ayah yang begitu dicintainya. Masa-masa yang begitu membahagiakan batinnya. Namun semua itu tak lagi dirasakannya ketika perusahaan tempat ayahnya bernaung gulung tikar karena tak mampu mengikuti UMSP (Upah Minimum Sektor Provinsi) daerah yang ditetapkan oleh Pemda setempat. Kini ayahnya beralih profesi sebagai pelukis yang selalu menjajakkan lukisannya di tengah kota. “Hidup kita sudah berbeda, Ayah mensyukuri pekerjaan ini, cukup memuaskan hasrat Ayah bisa melukis kembali,” ucap sang ayah ketika pertama kali ia menanyakan pekerjaan baru ayahnya. Lanjutkan membaca